
Setelah mengalami kejadian yang sangat menakutkan semalaman, Chika pun jatuh sakit dan ia demam tinggi. Sementara Zia yang mengatahui Chika sakit, ia tak tinggal diam.
"Chika sakit? No, ini gak boleh terjadi. Dia gak boleh sakit, dia harus menyelesaikan permainan yang telah di rancang sendiri," batin Zia.
Zia segera menuangkan air hangat ke dalam gelas dan ia mengambil beberapa tablet penurun panas, setelah itu Zia membawa obat itu ke kamar Chika.
"Sasha! Apa benar kamu sedang sakit?" tanya Zia yang baru saja masuk.
"I--iya, Nyonya," jawab Chika yang sedang gemetaran karena merasakan kedinginan.
"Panas sekali," gumam Zia setelah menyentuh kening Chika.
"Sasha, saya bawakan obat untuk kamu. Cepatlah di minum!" titah Zia seraya membantu Chika bangun.
"Minumlah obat itu agar kamu kuat melanjutkan permainan ini," ucap Zia bergumam.
"A--apa Nyonya mengatakan se--sesuatu?" tanya Chika yang sempat mendengar Zia bergumam, tetapi ia tidak tau apa yang di katakan oleh Zia.
"Tidak ... Saya tidak mengatakan apapun." Zia tersenyum manis.
"Nah, minumlah Sasha." Setelah membantu Chika duduk, Zia pun menyuapi tablet itu ke dalam mulut Chika.
"Dasar gadis b0d0h! Kasian bangat sih lo? Lo kasih obat ke orang yang salah Zia, lo gak tau kalo gue sembuh nanti. Gue akan secepatnya merebut Devan dari lo," batin Chika mengejek sikap baik Zia kepadanya.
"Bukan aku yang b0d0h Chika, tetapi kaulah yang akan terjebak dengan permainanmu sendiri," batin Zia lagi seolah mengetahui isi hati Chika.
"Sekarang, istirahatlah!" Setelah memberi obat itu untuk Chika, Zia kembali membaringkan tubuh Chika dan menyelimutinya di atas kasur.
"Te--terima kasih, Nyonya. Anda sangat baik kepada saya," ujar Chika berterima kasih pada Zia.
"Terima kasih banyak karena telah memberiku obat agar aku kuat untuk mengh4ncurkan hubungan kalian," timpal Chika di dalam hatinya.
"Tidak masalah, Sasha." Zia tersenyum, kemudian ia pun berjalan keluar dari kamar itu.
"Aku memberimu obat agar kau kuat saat kita bermain nanti," sambung Zia di dalam hatinya.
Zia kembali ke dapurnya untuk memasak makanan yang akan di santap oleh keluarganya pagi ini, sementara Chika kembali melanjutkan tidurnya.
-------------------------------
Di sisi lain, Harun tengah berbicara serius dengan sekretarisnya yang datang pagi-pagi buta hanya untuk menyampai sebuah kabar yang tidak enak di dengar.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Harun seraya memijit pelipisnya.
"Saya tidak tahu, Tuan. Namun, semua rekan kerja sama kita telah memutuskan kontraknya dengan kita. Mereka semua memilih untuk bekerja sama dengan perusahaan Tuan Devan," jelas sekretaris Harun cemas.
"Tuan, perusahaan kita mengalami kebangkrutan. Hutang kita sangat banyak dan gaji karyawan juga belum di bayar selama dua bulan, sementara uang perkantoran sudah mulai menipis Tuan. Tuan, kau harus segera mencari jalan dan menyelesaikan semua masalah ini," jelas sekretaris itu lagi.
Harun berpikir keras, ia sama sekali tidak pernah menduga jika ini semua akan terjadi karena sebelumnya perusahaan Devan tak pernah semaju ini. Memang perusahaan Devan adalah perusahaan termaju di Indonesia, tetapi sebelumnya tak pernah semaju seperti ini hingga membuatnya bangkrut sekaligus.
"Ada apa ini? Mengapa aku merasa jika Andra telah kembali? Tapi itu tidak mungkin, Andra telah meningg4l lima tahun yang lalu karena aku sendiri yang telah m3mbun*hnya dengan memutuskan kabel rem mobilnya. Bukankah ia juga mat1 karena terbakar di dalam mobilnya?" Harun terus berpikir keras.
"Tuan, apa yang akan kau lakukan untuk mengatasi masalah ini?" tanya sekretaris Harun dan seketika Harun tersadar dari lamunannya.
Baru saja Harun menghela nafas dan ingin berbicara, tiba-tiba bel rumahnya kembali berbunyi.
Ting! Tong!
"Pelayan! Cepat bukakan pintunya!" titah Harun dan pelayannya hanya mematuhi saja.
Begitu pintu terbuka, terlihatlah dua orang berpenampilan rapi yang tak lain adalah pegawai Bank. Mereka di persilakan masuk, setelah itu mereka pun di persilakan duduk oleh Harun.
"Permisi, Pak. Kami kesini bermaksud untuk menagih hutang Bapak yang Bapak pinjam enam bulan yang lalu dari Bank kami, senilai lima puluh miliyar. Harap segera di lunasi, Pak," jelas salah satu karyawan Bank.
"Iya, pasti akan saya bayar. Tapi, saya ingin meminta waktu tambahan karena saat ini saya belum punya uangnya. Saya mohon, tolong beri saya waktu lagi," pinta Harun memohon.
"Baiklah, Pak. Kami beri waktu Bapak selama satu minggu, jika dalam jangka waktu satu minggu Bapak tidak melunasi hutangnya. Maka kami akan menyita rumah ini," jelas pegawai Bank itu lagi.
"Bagaimana? Apa Bapak setuju?" tanya pegawai Bank itu kepada Harun.
"Baik, saya setuju." Harun tidak ada pilihan lagi selain menyetujui syarat dari mereka.
"Baiklah, kalo bergitu kami permisi dulu." Pegawai Bank itu pun pamit dan pergi dari kediaman Harun.
Harun semakin bingung dan pusing, belum selesai masalah yang satunya. Kini masalah lainnya ikut muncul hingga membuat isi kepalanya seolah akan meled4k.
"Tuan, apa solusi dari anda?" tanya sekretaris lagi.
"Tidak ada cara lain selain menjual perusahaan, hanya itulah satu-satunya jalan keluar dari masalah ini," ujar Harun mengambil keputusan setelah memikirkan semuanya.
"Tapi, Tuan. Kau akan kehilangan semuanya setelah kau menjual perusahaan itu," ucap sekretaris itu yang semakin khawatir.
"Tapi tidak ada cara lain, aku tidak akan bisa melunasi hutang-hutangku jika tidak menjual perusahaan itu!" jelas Harun sedikit membentak.
"Cepat lelang perusahaan kita hari ini juga!" titah Harun kepada sekretarisnya.
"Baik, Tuan. Saya pergi dulu, saya akan mempersiapkan semuanya untuk acara lelang nanti." Sekretaris itu berpamitan kepada Harun, setelah itu ia pun pergi dari sana.
"Ada apa ini?" gumam Harun sambil terus memijat pelipisnya.
-------------------------------
Jam 08:00 pagi.
Saat ini Andra turun ke bawah bersama Dev, mereka berdua sudah sangat rapi dengan jas dan celana yang senada.
"Selamat pagi, Ayah, Kak Dev," sapa Zia yang tengah menghidangkan makanan di atas meja makan.
"Pagi, Sayang," balas Devan.
"Pagi, Anakku," balas Andra.
Kemudian mereka segera mendekati ke arah Zia dan mereka duduk rapi di kursi meja makan.
"Nak, mengapa kau tidak menyuruh pelayan saja yang memasak? Ingat, Nak! Kau itu tidak boleh terlalu lelah dan kau juga harus beristirahat dengan cukup," jelas Tn. Andra yang sedikit khawatir jika Zia kelelahan.
"Iya, Sayang. Ayah benar," timpal Dev membenarkan ucapan Andra.
"Entahlah, Ayah. Zia lebih suka memasak sendiri karena Zia merasa bosan jika tidak melakukan apapun. Lagian, ini sama sekali tidak melelahkan," balas Zia seraya terus menyajikan makanan di atas piring suami dan mertuanya.
"Dengar tuh, Sayang," ucap Dev lagi.
"Iya, Kak. Zia akan mengingat semua pesan Ayah," balas Zia dengan melempar senyum yang sangat manis kepada suami dan mertuanya.
"Sayang, ayo makan bareng juga!" ajak Dev sambil menarik tangan Zia untuk duduk di sampingnya dan Zia hanya mematuhi saja.
Beberapa menit telah berlalu, mereka telah selesai dengan sarapan mereka. Setelah selesai sarapan, Dev dan Andra langsung berpamitan kepada Zia untuk pergi ke kantor.
"Nak, Ayah pamit dulu. Jaga diri baik-baik ya, Nak," ucap Andra seraya mengelus kepala Zia.
"Iya, Ayah." Zia mengangguk tersenyum, kemudian ia meraih tangan Andra dan menc1umnya.
"Sayang. Kakak pergi dulu, ya." Dev tersenyum kepada Zia dan ia juga mencium kening Zia.
"Iya, Kak." Zia membalas senyuman Dev, kemudian ia juga meraih tangan Dev dan menciumnya.
"Bye! Kak Dev. Bye! Ayah!" ucap Zia melambai ke arah Dev dan Andra yang kini sudah berada di dalam mobilnya.
"Bye!" jawab mereka bersamaan dan membalas lambaian Zia. Setelah itu, mobil pun melaju dan keluar dari kediaman Abraham.
Zia terus menatap mobil yang di naiki oleh suami dan mertuanya, lagi-lagi Zia tersenyum senang saat mereka sudah pergi karena ia akan kembali bermain bersama Chika.
"Chika udah sembuh belum, ya?" gumam Zia.
"Mending aku liat aja." Zia segera masuk ke dalam rumahnya dan kembali menuju ke kamar Chika.
Zia tersenyum di saat melihat dan mendengar Chika yang tengah berbicara sendiri, rupanya Chika sudah sembuh dan kini ia tengah menghayal menjadi istri Dev.
"Duhh ... Gak kebayang, deh. Nanti aku yang akan menjadi ratu di rumah ini dan Zia yang akan menjadi pelayan. Yaampun, ga sabar deh pengen cepat-cepat ngerebut Dev dari Zia," ujar Chika sambil melompat-lompat kegirangan, dia sama sekali tidak tahu jika Zia melihat dan mendengar ucapannya.
"Zia! Cepat kesini dan bersihkan ini semua!" ucap Chika yang tengah mempraktekkan imajinasinya.
"I--iya, Nyonya."
"Hhhhha! Pasti nantinya kek gitu jawaban Zia waktu aku suruh-surh dan pastinya dia juga nangis," tawa Chika lagi.
"Hhhha! Gil4. Setinggi itukah mimpimu? Baiklah, akan kutunjukan kepadamu betapa sakitnya jatuh dari ketinggian," batin Zia tertawa mendengar ucapan Chika.
Setelah cukup mendengar semua perkataan Chika, Zia pun masuk ke kamar itu sembari membawa pistol di tangannya dan kemudian Zia menodongkan pistol tersebut tepat di kepala Chika.
Chika tersentak kaget saat benda itu menyentuh kepala bagian belakangnya, tanpa menunggu lama Chika pun berbalik menghadap orang yang telah menodongkan benda itu ke kepalanya. Chika bertambah terkejut saat melihat Zia yang sendang menatapnya tajam sambil menodongkan pist0l itu tepat di keningnya.
"A--ada apa i--ini, Nyonya?" tanya Chika terbata-bata karena sudah sangat ketakutan.
Wajah Chika berubah pucat pasi, keringat dingin juga mulai bermunculan di keningnya dan seluruh badannya bergetar hebat karena ketakutan melihat Zia.
"Sudahlah, kau tak perlu berpura-pura lagi. Aku sudah mendengar semuanya dan aku juga sudah tahu apa niatmu kemari, aku pun sudah tahu siapa kau sebenarnya," ujar Zia seraya tersenyum devil.
"A--apa maksud, Nyonya?" tanya Chika lagi yang semakin ketakutan.
"Cepat buka topengmu atau p3luru ini akan menembus kepalamu!" ancam Zia lagi.
"Ti--tidak, Nyonya. Ja--jangan bun*h saya," pinta Chika sambil menelan ludahnya dengan susah payah.
"Cukup! Berhentilah berpura-pura!" bentak Zia mulai marah.
"Kau ingin merebut suamiku, kan? Kau ingin mengh4ncurkan keluargaku, kan? Jawab!" bentak Zia lagi sambil terus menekan pist0l itu ke kepala Chika.
"Tidak, Nyonya! Saya tidak pernah berniat seperti itu." Karena sudah sangat ketakutan, Chika pun menangis tatkala Zia membentaknya.
Plak!
Zia menurunkan senjata itu dan menampar Chika dengan sangat keras hingga Chika tersungkur ke lantai.
"Mau jujur atau kut3mbak?" tanya Zia memberi pilihan kepada Chika, sementara Chika hanya menangis sambil terus memegangi pipinya.
"Ow, ternyata kau lebih memilih m4t1 daripada mengaku. Baiklah, akan kuwujudkan keinginanmu." Zia pun menarik pelatuk pist0l itu dan kembali mengarahkannya tepat di kepala Chika yang masih menangis di atas lantai.
"Tidak! Jangan b*nuh aku. Baiklah! Aku akan jawab sekarang." jawab dengan cepat karena ia sudah sangat ketakutan sekarang, ia takut jika Zia memang benar-benar akan men3mbaknya.
Chika segera mengarahkan tangan ke lehernya dan ia hendak membuka topeng kulit yang ia pakai, tetapi Zia segera mencegah Chika dengan menertawakannya.
"Hhhhhha! Hey, ada apa? Mengapa kau begitu menganggap ini serius?" tanya Zia sambil tertawa.
"Bagaimana? Aktingku bagus, tidak?" tanya Zia lagi kepada Chika yang terlihat sudah sangat kebingungan.
"Akting? Apa maksudnya, Nyonya?" tanya Chika yang mengerti dengan maksud ucapan Zia.
"Iya, aku baru saja selesai menonton drakor. Jadi, aku memutuskan untuk memperagakan adegannya," jelas Zia sembari mengulurkan tangannya membantu Chika untuk berdiri.
"Lalu kenapa anda harus memperagakannya kepada saya, Nyonya?" tanya Chika seraya menyambut uluran tangan Zia dan bangkit untuk kembali berdiri.
"Hhhha! Jika tidak denganmu, dengan siapa aku harus memperagakannya? Kan, tidak mungkin jika aku bermain bersama Bi Sari. Yang ada nantinya Bi Sari malah jantungan lagi, hhhha!" jelas Zia lagi masih dengan tertawa.
"Lalu senjata itu?" Chik menunjuk ke arah piatol yang tengah di pegang oleh Zia.
"Hhhhha! Tenanglah, ini hanya pistol mainan. Lihatlah ini." Zia pun menembak dan seketika keluarlah balon-balon dari dalam pistol itu.
"Oh ya, aku minta maaf jika tadinya aku menamparmu terlalu keras," ujar Zia lagi.
"Tidak, Nyonya. Tidak masalah." Chika hanya bisa tersenyum kecut, jujur saja ia masih sangat takut akan hal tadi.
"Oh ya, apa kau sudah sembuh?" tanya Zia lagi.
"Ya, Nyonya. Aku sudah sembuh," jawab Chika seraya mengangguk.
"Baguslah. Istirahat kembali, maaf jika aku sdikit menganggu." Zia membalikkan tubuhnya dan keluar dari kamar itu.
"Ternyata benar dugaanku, wajah Chika jauh lebih indah saat ia sedang takut seperti tadi. Uuuhhh! Aku sangat puas hari ini," batin Zia seraya menyeringai menyeramkan.
"Namun, hal itu pasti akan lebih seru saat aku benar-benar men0d0ngkan senjata asli di kepalanya. Semoga saja harapanku yang satu ini bisa terwujud," batin Zia lagi.
"Astaga! Ternyata Zia sangat menyeramkan jika sedang marah. Untunglah tadi itu cuman pura-pura, kalo enggak pasti dah habis aku," gumam Chika sambil mengelus dadanya.
Bersambung ....