Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Aslan



"Kak, Zia pulang ya," pamit Zia setelah selesai menyuapi Dev.


"Jangan Baby, tetap lah disini bersama ku." Dev menarik Zia hingga Zia terduduk ke pangkuan nya, kemudian Dev mulai kembali mengotak atik laptop nya sambil sesekali mencium pipi Zia dari belakang.


Namun tanpa mereka sadari, sedari tadi ada yang menyaksikan adegan romantis itu sambil menahan amarah. Siapa lagi kalo bukan Renata, ia merasa sangat sakit hati saat melihat kemesraan Zia dan Dev sehingga ia memutuskan untuk merencanakan sesuatu yang jahat untuk Zia.


"Kak boleh ya," pinta Zia lagi dengan wajah memelas.


"Boleh kok, tapi dengan satu syarat," ucap Dev seraya tersenyum nakal.


"Syarat apa, Kak?" tanya Zia penasaran.


Cup!


Tanpa aba-aba Dev pun langsung mengecup bibir Zia, hingga membuat pipi Zia kembali memerah karena malu.


"Kak Dev apa-apaan sih." Zia langsung membenam kan wajahnya ke dada bidang milik Dev, dan memukul pelan dada suami nya. Sementara Dev hanya terkekeh melihat tingkah istrinya.


"Sayang jangan pulang ya," bujuk Dev sambil mengusap lembut kepala istrinya.


"Ga bisa Kak, Zia ngantuk rasanya pengen tidur," balas Zia seraya mendongak kan kepala nya menatap Dev.


"Tidur disini aja, Baby." Dev semakin mengeratkan pelukan nya.


"Kak, Kakak itu kan harus kerja. Zia ga mau ganggu Kakak," jelas Zia.


"Tapi ...." Ucapan Dev langsung di sela oleh Zia.


"Kak plis lah, Zia ngantuk bangat Kak hoamm," ucap Zia di sertai menguap nya karena memang ia merasa ngantuk.


"Yaudah, tapi sebelum pulang cepat cium Kakak!" titah Dev kepada Zia.


Cup!


Zia mengecup pipi Dev.


"Bukan disitu Sayang, tapi disini." Dev menunjuk ke arah bibir nya sendiri.


Zia sempat bingung sekaligus malu saat ingin menci*m bibir Dev, namun ia memilih menurut saja atau Dev tak akan melepaskan nya. Perlahan Zia mulai mendekat kan wajah nya ke wajah Dev, hingga sekarang deru nafas keduanya dapat di dengar oleh satu sama lain.


Cup!


Zia menutup mata nya dan mengecup pelan bibir Dev. Saat Zia hendak melepaskan tautan bibir mereka, tiba-tiba saja Dev memegang tengkuk Zia dan menarik nya ke depan sehingga membuat ci*man mereka semakin erat saja.


Dev tak henti-henti nya mel*mat bibir Zia dengan lembut, Zia pun membalas perbuatan Dev dengan senang hati. Beberapa menit kemudian Dev melepas ci*man nya karena Zia sudah mendorong-dorong pelan dada bidang milik nya, mungkin saja Zia mulai kesusahan bernafas.


"Ada apa, Baby?" tanya Dev sambil mengusap lembut bibir istri nya.


"Zia pengen pulang," rengek Zia sambil menunjuk kan wajah imut nya kepada Dev, sehingga membuat Dev semakin geram.


"Utuk utuk, cup cup Sayang ku. Bentar ya Kakak bilang dulu sama para bodyguard," Dev mulai menghubungi anak buah nya melalui alat komunikasi di telinga nya.


"Segera ke ruangan saya dan jemput Nyonya di ruangan saya!" titah Dev kepada anak buah nya sambil menekan alat komunikasi di telinga nya.


Tak lama menunggu akhirnya beberapa anak buah nya datang, dan membuat Zia heran + bingung.


"Kak, buat apa manggil mereka sebanyak ini?" tanya Zia sambil menunjuk ke arah 10 bodyguard yang menunggu di pintu.


"Kakak cuman ga mau kejadian seperti tadi terulang, Sayang," jelas Dev sambil tersenyum.


"Yaampun Kakak." Zia menepuk pelan jidatnya karena tak habis pikir akan sikap suaminya, namun ia juga senang karena Dev begitu menjaga nya.


"Sayang, kamu baik-baik dirumah ya. Bentar lagi Kakak pulang kok," ucap Dev sambil mengusap kepala Zia dan mencium kening nya, sementara anak buah Dev yang sangat pengertian memilih menunggu diluar sehingga Dev bisa leluasa bermesraan dengan istri nya.


"Iya Kak, Zia pulang dulu ya," pamit Zia sambil tersenyum ke arah Dev, sedangkan Dev hanya mengangguk sambil membalas senyuman Zia.


Zia pun beranjak pergi dari ruangan itu, dan keluar dari ruangan Dev dengan di kawal oleh 10 bodyguard. Para karyawan yang melihat Zia hanya bisa tersenyum takjub.


"Enak bangat ya, jadi istri sultan," ucap salah satu karyawan.


"Iya beruntung bangat nyonya Zia," ucap karyawan yang lain.


"Tapi kasian ya, ada yang cita-cita nya gak tercapai disini," ejek salah satu karyawan seraya melirik Renata yang sedang menatap Zia dengan tatapan iri.


"Maksud lo apaan hah?" tanya Renata ngegas dan menatap tajam ke arah karyawan itu.


"Kok lo yang marah ya, perasaan kita gak lagi ngomongin lo," ucap karyawan lain, tak mau berdebat panjang lebar dengan mereka, Renata pun memilih pergi sebelum ia di hujat lebih lanjut oleh mereka.


Renata pun sampai di ruangan yang berbeda, dia segera berteriak frustasi sambil menghambur kan file-file yang ada di meja nya.


"Aaaa! Tunggu lo Zia, gue gak akan ngebiarin lo hidup tenang." Renata terus menghamburkan semua yang ada di meja nya, dan dia juga mengacak-ngacak rambutnya karena frustasi.


-----------------------


Dua mobil keluarga berwarna hitam telah sampai di kediaman Abraham, mereka adalah Zia dan para pengawal nya.


Bodyguard nya itu langsung turun dari mobilnya dan membuka kan pintu mobil untuk Zia, Zia pun keluar dari mobil nya dan memasuki istana nya itu. Sementara para bodyguard di suruh untuk terus menjaga Zia sebelum dia pulang.


"Eh Nyonya udah pulang, mau saya buat kan minuman apa Nyonya?" tanya bi Sari saat melihat Zia memasuki rumah itu.


"Jus jeruk aja Bi, kek nya enak panas-panas gini minum yang asem-asem. Freshhhh!" balas Zia sambil mengusap leher nya, bi Sari yang melihat itu hanya bisa tertawa kecil.


"Hhhhe ada-ada aja Nyonya ini," ucap bi Sari sambil tertawa kecil.


Bi Sari pun hendak melangkah ke dapur, namun Zia segera mencegah nya dan bertanya.


"Bi, di rumah ini ada tempat buat refeshing gak?" tanya Zia sambil duduk di kursi meja makan.


"Ada Nyonya, Tuan membuat tempat refreshing di belakang rumah dan Nyonya bisa pergi kesana jika mau refreshing," jelas bi Sari dan berlalu menuju dapur, Zia yang sudah sangat penasaran pun memilih melihat tempat itu.


Sesampai nya di belakang rumah Dev, Zia tak henti-henti nya berdecak kagum saat melihat tempat itu. Ia melihat halaman belakang rumah Dev begitu besar bahkan lebih besar dari halaman depan nya, namun yang membuat Zia takjub adalah.


Halaman belakang rumah Dev menghadap ke laut lepas dan di sana juga terdapat satu ranjang dan beberapa kursi untuk bersantai, di halaman itu juga terdapat sebuah kolam berenang yang sangat indah. Benar-benar tempat yang indah dan cocok buat refreshing.


"Waw ... Indah bangat, benar-benar cocok buat refreshing," ucap Zia seraya mendekati ranjang itu dan merebahkan tubuh nya disana.


Baru saja ia hampir terlelap tiba-tiba saja ia di kejutkan dengan sebuah suara auman yang menakutkan.


"Hah suara apa itu?" ucap Zia seraya bangkit dari tidur nya. Zia mengedar kan pandangan nya ke sekeliling tempat itu guna mencari tahu suara apakah tadi itu, lagi-lagi auman itu kembali terdengar dan Zia pun memilih mengikuti suara nya.


Ketika sampai tepat di samping rumah Dev, betapa terkejut nya ia di saat melihat seekor singa yang sangat besar yang di kurung di kandang besi. Singa itu sangat lah besar bahkan jika Zia berdiri di samping nya, kepala singa itu hampir sama tinggi nya dengan kepala Zia.


Seketika Zia mengeluarkan keringat di kening nya, tubuh nya gemetaran tak karuan karena takut kepada singa itu. Akan tetapi tiba-tiba pandangan nya tertuju ke kaki depan singa itu yang tampak mengeluarkan darah, seketika rasa takut Zia berubah menjadi rasa kasihan.


"Apa mungkin singa itu terus mengaung karena kesakitan?" Zia bertanya kepada dirinya sendiri, singa itu yang seolah mengerti dengan ucapan Zia segera mendekat ke arah Zia dan menunjukkan tangan nya yang terluka akibat tertusuk duri besar.


"Aduh gimana ini, kalo gak di tolong kasian tapi Zia juga takut. Mana singa nya besar bangat lagi." Perasaan Zia bercampur aduk sekarang antara takut dan kasihan, namun ia lebih memilih untuk menolong nya dan menahan rasa takutnya. Perlahan ia pun membuka kandang singa itu yang hanya di kancing tanpa di gembok.


-------------------


Setelah lelah bekerja akhirnya Dev telah sampai di kediaman nya, dan ia segera beranjak masuk ke dalam untuk menemui istri nya.


"Bik, dimana Zia?" tanya Dev kepada bi Sari yang sedang membuat jus untuk Zia, belum sempat bi Sari menjawab tiba-tiba terdengar auman singa yang begitu keras.


"AAARRGGG!"( Anggap aja suara singa )


"Semuanya, cepat lihat ada apa dengan Aslan!" titah Dev sambil berlari ke kandang binatang peliharaan nya di ikuti oleh beberapa anak buah nya juga.


"Nah, akhirnya kecabut juga," ucap Zia sambil memegang duri yang telah ia cabut dari kaki Aslan, seketika singa itu langsung tidur di pangkuan Zia seperti meminta untuk di manja.


"Bangun dulu anak manis, biar di balut dulu luka nya!" titah Zia dan langsung di patuhi oleh Aslan, di saat sedang asik mengobati luka Aslan tiba-tiba Zia di kejut kan oleh teriakan Dev.


"Zia! Menyingkir dari sana!" Dev berteriak keras, sementara Zia dan Aslan hanya menatap Dev dengan tatapan malas.


"Kak Dev apa-apaan sih pake teriak-teriak segala, emang Kakak pikir ini hutan apa?" omel Zia sambil terus membalut luka Aslan dengan shal nya.


"Kamu ngapain disini, Baby? Ini bahaya loh buat kamu," ucap Dev sambil memasuki kandang singa peliharaan nya.


"Dan tadi kanapa Aslan mengaung dengan keras?" tanya Dev lagi.


"Oh nama nya Aslan, nama yang bagus. Jadi gini Kak, tadi itu Zia liat ada duri yang menusuk kaki Aslan lalu Zia memberanikan diri untuk mencabut nya. Pas duri itu kecabut lah Aslan mengaung keras," jelas Zia sambil mengusap lembut kepala Aslan, sehingga membuat Aslan tidur dengan manja di pangkuan Zia.


"Huhhh! Dasar singa genit. Masak ia coba main tidur-tidur aja di pangkuan istri orang, sama aku aja gak pernah manja gitu," batin Dev kesal sambil menatap tajam ke arah Aslan.


"Sayang, aku juga pengen tidur di pangkuan kamu," rengek Dev kepada Zia.


"Yaudah Kakak tidur aja disini," ucap Zia seraya menunjuk ke paha nya sebelah lagi, namun dengan sigap Aslan langsung menutupi nya dengan tangan nya hingga tidak ada sisa untuk Dev tidur di pangkuan Zia.


"Sayang, liat Aslan." Dev mengadu kepada Zia sehingga membuat semua para bodyguard nya tertawa melihat tingkah Dev.


Bersambung ....