Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Sasha



Pukul 08:00 pagi.


Mentari pagi sudah mulai terlihat utuh, sinarnya juga telah menghangati seisi bumi.


Setelah bermain cukup lama semalam, semua anggota keluarga Abraham masih meringkuk di balik selimutnya saat ini. Kecuali Tn. Andra beserta para pelayan dan para penjaga yang sudah terbangun.


"Apa kita berangkat sekarang, Tuan?" tanya Bagas, supir pribadi Tn. Andra.


"Ya, kita akan berangkat sekarang," balas Tn. Andra.


"Maaf, Tuan. Anda mau kemana?" tanya Bima heran saat melihat Andra yang sudah berpakaian rapi.


"Saya akan pergi ke kantor. Mulai sekarang dan seterusnya, saya akan mengambil alih perusahaan. Jadi, Dev bisa meluangkan lebih banyak waktu bersama istrinya," jelas Tn. Andra dan Bima hanya mengangguk mengerti.


"Apa perlu saya antar, Tuan?" tanya Bima lagi.


"Tidak, saya akan pergi bersama Bagas," jawab Tn. Andra.


"Baiklah, Tuan."


"Tuan, mari kita berangkat sekarang!" ajak Bagas seraya melangkah menuju ke luar dan di ikuti pula oleh Andra.


---------------------------


Zia masih terlelap di dalam pelukan Dev, begitu pula dengan Dev, ia juga masih terlelap sambil memeluk erat istri kecilnya.


Tak lama kemudian Zia pun terbangun saat merasakan hangatnya sinar mentari di tubuhnya yang masuk melalui jendela kamar mereka, Zia segera mengurai pelukan Dev dan Zia segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


20 menit berlalu ....


Zia sudah selesai dengan ritual mandinya dan ia juga telah memakai pakaian santainya.


"Ini udah jam berapa, ya?" monolog Zia bertanya-tanya.


Ia heran saat melihat matahari yang sudah bersinar terang di dalam kamar mereka, biasanya jika masih jam tujuh atau tujuh tiga puluh mataharinya gak sepanas ini. Apa sudah jam sembilan? Begitulah yang di pikirkan oleh Zia.


Dari pada terus bertengkar dengan pikirannya, Zia pun memilih untuk melihat jam.


Zia sangat terkejut saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 08:50. Artinya, mereka tidur begitu lama dan Dev juga akan terlambat ke kantor.


"Yaampun. Kak Dev pasti terlambat ke kantor, mana hari ini ada meeting lagi," gumam Zia panik.


Zia segera mendekati Dev dan membangunkannya.


"Kak. Cepat bangun! Kakak gak ke kantor hari ini?" Zia menggoyang-goyangkan tubuh Dev, tetapi tidak ada reaksi darinya.


"Kak, bangunlah!" Zia masih saja menggoyangkan tubuh Dev agar ia membuka matanya.


Bukannya bangun, Dev malah menarik tubuh Zia hingga terjatuh ke atas tubuhnya dan memeluk Zia dengan erat. Zia terus melawan dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Dev.


"Kak. Lepasin, iiihhh!" Zia terus mencoba menyingkirkan tangan Dev dari tubuhnya, tapi hanya sia-sia.


"Sayang, mau kemana? Tetaplah di sini bersamaku," lirih Dev dengan suara khas orang bangun tidur.


"Kak, lepasin Zia! Kakak gak ke kantor hari ini?" tanya Zia sambil terus melawan di dalam pelukan Dev.


"C1um dulu, Sayang! Biar Kakak lepasin," pinta Dev dengan mata yang masih tertutup.


Cup!


Zia mengecup pipi Dev sekilas.


"Dib1b1r, Sayang," pinta Dev lagi.


"Kak, cepat bangun! Kakak bisa terlambat, ini udah jam sembilan!" ucap Zia sedikit berteriak.


"Eemm. Itu masih sangat awal, Sayang. Masih juga jam se ...." Dev menghentikan ucapannya, ia melonggarkan pelukannya dan matanya mulai melotot.


"Apa?! Jam sembilan?!" tanya Dev terkejut dan tak percaya.


"Gak, ini masih awal kok," ucap Zia mengejek.


"Yaampun! Aku bisa terlambat, mana bentar lagi miting," ucap Dev panik.


Kemudian, ia bangun dan segera lari ke kamar mandi.


"Sayang, tolong siapkan bajuku!" teriak Dev dari dalam kamar mandi.


"Iya, udah Zia siapkan!" balas Zia ikut berteriak.


Setelah meletakkan pakaian Dev di atas kasur mereka, Zia turun ke bawah untuk menyiapkan bekal makan siang Dev.


Zia belum menyadari jika di rumah itu ada Rangga dan Farhan yang juga belum bangun dari tidurnya. Namun, tak lama kemudia Zia ingat dengan mereka berdua saat ia tak sengaja menyebut nama Rangga.


"Gak nyangka bangat, ternyata Zia punya Abang dan itu Kak Rangga," gumam Zia tersenyum lebar.


Kemudian, Zia membuka mata dan mulutnya lebar-lebar.


"Astagfirullah! Kenapa Zia gak bangunin mereka, pasti mereka belum bangun." Zia segera menuju ke kamar tamu setelah mengemas makanan Dev.


Ceklek!


Zia membuka pintu kamar tamu. Benar saja, mereka berdua belum bangun bahkan mereka tidur sangat nyenyak dengan gaya tidur yang aestetik. Yaitu, Rangga tidur sambil nungging dengan air terjun mengalir dari goa sundong miliknya, sedangkan Farhan tidur di lantai dengan gaya kodok maninggoy karena kejepit kereta.


"Astagfirullah! Gaya tidurnya." Zia menggelengkan kepalanya saat melihat gaya tidur mereka yang sangat aestetik.


"BANG RANGGA! KAK FARHAN! CEPAT BANGUN, INI UDAH JAM SEMBILANNN!" teriak Zia dengan suara full power hingga menggema di seluruh isi ruangan rumah tersebut.


"Duuhh ... Siapa, sih, berisik amat," lirih Rangga sambil membenarkan posisi tidurnya.


Sementara Farhan tak bergerak sedikit pun.


"Yaampun, bukannya bangun malah benerin posisi tidur. Kak Farhan lagi, udah tidurnya kayak kodok meninggoy gak gerak lagi," gumam Zia seraya menepuk jidatnya. Zia kehabisan cara untuk membangunkan mereka.


Hingga, ide terakhir pun muncul di pikirannya.


Zia segera kembali ke dapur dan mengambil air sebaskom penuh.


"Satu ... Dua ... Tiga ...."


Byuurr!


Byuurr!


Rangga dan Farhan sudah basah karena di siram oleh Zia, akan tetapi mereka tetap slow respon dan tidak terkejut sedikit pun bahkan mereka semakin eror.


"Hah ... Hujan? Rumah ini bocor?" lirih Rangga sambil mengusap wajahnya yang basah.


"Apa sekarang sedang hujan?" lirih Farhan sambil membuka matanya dengan gaya slowmotion.


"Astagfirullah ya ilahi." Zia tercengang melihat ekspresi mereka.


"ABANG CEPAT BANGUN! KAK FARHAN BANGUN!" teriak Zia lagi sambil menahan emosi yang sudah memenuhi relung dadanya.


"Kamu siapa?" tanya keduanya bersamaan, ternyata mereka masih eror hingga tidak mengenali Zia.


"Kenapa di rumahku ada cewek? Dan siapa kamu?" tanya Rangga sambil melihat Zia dan Farhan secara bergantian.


"Kenapa kalian di kamarku? Kalian ini siapa?" tanya Farhan sambil menatap Zia dan Rangga secara bergantian.


Zia benar-benar sudah tidak tahan dengan mereka, seketika emosi Zia meledak dan ....


Plak!


Plak!


"Aduhh ...." Mereka berdua meringis kesakitan sambil memegangi pipi mereka yang sudah merah akibat di tampar oleh Zia.


"Eh, Dek Zia. Udah lama di sini, Dek?" tanya Rangga di sertai cengir kudanya saat melihat Zia yang sudah menatap mereka dengan tatapan mautnya.


"Eh, ada Zia. Selamat pagi, Zia," sapa Farhan juga ikut menunjukkan cengir kuda nilnya karena takut kepada Zia.


Zia tidak membalas ucapan mereka, ia hanya mencoba menetralkan emosinya.


"Bumil jangan marah-marah, nanti takut lekas tua. Abang setia orangnya takkan pernah mendua, dari jutaan bintang Adek paling gemerlapan, dari segenap wanita Adeklah yang paling menawan." Rangga menyanyi untuk meredam amarah Zia.


"Benerkan, Far? Adek gue paling menawan di seluruh planet ini." Rangga memberi kode kepada Farhan agar mengiyakan perkataannya.


"Iya lah, Dek Zia gitu loh," balas Farhan.


Rangga dan Farhan yang mengerti akan kode dari Zia, mereka segera turun dari kasur dan melangkah keluar di ikuti juga oleh Zia di belakang mereka.


"Sayang! Kakak mau berangkat, nih. Kamu dimana?!" teriak Dev sambil menuruni tangga.


Sontak, mereka bertiga langsung melihat ke arah tangga. Rangga dan Farhan beserta Zia langsung menutup mulut mereka masing-masing untuk manahan tawa, perut mereka seolah tergelitik saat melihat penampilan Dev.


"Kenapa kalian tertawa? Apanya yang salah?" tanya Dev bingung saat melihat mereka yang sedang menahan tawa.


"Hhhhhhaaa!" Mereka sudah tidak bisa menahan lagi, seketika mereka tertawa terbahak-bahak.


"Ada apa, sih? Apanya yang lucu?" tanya Dev yang sudah mulai jengkel dengan sikap mereka.


Mereka sama sekali tidak menjawab pertanyaan Dev, mereka tidak bisa berhenti tertawa.


"Yaudah, ketawa teros. Aku pergi dulu." Dev yang sudah merasa sangat kesal memilih pergi tanpa memperdulikan mereka.


Namun, begitu ia membuka pintu rumahnya, semua para penjaga juga ikut menahan tawa di saat melihat penampilannya. Dev semakin bingung melihat mereka, tetapi ia tetap tidak sadar jika ada yang salah dengan penampilannya.


Tak lama kemudian, Bima datang menghampiri Dev. Ternyata ia juga ikut menahan tawanya saat melihat penampilan Dev.


"Bima, kenapa kau tertawa? Cepat antarkan saya ke kantor!" titah Dev seraya menatap tajam ke arah Bima, sementara Bima hanya menahan tawanya.


"Tu--Tuan akan pergi dengan penampilan yang seperti itu?" tanya Bima seraya menunjuk ke arah Dev.


"Ya, mengapa tidak. Tidak ada yang salah, 'kan?" balas Dev begitu pedenya.


Kemudian ia melihat ke bawah dan ia terdiam sejenak karena menahan malu, ternyata ia lupa memakai celananya. Ia hanya memakai celana k0l0r pendek bermotif spongebob, Dev benar-benar sangat malu.


"Astaga! Malu bangat gue, mau gue bawa kemana muka ini? Karung mana karung?" batin Dev seraya melirik ke sekelilingnya.


"Hahhhhhaa!" Setelah menahan tawa setengah mat1, akhirnya tawa mereka terlepas juga. Seluruh isi rumah menertawakan Dev, termasuk Bima dan seluruh anak buahnya.


"Apanya yang lucu? Kalian saja yang ketinggalan zaman, ini adalah trend baru," jelas Dev seraya berlagak sok cool, padahal ia sudah sangat malu.


Seperdetik kemudian, Dev berlari sekencang mungkin menuju ke kamarnya. Mereka semua semakin tertawa keras saat melihat Dev berlari.


"Dev ... Dev, benar-benar mengngakak trendnya," ucap Farhan sambil terkekeh di akhir perkataannya.


"Penata busana menangis melihat trend dari Dev," timpal Rangga yang masih ketawa sambil memegangi perutnya.


"Sudahlah Kak, Bang. Kalian mandi sana, setelah itu kita sarapan bersama. Tapi kalian jangan mengikuti trend barunya Kak Dev, ya!" titah Zia di sela-sela tawanya.


"Hhhhhha!" Rangga dan Farhan semakin mengngakak saat mendengar ucapan Zia.


"Kak, kalian mandilah! Zia akan menyiapkan makanannya, untuk baju gantinya. Kalian bisa ambil di dalam lemari yang ada di kamar tamu tadi," jelas Zia seraya terkekeh di akhir perkataannya.


Zia pergi ke dapur, sementara Farhan dan Rangga menuju ke kamar mandi yang ada di rumah itu untuk membersihkan diri mereka.


-------------------------------


Di sisi lain, Harun dan Chika yang belum tahu tentang kedatangan Andra, mereka tengah sibuk mempersiapkan rencana mereka agar Chika bisa masuk ke dalam keluarga Abraham.


"Apa kau sudah siap, Nak?" tanya Harun.


"Sudah, Ayah. Aku sudah tidak sabar lagi berada satu atap bersama, Dev," ujar Chika kegirangan.


"Nak. Selama kamu tinggal di sana, kamu tidak boleh ceroboh sedikit pun. Bertindaklah saat tidak di lihat oleh orang lain dan bersikaplah semanis mungkin di depan mereka, hanya dengan begitu mereka bisa masuk ke dalam perangkap kita," jelas Harun memperingati putrinya.


"Itu pasti, Ayah." Chika tersenyum lebar.


Setelah semua keperluannya di sediakan, Chika meminta kepada Harun untuk mengantarkannya ke kediaman Abraham.


"Ayah, bisakah Ayah mengantarku ke rumah Dev?" tanya Chika.


"Tentu, Nak. Mari, biar Ayah antarkan!" ajak Harun kepada Chika.


Chika mengangguk dan mulai menyusul Ayahnya yang sudah menuju ke mobil, Harun menyalakan mesin mobilnya dan menuju ke tempat yang di minta oleh anaknya.


"Nak, wajahmu sudah kau ganti dan namamu juga harus kau ganti agar tidak ada yang curiga denganmu," ujar Harun seraya fokus mengemudi mobilnya.


"Tenang, Ayah. Chika sudah mempersiapkan segalanya," balas Chika sambil menunjukkan data diri palsunya kepada Harun.


"Waw! Kau hebat sekali Chika," puji Harun kepada Anaknya.


"Bukan Chika tapi Sasha."


"Hhhhhaa!" Kedua tertawa terbahak-bahak.


"Ayah. Cukup sampai di sini saja, jangan terlalu dekat nanti ada yang melihat kita," ucap Chika saat ia sudah berada agak dekat dengan rumah Dev.


Harun langsung menghentikan mobilnya sesuai dengan arahan putrinya, sementara Chika masih sibuk mempersiapkan barang-barangnya.


"Ayah, apa aku sudah terlihat seperti orang miskin?" tanya Chika sambil menunjukkan penampilannya kepada Harun.


"Sudah, Nak. Tapi sikapmu belum terlihat miskin, ubah juga sikapmu menjadi lugu," jelas Harun seraya tersenyum miring.


"Hhhhha, hampir saja aku lupa," ucap Chika sambil tertawa.


"Ayah. Aku akan mulai sekarang, doakanlah Putrimu ini." Chika membuka pintu mobilnya dan membawa seluruh barang bawaannya turun.


"Tentu, Nak. Restu Ayah selalu bersamamu," balas Harun menyemangati putrinya.


Setelah berpenampilan sederhana layaknya orang miskin, Chika segera berjalan menuju ke gerbang rumah Dev. Sedangkan Harun memilih untum pergi dari sana.


"Permisi, Tuan. Apakah pemilik rumah ini ada di rumah?" tanya Chika kepada para bodyguard di sana.


Karena sudah memakai topeng wajahnya, Chika tidak di kenali oleh anak buah Dev.


"Ada, memangnya ada keperluan apa?" tanya mereka kepada Chika.


"Aku hanya ingin meminta pekerjaan di sini. Apakah rumah ini masih membutuhkan seorang ART?" tanya Chika lagi.


"Sebentar, akan kutanya dulu." Bodyguard itu langsung masuk ke dalam untuk menemui Dev.


"Eh, Nyonya. Kebetulan anda di sini," ucap bodyguard yang bernama Dion itu.


"Iya, ada apa Dion?" tanya Zia.


"Itu Nyonya, ada seorang wanita ingin melamar pekerjaan di sini. Dia bertanya, apakah di rumah ini masih membutuhkan Art?" jelas Dion persis seperti apa yang di katakan oleh Chika.


"Mari kita lihat dulu orangnya!" ajak Zia seraya melangkah keluar dan Dion hanya mengekor di belakang Zia.


"Itu orangnya, Nyonya." Dion menunjuk ke arah Chika yang tengah berdiri di depan gerbang.


"Buka gerbangnya!" titah Zia dan langsung di patuhi oleh Dion beserta anak buah lainnya.


"Masuklah! Nyonya ingin bicara denganmu," ucap Dion mempersilahkan Chika masuk.


Chika berjalan perlahan mendekati Zia, di dalam hatinya ia tersenyum penuh kemenangan. Ia tahu jika hati Zia sangatlah baik, karena itu ia pasti bisa memanfaatkannya.


"Permisi, Nyonya. Saya ingin bertanya, apakah anda masih membutuhkan ART?" tanya Chika penuh harap.


"Saya mohon, Nyonya. Tolong terima saya, saya merantau dari kampung dan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Saya berasal dari keluarga miskin Nyonya, hidup saya serba kekurangan dan sekarang orang tua saya sedang sakit. Saya adalah anak satu-satunya di keluarga saya, jadi saya terpaksa mencari nafkah untuk membiayai keluarga saya," jelas Chika di sertai air mata buayanya.


Mendengar penjelasan dari Chika, seketika Zia merasa iba dan kasihan. Tanpa berpikir panjang, Zia langsung menerima Chika untuk bekerja di sana. Zia tidak tahu jika yang ada di hadapannya adalah serigala berbulu domba.


"Baiklah, kamu saya terima," ucap Zia seraya tersenyum.


"Yang benar, Nyonya?" tanya Chika berpura-pura terkejut.


"Iya, dan kamu juga bisa tinggal di sini selama kamu bekerja di sini," jelas Zia.


"Terima kasih banyak, Nyonya," ucap Chika kegirangan.


"Bagus, Zia. Ternyata, kamu sangat mudah di jebak," batin Chika lic1k.


"Sama-sama. Dan siapa namamu?" tanya Zia lagi.


"Saya Sasha, Nyonya," balas Chika seraya tersenyum manis kepada Zia.


"Dan sebentar lagi, aku akan segera menjadi Nyonya di rumah ini." Chika melanjutkan ucapannya di dalam hatinya.


"Yasudah, ayo kita masuk! Saya akan menunjukkan kamarmu," ajak Zia kepada Sasha.


Chika atau sebagai Sasha hanya mengangguk dan mengikuti Zia, ia benar-benar menunjukkan wajah lugunya untuk mengelabui Zia dan semua orang.


Bersambung ....