Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
SQUID GAME ALA ZIA



"Nak. Ayah punya sesuatu untukmu." Andra menatap sekilas ke arah Zia sambil tersenyum, kemudian ia mulai mencari sesuatu dari dalam ranselnya.


"Nah, ini dia." Andra mengeluarkan sebuah kalung yang sangat indah dari ranselnya.


Kalung itu adalah kalung yang sangat indah, berlian yang berbentuk hati berwarna biru laut menambah kesan indah pada kalung itu. Itu adalah kalung warisan keluarga Abraham, sedari dulu kalung itu telah di pakai secara turun temurun di keluarga Abraham. Jadi, siapapun yang menjadi menantu di keluarga Abraham, maka mertuanya akan memberikan kalung itu kepada menantunya.


"Ayah, bukankah itu kalung milik Bunda?" tanya Dev yang sedikit terkejut saat melihat kalung itu.


"Iya, Nak. Selain itu, ini juga kalung warisan di keluarga kita. Jadi, siapapun yang jadi menantu di keluarga ini, maka kalung ini harus di pakai olehnya," jelas Andra kepada putranya.


"Nah, sekarang pakaikan kalung ini kepada Zia!" titah Andra seraya memberikan kalung tersebut kepada Dev.


Dev segera memakaikam kalung itu kepada Zia dan Zia menerimanya dengan senang hati.


"Ayah, ini sangat indah." Zia sangat kagum melihat keindahan dari kalung itu.


"Iya, Nak. Kau pakailah kalung itu dan jangan pernah kau lepas, kecuali di saat kau sudah punya menantu nantinya," jelas Andra yang tak henti-hentinya tersenyum.


"Baiklah, Ayah." Zia mengangguk mengiyakan.


"Dev. Aku pulang, ya," pamit Farhan.


"Iya, Dev. Aku juga mau pamit dulu. Dah hampir sore, nih," timpal Rangga.


"Abang pulang dulu, ya." Rangga mengelus lembut kepala Zia yang masih duduk di sampingnya.


"Mengapa begitu terburu-buru? Tinggallah di sini, setidaknya sampai besok saja," pinta Tuan Andra kepada Farhan dan Rangga.


"Tapi ...." Ucapan Rangga dan Farhan langsung di sela oleh Dev.


"Iya, Far, Angga. Bener kata Ayah," ucap Dev meyakinkan mereka berdua.


"Iya, Bang. Jangan pulang dulu napa, baru juga ketemu sama Zia setelah bertahun-tahun masak dah mau pulang terus. Emang Abang gak kangen sama Zia?" rengek Zia manja.


"Utuk utuk, Abang kangen kok sama Adek." Rangga mendekati Zia dan kembali memeluknya.


Dev kembali terbakar api cemburu buta saat melihat adegan peluk-pelukan itu, dan ia mencari cara agar Zia dan Rangga berhenti berpelukan.


"Aww, aduduh dadaku sakit bangat," rintih Dev seraya memegangi dadanya yang sakit, lebih tepatnya pura-pura sakit.


Sontak, Zia dan Rangga langsung melepas pelukan mereka dan mereka langsung mendekati Dev. Sementara Farhan dan Tuan Andra hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Dev, mereka sudah mengenal karakter Dev. Jadi, mereka tidak khawatir saat Dev berpura-pura sakit.


"Kak Dev kenapa, kenapa bisa sakit tiba-tiba gini?" tanya Zia khawatir dan ikut memegangi dada Dev.


Grep!


Dev langsung memeluk Zia dengan erat.


"Hhhhe maafkan aku, Sayang," ucap Dev terkekeh pelan.


"Maksud kamu apa, Dev?" tanya Rangga bingung.


"Iya, Kak. Kenapa Kakak minta maaf dan kenapa Kakak seperti kesakitan tadi?" Zia ikut kebingungan dengan tingkah laku Dev.


"Kau terjebak, Nak. Itu hanya akting Dev supaya kau dan Kakakmu berhenti berpelukan," jelas Andra sembari tertawa kecil.


"Iya, itu cuma akting Dev. Dia cemburu melihat kalian berpelukan," jelas Farhan lagi.


"Kak Devvv!" Zia menatap tajam ke arah Dev, ia merasa sangat kesal karena Dev telah mengerjainya.


Zia melepas pelukan Dev dan ia bersiap untuk menghajar Dev yang telah mengerjainya, sementara Dev hanya bergidik ngeri melihat tatapan maut dari Zia.


"Hhhhe. Ampun, Sayang." Dev menyatukan kedua tangannya dan memohon kepada Zia.


"Jangan ampuni dia, Dek!" seru Rangga.


"Iya, Zia. Jangan kasih kendor, hajar tros!" timpal Farhan.


"Gass pul, Nakku!" Tuan Andra ikut mendukung aksi Zia.


"Hhhe, semuanya berpihak kepadaku. Sekarang, habislah riwayatmu." Zia menyeringai hingga membuat Dev kembali bergidik ngeri melihat senyum yang menyeramkan itu.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Berkali-kali wajah tampan Dev di hujam dengan bantal yang ada di sofa itu, Dev berusaha menghindari pukulan maut dari Zia. Namun, ia tak bisa menghindari serangan dari macan betina yang sedang mengamuk.


"Hhhhhhaa!" Lagi-lagi tawa mereka pecah saat melihat Dev yang di serang oleh Zia.


"Ayah to mmpp." Dev tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, karena Zia sudah memukul terlebih dahulu wajah Dev dengan menggunakan bantal.


Setelah cukup lelah tertawa, akhirnya Andra meminta Zia untuk berhenti memukul Dev.


"Zia. Sudah cukup, Nak. Kau tidak boleh terlalu lelah," ucap Andra yang masih sedikit tertawa.


"Iya, Dek. Om Andra benar," timpal Rangga.


"Iya, Pa, Bang. Tapi ...." Zia menggantungkan ucapannya.


Bugh!


Satu pukulan terakhir di layangkan ke wajah tampan Dev, pukulan terakhir sedikit lebih keras dari pada pukulan yang sebelumnya.


"Hhhhhha. Dasar Zia, masih sempat-sempatnya mukul di saat-saat terakhir," ucap Farhan di sela-sela tawanya.


Mereka tertawa begitu puas. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka masing-masing, terutama Andra. Andra merasa sangat bahagia karena ia telah kembali bersama keluarganya, meskipun istrinya sudah pergi meninggalkannya beberapa tahun yang lalu. Kebahagiaannya tidaklah berkurang, karena ada Dev dan Zia yang kini membuatnya bisa kembali tertawa lepas. Bahkan ia sangat senang saat meliha kedua putra sahabatnya yang kini sudah dewas, yaitu Rangga dan Farhan.


"Terima kasih, Tuhan. Engkau telah kembali melengkapi keluarga kecilku dengan kebahagiaan, aku berharap kebahagiaan ini tidak pernah pudar dari keluarga kecil ini," batin Andra mengucap syukur, ia sangat bahagia melihat mereka yang sedari tadi tertawa lepas.


Tak terasa, air mata haru Andra kembali luruh dari tempatnya. Zia sempat melihat ke arah Andra, ia merasa sangat khawatir saat melihat Andra yang mengeluarkan air mata.


"Ayah. Kenapa Ayah menangis?" tanya Zia seraya mendekat ke arah Andra dan di susul pula oleh tiga cogan itu.


"Iya, Ayah. Mengapa Ayah menangis?" tanya Dev lagi.


"Ada apa, Om?" timpal Farhan.


"Ada masalah apa, Om?" Rangga ikut khawatir melihat Andra yang menangis.


"Hey, tenanglah. Aku tidak menangis, ini hanya air mata haru. Orang tua ini merasa terlalu bahagia sekarang," jelas Andra menenangkan mereka.


Tanpa menunggu lama, Dev dan Zia memeluk Andra. Farhan dan Rangga juga tak tinggal diam, mereka juga ikut memeluk Andra yang tak lain adalah sahabat ayah mereka dulu.


Andra semakin menangis keras saat mereka memeluknya, ia telah lama merindukan pelukan itu. Saat memeluk Rangga dan Farhan, ia kembali teringat kepada kedua sahabat baiknya yang telah lama meninggalkannya.


"Ya Tuhan, aku mohon kepada-Mu. Jangan biarkan kehangatan ini berakhir, biarkan kami tetap begini untuk selamanya," batin Andra memohon.


"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena Engkau telah mengembalikan kebahagiaan di keluargaku," batin Dev bersyukur dan ia juga menangis haru.


"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena telah mengirimkan mertua sebaik Tn. Andra, setidaknya rasa rinduku terhadap Ayah sedikit berkurang dengan adanya Tn. Andra. Dan terima kasih juga karena Engkau telah memperkenalkan aku dengan Saudara kandungku. Terima kasih untuk kebahagiaan yang tiada duanya ini," batin Zia ikut bersyukur dengan suasana yang ia rasakan sekarang.


"Aku berterima kasih kepada-Mu, Tuhan. Karena Engkau telah memberikan aku kebahagiaan yang tiada duanya, meski Ayah dan Ibu tidak ada di sini. Namun, aku merasa sangat bahagia karena telah bertemu dengan Adikku dan terima kasih banyak, Tuhan. Karena Engkau telah memberikanku kesempatan untuk bahagia seperti ini," batin Rangga juga ikut bersyukur, iapun menangis haru saat ini.


"Aku berterima kasih, Tuhan. Terima kasih karena sudah memberi keluarga yang sangat hangat seperti ini, meski Ayah dan Ibuku telah tiada. Namun, aku tak pernah merasa kesepian, karena mereka ada bersamaku sekarang." Farhan ikut menangis haru, ia benar-benar bahagia saat ini.


Farhan bahagia karena sahabatnya telah kembali utuh, selain itu ia juga bahagia karena kedatangan Andra yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.


Setelah cukup lama berpelukan, merekapun melepas pelukan satu sama lain dan mereka segera menghapus air mata mereka masing-masing.


"Ada apa ini, mengapa kalian semua menangis dan sejak kapan kalian menjadi cengeng?" tanya Andra seraya menghapus air matanya.


"Kau juga, Ayah." Dev terkekeh pelan sambil menghapus air matanya.


"Iya, Om. Om Andra juga nangis tuh," ujar Rangga seraya tersenyum lebar ke arah Andra.


"Ho'oh, Om Andra juga cengeng," timpal Farhan.


"Kita semua menangis di sini dan kita menangis karena bahagia," ucap Zia lagi.


"Hhhha, Zia benar," ucap mereka serempak.


"Ayah. Bagaimana jika nanti malam kita adakan party kecil-kecilan, apakah Ayah setuju?" tanya Dev meminta pendapat Andra.


Brakk!


"Ayah setuju seribu persen," ucap Andra seraya menggebrak meja kecil yang ada di hadapannya.


"Ayah ... Bikin kaget aja," lirih Zia seraya memegangi jantungnya yang hampir lepas dari tempatnya.


"Hhhhe. Maaf, Nak. Ayah terlalu bersemangat," ujar Andra cengengesan.


"Semangat ya semangat, tapi ga usah bikin jantung orang hampir copot, dong," ucap Dev kesal seraya mengelus dadanya.


"Ya, begitulah yang di namakan jiwa muda," ucap Andra penuh percaya diri.


"Hhahha," tawa Rangga dan Farhan bersamaan.


"Yaudah, sekarang ayo kita bersiap-siap untuk nanti malam!" ajak Dev kepada semua orang yang ada di sana.


-------------------------------


Akhirnya, malam yang mereka nantikan telah tiba.


Halaman belakang rumah Dev telah terhias dengan beberapa lilin-lilin kecil dan lampu tumbler yang berwarna warni, terlihat sederhana. Namun, terkesan begitu indah.


Makanan-makanan lezat juga telah tertata rapi di atas meja yang telah di siapkan, serta berbagai macam jus yang menyehatkan juga ikut terhidangkan di atas meja itu.


Sekarang, mereka semua duduk di atas tanah beralaskan rumpur hijau nan bersih. Mereka semua memakan makanan yang telah tersedia begitu banyak. Apakah party ini hanya untuk keluarga Abraham? Tentu tidak, karena semua penjaga dan pelayan yang ada di rumah itu di ajak serta untuk ikut merasakan kebahagiaan ini.


Bahkan, Aslan juga ikut di ajak untuk merasakan kehangatan itu.


Mereka semua melahap makanan itu dengan perasaan yang sangat bahagia, senyuman-senyuman bahagia tidak terlepas dari wajah mereka semua.


30 menit berlalu, kini mereka telah selesai dengan makanannya dan sekarang mereka sedang duduk melingkar untuk memainkan sebuah permainan yang akan di tentukan oleh Zia.


"Sayang, permainan apa yang akan kita mainkan?" tanya Dev seraya melihat ke arah Zia yang tengah berdiri di samping meja yang penuh dengan pistol air, ada juga beberapa peralatan lainnya. Seperti tali tambang dan lain-lain.


"Kita akan memainkan permainan yang ada di film Squid Game, Zia yang akan menjadi boneka itu dan jika ada yang kalah. Maka, akan di tembak menggunakan pistol air ini," jelas Zia seraya tersenyum kepada mereka semua.


"Apa kalian setuju?" tanya Zia lagi.


"Setuju!" seru mereka bersamaan.


Setelah semuanya setuju, Zia memanggil beberapa anak buahnya untuk menjadi orang yang akan menembaki mereka yang kalah nanti.


"Siap semuanya?" seru Zia lagi.


"Siapppp!" seru mereka bersamaan.


"Sekarang berbarislah, dan Zia akan menyanyikan lagunya," titah Zia kepada semua peserta yang ikut bermain.


Merekapun berbaris dan Zia mulai menyanyikan lagunya.


"Kokoa konci tiang bendera." Zia begitu fasih menyanyikan lagunya, meskipun lirik yang ia nyanyikan salah.


"Hhhhhhhhaa!" tawa mereka pecah saat mendengar nyanyian Zia yang salah.


"Dek, liriknya salah itu," ucap Rangga seraya tertawa terbahak-bahak.


"Gak papa, Bang. Inikan squid game ala Zia, jadi liriknya juga dari Zia, dong," jelas Zia seraya memanyunkan bibirnya.


"Hhhha, Yaudah. Mari kita lanjutkan permainannya!" ajak Dev yang masih tertawa.


"Kokoa konci tiang bendera." Zia kembali menyanyikan lagunya dengan fasih, sementara mereka terus berlari selagi Zia menyanyi dan mereka berhenti saat Zia diam.


Ada sebagian dari mereka yang tidak dapat menahan tawanya karena mendengar nyanyian Zia, dan mereka langsung di tembak menggunakan pistol air oleh anak buah yang berdiri di samping Zia.


Satu permainan telah selesai, sekarang mereka melanjutkan permainan yang lainnya.


"Ok, sekarang permainan yang harus kalian mainkan adalah, tarik tambang. Peserta yang berhasil lolos babak pertama akan melanjutkan permainan ini," jelas Zia lagi.


"Sekarang bagilah menjadi dua grup, dan berdiri di antara kedua sisi kolam ini. Satu kelompok berdiri di sana dan yang satunya lagi berdiri di sini, kalian harus bisa menjatuhkan kelompok lawan ke dalam kolam ini. Apa kalian mengerti?" tanya Zia setelah menjelaskan semuanya.


"Mengertiii!" seru mereka bersamaan.


Mereka segera mengatur posisi sesuai arahan dari Zia, merekapun mulai menarik tali itu setelah Zia meniup peluit.


Mereka benar-benar bersenang-senang malam ini, kehangatan keluarga begitu terasa saat mereka bermain bersama seperti itu. Sekarang, mereka melupakan status yang ada di antara mereka. Pelayan atau majikan tidak ada bedanya saat ini, yang ada hanyalah sekumpulan keluarga yang tengah bermain dengan bahagianya.


Bersambung ....


Sangat harmonis ya ...