Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Keyakinan seorang anak



Saat ini, Chika atau Sasha telah sampai di rumahnya dan ia segera masuk ke dalam rumah itu untuk menemui kedua orang tuanya.


"Ayah! Ibu!" Chika langsung memeluk kedua orang tuanya.


"Ayah, apa benar kita sudah bangkrut?" tanya Chika seraya melepas pelukannya.


"Benar, Nak," jawab ibunya seraya menunduk sedih.


"Iya, Nak. Bahkan perusahaan kita telah Ayah jual," timpal Harun lagi.


"Kau tau, Nak? Ayahnya Devan yang telah membuat Ayah bangkrut, ia juga yang telah membeli perusahaan kita. Dari awal ayahnya Devan memang tidak suka dengan keluarga kita, mungkin saat ini dia sudah sangat senang karena telah berhasil menj4tuhkan kita," jelas Harun mengh4sut Chika.


"Aarrggg! Ayah, kita tidak bisa tinggal diam! Bagaimanapun caranya kita harus membalas semua perbuatan ayahnya Devan." Chika mulai terhasut dengan perkataan ayahnya sendiri.


"Tenanglah, Nak! Ayah punya cara yang jitu untuk mengal4hkan Andra," ujar Harun tersenyum lic1k.


"Bagaimana caranya, Ayah?" tanya Chika penasaran.


"Iya, Mas. Bagaimana caranya?" timpal ibunya Chika angkat bicara.


"Kemarilah! Akan kutunjukan sesuatu kepada kalian," ajak Harun kepada anak istrinya dan mereka hanya mengikuti saja di belakang Harun.


Setelah beberapa saat, mereka pun telah sampai di satu kamar rahasia milik Harun. Harun langsung mengambil laptopnya dan membukanya, kemudian ia menunjukkan rekaman kamera yang memperlihatkan lima orang yang di rantai berada di dalam sel tahanan. Bukan di penjara, tetapi ada di markas tempat Harun menahannya.


"Siapa mereka, Ayah?" tanya Chika yang tak mengenali mereka.


"Iya, Mas. Siapa mereka itu dan mengapa mereka di sandera seperti itu?" tanya ibunya Chika yang juga tak kalah penasaran dari Chika.


"Mereka adalah senjata kita untuk mengalahkan Andra, mereka adalah orang-orang terdekat Andra. Maka, dengan adanya mereka kita bisa lebih mudah mengalahkan Andra," jelas Harun di sertai senyum jah4tnya.


"Jadi, maksud Ayah. Kita akan menjebak ayahnya Devan menggunakan mereka?" tanya Chika memastikan jika dugaannya benar.


"Iya, Nak. Kau benar sekali." Harun mengangguk mengiyakan perkataan anaknya.


"Nak, kau sudah berada di rumahmu. Lepaslah topeng itu, Ibu rindu pada Chika bukan Sasha," ujar Naura menyuruh Chika untuk membuka topengnya.


"Hhhhe. Maaf, Bu. Chika lupa, soalnya tadi Chika buru-buru waktu pulang ke sini." Chika terkekeh pelan dan mulai melepas topeng kulit yang ia kenakan.


Di karenakan saat berbicara tadi Chika belum melepas topengnya, alhasil Zia pun dapat mendengar apa yang di katakan oleh mereka melalui alat perekam yang ia tanam di dalam topeng itu.


Zia sangat khawatir saat mendengar jika Harun akan membalas mertuanya, ia juga takut jika mereka nekat dan melukai keluarganya.


"Aku harus segera memberitahukan semua ini kepada Ayah dan Kak Dev. Ya, aku harus memberitahukan mereka agar mereka lebih berhati-hati," gumam Zia yang sedikit cemas kepada suami dan mertuanya.


"Tapi, siapa kelima orang itu? Mengapa ayahnya Chika mengatakan jika mereka adalah orang terdekat Ayah?" gumam Zia lagi bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Sepertinya, aku harus mencaritahu siapa orang-orang itu. Tapi dimana aku akan mencarinya?" Zia berpikir keras untuk mencaritahu tentang kelima orang itu.


"Ya. Aku akan mencoba mencarinya di gudang, mungkin ada petunjuk di sana." Zia langsung bergegas menuju ke gudang untuk mencari petunjuk tentang kelima orang itu.


Setelah Zia sampai di gudang, ia pun segera menggeledah barang-barang lama yang di simpan rapi di dalam kardus. Zia membuka satu per satu kardus itu guna mencari petunjuk dan di saat ia membuka satu kardus, Zia melihat ada dua buah album foto jadul di sana. Zia pun segera mengambil album itu, lalu membukanya untuk melihat isinya.


Zia tersenyum haru di saat melihat isi dari album jadul itu, ternyata isinya adalah keseruan-keseruan di antara tiga keluarga. Yaitu, keluarga Devan, keluarga Farhan dan juga keluarganya sendiri.


"Yaampun. Kak Dev imut bangat pas masih kecil, Bang Rangga juga imut bangat. Ini pasti Kak Farhan, imut bangat." Zia tersenyum manis saat melihat foto-foto masa kecil tiga cogan itu, setelah itu Zia membuka halaman selanjutnya.


"Ternyata Ayah sangat tampan, Ibu juga sangat cantik. Pantes aja Bang Rangga tampan bangat, ternyata dia mewariskan ketampanan Ayah. Sedangkan Zia, pasti Zia cantik kayak Ibu," gumam Zia tersenyum, tetapi air matanya semakin banyak membendung di pelupuk matanya.


Zia kembali membuka halaman selanjutnya, tak lama kemudian. Zia sudah tidak dapat menahan air matanya karena terharu melihat foto-foto orang tuanya yang tengah tertawa bahagia.


"Ayah! Ibu! Zia sangat senang saat melihat kalian tertawa seperti ini, rasa-rasanya kalian berdua masih ada di dunia ini," gumam Zia yang mulai terisak.


"Ayah, Ibu. Andai saja kalian masih ada di sini, pasti Zia bisa ngeliat kalian tertawa kek gini. Namun sayangnya, itu semua tak akan pernah terjadi karena kalian sudah tenang di sana." Zia semakin terisak tatkala mengingat kedua orang tuanya yang sudah tiada.


"Andai saja kalian masih bersamaku, pasti kalian akan segera bisa menimang anak Zia nantinya. Zia sangat berharap jika kalian masih ada disini, tetapi Zia sadar jika harapan itu gak akan pernah bisa terwujudkan," gumam Zia di sela-sela isak tangisnya.


Zia menutup album itu karena dia sudah tak sanggup melihatnya, Zia sangat rindu kepada orang tuanya saat melihat semua foto-foto itu. Namun, Zia hanya bisa mengungkapkan rasa rindunya melalui air mata.


"Sudahlah, Zia. Iklaskan orang tuamu, mereka pasti sudah tenang di alam sana," gumam Zia menyemangati dirinya sendiri.


"Ternyata Ayah Kak Dev sangat dekat dengan orang tua Zia dan orang tua Kak Farhan," ucap Zia sambil menghapus air matanya.


Zia terdiam sejenak setelah mengucapkan kata-kata itu, kemudian pikiran Zia mulai aktif dan Zia mencoba mengingat cerita Tn. Andra tentang sahabat-sahabatnya. Zia sangat terkejut di saat mengingat jika sahabat terdekat Tn. Andra adalah orang tuanya dan orang Farhan, seketika kesedihan Zia berubah menjadi sebuah harapan.


Zia kembali membuka album itu dan melihatnya hingga habis, ternyata apa yang ia pikirkan adalah benar. Karena di seluruh foto yang ada di dalam album itu, tak ada satu pun foto tanpa orang tuanya dan orang tua Farhan.


"Apakah kelima orang itu adalah orang yang ada di foto ini? Kalau begitu, berarti orang tua Zia ma ...." Zia tak bisa melanjutkan ucapannya, jujur saja ia merasa sangat bingung saat ini.


Meskipun merasa kebingungan, tetapi entah mengapa hati kecil Zia berkata jika kedua orang tuanya masih hidup dan semakin lama kebingungan itu berubah menjadi sebuah keyakinan.


"Zia sangat yakin jika lima orang yang di maksud itu adalah orang tua Zia dan orang tua Kak Farhan, beserta ibunya Kak Dev sekalian karena merekalah yang telah di kabarkan tiada," ujar Zia meyakini dirinya sendiri.


"Zia harus bisa melihat kelima orang itu, Zia harus bisa mengintai rumahnya Chika. Tapi gimana caranya, ya? Kalo aku minta bantuan Kak Dev yang ada nantinya Kak Dev bisa marah karena Kak Dev gak sabaran orangnya, lebih baik aku minta bantuan Bang Rangga aja." Zia pun mengeluarkan handphone dari sakunya untuk menghubungi Rangga.


Sebelum menghubungi Rangga, Zia bersumpah terlebih dahulu bahwasanya ia akan mengh4ncurkan keluarga Chika kalau sudah terbukti jika yang di sandera itu adalah orang tuanya.


"Awas saja kau Harun, jika memang sudah terbukti itu adalah orang tuaku dan jika kau berani menyakiti keluargaku. Maka aku bersumpah, akan kuhab1si seluruh keluargamu tanpa ampun. Ini adalah sumpah seorang anak yang telah kau pisahkan dari ibunya, ini juga sumpah dari seorang istri dan menantu." Kali ini kesedihan di dalam hati Zia telah berubah menjadi d3ndam bercampur amarah.


Zia menghela nafasnya agar amarahnya mereda, kemudian ia segera menghubungi Rangga.


"Abang bisa ke rumah Zia jam tiga nanti?" tanya Zia setelah panggilan itu di jawab oleh Rangga.


"Bisa, Dek. Emangnya ada masalah apa?"


"Ada sesuatu yang penting, yang ingin Zia bicarakan dengan Abang," ujar Zia serius.


"Nantinya akan Zia ceritakan jika Abang sudah di sini." Zia langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak.


"Ada apa dengan Zia? Mengapa tiba-tiba dia jadi serius begitu?" Seketika jiwa kepo Rangga meronta-ronta.


"Pasti ada yang gak beres, aku harus segera pergi ke rumah Zia," gumam Rangga lalu ia mengambil jas dan kunci mobilnya yang terletak diatas meja kerjanya.


Kebetulan hari ini tidak ada meeting di kantornya, selain itu berkas-berkas penting juga telah selesai ia tanda tangani. Jadi, ia bisa pergi menemui Zia sekarang tanpa harus memikirkan pekerjaan lagi.


Rangga mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi hingga tak tiga puluh menit, ia pun sudah sampai di kediaman Zia. Rangga langsung memarkirkan mobilnya dan ia segera turun dengan tergesa-gesa dari mobilnya, ia sangat khawatir jika Zia kenapa-napa.


"Dimana, Zia?" tanya Rangga pada Bima yang tengah berjaga-jaga di depan pintu utama.


"Ada di dalam, Tuan," balas Bima.


Setelah mendapat jawaban dari Bima, Rangga langsung masuk ke dalam rumah itu dengan sangat tergesa-gesa. Namun, perasaannya sedikit lega saat melihat Zia yang tengah duduk di ruang keluarga, tetapi ada yang aneh pada Zia karena Rangga melihat Zia tengah melamun dan tatapan kosong bahkan Zia tidak sadar jika Rangga sudah masuk ke dalam rumahnya.


"Zia," panggil Rangga lirih sambil memegangi pundak Zia.


Zia sedikit terkejut dan tersentak di kala Rangga menyentuh pundaknya.


"Ba--Bang Rangga kok datang sekarang?" tanya Zia.


"Abang khawatir sama kamu, Abang takut kalo kamu kenapa-napa. Oh, ya. Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan, Zia?" tanya Rangga seraya ikut duduk di sofa yang ada di depan Zia.


"Permisi, Nyonya. Anda dan Tuan Rangga mau minum apa?" tanya Bi Sari yang baru saja datang.


"Kalo Zia jus jeruk aja, Bik. Kalo Bang Rangga mau minum apa?" tanya Zia pda Rangga.


"Di samakan aja, Bik," jawab Rangga sedikit tersenyum.


"Baik, mohon di tunggu sebentar." Bi sari kembali ke dapur untuk membuat minuman yang di minta oleh Zia dan Rangga.


"Abang, ini menyangkut soal Ibu dan Ayah," ujar Zia, kemudian Zia pun mulai menceritakan semuanya tentang Chika dan tenang pembicaraan Chika yang ia dengar tadi.


"Apa kamu yakin, Zia? Abang memang tidak ada di saat kedua orang tua kita men1nggal, karena Abang tidak pulang pada saat orang tua kita m3ninggal. Tapi bukankah kau melihat mereka di saat-saat terakhir mereka?" tanya Rangga setelah mendengar penjelasan Zia.


Zia tak langsung menjawab pertanyaan Rangga karena Bi Sari datang sambil membawakan air untuk mereka, setelah Bi Sari kembali ke dapur. Zia kembali melanjutkan apa yang ingin ia katakan kepada Rangga.


"Memang benar Zia ada di saat meningg4l, tetapi Zia masih belum percaya jika itu mereka," ujar Zia menatap Rangga serius.


"Mengapa begitu, Zia? Bukankah kau sendiri melihat jenazah mereka?" tanya Rangga yang masih penasaran.


"Tidak, Zia sama sekali tidak pernah melihat jenazah mereka," ujar Zia lagi sambil menggeleng pelan.


"Bagaimana bisa kau tidak melihat jenazah mereka?" tanya Rangga yang semakin penasaran.


"Pada saat Ayah di kabarkan telah men1nggal akibat k3celakaan, Zia tidak bisa mengenali tubuhnya karena sudah tak terbentuk lagi akibat terbak4r. Sementara Ibu, dokter memvonis Ibu mengidap penyakit berbahaya. Namun, anehnya dokter itu tidak mau memberitahukan apa nama penyakitnya," jelas Zia serius.


"Abang, tahu? Bahkan Zia tidak di izinkan menemui Ibu saat Ibu di rawat, karena mereka bilang penyakit Ibu menular. Zia juga tidak sempat melihat jenazah Ibu untuk yang terakhir kalinya karena mereka sudah terlebih dahulu mengubur Ibu," jelas Zia lagi.


Zia terdiam, ia berpikir jika yang di katakan oleh Zia memang sangat aneh dan mencurigakan.


"Dek, ini benar-benar aneh. Ada misteri tersembunyi di sini yang tidak kita ketahui, sepertinya ada yang t3lah menipu kita dengan mengatakan orang tua kita sudah tiada," ujar Rangga, ia mulai yakin dengan apa yang di katakan oleh Zia.


"Ya, Abang benar. Bukan hanya kita yang tertipu di sini, Kak Dev dan ayahnya beserta Kak Farhan juga ikut tertipu di sini. Bang, kita harus mencaritahu tentang kelima orang itu," ajak Zia kepada Rangga.


"Iya, Zia. Abang setuju, sekarang Abang juga sangat yakin jika orang tua kita masih hidup." Rangga mengangguki perkataan Zia.


"Tapi, bagaimana caranya kita akan mengetahui tentang kelimana orang itu? Kita tidak bisa masuk ke dalam rumah Harun, bisa-bisa kita dalam bahaya jika dia tahu kalo kita masuk ke rumahnya," tanya Rangga yang bingung harus bagaimana.


"Bukankah sekarang zaman sudah sangat canggih? Jika kita mempunyai mata lain yang bisa melihat, mengapa kita harus merepotkan diri kita untuk masuk kesana?" jawab Zia dengan sedikit berteka teki hingga membuat Rangga semakin kebingungan.


"Maksudnya?" tanya Rangga bingung dan Zia pun mulai menceritakan semua rencananya kepada Rangga.


"Yaampun kenapa aku gak kepikiran sampai ke sana?" Rangga menepuk jidatnya pelan karena pikirannya kalah cepat dengan pikiran Zia.


"Yaampun, sejak kapan Adekku menjadi sepintar ini? Dia sudah seperti seorang agen rahasia saja," batin Rangga memuji Zia.


"Gimana, Abang setuju gak?" tanya Zia lagi.


"Setuju bangat. Gimana kalo kita mulai sekarang?" tanya Rangga lagi.


"Ayo, Zia juga udah penasaran bangat." Zia mengangguk setuju, setelah itu mereka pun pergi untuk mengintai rumah Harun. Namun, sebelumnya mereka akan pergi ke toko kamera terlebih dahulu untuk membeli kamera seperti yang di katakan oleh Zia tadi.


Setelah mendapat apa yang mereka cari, tanpa menunggu lama lagi mereka langsung tancap gas ke rumah Harun.


"Bang, itu rumahnya," ucap Zia menunjuk ke rumah Harun.


"Ok, berarti kita berhenti di sini aja agar gak ada yang melihat kita." Rangga memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah Chika.


Setelah memarkirkan mobilnya, Rangga segera membuka kamera yang ia beli tadi dan mengaktifkannya. Kamera itu berbentuk seperti seekor tawon, bisa di katakan itu adalah robot tapi di dalamnya juga terlengkapi kamera dan kamera itu sangatlah dicari-cari karena banyak di pakai oleh orang untuk mengintai sesuatu agar tidak ketahuan.


Di saat tengah mengaktifkan robot itu, tiba-tiba Zia melihat jika Harun sedang berada di halaman rumahnya bersama anak dan istrinya.


"Abang, itu mereka." Zia menunjuk ke arah Harun yang tengah berdiri di halaman seperti akan bersiap untuk pergi ke suatu tempat.


Setelaj kamera itu berhasil di aktifkan oleh Rangga, ia langsung menerbangkan kamera itu mendekat ke arah Harun. Chika sempat melihat kamera itu, tetapi karena bentuknya yang sangat mirip dengan tawon. Chika pun tak merasa curiga, apalagi Rangga mendaratkan kamera itu di sebuah bunga. Jadi, ia pikir itu adalah tawon biasa yang sedang menghisap madu bunga.


Bersambung ....


Apakah benar jika orang tua Rangga dan Zia masih hidup?