
Chika turun ke bawah dan menuju ke dapur, ia berniat ingin mencari tahu siapa yang sudah menukar atau memindahkan jus itu.
Chika mulai menggeledah semua perabotan yang ada di dapur, ia mencari jus itu ke seluruh sisi ruangan dapur. Namun, tak kunjung menemukannya.
"Duuhhh ... Dimana, ya? Kalo ada yang tau tentang jus itu, maka gue pasti akan segera out dari dunia ini. Yaampun ... Gimana, nih?" gumam Chika yang mulai panik tatkala tak menemukan jus itu.
"Cari apa, Non?" tanya Bi Sari yang tiba-tiba datang.
Chika sangat terkejut saat Bi Sari tiba-tiba menghampirinya, selain terkejut Chika juga sangat panik karena ia takut jika Bi Sari mendengar ucapannya tadi.
"E--em, gak ada, Bik," jawab Chika kikuk.
"Oh ya, Bik. Bibi ada liat jus jeruk yang Sasha tarok di sini?" tanya Chika seraya menunjuk ke atas meja tempat ia menaruh jus itu.
"Ooohh, jus itu? Udah Bibi buang, soalnya tadi jus itu baunya udah gak enak. Bibi pikir udah basi, jadi Bibi buang, deh," jelas Bi Sari kepada Chika.
"Lalu Bibi membuat jus yang baru untuk, Nyonya Zia," sambung Bi Sari lagi.
"Ck! Dasar pemb4ntu s14lan! Bisa-bisanya di buang jus itu, gagal deh rencanaku," batin Chika menatap benci kepada Bi Sari.
"Emang kenapa dengan jus itu, Non?" tanya Bi Sari lagi.
"Gak ada, Bik." Chika tersenyum, kemudian ia pergi dari sana.
-------------------------------
Di saat tengah asik-asiknya makan bersama Zia, tiba-tiba saja handphone Dev berbunyi dan tertera nama ayahnya di sana.
Drrtt! Drrtt!
Dev segera mengangkat panggilan dari ayahnya.
"Ada apa, Ayah? Apa ada masalah?" tanya Dev seraya mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Tidak, Nak. Ayah hanya ingin bilang, jika Ayah akan pergi ke Mumbai siang ini. Jadi, jagalah Zia baik-baik dan Ayah akan pulang setelah sepekan kemudian," jelas Tn. Andra di seberang sana.
"Kenapa mendadak begini, Ayah?" tanya Dev lagi.
"Bukan apa-apa, Nak. Ayah hanya ingin menemui Kakekmu, katanya dia sedang sakit," jelas Tn. Andra lagi.
"Kakek sakit?! Ayah, kami juga ingin ikut karena sudah lama juga kami tidak bertemu dengan Kakek," pinta Dev kepada Andra. Dev merasa khawatir saat mendengar kabar bahwa Tuan X sedang sakit.
"Tidak, Nak. Kau tetaplah di sini biar Ayah yang pergi, kau tidak perlu khawatir. Ayah yakin jika Kakekmu baik-baik saja," jelas Andra menenangkan putranya.
"Tapi ... Apa aku bisa mengantarkan Ayah sampai ke Bandara?" tawar Dev.
"Tentu, Nak," balas Andra setuju.
"Barang-barang apa yang harus Dev bawa, Ayah?" tanya Dev lagi.
"Tidak perlu, Nak. Bagas sedang menuju ke sana untuk mengambil semua keperluanku, kau pergilah kemari bersama menantuku!" titah Tn. Andra kepada Dev.
"Baik, Ayah. Dev matikan, ya." Dev langsung memutuskan panggilannya dan ia kembali mendekati Zia.
"Sayang, ayok!" ajak Dev sambil menggandeng tangan Zia dan membawanya keluar kamar.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Zia penasaran.
"Ke Bandara, Sayang. Ayah mau ke Mumbai siang ini, jadi kita akan mengantar Ayah sampai Bandara saja karena Ayah tidak mengizinkan kita untuk ikut bersamanya," jelas Dev sambil terus menarik tangan Zia menuju ke mobil.
"Ooohh, tapi kenapa mendadak gini, Kak?" tanya Zia lagi.
"Ayah mau ke tempat Kakek, katanya Kakek sedang sakit. Jadi, Ayah mau menjenguknya," jelas Dev lagi.
"Kakek? Kak Dev masih punya Kakek?" tanya Zia yang masih belum mengerti jika Kakek yang di maksud adalah Tuan X.
"Kakek angkat, Sayang. Yang di ceritakan oleh Ayah waktu itu, namanya Tuan X." Dev menjelaskan semuanya kepada Zia secara detail.
"Oohh, ya. Zia ingat sekarang," ucap Zia sambil mangut-mangut.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Dev setelah memasuki mobilnya.
"Udah, Kak." Zia mengangguk sambil melemparkan senyum manis kepada suaminya.
Brumm!
Mobil pun melaju keluar dari pekarangan rumah Dev dan mobil mulai melaju membelah jalanan kota yang masih ramai dengan pengguna jalan lainnya.
Satu minggu kemudian ....
Satu pekan telah berlalu, sudah satu minggu pula semenjak kepergiaan Andra ke Mumbai, tak ada masalah di rumah itu. Chika juga tidak membuat masalah, ia tak berani berkutik karena Dev telah menambah keamanan untuk menjaga Zia.
Dev menambah keamanan bukan tanpa alasan, akan tetapi ia menambah keamanan karena ia sendiri harus kembali ke kantor sebelum ayahnya pulang dari Mumbai. Jika Tn. Andra sudah pulang, maka ia bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Zia.
Hari ini, Zia bangun lebih awal dari biasanya karena ia ingin memasak untuk suaminya yang akan berangkat ke kantor.
"Ada yang perlu saya bantu, Nyonya?" tanya Chika atau Sasha yang baru saja datang.
"Gak usah, bentar lagi udah siap kok," balas Zia sambil terus mengaduk-aduk masakannya.
"Ck! Kenapa sih Devan pakek nambah bodyguard segala? Jadi gak bisa ngapa-ngapain Zia, kan," batin Chika kesal karena Zia selalu di kawal oleh para bodyguard walaupun sedang di dalam rumah. Alhasil, Chika tidak bisa menc3lakai Zia.
Chika terus berpikir. Apa yang harus ia lakukan untuk memisahkan Dev dan Zia, meski tidak menc3lakai Zia setidaknya mereka bertengkar saja sudah cukup untuk Chika. Namun, tak lama kemudian sebuah ide jah4t muncul di benaknya saat ia melihat secangkir kopi susu yang berada tidak jauh dari Zia.
"Nyonya, untuk siapa kopi itu?" tanya Chika dengan gaya lugunya.
"Untuk Kak Dev," balas Zia yang masih terus berkutik dengan alat-alat masaknya.
"Boleh saya antarkan untuk Tuan Dev?" tawar Chika dan Zia hanya mengangguk saja.
Zia sama sekali tidak merasa curiga kepada Chika karena sudah seminggu ini, Chika bekerja sangat baik di rumah itu.
"Dasar gadis b0d0h, Hhhha," umpat Chika di dalam hatinya sambil tertawa puas.
Chika segera mengambil secangkir kopi susu itu dan membawanya ke kamar Dev, akan tetapi sebelum sampai di kamar Dev. Chika diam-diam memasukkan sesuatu ke dalam kopi tersebut, yaitu obat p3r4ngs4ng.
"Kali ini, gue pasti berhasil. Setelah ini, Zia dan Dev pasti bakal pisah untuk selamanya," batin Chika kegirangan.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" teriak Dev dari dalam kamar.
Setelah mendengar suara Dev, Chika langsung masuk ke dalam kamar Dev dan berpura-pura mengantarkan kopi itu.
"Tuan, ini kopinya," ucap Chika seraya meletakkan kopi susu itu di atas nakas.
"Hmm, baiklah," balas Dev dingin.
Setelah mengantarkan kopi tersebut, Chika segera beranjak pergi dari kamar Dev agar tidak ada yang mencurigainya.
Sedangkan Dev, ia tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantornya.
"Ini pasti buatan Zia," gumam Dev seraya mengambil kopi susu itu dan menyuruputnya.
"Eemm, enak sekali. Zia memang tau seleraku," puji Dev setelah menyuruput kopi itu.
Dev kembali meletakkan kopi tersebut di atas nakas dan kembali bersiap-siap, akan tetapi tiba-tiba ia merasakan panas di seluruh tubuhnya.
"Ada apa ini? Mengapa tiba-tiba jadi sangat panas begini?" batin Dev seraya mengibas-ngibaskan pakaiannya.
"Aakkhh, panas!" ucap Dev sedikit berteriak.
"Bagus, pasti obatnya sudah bekerja," batin Chika yang berada di balik pintu kamar Dev.
Ternyata, sedari tadi ia tidak pergi kemana pun. Chika hanya berdiri di balik pintu kamar Dev dan menunggu obat itu bekerja.
"Sekarang, saatnya gue beraksi," batin Chika lagi.
"Ada apa, Tuan?" tanya Chika menghampiri Dev.
"Aahhh, panas!" jawab Dev sambil terus mengibas-ngibas pakaiannya.
"Apa yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Chika lagi, akan tetapi tangannya terus bermain di tubuh Dev.
Dev tidak menjawab pertanyaan Chika, ia segera memegang tangan Chika dan menghempaskannya ke atas kasur. Setelah itu Dev men1ndih tubuh Chika, sementara Chika tidak melawan sedikit pun karena memang itulah yang ia inginkan.
"Sayang ... Pu4skan Kakak," pinta Dev kepada Chika.
"Iya, Dev," balas Chika mengangguk pelan.
Di tengah n4fsunya yang semakin memuncak, Dev hanya melihat Zia jadi ia pun melakukan hal itu bersama Chika. Sedangkan Chika, ia hanya tertawa penuh kemenangan di saat Dev mulai menyentuhnya.
15 menit telah berlalu ....
Zia sudah lama menunggu Dev untuk makan bersama, akan tetapi Dev tak kunjung turun dari kamarnya.
"Kak Dev kok belum turun, ya? Apa Kak Dev gak ke kantor?" batin Zia bertanya-tanya.
"Aahh, mending aku liat aja." Zia pun beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke kamar.
"Kok di kunci?" gumam Zia bingung saat ia mencoba membuka pintu, tetapi terkunci dari dalam.
"Kak! Kok di kunci pintunya?!" tanya Zia sedikit berteriak dari balik pintu.
Mendengar suara teriakan Zia, Chika semakin mend3s4h kuat agar Zia mendengarnya dan benar saja. Zia mendengar suara ******* yang bersahut-sahutan, seketika perasaannya mulai tidak enak.
"Kak! Buka pintunya!" teriak Zia lagi.
"Ngapain Kak Dev ngedes4h gitu?" batin Zia bertanya-tanya keheranan.
"Kak! Kakak lagi ngapain?!" Zia terus menggedor-gedor pintu kamar Dev, tetapi tak ada yang membukanya. Hanya suara itu yang terdengar di telinga Zia.
Zia berhenti berteriak, ia segera mengambil kunci duplikat yang ada di sakunya dan membuka pintu kamar tersebut. Setelah pintu kamar terbuka, Zia menyaksikan sesuatu yang sangat menyakitkan baginya.
Zia mematung di tempatnya, ia sama sekali tak menduga akan menyaksikan hal itu. Hati Zia terasa sangat sakit bagaikan di tusuk oleh seribu belati, seketika airmatanya turun untuk mewakilkan rasa sakit yang ada di hatinya.
Zia membalikkan badannya dan ia berlari sekencang mungkin, rasanya sudah tak sanggup jika ia tetap di sana.
"Nyonya, anda mau keman?!" tanya Bima sedikit berteriak di kala melihat Zia yang berlari keluar rumah.
Zia tidak menjawab pertanyaan Bima, ia hanya terus berlari sambil menangis.
"Cepat susul, Nyonya!" titah Bima kepada para bodyguard lainnya dan mereka segera mengejar Zia.
"Nyonya, tunggu!" teriak mereka yang tengah mengejar Zia.
Zia terus berlari hingga ia sampai ke jalan raya, di karenakan pikirannya sedang tidak fokus. Zia hampir saja di tabr4k oleh sebuah mobil, beruntungnya mobil itu berhenti sebelum mengenai tubuh Zia.
Ckiitt! ( suara rem dadakan )
"Brukk!" Zia terjatuh karena menabrak mobil yang telah berhenti itu, akan tetapi ia tidak terluka sedikit pun.
"Ada apa?" tanya pemilik mobil itu kepada supirnya.
"Ada yang nyebrang sembarangan, Tuan," balas supirnya.
"Baiklah, saya akan memeriksanya." pemilik mobil itu turun dan menghampiri Zia yang masih duduk di depan mobilnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu.
Zia yang mendengar suara pria itu, ia merasa seolah mengenalnya dan suaranya sangat familiar di telinga Zia. Seketika Zia mendongak ke atas dan melihat pria itu.
"Abaang!" teriak Zia seraya bangkit dan langsung memeluk Rangga.
Ternyata, pemilik mobil itu adalah Rangga. Kakak kandungnya.
"Sayang, ada apa ini? Mengapa kau berlari di jalanan seperti ini?" tanya Rangga sambil membalas pelukan Zia.
Zia tidak menjawab pertanyaan Rangga, ia hanya menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Rangga dan hal itu membuat Rangga semakin bingung.
"Ada apa, Zia? Kenapa kau menangis? Apa kau sedang ada masalah?" tanya Rangga lagi.
"Abang ... Zia gak mau tinggal di rumah itu lagi, Kak Dev j4hat!" ucap Zia sela-sela isak tangisnya.
"Apa yang Dev lakukan kepadamu, Zia?" tanya Rangga lagi. Namun, saat ini wajah Rangga sudah memerah akibat menahan marah.
Rangga sangat marah jika ada yang menyakiti orang yang ia sayangi, terutama adiknya. Baginya, Zia adalah harta satu-satunya yang ia miliki setelah kedua orang tuanya pergi. Jadi, ia tak segan-segan untuk memb*nuh siapa saja yang menyakiti atau membuat Zia menangis.
"Zia, jawab Abang. Apa yang Dev lakukan?" desak Rangga.
"Kak Dev ...." Ucapan Zia terhenti karena Bima dan bodyguard yang lainnya datang menghampiri Zia dan Rangga.
"Nyonya. Ada apa ini, mengapa kau berlari?" tanya Bima yang memang tidak mengetahui apa-apa perihal Dev dan Chika.
"Aku yang seharusnya bertanya kepada kalian! Apa yang telah di lakukan oleh Dev hingga Zia jadi seperti ini?" tanya Rangga dengan nada sedikit membentak.
"Kami tidak tahu apa-apa, Tuan. Kami melihat Nyonya turun dari kamar sambil berlari, kami tidak tahu apa yang terjadi di antara Tuan Dev dan Nyonya," jelas Bima kepada Rangga.
"Jawab yang jujur!" bentak Rangga lagi.
"Kak, mereka berkata jujur. Mereka gak tahu apa yang terjadi," ucap Zia meyakinkan Rangga.
"Baiklah, kalo begitu. Aku sendiri yang akan bertanya kepada Dev!" Kali ini, Rangga benar-benar marah.
"Ayo, Zia!" ajak Rangga sambil menarik tangan Zia dan hendak masuk ke dalam mobilnya, akan tetapi Zia segera menghentikan Rangga.
"Abang! Zia udah gak mau ke rumah itu. Zia gak mau ketemu sama Kak Dev," ujar Zia dengan air mata yang terus mengalir.
"Tapi Zia, Abang mau tau apa yang di lakukan oleh Dev. Abang gak bisa diam kalo kamu di sakitin kek gini," jelas Rangga lagi.
"Abang ... Zia mohon, jangan bawa Zia ke rumah itu lagi," pinta Zia dengan menyatukan kedua tangannya dan ia kembali menangis sejadi-jadinya.
"Aarrggg!" Rangga mengerang marah dan meluapkan amarahnya dengan meninju kap mobilnya sendiri.
Setelah itu, Rangga kembali meraih Zia dan memeluknya.
"Sudahlah, Sayang. Abang gak akan bawa kamu ke rumah itu lagi, sekarang berhentilah menangis. Abang gak bisa liat kamu nangis." Rangga melepas pelukannya dan menyapu air mata Zia dengan lembut.
"Kita ke rumah Abang aja, ya?" tawar Rangga sambil mengusap pucuk kepala Zia, sementara Zia hanya mengangguk setuju.
"Ayo, Sayang." Rangga merangkul bahu Zia dan memasukkannya ke dalam mobil miliknya.
"Kalian pulanglah! Zia aman bersamaku," titah Rangga kepada Bima dan anak buah Dev yang lainnya.
"Tapi, jika Tuan Dev tahu maka ia akan memarahi kami," ujar Bima sedikit cemas.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku lebih berhak terhadap Zia di bandingkan dia. Jadi, jika dia mencari Zia maka katakan saja Zia ada bersamaku," jelas Rangga serius.
"Baiklah, Tuan." Bima mengangguk, setelah itu ia dan para bodyguard lainnya kembali ke rumah Dev.
Rangga masuk ke dalam mobilnya dan ia duduk di samping Zia.
"Jalan!" titah Rangga kepada supirnya dan supirnya hanya mematuhi saja.
Di sepanjang perjalanan, Zia terus saja menangis hingga ia tertidur. Melihat hal itu, Rangga merasa sangat kasihan kepada Zia. Rangga mengambil kepala Zia dan menyandarkan di bahunya agar Zia tidur dengan nyaman.
"Apa yang kau lakukan kepada Zia, Dev? Awas kau, aku akan segera membuat perhitungan denganmu," batin Rangga sambil menahan amarahnya.
"Kau sudah berani melukai, Bidadariku. Maka, kau harus menanggung akibatnya," batin Rangga lagi seraya mengepalkan tangannya.
Bersambung ....