Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Rasa Takut Kehilangan



Setelah beberapa jam mengerjakan tugasnya, akhirnya Dev bisa menghela nafas lega saat semua tugasnya telah selesai. Kini tujuannya hanyalah pulang dan menemui istri tercintanya.


Baru saja Dev beranjak dari kursinya, tiba-tiba handphonenya berbunyi pertanda ada yang menelponnya.


"Siapa ini?" tanya Dev bingung saat melihat nomor tak di kenal yang menghubunginya, akan tetapi tanpa menunggu lama ia langsung menekan tombol hijau dan mengangkat panggilan itu.


"Hallo Devan, apa kau masih ingat dengan kepadaku?" tanya Rangga di seberang sana.


"Oh, ternyata kau. Bagaimana aku bisa melupakanmu karena aku sudah lama mengincar darahmu," balas Dev seraya tersenyum smirk.


"Baguslah jika kau masih ingat. Tapi kali ini sebelum mengincar darahku, sebaiknya kau jaga saja penerusmu bisa jadi dialah yang akan aku renggut lebih dulu darimu," jelas Rangga di sertai ancamannya.


"Arrgg! Jangan berani kau sentuh anak dan istriku, jika kau berani menyentuh mereka maka kau tidak akan ku ampuni. Camkan itu!" Devan menahan emosinya yang sudah meluap-luap akibat perkataan Rangga.


"Tenang. Aku tidak akan menghabisi istrimu karena istrimu adalah gadis yang ku cintai, tapi akan ku pastikan bahwa dia akan segera menjadi milikku," jelas Rangga lagi.


"Aarrgg! Akan ku habisi kau." Dev mematikan panggilannya, ia segera berlari keluar dan menaiki mobilnya.


Tanpa menunggu lama, Dev langsung melajukan mobilnya menuju ke kediaman Abraham. Ia sangat khawatir kepada Zia, ia takut jika Rangga akan menculik Zia saat dirinya tidak ada.


-------------------------------


"Kena kau Devan. Akan ku pastikan kau hancur kali ini, akan ku manfaatkan Zia sebagai kelemahanmu," gumam Rangga sambil tersenyum miring.


Saat tengah asik memainkan ponselnya, tiba-tiba netra Rangga menangkap sosok yang tak asing baginya. Ya, dia melihat Chika yang tengah lewat di depan cafe tempatnya berada sekarang.


"Itu orang yang tadi. Ya, dia orang yang tadi hampir mencelakai gadisku," monolog Rangga seraya beranjak dari kursinya dan mengikuti Chika.


Dia terus mengikuti Chika hingga sampailah mereka di sebuah taman yang sepi, saat merasa itu tempat yang aman baginya untuk mengintrogasi Chika. Rangga segera menyerang Chika dari belakang hingga Chika tersungkur ke tanah.


Brukk!


"Awws. Siapa yang menendangku, hah!" bentak Chika seraya bangun, betapa terkejutnya Chika saat melihat Rangga berada di belakangnya dan tengah menatap tajam ke arahnya sekarang.


Chika hendak berlari, tapi dengan secepat kilat Rangga langsung menangkap Chika dan mendorong tubuh Chika ke pohon besar yang ada di taman itu, setelah itu Rangga langsung mencekik leher Chika.


"Si--siapa kau?" tanya Chika sambil berusaha melepaskan tangan Rangga dari lehernya.


"Apa masalahmu dengan Zia?" tanya Rangga tanpa menjawab pertanyaan Chika.


"A--aku membencinya, karena ia te--telah me--mengambil De--Devan dariku," jelas Chika terbata-bata karena ia merasa amat sesak akibat di cekik oleh Rangga.


"Jadi kau menyukai Devan?" tanya Rangga lagi, sedangkan Chika hanya mengangguk saja.


"Jika kau menyukai Devan, itu terserah kau saja. Tapi jangan pernah mencoba menyakiti Zia lagi. Apa kau mengerti?" tanya Rangga seraya menguatkan cengkraman tangannya di leher Chika.


Chika segera mengangguk cepat karena ia semakin merasa kesulitan bernafas, Rangga langsung melepaskan cengkraman tangannya saat melihat Chika mengangguk.


"Ini baru peringatan. Tapi jika aku melihatmu masih mencoba menyakiti Zia, maka hari itu juga akan ku habisi kau," ancam Rangga lagi.


"Apa hubunganmu dengan Zia?" tanya Chika sambil menetralkan nafasnya.


"Apa kau mencintainya?" tanya Chika lagi.


"Jika aku mencintainya. Apa ada masalah denganmu?" tanya Rangga di sertai tatapan dinginnya.


"Tidak. Bagaimana jika kita bekerjasama?" tawar Chika seraya mengulurkan tangannya.


"Heh! Aku sama sekali tidak membutuhkan bantuan dari orang lemah sepertimu," balas Rangga sombong dan ia segera beranjak pergi dari taman itu.


Chika yang tak terima saat dirinya di remehkan oleh Rangga, ia langsung melupakan ancaman dari Rangga dan ia kembali berpikir untuk menyakiti Zia lagi.


"Kau kira aku lemah? Baiklah, akan ku buktikan seberapa lemahnya aku," gumam Chika di sertai senyum jahatnya.


"Aku tidak akan pernah berhenti sebelum Zia lenyap dari dunia ini, aku juga tidak takut untuk mati. Asalkan Zia tidak bisa bersama Devan, jika aku tak bisa bersama Devan, maka orang lain juga tidak boleh bersamanya termasuk Zia," monolog Chika sambil memandang kepergian Rangga yang kian menjauh dari matanya.


Kali ini Chika benar-benar sudah nekat, ia sudah tak takut lagi jika ia harus di habisi oleh Rangga atau Devan, ia sudah kehilangan akal sehatnya sekarang. Rasa cinta dan rasa cemburu bercampur menjadi dendam di hatinya, ia benar-benar sudah di butakan oleh rasa cintanya kepada Dev hingga ia senekat itu.


-------------------------------


Setelah beberapa menit melakukan perjalanan ke rumahnya, akhirnya ia telah sampai tepat di halaman mansion mewahnya. Dev segera membuka pintu mobilnya dan turun dari mobil itu dengan tergesa-gesa.


"Ada apa, Tuan?" tanya anak buahnya saat melihat Dev yang nampak sedang gelisah.


"Dimana Zia?" tanya Dev balik, ia sama sekali tidak mengindahkan pertanyaan anak buahnya.


"Ada di belakang, Tuan. Nyonya sedang bermain bersama Aslan," jelas anak buahnya.


Dev merasa sedikit lega saat mendengar penjelasan dari anak buahnya, tapi ia tetap memilih untuk melihat sendiri keadaan Zia. Dev segera memasuki rumahnya dan melangkah menuju ke halaman belakang rumahnya.


Setelah berada di halaman belakang, Dev semakin lega saat melihat Zia sedang bermain dengan Aslan.


"Sayang," panggil Dev sambil mendekati Zia yang tengah duduk bersama Aslan.


"Kak Dev," ucap Zia sambil melempar senyum manisnya ke arah Dev.


Tetapi Dev tak membalas senyuman itu, ia langsung menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Zia hingga membuat Zia termundur beberapa langkah ke belakang.


"Ada apa, Kak. Apa Kakak baik-baik saja?" tanya Zia bingung saat melihat sifat Dev yang tak seperti biasanya.


"Gak, Sayang. Kakak gak baik-baik aja, Kakak takut kehilangan kamu," lirih Dev dengan suara paraunya.


Dev semakin mengeratkan pelukannya, tak terasa ia juga meneteskan air matanya karena memang sangat takut kehilangan istrinya. Zia yang mengerti akan perasaan Dev segera membalas pelukan dari Dev, jujur saja ia pun sangat takut kehilangan suaminya. Kini keduanya saling memeluk untuk menguatkan satu sama lain.


"Kak ... Kakak gak usah takut, ya. Zia gak akan ninggalin, Kakak. Zia janji." Zia melepaskan pelukannya dan mengangkat jari kelingkingnya.


Dev hanya tersenyum dengan air matanya yang masih mengalir, ia segera mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Zia.


"Jangan nangis lagi ya, Kak." Zia segera menghapus air mata Dev dengan telapak tangannya.


Setelah menghapus air mata Dev, Zia langsung mengajak Dev untuk duduk bersamanya dan Aslan.


"Kak, Kakak tau gak?" tanya Zia sambil duduk di atas rumput hijau yang tadi ia duduki bersama Aslan.


"Gak, Sayang. Emangnya ada apa, Baby?" tanya Dev seraya ikut duduk di samping Zia.


"Tadi, Kan. Ada yang mau nusuk Zia pakek pisau tapi untung ...." Ucapan Zia langsung terpotong oleh Dev.


"Apa! Di tusuk?" teriak Dev kaget.


"Apa kamu terluka, Sayang?" tanya Dev seraya menggeledah seluruh tubuh Zia untuk mencaritahu apakah Zia terluka atau tidak.


"Gak, Kak. Kakak ga usah khawatir, Zia ga papa kok," jelas Zia mencoba menenangkan Dev.


"Syukurlah jika kamu gak terluka." Dev menghela nafas lega saat mengetahui bahwa Zia tidak terluka sedikitpun.


"Sayang. Kok bisa ada yang mau nusuk kamu, emang para pengawal kemana, apa mereka gak menjaga kamu?" tanya Dev bertubi-tubi.


"Ini salah Zia, Kak. Zia yang minta mereka agar tidak ikut dengan Zia, tadi Zia duduk di taman seberang sana sambil nunggu Aslan pulang. Terus tiba-tiba ada yang mau nyerang Zia dari belakang, tapi untunglah ada Kak Rangga yang nolongin Zia," jelas Zia panjang lebar.


"Rangga?" tanya Dev penasaran.


"Iya, nama lengkapnya Rangga Al ... Al ... Al apa ya?" gumam Zia sambil mengingat-ingat nama lengkap Rangga.


"Apa namanya Rangga Alviandra?" tanya Dev lagi.


"Ha, iya Kak. Itu nama lengkapnya," ucap Zia tersenyum.


Degh!


Perasaan Dev semakin tidak tenang saat mengetahui bahwa Zia sudah bertemu dengan Rangga, ia takut jika Rangga akan melakukan hal buruk kepada istrinya karena ia tahu bahwa Rangga adalah orang yang sangat licik dan Rangga juga sering menjebak mangsanya dengan sikap manisnya.


"Kakak kok tau nama Kak Rangga, apa Kakak kenal sama Kak Rangga?" tanya Zia bingung.


"Em, nggak kok cuman nebak aja," ucap Dev berbohong.


"Oh ya, Sayang. Apa kamu kenal dengan orang yang mau nusuk kamu itu?" tanya Dev mengalihkan pembicaraan tentang Rangga.


"Nggak, soalnya orang itu pake masker sama topi, jadi gak nampak wajahnya tapi orang itu cewe, Kak," jelas Zia seraya menatap Dev serius.


"Cewe, apa mungkin itu adalah Chika?" batin Dev menebak.


"Sayang. Mulai sekarang jangan keras kepala lagi, ya. Kamu udah tau kan apa alasannya Kakak suruh para bodyguard buat ngejagain kamu terus?" tanya Dev seraya menatap sendu ke arah Zia, sementara Zia hanya mengangguk dengan penuh rasa bersalah.


"Kakak takut jika kamu dan bayi kita kenapa-napa," ucap Dev dan kembali memeluk Zia.


"Kakak takut bangat kehilangan kamu, Sayang," lirih Dev sambil mengelus surai pekat milik Zia yang ada di dalam pelukannya.


"Kak, tolong maafin Zia karena Zia udah keras kepala dan gak mau dengar kata-kata, Kakak." Zia benar-benar merasa bersalah karena tidak mematuhi perintah Dev.


"Gak papa, Sayang. Tapi lain kali jangan keluar dari pekarangan rumah ini tanpa di kawal oleh para bodyguard. Apa kau mengerti, Baby?" jelas Dev sembari melepas pelukannya, kemudian ia menakup kedua pipi Zia dengan tangannya dan ia menatap dalam-dalam manik mata milik Zia.


"Iya, Kak. Zia mengerti dan Zia gak akan keras kepala lagi," ucap Zia, ia membalas menatap manik mata Dev.


Dev tersenyum saat mendengar ucapan dari Zia dan tanpa menunggu lama, ia langsung menc**m bibir Zia dan perlahan ia mel*matnya dengan lembut. Zia membalas perbuatan Dev, jujur saja ia merasa sangat senang karena Dev selalu saja bersikap romantis kepadanya.


Setelah beberapa menit kemudian, Dev pun melepaskan tautan bibir mereka dan kembali berpelukan. Mereka berpelukan sangat erat dan tersirat rasa takut di dalam pelukan itu, mereka sangat takut kehilangan satu sama lain.


Bersambung ....


Di satu sisi, Zia semakin aman karena Rangga juga ikut menjaganya.


Dan di satu sisi, Chika semakin nekat.


Akankah Chika berhasil mencelakai Zia?