
Kini, Rangga tengah berteduh di bawah pohon besar nan rindang, tak jauh di depan matanya terdapat sebuah danau yang indah akibat terkena pantulan pemandangan sekitar. Rangga merasa begitu damai saat melihat suasana tersebut, ia memejamkan matanya di kala angin sepoi-sepoi menerpa wajah tampannya.
"Farhan, Devan, Zia. Aku harap kalian bisa memaafkan aku," gumam Rangga di sertai senyum manisnya.
Setelah cukup menikmati pemandangan yang indah itu, Rangga segera bangkit dan beranjak dari bawah pohon itu. Baru saja akan melangkah pergi, tiba-tiba sebuah suara yang amat ia kenali menghentikan langkahnya.
"Kak Rangga!" panggil seorang gadis yang tengah berdiri di belakang Rangga.
Rangga sangat terkejut saat mendengar suara gadis yang sangat ia cintai memanggilnya. Ya, gadis itu adalah Zia yang kini berada di satu alam yang sama dengan Rangga, yaitu alam bawah sadar.
"Eh, Zia. Kamu ngapain di sini?" tanya Rangga kaget. Namun, Zia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Rangga.
"Kakak mau kemana?" tanya Zia seraya menatap Rangga dengan sendu.
Kemudian, Zia semakin mendekat ke arah Rangga, begitu pula dengan Rangga yang semakin mendekat ke arah Zia.
"Ayo, pulang!" ajak Zia dan menarik tangan Rangga, tetapi Rangga tidak ingin ikut bersama Zia.
"Zia ... Kakak udah tenang di sini," jelas Rangga singkat.
"Apa maksudnya Kakak udah tenang di sini? Kakak mau ninggalin kami, apa Kakak marah sama kami hingga Kakak ingin meninggalkan kami?" tanya Zia bertubi-tubi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Enggak, Zia. Kakak tidak marah kepada kalian, malahan Kakak rasa kalianlah yang marah kepada Kakak," ucap Rangga tersenyum.
"Gak, kami gak marah sama Kakak. Bahkan Kak Dev dan Kak Farhan menangis sekarang, mereka sangat sedih karena Kakak tinggalkan," jelas Zia meyakinkan Rangga agar ia mau kembali bersamanya.
"Apakah Kakak gak sayang sama mereka, Kakak akan membiarkan mereka terus bersedih?" tanya Zia lagi tanpa memberi kesempatan untuk Rangga menjawab pertanyaannya yang pertama.
"Mereka menangis?" tanya Rangga tak percaya.
"Iya, mereka mau Kakak kembali," balas Zia seraya mengangguk.
"Zia. Kakak gak bisa kembali, Kakak sudah nyaman di sini dan Kakak juga sudah lelah dengan dunia yang kejam itu," jelas Rangga mencoba membuat Zia mengerti.
"Kalo gitu, Zia juga gak mau pulang." Zia tetap bersikeras ingin membawa Rangga kembali.
"Zia ... Kamu harus pulang, suamimu menunggumu Zia. Kau harus pulang demi anakmu, kau tidak boleh di sini," jelas Rangga sambil mengusap lembut surai pekat milik Zia.
"Gak mau, Zia mau pulang sama Kak Rangga," ucap Zia menolak.
"Ayo kita pulang," rengek Zia dan menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Rangga.
Rangga sangat terkejut saat Zia memeluknya secara tiba-tiba, ia hampir tidak percaya bahwa Zia sedang memeluknya sekarang.
"Kakak tidak akan membalas pelukanku, apa Kakak tidak rindu kepadaku?" tanya Zia yang masih memeluk Rangga.
Zia merasa sangat dekat dengan Rangga, seolah-olah mereka telah mempunyai hubungan yang sangat lama dan seolah-olah hubungan itu tidak akan runtuh untuk selamanya. Rangga juga merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan oleh Zia.
Beberapa detik kemudian, Rangga membalas pelukan Zia meskipun merasa sedikit agak ragu. Rangga merasa sangat bahagia karena bisa memeluk Zia walau bukan di dunia nyata, ia memeluk erat tubuh Zia dan mulai meneteskan air matanya.
"Zia ... Tolong maafin Kakak," pinta Rangga dengan air mata yang terus mengalir.
"Untuk apa Kakak meminta maaf?" tanya Zia seraya melepas pelukannya.
"Karena Kakak udah mencelakai kamu," lirih Rangga menunduk untuk menyembunyikan air matanya.
"Kakak tidak pernah menyakitiku, Kakak yang udah menyelamatkan aku. Bukankah Kakak yang memberikan darah Kakak untukku?" tanya Zia lagi dan Rangga hanya mengangguk.
"Nah, berarti Kakak yang udah nyelamatin Zia," ucap Zia seraya menghapus air mata Rangga.
"Tapi Kakak mohon, tolong maafin Kakak," pinta Rangga memohon.
"Iya, udah Zia maafin kok." Zia tersenyum manis ke arah Rangga, kemudian Rangga kembali memeluk Zia dengan erat.
Tiba-tiba sebuah suara bariton dari seorang lelaki paruh baya membuat mereka terkejut dan melepaskan pelukan satu sama lain.
"Pulanglah! Anak-anakku," titah pria paruh baya itu.
Rangga dan Zia berusaha mencari tahu siapa pria itu, akan tetapi mereka tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena tertutupi oleh kabut putih yang entah dari mana datangnya.
Pria itu terus mendekat ke arah mereka dan ternyata pria itu tidak sendirian, melainkan ia datang bersama seorang wanita paru baya yang nampak serasi dengan pria itu.
Kedua orang itu semakin mendekat untuk mengikis jarak di antara mereka, dan setelah berhasil melewati kabut itu. Akhirnya, Rangga dan Zia bisa melihat wajah mereka dengan sangat jelas.
"Ayah, Ibu!" ucap keduanya serentak, mereka sangat terkejut sekaligus senang saat melihat bahwa kedua orang itu adalah orang tua mereka.
"Kemarilah anak-anakku!" titah keduanya sembari membuka tangan mereka lebar-lebar.
Rangga dan Zia segera berlari ke arah kedua orang itu dan memeluk mereka dengan erat, Zia memeluk wanita itu yang tak lain adalah ibunya. Sedangkan Rangga memeluk lelaki itu yang tak lain adalah ayahnya.
Setelah beberapa menit berpelukan, Rangga dan Zia segera melepaskan pelukannya. Zia dan Rangga merasa ada yang aneh di antara mereka. Mengapa orang tua mereka sama, apakah mereka bersaudara? Begitulah pertanyaan yang hinggap di benak mereka.
"Iya, dan itu orang tua Kakak juga?" tanya Zia yang tak kalah bingung dengan Rangga.
"Iya, berarti kita ...." Rangga tidak melanjutkan ucapannya, karena ia takut kalo dugaannya salah.
"Iya, Nak. Kalian adalah saudara kandung, kalian tidak saling mengenal karena kalian sudah terpisahkan sejak kecil," jelas Ibu mereka yang bernama Sofia Andara.
"Huwaaa! Zia senang bangat karena Zia punya abang, apalagi abang ganteng kek gini. Zia senang bangat," ucap Zia seraya meloncat-loncat kegirangan.
"Anak-anakku, kembalilah!" titah sang Ayah kepada Zia dan Rangga.
Zia segera menghentikan aksinya, ia kembali murung karena ia sedih. Baru saja bertemu dengan ayah dan ibunya setelah sekian lama, dia sudah harus pergi lagi, rasanya ia sudah tak sanggup untuk meninggalkan mereka.
"Ayah, Rangga gak mau berpisah dari kalian," ucap Ranga seraya menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Iya, Zia juga ga kamu pisah dari kalian," timpal Zia lagi.
"Nak, kalian harus kembali. Ini bukanlah tempat kalian, kalian belum di takdirkan untuk meninggalkan dunia secepat ini," jelas Bu Sofia sembari mengusap lembut kedua pipi anaknya.
"Rangga, Zia!" panggil Pak Gibran.
"Iya, Ayah!" sahut keduanya sambil berbalik menatap ayah mereka.
"Zia, bukankah kau sedang mengandung sekarang?" tanya Pak Gibran sambil menatap Zia dengan serius, sedangkan Zia hanya mengangguk.
"Kalau begitu, pulanglah Nak! Lahirkan anak itu ke dunia, ia juga ingin bertemu dengan ayahnya, Nak. Ia juga ingin melihat seluruh isi dunia ini, jadi Ayah mohon padamu. Kembalilah Nak! Suamimu juga telah menunggumu di sana," jelas Gibran mencoba membuat Zia mengerti.
"Dan kami juga ingin melihat cucu kami walau kami tidak bisa menyentuhnya, tapi kami sangat ingin melihat buah hatimu." Bu Sofia ikut meyakinkan Zia.
"Apa kau menyayangi suamimu, Nak?" tanya Gibran lagi dan Zia hanya mengangguk.
"Jika kau menyayanginya, maka pulanglah, Nak!" titah Ayah lagi.
"Iya, Zia akan pulang dan ini semua Zia lakukan demi anak ini," ujar Zia seraya memegang perutnya.
"Tapi, Zia ingin pulang bersama Kak Ranga. Apa dia bisa kembali bersama denganku, Ayah?" tanya Zia penuh harap.
"Tidak, Sayang. Kakak tidak bisa ke ...." Gibran langsung menyela ucapan Rangga.
"Tidak, Nak. Kau juga harus ikut pulang bersama adikmu. Bukankah kau pernah berjanji bahwa kau akan menjadi pribadi yang lebih baik setelah ini, bukankah kau juga berjanji akan bertanggung jawab atas segala perbuatanmu?" tanya Gibran berusaha mengingatkan Rangga akan janjinya. Rangga hanya menjawab pertanyaan ayahnya dengan mengangguk pasti.
"Pulanglah, Nak. Tepati janjimu dan jagalah adikmu, jangan biarkan dia merindukan kami sedetikpun," jelas Bu Sofia berpesan kepada Rangga.
"Tapi, Bu. Zia tidak akan mengenaliku begitu pula denganku, aku tidak akan mengenalinya karena tidak ada yang akan mengenalkan kami setelah kami kembali nanti," jelas Rangga mengungkapkan kekhawatirannya.
"Tidak selamanya kalian akan berpisah, Nak. Cepat atau lambat, kalian akan segera mengetahui hubungan di antara kalian." Bu Sofia kembali meyakinkan putra putrinya.
"Baiklah, kami akan kembali," ucap Rangga seraya menggenggam tangan Zia dengan erat.
Setelah mereka setuju untuk kembali, Gibran dan Sofia segera mengantarkan anak-anaknya sampai ke depan sebuah cahaya yang tak lain adalah pintu antara dua alam, yaitu alam bawah sadar dan alam nyata.
"Ayah, Ibu." Zia langsung memeluk kedua orang tuanya dengan erat, ia amat susah untuk berpisah dengan mereka.
"Ayah, Ibu. Aku akan sangat merindukan kalian," ungkap Zia di sertai isak tangisnya.
"Kami selalu berada di dekatmu, Nak. Dan kami akan selalu mendoakanmu," jelas Bu Sofia sambil mengusap lembut pucuk kepala Zia.
"Iya, Nak. Kami selalu berada di dekatmu," ucap Pak Gibran mengulangi kata-kata istrinya.
Setelah Zia berpamitan dengan kedua orang tuanya, Zia langsung melepas pelukannya dan membiarkan Rangga untuk berpamitan dengan ayah dan ibunya yang tak lain adalah orang tua Rangga juga.
"Nak, Ayah titip Zia kepadamu, tolong jaga Zia baik-baik," pinta Pak Gibran kepada Rangga.
"Nak, kau bisa mengetahui kebenarannya di rumah kita yang dulu. Pergilah kesana agar kau mengetahui semuanya," jelas Bu Sofia lagi.
"Iya, Ayah, Ibu. Rangga akan mencari tahu kebenarannya dan Rangga akan menjaga Zia dengan baik," balas Rangga mengiyakan pesan kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu. Kami pergi dulu, ya," ucap keduanya serempak dengan air matanya yang sudah mengalir dari tadi.
"Iya, Nak. Sampaikan salam kami kepada suamimu," pinta Bu Sofia di sertai senyum manisnya.
"Iya, Nak. Sampaikan juga salam kami kepada kedua sahabatmu itu," pesan Pak Gibran kepada Rangga.
"Iya, Ayah, Ibu. Itu pasti," jawab Rangga dan Zia bersamaan.
Ranga dan Zia melambai kepada orang tuanya dan di balas pula oleh kedua orang tuanya, kemudian Rangga menggenggam erat tangan Zia. Setelah itu mereka melangkah dan memasuki cahaya yang amat menyilaukan itu.
Bersambung ....