Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Zia dan Bima Selamat.



Dev semakin mendekat ke area kecelakaan itu, ia masih penasaran siapa korbannya hingga ia pun memilih untuk bertanya kepada para warga yang ada di sana.


"Permisi, apa terjadi kecelakaan di sini?" tanya Dev serius, akan tetapi ia tidak memperhatikan Rangga yang sedang menangis sambil menunduk di atas aspal. Ia berpikir mungkin saja itu keluarga dari korban.


"Iya, Pak. Baru saja ada kecelakaan di sini," jawab salah satu warga yang berkumpul di sana.


"Yaampun, kecelakaannya parah bangat," gumam Dev seraya melirik ke arah jurang, ia tak lagi mengenali mobilnya karena sudah hangus terbakar.


"Sabar, ya, Mas." Dev menepuk punggung Rangga yang sedang menangis sambil memeluk kedua lututnya.


Mendengar suara Dev, Rangga langsung mendongak dan menatap Dev yang tengah berjongkok di sampingnya sekarang. Dev sempat kaget saat melihat bahwa itu adalah Rangga dan ia memutuskan untuk segera pergi dari sana karena ia muak melihat Rangga. Namun, Rangga segera mencegahnya.


"Dev, tunggu," lirih Rangga sambil menarik tangan Dev perlahan.


"Lepasin gue! Mau apa lo?" bentak Dev berusaha melepaskan tangannya.


"Zi--Zia, to--tolong Zi--Zia," ucap Rangga seraya menunjuk ke arah jurang. Bibir Rangga bergetar akibat menahan tangisnya, ia terlihat amat kesusahan untuk menyelesaikan kalimat sesingkat itu.


"Zia! Lo apain Zia, hah?" bentak Dev dan mencengkram kerah baju Rangga.


"Zia kecelakaan dan ini sa--salahku," jelas Rangga singkat.


"Apa yang lo lakuin sama Zia?" Dev langsung memukul Rangga secara membabi buta, ia benar-benar sangat murka saat mendengar penjelasan Rangga bahwa dialah yang menyebabkan Zia kecelakaan.


Rangga tidak membalas pukulan dari Dev, ia hanya menerimanya dengan iklas karena menurutnya ia pantas menerima pukulan seperti itu bahkan itu masih kurang menurutnya.


Saat melihat Devan yang sudah kehilangan kendali, para warga segera memegangi Dev agar tidak lagi memukul Rangga.


"Lepas, lepaskan aku!" teriak Dev memberontak. Dev melawan sekuat tenaga hingga ia terlepas dari pegangan para warga, ia berlari ke arah Rangga dan kembali melayangkan pukulan kepada Rangga.


Bugh!


Bugh!


Beberapa pukulan bertubi-tubi mengenai wajah Rangga hingga membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah segar, lagi-lagi Rangga hanya menerima pukulan itu tanpa berniat membalas.


Melihat Dev yang terus menerus memukul Rangga, para warga kembali menahan Dev dan kali ini mereka memegangi Dev ramai-ramai agar ia tak lepas lagi.


-------------------------------


"Ada apa ini, kenapa kek ada keributan, ya?" monolog Farhan bertanya kepada dirinya sendiri.


Sebenarnya Farhan akan pergi ke rumah Dev, tetapi ia mengurungkan niatnya saat melihat ada keributan yang sedang terjadi di depannya. Ia pun menyempatkan waktunya untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Farhan bertambah bingung saat melihat Dev yang sedang di pegangi oleh para warga dan ia juga melihat ada Rangga yang sudah babak belur di sana, tanpa menunggu lama Farhan langsung bertanya kepada para warga yang ada di sana.


"Ada apa ini, apa yang terjadi di sini?" tanya Farhan serius.


"Barusan terjadi kecelakaan di sini dan sekarang orang ini datang lalu memukul orang itu, jadi kami berusaha mencegahnya agar tidak memukul pemuda itu lagi. Kasian dia sudah babak belur seperti itu," jelas salah satu warga yang sedang memegangi Dev.


Farhan masih belum paham sepenuhnya, ia masih bingung dengan apa yang terjadi disini hingga ia memutuskan untuk kembali bertanya kepada Dev.


"Dev. Kamu kenapa, siapa yang kecelakaan?" tanya Farhan serius.


Dev menjawab pertanyaan dari Farhan dengan penuh amarah.


"Zia kecelakaan dan ini semua gara-gara manusia bi*d*b itu," jelas Dev tanpa memalingkan wajahnya dari Rangga, ia terus menatap Rangga dengan tatapan tajamnya seolah ia akan menelannya hidup-hidup.


"Yaampun, Zia kecelakaan?" ucap Farhan terkejut. Ia sangat sedih saat mengetahui Zia kecelakaan, apalagi sekarang Zia sedang mengandung.


"Lepass!" teriak Dev lagi dan kembali melawan, lagi-lagi para warga tak sanggup menahannya dan ia kembali terlepas.


Devan kembali menyerang Rangga dengan ganasnya, sekarang ia seolah menjadi seperti iblis tanpa belas kasihan hingga ia tak memperdulikan Rangga yang sudah lemah dan mengeluarkan darah di beberapa bagian tubuhnya.


"Devan, hentikan!" Farhan mencoba memegang Dev, akan tetapi kekuatannya benar-benar tidak berguna sekarang. Dev mendorong tubuh Farhan hingga ia terjatuh ke tanah dengan keras.


Brukk!


"Awws, tolong pegangi dia!" pinta Farhan kepada para warga dan langsung di patuhi oleh para warga, mereka segera berlari ke arah Dev dan kembali memeganginya.


Farhan terus berpikir bagaimana cara menghentikan Dev, karena ia tahu betul bagaimana Dev jika sudah marah. Dia akan menjadi seperti iblis saat amarahnya sudah tidak dapat di pendam lagi dan hanya ada satu cara untuk menghentikannya. Yaitu, dengan penenang khusus yang sengaja di ciptakan untuk amarah yang berlebihan.


"Baik, tapi jangan lama karena kami hampir tidak kuat menahannya," ujar salah satu warga seraya sedikit berteriak karena Farhan sudah menjauh dari mereka.


Farhan segera mengacak seluruh isi mobilnya, ia berharap bahwa obat itu ada di sana. Setelah beberapa detik mencari, akhirnya Farhan menemukan apa yang ia cari dan Farhan langsung memasukkan obat itu ke dalam suntikan.


"Bapak-Bapak, tolong pegangi dia dengan erat," pinta Farhan lagi dan para warga hanya mematuhinya.


Farhan langsung menyuntikkan obat itu ke lengan Dev, perlahan Dev mulai tenang dan ia mulai berhenti memberontak.


"Bagus. Tenanglah Dev, aku yakin Zia baik-baik saja," ucap Farhan seraya mengusap punggung Dev.


"Tapi Zia hikss," ujar Dev di sertai isak tangisnya. Dev hampir saja terjatuh, tapi untunglah para warga masih memeganginya.


"Sekarang kalian boleh melepasnya, dia sudah aman sekarang," jelas Farhan kepada para warga dan ia beralih memegangi Dev yang mulai kehilangan setengah kesadarannya.


"Terima kasih karena telah membantu saya." Farhan berterima kasih, kemudian Farhan memapah tubuh Dev dan membawa Dev masuk ke dalam mobilnya.


"Farhan, Zi ...." Dev tak sempat menyelesaikan ucapannya karena ia sudah kehilangan semua kesadarannya.


"Maaf Dev, gue terpaksa ngelakuin ini karena inilah satu-satunya cara agar lo bisa tenang," ujar Farhan sambil membaringkan Dev di kursi mobilnya.


Setelah membereskan masalah Dev, Farhan beralih menuju ke arah Rangga yang sudah terkulai lemas di atas jalan.


Meskipun Rangga juga musuhnya, tetapi Farhan tetap peduli kepadanya.


"Rangga, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Farhan sambil membantu Rangga untuk bangun.


"Ini memang salahku Farhan, aku yang menyebabkan kecelakaan ini. Aku berniat untuk mencelakai Dev tapi aku tidak melihat bahwa Zia yang berada di dalam mobil itu, saat aku mengetahui bahwa Zia yang ada di dalam mobil itu. Semuanya sudah terlambat," jelas Rangga dan ia mulai menangis sejadi-jadinya.


Emosi Farhan hampir saja meluap saat mendengar penjelasan dari Rangga, rasanya ia juga ingin segera menghabisi pria yang ada di depannya ini. Tapi ia tak melanjutkan aksinya karena ia tidak ingin bertindak gegaba.


"Farhan, aku sangat menyesal," ucap Rangga yang masih terus menangis.


"Sudahlah, tak ada gunanya menyesal. Sekarang lo berdoa aja agar Zia dan anaknya selamat, dan lo harus bertanggung jawab atas kejahatan yang udah lo lakuin kepada Zia," jelas Farhan sambil menatap Rangga dengan tatapan datar.


"Iya, aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku ini, tapi aku mohon. Setidaknya biarkan aku melihat Zia terlebih dahulu," pinta Rangga memohon.


"Baiklah," balas Farhan singkat.


Sementara Rangga sangat bahagia karena Farhan mengizinkannya untuk bertemu dengan Zia terlebih dahulu.


"Ya Tuhan, aku mohon tolong selamatkan Zia," batin Rangga berdoa kepada Zia.


Polisi dan tim sar telah sampai di lokasi kejadian, mereka langsung bergegas mencari korban dari kecelakaan itu.


Di karena jurang itu sangat dalam dan sangat susah untuk turun ke bawah sana, mereka pun agak kesulitan dalam melakukan pencarian.


Satu jam telah berlalu, mereka terus saja mencari Zia dan Bima di bawah sana hingga tak lama kemudian, mereka menemukan Zia dan Bima dengan kondisi yang penuh dengan luka.


"Mereka masih hidup," ucap salah satu tim sar yang sedang memeriksa nafas Zia dan Bima.


"Pak, mereka masih hidup!" teriak salah satu tim sar yang berada di bawah sana, mereka memberitahukan kepada polisi bahwa korban masih hidup.


Mendengar kabar Zia yang masih hidup, seketika membuat Farhan dan Rangga merasa sangat senang.


"Syukurlah, Zia selamat," gumam Farhan bahagia.


"Terima kasih telah mengabulkan doaku," batin Rangga bersyukur.


"Pak, tolong kirimkan bantuan untuk mengevakuasi mereka. Mereka sekarat, Pak!" teriak mereka lagi dari dalam jurang itu.


"Cepat, bantu mereka!" titah komandan kepada bawahannya.


Para polisi dan tim sar langsung bekerjasama dalam mengevakuasi Zia dan Bima, meskipun sedikit terhambat karena jurang yang terlalu dalam. Akhirnya mereka berhasil di keluarkan dari jurang itu, Zia dan Bima langsung di ambil alih oleh petugas rumah sakit yang sudah datang. Mereka langsung di naikkan ke dalam ambulance dan di larikan ke rumah sakit.


Farhan langsung mengikuti ambulance itu dari belakang, Farhan juga membawa Dev yang masih pingsan bersamanya. Sedangkan Rangga, ia juga tak tinggal diam dan ia segera mengikuti ambulance itu untuk memastikan kondisi Zia selanjutnya.


Bersambung ....


Apakah Zia akan keguguran? ....