Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Apa Yang Akan Di lakukan Oleh Chika dengan Ayahnya?



"Ayah, kita akan langsung ke kantor?" tanya Devan kepada Tn. Andra.


"Tidak, Nak. Kita akan pergi ke tempat lelang terlebih dahulu," jawab Tn. Andra.


"Lelang? Dimana, Ayah? Dan apa yang mau Ayah beli?" tanya Dev bertubi-tubi.


"Kau ikut saja, Nak. Nanti kau akan mengetahuinya." Andra tersenyum dan memilih membiarkan Dev kebingungan.


"Kita sudah sampai, Tuan," ucap Bagas memberitahukan Andra dan Dev jika mereka sudah sampai di tempat lelang perusahaan Harun.


"Ayo, Nak!" ajak Tn. Andra seraya menuruni mobilnya.


"Perusahaan Harun? Ngapain Ayah kesini, emangnya ada lelang apaan di sini?" batin Dev bertanya-tanya.


Setelah Dev menuruni mobil, Tn. Andra pun mengajak Dev untuk duduk di kursi yang telah di sediakan untuk para tamu yang mengikuti acara lelang tersebut. Andra dan Dev duduk di kursi paling belakang, Andra juga tak lupa memakai kacamata hitam agar tak mudah di kenali oleh Harun dan anak buahnya.


"Ayah, apa yang akan di lelang oleh perusahaan ini?" tanya Dev yang masih sangat penasaran.


"Perusahaan ini yang akan di lelang, Dev. Kabarnya perusahaan ini telah bangkrut, karena itulah perusahaan ini di lelang," jelas Andra, sementara Dev hanya mengangguk sambil ber oh saja.


Tak lama kemudian, acara pun telah di mulai dan salah satu karyawan yang membawa acara mulai berbicara hingga menyebabkan keheningan diantara pebisnis-pebisnis yang hadir di sana.


"Baiklah, harga lelang di mulai dari jumlah lima puluh miliyard. Ada yang ingin menawarkan lebih?" tanya pembawa acara itu.


"Enam puluh miliyard!"


"Tujuh puluh miliyard!"


"Sembilan puluh miliyard!"


Satu per satu pebinis itu mengangkat tangan sambil menawarkan harga untuk perusahaan itu.


"Seratus dua puluh miliyard!"


Semua pebisnis terdiam dan tercengang saat mendengar ada seseorang yang menawarkan dengan harga setinggi itu, tetapi itu bukanlah tawaran dari Andra.


"Ada lagi selain seratus dua puluh miliyard? Ok, kalo gak akan maka akan sayah umumkan pemenangnya," jelas pembawa acara itu.


"Akan saya hitung sampai tiga."


"Satu ...."


"Dua ...."


"Dua ratus miliyard cash!" teriak Andra yang tengah duduk di kursi paling belakang.


Semua orang kembali terkejut dan tercengang saat mendengar tawaran setinggi itu, kemudian mereka mulai bertanya-tanya tentang orang itu karena mereka tak bisa mengenali wajah Andra dengan jelas sebab Andra memakai kacamata.


"Ada yang lain?" tanya pembawa acara itu lagi.


"Ok, kalo tidak ada maka dua ratus miliyard yang akan menjadi pemenangnya," ujar pembawa acara itu.


"Satu!"


"Dua!"


"Tiga!"


Tap! Tap! Tap!


Palu pun di ketuk sebanyak tiga kali dan sekarang, perusahaan milik Harun telah sepenuhnya menjadi milik Andra.


"Akhirnya, Harun. Akhirnya aku bisa menj4tuhkanmu, sekarang hanya tinggal membuatmu mend3rita sampai mat1," batin Andra tersenyum senang saat ia berhasil menj4tuhkan Harun.


"Ayah, kenapa Ayah ingin membeli perusahaan ini dengan harga yang sangat tinggi?" tanya Devan lagi.


"Ada alasan di balik ini semua, Nak." Andra tersenyum dan kembali meninggalkan rasa penasaran di benak Dev.


Setelah acara lelang itu selesai dan di menangkan oleh Andra, para tamu yang datang mulai beranjak satu per satu dari kursi mereka dan mulai meninggalkan tempat acara tersebut.


"Permisi, Tuan. Tuan Harun ingin bertemu dengan anda untuk membahas masalah pembayaran. Mari ikut saya, Tuan!" ajak salah satu karyawan Harun.


"Baiklah!" Andra setuju dan langsung mengikuti pembawa acara itu untuk menemui Harun, sementara Devan hanya mengekor di belakang ayahnya.


"Tuan, ini orangnya," ucap karyawan itu setelah mereka sampai di ruangan Harun.


"Baiklah, kau bisa pergi sekarang!" titah Harun yang tengah menandatangani berkas tanpa melihat ke arah Andra yang tengah memperhatikannya.


"Silahkan duduk, Tuan!" Harun mempersilakan Dev dan Andra untuk duduk, tetapi pandangan Harun masih fokus menandatangani berkas-berkas penting itu.


Andra dan Dev duduk tepat di kursi yang ada di depan meja Harun, Amdra sengaja melepas kacamatanya saat ia duduk di depan Harun. Ia ingin sekali melihat ekspresi Harun.


"Baiklah, Tuan. Teri ...." Harun sangat terkejut saat ia melihat Andra yang tengah duduk di depannya.


"Ka--kau! Ti--tidak mu--mungkin. Ba-bagaimana kau masih hidup? Bu--bukankah kau su--sudah m4t1?" Wajah Harun seketika menjadi pucat, ia sangat takut saat melihat Andra.


"Dev, ambilkan uangnya!" titah Andra dan Dev hanya mematuhi saja.


"Kenapa Harun? Mengapa kau sangat terkejut seperti itu? Apa kau takut jika rahasiamu kuungkapkan pada polisi? Tenanglah, aku tidak akan memberitahukan polisi tentang apa yang kau lakukan kepadaku?" jelas Tn. Andra seraya tersenyum miring.


"Karena aku sendiri yang akan menghukummu," sambung Andra lagi.


"Waw! Ternyata kau sangat cepat mengerti, padahal aku tidak bilang tentang kecelakaan itu tapi kau langsung mengerti. Hebat sekali, Harun." Andra menepuk tangan dan tersenyum meng3jek kepada Harun.


"Harun, aku telah kembali dan aku kembali untuk membalas semua perbuatanmu," ujar Andra lagi yang membuat Harun semakin takut.


Setelah mengatakan hal tersebut, Andra pun mengambil surat perusahaan itu dan menandatanganinya.


"Mulai sekarang, perusahaan ini milikku." Andra kembali tersenyum puas saat melihat Harun yang sudah ketakutan.


"Ayah, ini uangnya," ucap Dev yang baru saja masuk dengan membawa uang satu koper kecil.


"Hitunglah, uangmu!" Andra meletakkan koper berisi uang itu tepat di depan Harun.


"Ayo, Nak!" ajak Andra dan Dev hanya mematuhi saja, kemudian mereka pun pergi dari sana.


"Astaga! Bagaimana ini? Tidak, aku harus segera menyuruh Chika untuk pergi dari rumah itu. Aku tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh Andra jika Chika ketahuan, aku tidak mau terjadi sesuatu kepada putriku." Harun yang semakin panik segera mengambil handphonenya dan menghubungi Chika.


------------------------------


Drrtt! Drrrttt!


"Iihhh! Siapa, sih? Ganggu aja," gumam Chika yang tengah mengompres pipinya yang lebam akibat di t4mpar oleh Zia.


"Ssstt! Mana pipi sakit bangat lagi, awas lo Zia bakal gue balas perbuatan lo," gumam Chika meringis sambil memegangi pipinya.


"Ayah?" Chika pun mengangkat panggilan dari ayahnya.


"Halo Ayah, ada apa?" Chika menempelkan ponsel di telinganya.


"Nak, cepatlah kau pergi dari sana!"


"Ada apa, Ayah? Kenapa menyuruh Chika untuk pergi dari sini?" tanya Chika yang masih belum mengerti akan perkataan ayahnya.


"Gawat, Nak. Ayahnya Dev telah kembali, cepatlah pergi dari rumah itu Chika! Ayah sangat takut jika dia mengetahui kalau kau menyamar di sana, Ayah takut jika dia akan menghukummu. Pergilah secepatnya, Nak."


"Tapi Devan, Ayah. Aku sangat mencintainya," ujar Chika lagi.


"Nak. Devan bisa kita pikirkan nantinya, sekarang yang terpenting adalah nyawamu. Pergilah, Nak!"


"Baiklah, Ayah. Tapi semua orang bisa curiga jika aku pergi mendadak seperti ini," ucap Chika yang sedikit khawatir.


"Kau bilang saja jika orang tuamu sedang sakit."


"Baiklah, Ayah." Chika mengangguk patuh.


"Nak, ada satu lagi kabar buruk yang harus Ayah beritahu kepadamu."


"Apa itu, Ayah?" tanya Chika penasaran.


"Ayah sudah bangkrut, Nak. Dan itu semua di sebabkan oleh ayahnya Devan."


"Apa?! Bangkrut?!" Chika sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.


"Iya, Nak. Ayah juga telah menjual perusahaan kita untuk membayar semua hutang-hutang Ayah kepada Bank."


"Tidak, Ayah! Ini tidak mungkin!" Chika masih belum bisa menerima semua yang di katakan oleh ayahnya.


"Cepatlah kembali, Nak!"


Harun pun memutuskan panggilannya secara sepihak.


"Tidak! Aku tidak bisa membiarkan ini semua, aku harus membalas ini semua," batin Chika marah.


Chika pun mengemas semua pakaian-pakaiannya, setelah itu ia menemui Zia untuk berpamitan.


"Mau kemana, Sasha? Mengapa kau membawa semua barang-barangmu?" tanya Zia saat melihat Chika keluar sambil membawa tas besar berisi pakaiannya.


"Aku mohon izin, Nyonya. Aku akan kembali ke kampung karena orang tuaku sedang sakit," ujar Chika meminta izin kepada Zia.


"Baiklah, Sasha. Tapi kembalilah kesini jika orang tuamu sudah sembuh karena aku sangat senang jika kau berada di sini," ujar Zia tersenyum manis.


"Dasar b0d0h! Dia pikir aku tidak tahu jika ia pergi karena ayahnya telah bangkrut, selain itu ia pergi karena permintaan ayahnya sendiri yang takut jika ia ketahuan oleh Ayah," batin Zia.


"Baik, Nyonya. Jika orang tua saya sudah sembuh, maka saya akan kembali kesini," ucap Chika mengangguk.


"Tentu saja, Zia. Yang pastinya aku akan kembali untuk membalas semua perbuatan mertuamu kepada Ayahku, setelah itu kau juga akan kuh4bisi dan Devan akan menjadi milikku. Hhhha!" batin Chika tertawa.


"Tidak, Chika. Aku tidak akan pernah membiarkan kau meyakiti keluargaku, akan tidak peduli jika aku harus mat1 karena yang terpenting bagiku adalah keluargaku," batin Zia yang seolah tahu isi hati Chika.


"Nyonya, saya pergi dulu," ujar Chika lagi.


"Tunggu, Sasha. Ini ada sedikit uang untukmu, mungkin kau akan membutuhkannya di jalan pulang nanti." Zia mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari sakunya dan menyerahkannya kepada Chika.


"Terima kasih, Nyonya." Chika pun mengambil uang itu dan bergegas pergi dari rumah itu.


"Akhirnya dia pergi dari rumah ini, tapi aku tak boleh senang dulu. Aku tahu bagaimana l1ciknya Chika dan ayahnya, aku harus waspada karena bisa saja dia dan ayahnya akan mencel4kai keluargaku untuk balas d3ndam. Aku harus menyiapkan diri untuk itu," batin Zia yang sedikit mencemaskan keluarganya.


Bersambung ....