Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Maaf



Kini, Dev dan seluruh keluarga besarnya telah sampai di kediaman Abraham. Mereka semua sedang menunggu Zia yang tengah di periksa oleh dokter pribadi keluarga Abraham, mereka semua sangat mengkhawatirkan keadaan Zia terlebih lagi Zia juga tengah mengandung.


"Bagaimana, Dok?" tanya Dev yang tengah duduk di samping Zia.


"Tidak apa-apa, Tuan. Istri anda baik-baik saja, hanya terlalu lelah saja mungkin akibat emosi yang berlebihan. Bayinya juga sangat sehat, jadi tidak ada yang perlu anda khawatirkan," jelas dokter Mia sembari tersenyum tipis.


"Syukurlah jika Zia baik-baik saja," gumam Dev lega.


"Baiklah, Tuan. Saya permisi dulu," pamit dokter Mia, tetapi Dev mencegahnya.


"Tunggu, Dok! Tolong periksa juga seluruh anggota keluarga saya yang ada di bawah sana," pinta Dev dan langsung di setujui oleh dokter Mia.


"Baiklah, Tuan." Dokter Mia mengangguk sembari tersenyum kepada Dev, kemudian dokter Mia segera keluar dari kamar itu dan memeriksa seluruh keluarga Dev yang ada di bawah sana.


"Maafkan, Kakak, Sayang. Seharusnya Kakak tidak merepotkanmu," gumam Dev menatap sendu ke arah Zia.


"Tapi, Kakak akui, kau adalah wanita yang sangat kuat," puji Dev seraya terus menatap Zia yang masih matanya.


Cup!


Dev mengecup kening Zia dengan sangat lembut, kemudian ia segera menuju ke arah lemari dan mengambil baju Zia. Sebelum memakaikan baju ganti pada Zia, Dev membawa Zia yang masih pingsan ke kamar mandi lalu menyalakan air hangat dan memandikan Zia.


Setelah selesai memandikan Zia, Dev kembali membawa Zia dan memakaikan baju ganti pada Zia. Tak lama kemudian, Zia pun mulai melenguh kecil dan ia tersadar dari pingsannya.


"Kak Dev," panggil Zia seraya membuka matanya.


"Iya, Sayang. Ini Kakak." Dev segera menghampiri Zia dan duduk di sampingnya.


"Ada yang sakit, Sayang?" tanya Dev sambil mengelus kepala Zia.


"Enggak, cuma sedikit pusing," ucap Zia menggeleng pelan.


"Kak, Zia minta maaf karena Zia tidak mematuhi ucapan Kakak," ujar Zia menatap Dev sendu.


"Kakak yang seharusnya minta maaf, Sayang. Kakak tidak bisa membantumu dan Kakak merasa bersalah karena telah merepotkanmu," jelas Dev menunduk karena merasa bersalah.


"Tidak, Sayang. Kakak sama sekali tidak meropotkan Zia." Zia tersenyum, lalu ia mengelus pipi Dev dengan sangat lembut.


"Terima kasih, Sayang. Kau adalah wanita yang sangat pemberani," puji Dev sambil meraih tangan Zia dan menciumnya.


"Kakak tidak terluka, kan?" tanya Zia sedikit cemas.


"Tidak, Sayang. Kakak baik-baik aja, gak ada yang lecet sedikitpun," ucap Dev menenangkan Zia.


Grep!


Dev langsung memeluk Zia dengan erat, Zia juga menyambut pelukan hangat dari Dev. Setelah beberapa detik berpelukan, mereka pun mengurai pelukan masing-masing dan Dev kembali mencium kening Zia tak lupa ia juga mengecup b1b1r Zia.


"Keluarga kita, Kak?" tanya Zia lagi setelah adegan mesra itu berlalu.


"Keluarga kita juga ada di sini, mereka juga baik-baik aja, Sayang. Kamu gak usah khawatir, ya," jelas Dev tersenyum pada Zia, lalu ia kembali mengecup kening Zia.


"Kak, Zia pengen ke bawah," pinta Zia pada Dev.


"Tapi, Sayang. Kamu harus beristirahat." Dev mencoba membuat Zia mengerti.


"Tapi, Kak. Zia pengen ketemu sama keluarga kita," ujar Zia lagi sembari berusaha bangun untuk duduk.


"Baiklah, Sayang." Dev membantu Zia duduk.


Dev langsung menggendong Zia ala bride style dan membawanya untuk turun ke bawah, sementara Zia hanya bisa menurut saja pada Dev dan ia sangat senang karena Dev begitu perhatian padanya.


"Gimana, Dok? Apa seluruh keluarga saya baik-baik saja?" tanya Dev sembari menurunkan Zia di atas sofa yang ada di ruang keluarga itu.


"Syukurlah," ujar Dev dan Zia bersamaan.


"Saya permisi dulu," pamit dokter Mia kepada semua orang yang ada di sana dan mereka hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah dokter Mia.


"Ayah, Ibu." Zia segera mendekati orang tuanya dan memeluk mereka dengan sangat erat.


"Maaf, Ayah, Ibu. Zia terlambat menolong kalian, andai lima tahun yang lalu Zia mencari buktinya. Mungkin, kalian berdua tak perlu menerima s1ksaan dari para b4j1ng4n itu." Zia menangis saat mengingat kedua orangtuanya di perlakukan dengan k3jam oleh Harun.


"Maafkan Zia, Ayah, Ibu," ujar Zia yang masih menangis.


"Iya, Ibu, Ayah. Rangga juga minta maaf, Rangga sudah gagal menjadi seorang putra. Andai saja Rangga juga mencari bukti lima tahun lalu, mungkin ini kalian tidak perlu berlama-lama di sana." Rangga juga ikut memeluk kedua orangtuanya, ia juga ikut menangis saat membayangkan penderitaan yang di terima oleh orangtuanya.


"Tidak, Nak. Kalian sama sekali tidak bersalah, kalian masih sangat naif waktu itu hingga kalian hanya mempercayai dengan apa yang kalian lihat. Sudahlah, Nak. Tak perlu di sesali, ini hanya permainan waktu dan takdir," jelas bu Sofia seraya mengelus kepala putra dan putrinya.


"Iya, Nak. Benar kata ibumu, ini semua hanya permainan takdir dan waktu. Lihatlah, sekarang kita kembali di pertemukan dalam keadaan baik-baik saja," jelas Gibran ikut meyakinkan putra putrinya.


"Iya, Ayah, Ibu. Zia senang bisa melihat kalian kembali dengan keadaan baik-baik saja." Zia melepas pelukannya dan mencium satu per satu tangan orang tuanya.


"Iya, Rangga juga senang bangat. Akhirnya keluarga kita bisa kembali bersatu," ucap Rangga ikut mencium satu per satu tangan kedua orang tuanya.


"Nak, Ayah juga ingin meminta maaf kepada kalian. Terutama kepadamu, Sofia," ujar Gibran menunduk karena merasa bersalah.


"Kenapa, Ayah?" tanya Zia dan Rangga bersamaan.


"Iya, Mas. Kenapa Mas minta maaf?" timpal Sofia, ibunya Zia dan Rangga.


"Aku minta maaf kepadamu Sofia karena aku telah menghi4nati cintamu, aku sudah menikah beberapa tahun yang lalu saat kau di kabarkan sudah meningg4l. Namun, saat ini aku telah mengakhiri hubungan dengan wanita itu saat aku tahu jika ia hanya mencintaiku karena harta," jelas Gibran menatap Sofia serius.


Seketika, suasana menjadi hening. Jelas terlihat di wajah Sofia jika ia merasa kecewa kepada suaminya, di wajah Rangga juga tersirat sedikit kekecewaan saat mendengar ayahnya telah menghian4ti cinta ibunya. Namun, ibu dan putra itu hanya diam saja, marah pun tak ada gunanya sekarang karena selain Rangga dan Zia, Gibran juga korban di sini. Ia juga tidak tahu jika Sofia belum meningg4l.


"Sofia, aku ingin kita kembali bersatu demi anak-anak," pinta Gibran memecahkan keheningan diantara mereka semua.


"Iya, Ibu. Kembalilah bersama, Ayah. Demi Zia dan cucu Ibu," pinta Zia membujuk ibunya.


"Iya, Sofia. Kembalilah bersama Gibran demi anak-anakmu." Bu Mila ikut membujuk bu Sofia.


"Iya, Sof. Gibran sama sekali tidak bersalah, ia juga korban dari kebohongan ini," timpal ibunya Dev ikut membujuk Sofia.


"Ibu, kembalilah bersama Ayah. Benar apa yang mereka bilang." Rangga ikut meyakinkan ibunya.


"Iya, Sofia. Kembalilah bersama Gibran demi anak-anakmu." Andra juga ikut meyakinkan Sofia.


"Iya, Sofia. Andra benar," timpal Gavin, ayahnya Farhan.


"Iya, Nak. Kembalilah bersama putraku." Tuan X juga ikut meyakinkan Sofia, menantunya.


"Baiklah." Bu Sofia tersenyum, lalu ia mengangguk setuju.


Gibran yang mendengar jawaban dari Sofia langsung hendak memeluknya, tetapi Andra segera meledeknya.


"Ingat umur, Gibran. Kita udah tua, hhhhaa!" ujar Tuan Andra tertawa.


"Hhhhhaa!" tawa mereka semua pecah saat mendengar ucapan Andra.


"Hhhhha!" Para penjaga dan para pembantu juga ikut tertawa mendengar ucapan Andra.


Saat ini mereka semua terlarut dalam kebahagiaan, mereka tertawa lepas seolah tiada beban sama sekali. Penderitaan selama lima tahun, akhirnya telah terbayarkan dengan kembali berkumpul bersama keluarga terdekat.


Bersambung.