Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Kejahatan Chika



Setelah memberikan jus tersebut kepada Zia, Chika menjauh dari sana dan mulai mengintip Zia dari sebalik dinding.


Terlihat Zia mulai mendekatkan jus itu ke mulutnya dan Zia pun meneguk jus itu dengan sangat menikmatinya, bahkan Zia meminum jus itu hingga habis tak tersisa. Chika melompat-lompat kegirangan di saat melihat Zia menghabiskan jus beracun itu.


"Bagus! Pasti Zia dan bayinya akan mat1 setelah ini dan aku bisa segera menggantikan posisinya," batin Chika kegirangan.


--------------------------------


Di saat tengah santai-santainya mengemudi, tiba-tiba Rangga teringat akan sesuatu yang membuatnya berhenti secara mendadak di tengah jalan.


Ckiittt! ( suara rem dadakan )


Rangga baru ingat, ia lupa memberitahukan Dev agar berhati-hati dengan pembantu baru itu.


"Yaampun, kenapa gue sampe lupa bilang sama Dev kalo di rumahnya ada ART baru yang mencurigakan dan gue juga lupa bilang sama Dev kalo dia harus terus menjaga Zia. Aaarrggg!" Rangga mengerang, kemudian ia segera memutar kembali mobilnya dan menuju ke kediaman Abraham.


Entah mengapa, tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak. Ia merasa jika terjadi sesuatu kepada Zia. Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh hingga tak butuh waktu lama, ia pun telah sampai di kediaman Abraham.


Setelah memarkirkan mobilnya, Rangga segera masuk ke dalam rumah Dev. Rangga sempat lega saat melihat Zia yang tengah duduk di ruang keluarga sambil membaca buku, akan tetapi kelegaannya tak bertahan lama. Rangga kembali panik saat melihat Zia yang mulai muntah-muntah.


"Huuweekk! Huuweekk! Uuweekk!" Zia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.


"Zia! Kamu kenapa?" Rangga segera menghampiri Zia.


"Aww, sakit ...," rintih Zia sambil memegangi perutnya yang terasa keram.


"Zia! Apa yang terjadi? Kamu kenapa?" Rangga semakin panik saat melihat Zia yang sudah pucat.


Zia tidak menjawab semua pertanyaan Rangga, ia hanya terus memegangi kepala dan perutnya yang semakin terasa berdenyut. Sejurus kemudian, penglihatan Zia mulai buram dan perlahan ia kehilangan seluruh kesadarannya.


"Zia!" Beruntung, Rangga dengan cepat menangkap tubuh Zia hingga Zia tidak jatuh ke lantai.


"Dev! Dev! Devaan!" Rangga berteriak memanggil-manggil nama Dev saat ia tak melihat keberadaan Dev di sana.


Bukannya Dev yang datang, akan tetapi Bi Sari lah yang datang menghampiri Rangga.


"Astagfirullah, Nyonya. Ada apa dengan Nyonya?" tanya Bi Sari panik saat melihat Zia yang sudah tak sadarkan diri.


"Saya tidak tahu. Cepat hubungi dokter pribadi keluarga Dev dan suruh ia segera kemari untuk memeriksa keadaan Zia!" titah Rangga dan di angguki oleh Bi Sari.


Rangga segera menggendong tubuh Zia dan membawa Zia ke kemar miliknya.


Setelah sampai di kamar, Rangga membaringkan tubuh Zia di atas kasur itu dan ia segera mencoba menghubungi Dev yang tidak ia ketahui dimana keberadaannya sekarang.


Berkali-kali ia menghubungi Dev, akan tetapi tidak ada satu pun panggilan yang di jawab oleh Dev. Ternyata handphone Dev sedang dalam mode silent, hal itu membuat Rangga semakin murka dan panik.


"Aaarrggg! Kemana dia? Mengapa dia tidak b3cus menjaga Zia!" Rangga membanting handphonenya ke atas kasur itu dan ia mulai duduk di samping Zia.


"Sayang, bangunlah! Apa yang terjadi padamu." Rangga menepuk-nepuk pelan pipi Zia agar Zia bangun.


"Sayang, bangunlah! Jangan buat Abang panik." Rangga berhenti menepuk pipi Zia, kini ia beralih mengusap-usap tangan Zia untuk menghangatinya.


"Yes, pasti Zia sudah sekarat sekarang," batin Chika yang mengintip di balik pintu kamar Zia.


"Gue harus masuk sekarang biar Abangnya Zia gak curiga sama gue, gue harus bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa," batin Chika yang masih berdiri di balik pintu kamar itu.


"Yaampun, Nyonya. Apa yang terjadi, Nyonya." Chika atau Sasha masuk dengan wajah yang sangat panik, lebih tepatnya pura-pura panik.


"Berhentiiii! Jangan mendekat!" teriak Rangga saat Chika atau Sasha hendak mendekat ke arah Zia.


Chika segera menghentikan langkahnya saat Rangga meneriakinya, kemudian ia memulai kembali aktingnya.


"Ada apa, Tuan? Saya hanya ingin menjenguk keadaan Nyonya, mengapa Tuan mencegah saya?" tanya Chika berlagak seolah tak bersalah sama sekali.


"Berhenti bersikap seperti itu, aku tahu jika kau adalah dalang di balik semua ini. Apa yang kau berikan kepada Zia, hah!" bentak Rangga seraya mendekat ke arah Chika.


"Tidak, Tuan. Saya tidak memberikan apapun yang berbahaya kepada, Nyonya," jawab Chika berbohong.


"Cepat katakan!" bentak Rangga dan lagi-lagi Chika hanya menggeleng pertanda tidak.


"Baiklah, apa kau akan mengatakannya sekarang?" Rangga mencekik leher Chika dengan sangat kuat hingga membuat Chika kesulitan bernafas.


"Uhuk! Uhukk! Le--lepas, Tuan. Saya ti--tidak melakukan apapun," ucap Chika terbata-bata karena kesulitan bernafas.


"Katakan yang sejujurnya!" Rangga semakin menguatkan cengkraman tangannya pada leher Sasha atau Chika. Namun, Chika belum juga mengakui perbuatannya.


Hal itu membuat Rangga semakin jengkel hingga ia semakin memperkuat cengkraman tangannya pada leher Chika, Chika sudah terlihat pucat karena kesulitan bernafas tetapi Rangga tetap tidak melepaskan cengkraman tangannya.


Beruntung, Bi Sari datang dan mengatakan kepada Rangga jika dokter sudah datang. Bi Sari sempat terkejut saat melihat Rangga yang tengah mencek1k Chika, akan tetapi Bi Sari tidak berani menolongnya, jadi ia datang hanya untuk memberitahukan tentang dokter.


"Permisi, Tuan. Dokternya sudah datang," ucap Bi Sari memberitahu Rangga.


Rangga segera melepaskan cengkraman tangannya dari leher Chika, ia segera memerintahkan Bi Sari agar menyuruh dokter itu untuk masuk.


"Awas saja kau, jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Zia. Mak kau lah sasaranku yang akan kub4nta1 habis-habisan," bisik Rangga tepat di telinga Chika yang tengah menghirup udara sebanyak mungkin, karena ia hampir saja mat1 kehabisan nafas karena ulah Rangga.


"Apa kau mengerti?" tanya Rangga lagi setengah berbisik dan Chika hanya mengangguk saja, ia tak mampu menjawab karena dadanya masih terasa sangat berat.


Setelah di suruh masuk oleh Bi Sari, dokter itu pun melangkah kedalam kamar Zia dan mulai memeriksa kondisi Zia. Sementara Rangga hanya duduk di samping Zia sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter.


"Gimana keadaan Adik saya, Dok? Apakah ada sesuatu yang berbahaya di tubuhnya?" tanya Rangga saat dokter selesai memeriksa kondisi Zia.


"Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu di khawatirkan," balas dokter wanita paruh baya yang bernama Mia itu.


"Tapi, Dok. Tadinya Adik saya merasa sakit di bagian perutnya, dia juga muntah-muntah. Apakah itu tidak berbahaya?" tanya Rangga yang masih khawatir akan kondisi Zia.


"Tidak. Karena itu umum di alami oleh semua wanita hamil," jawab dokter Mia.


"Bahkan di saat usia kandungan sudah memasuki tiga bulan?" tanya Rangga lagi.


"Iya. Hal itu di sebabkan karena terjadinya peningkatan hormon HCG ( Human Chorionic Gonadotropin ) di dalam tubuh ibu hamil, seiring meningkatnya hormon ini maka ibu hamil akan cenderung merasa mual. Dan untuk mangatasinya, perbanyaklah memberikannya makanan sehat dan bergizi, selain itu penting juga untuk menjaga cairan tubuhnya dengan cara minum sebanyak 2-3 liter per hari," jelas dokter Mia panjang lebar.


"Lalu, bagaimana dengan rasa keram yang di alami oleh Adik saya?" tanya Rangga lagi.


"Peningkatan hormon yang tadi saya jelaskan juga membuat otot-otot usus mengendur dan menekan rahim, hal ini yang membuat perut si ibu terasa sakit di saat sedang hamil muda. Hal ini tidak berbahaya, akan tetapi usahakan agar Adik anda check up setiap bulannya," jelas dokter Mia menjawab kegelisahan di hati Rangga.


"Ooohh, syukurlah jika tidak ada yang berbahaya," ucap Ranga lega.


"Apa?! Zia gak kenapa-napa? Gak ada racun di dalam tubuhnya? Bagaimana ini mungkin, bukankah aku sendiri yang sudah memasukkan racun kedalam jus itu?" batin Chika bertanya-tanya keheranan.


"Baik, Tuan. Ini ada beberapa vitamin dan suplemen untuk Adik anda, usahakan agar Adik anda meminumnya dengan teratur di saat pagi dan sebelum tidur. Suplemen dan vitamin ini sangat penting untuk kesehatan si ibu dan calon bayinya," jelas dokter Mia seraya menyerahkan beberapa lempeng vitamin dan suplemen kepada Rangga.


"Baik, Dok." Rangga mengambil vitamin dan suplemen yang di berikan oleh dokter Mia.


"Tuan, saya pamit dulu," ucap Mia sambil membereskan semua alat yang di bawanya.


"Baik, Dok. Bik! Tolong antarkan Dokter sampai ke depan!" titah Rangga kepada Bi Sari yang masih berdiri di sana.


"Baik, Tuan. Mari Dok, saya antarkan!" ajak Bi Sari dan dokter Mia hanya mengangguk seraya melemparkan senyum ramahnya.


Bi Sari dan dokter sudah keluar dari ruangan itu, kini hanya Chika yang masih berada di sana dengan perasaan yang masih terheran-heran.


"Kali ini lo selamat, awas lo jika berani menyakiti Adikku," ancam Rangga di sertai senyum miringnya yang menyeramkan hingga membuat Chika bergidik ngeri.


"Tuan, kan, sudah lihat. Tidak ada apapun yang berbahaya di dalam tubuh, Nyonya. Saya ...." Ucapan Chika di potong oleh Rangga.


"Cepat keluar dari sini! Lo gak perlu ngejelasin apapun, karena gue gak akan mendengarkan hal itu. Mending lo pergi sekarang, sebelum gue berubah pikiran. Pergii!" jelas Rangga dengan bentakan di akhir perkataannya.


Chika tersentak, ia kaget saat Rangga kembali meneriakinya dan tanpa menunggu lama ia langsung keluar dari kamar itu karena ia begitu ketakutan.


---------------------------------


Setelah membelikan semua makanan yang di minta oleh Zia, Dev segera pulang ke rumahnya. Namun, sesampainya di rumah, ia mulai panik saat melihat mobil dokter pribadinya yang baru saja keluar dari pekarangan rumahnya.


"Hah, Dokter Mia? Siapa yang sakit, mengapa tak ada yang memberitahu aku?" gumam Dev bertanya-tanya.


Kemudian, Dev memarkirkan mobilnya dan ia segera berlari ke dalam rumah dengan perasaan yang sangat panik. Ia takut jika Zia kenapa-napa.


"Bik, kenapa Dokter Mia ke sini? Siapa yang sakit?" tanya Dev panik.


"Nyonya ...." Belum habis Bi Sari menyelesaikan ucapannya, Dev sudah lari terlebih dahulu ke dalam kamarnya untuk melihat kondisi Zia.


Sesampainya di depan pintu kamar, Dev langsung di sambut dengan tatapan tajam milik Rangga.


"Ada apa, Ga. Zia kenapa? Kenapa lo gak ngasih kabar ke gue kalo Zia lagi sakit?" tanya Dev bertubi-tubi.


"Cek handphone lo sebelum lo bicara!" titah Rangga dingin.


Dev hanya mematuhi perintah Rangga, ia segera membuka ponselnya dan benar saja, ada sepuluh panggilan terlewatkan dari Rangga dan ada lima pesan yang belum di baca dari Rangga.


"Lo habis dari mana?" tanya Rangga lagi sambil menahan amarahnya agar tidak memukul Dev, karena bagaimanapun juga Dev adalah sahabat sekaligus iparnya.


"Habis beli ini," balas Dev seraya menunjukkan bungkusan makanan yang di pesan oleh Zia.


"Eeuggh," lenguh Zia yang sudah mulai sadar dari pingsannya.


"Sayang!" Keduanya mendekat ke arah Zia.


Perlahan, Zia membuka matanya dan menatap satu per satu pria tampan yang ada di depannya secara bergantian.


"Gimana, Sayang. Masih sakit perutnya?" tanya Rangga dan Zia hanya menggeleng pelan.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Dev sambil membantu Zia untuk bangun dan duduk.


Zia tidak menjawab pertanyaan Dev karena kepalanya masih sedikit berdenyut, Rangga menjawab pertanyaan Dev dan mulai menjelaskan semuanya. Ia juga tidak lupa untuk memperingati Dev agar berhati-hati terhadap Sasha.


"Kalo gitu, akan ku pecat saja wanita itu agar Zia aman," ujar Dev.


"Jangan, Kak. Kasian dia, kita tidak punya bukti untuk menuduhnya. Jangan pecat dia, sepertinya dia orang baik dan Zia yakin jika dia tidaklah seperti apa yang kita pikirkan," jelas Zia kepada suami dan kakaknya.


"Baiklah, Zia. Tapi kau juga harus berhati-hati, jangan mudah percaya hanya dengan melihat sikapnya." Rangga kembali memperingati adiknya.


"Iya, Sayang. Apa yang di katakan oleh Rangga benar," timpal Dev meyakinkan Zia dan Zia hanya mengangguk seraya tersenyum manis.


"Kak, ada makanannya?" tanya Zia lagi.


"Ada. Nih," jawab Dev seraya menaruh bungkusan itu di depan Zia.


"Eeem, harum bangat," gumam Zia sambil menghirup aroma makanan itu.


"Kak, Bang. Ayo kita makan bareng!" ajak Zia kepada Rangga dan Devan.


"Iya, Sayang. Kamu makan aja, Abang harus pulang dulu karena Abang ada meeting jam 12 nanti. Jadi, kamu makan bareng Dev aja, ya," jelas Rangga seraya bangkit dari duduknya.


"Yaahh ... Padahal pengen banget makan bareng Bang Rangga." Ada kekecewaan di hati Zia saat Rangga menolak ajakannya.


"Gak papa, Sayang. Kan, bisa lain kali," ucap Dev sambil mengelus pucuk kepala Zia.


"Iya, Sayang. Bener apa yang Dev bilang," timpal Rangga meyakinkan Zia.


"Gak mau! Zia maunya sekarang, Zia pengen nyuapin dua cogan yang ada di hadapan Zia. Ini permintaan debay, loh," rengek Zia dengan bibir yang sudah di manyunkan.


"Hhhhha aneh bet ngidamnya," ujar Rangga terkekeh.


"Yaudah, cepat suapin kami!" titah Dev yang sudah siap untuk di suapi oleh Zia.


"Tapi ... Bang Rangga gak mau ...," rengek Zia lagi.


"Mau, Sayang. Tapi setelah satu suapan Abang pulang terus, ya," pinta Rangga dan langsung di angguki oleh Zia.


"Boleh, yang penting bisa suapin." Seketika wajah Zia berbinar dan tak lagi murung.


"Kak Dev mau yang mana? Kalo Bang Rangga mau yang mana?" tanya Zia seraya menatap dua cogan itu secara bergantian.


"Hhhhhe. Kakak apa aja boleh, asal makanannya di suapin oleh kamu, racun pun terasa nikmat bagi Kakak," ucap Dev di sertai gombalannya.


"Dasar buaya," sinis Rangga.


"Biarin, jadi buaya sama istri sendiri gak papa asal jangan jadi buaya sama wanita lain," jelas Dev dengan mantap.


"Bagus, kalo pun lo berani selingkuh dari Adek gue. Maka, gue jamin lo gak akan bisa nengok matahari lagi," ancam Rangga.


"Lo ngancam gue?" tanya Dev.


"Gak, gue hanya memperingati lo."


"Emang kek gitu cara memperingati yang bener?"


"Iya, begitulah cara gue memperingati orang. Kenapa? Lo gak suka?"


"Jelas gak suka, dong. Karena gue gak suka ada yang ngancam gue."


Zia menepuk jidatnya saat menyaksikan perdebatan antara suami dan kakaknya, memang benar apa yang di katakan oleh Farhan. Mereka berdua memang tak pernah akur, sepertinya jika tidak berdebat sekali saja setiap bertemu maka bisa di pastikan mereka akan kehilangan selera untuk hidup.


Bukannya tidak saling menyayangi, tetapi itulah cara mereka mempertahankan persahabatan mereka.


Zia terus saja menatap mereka dengan malas sambil memasukkan makanan yang di belikan oleh Dev kedalam mulutnya.


"Makanannya udah habis, ya!" teriak Zia untuk menghentikan mereka.


"Eh, gak jadi nyuapin kita?" tanya keduanya secara bersamaan.


"Habis, kalian sibuk berdebat. Kapan mau nyuapinnya?" ketus Zia sambil terus memakan makanannya.


"Lagian. Apa kalian tidak bisa jika tidak bertengkar sehari saja? Heran Zia liatnya, setiap bertemu pasti berantem. Entah apa-apa yang di ributin, kek anak kecil aja," ujar Zia berdecak kesal.


"Hhhhe. Mungkin itu udah jadi tradisi, Dek. Makanya susah untuk berhenti," jelas Rangga menyengir.


"Iya, Sayang. Itu benar," timpal Dev lagi.


"Tradisi. Emang ada tradisi kek begitu? Aneh-aneh aja. Bang Rangga mau apa biar Zia suapin?" tanya Zia pada Rangga.


"Pizza aja, Sayang," balas Rangga, kemudian Zia pun menyuapi sepotong pizza ke mulut Rangga dan Rangga langsung melahapnya.


"Dek, Abang pulang terus, ya. Nanti takut telat," pamit Rangga kepada Zia.


"Iya, Bang. Hati-hati, ya," ucap Zia memperingati Rangga.


"Iya, Sayang. Oh ya, Dev. Ini ada vitamin dan suplemen yang tadi di kasih oleh dokter, pastikan Zia minum dengan teratur saat pagi dan sebelum tidur karena suplemen ini sangat baik untuk kesehatan Zia dan calon ponakan gue," jelas Rangga sambil memberikan vitamin dan suplemen itu kepada Dev.


"Ok, itu pasti." Dev mengambil suplemen dan vitamin itu, lalu menaruhnya di atas nakas.


"Sayang. Abang pamit, ya." Rangga mendekat ke arah Zia dan mencium keningnya.


"Bro gue pulang dulu, ya," pamit Rangga kepada Dev yang sudah menatapnya tajam, akan tetapi hal itu tak membuat Rangga takut. Ia malah sempat-sempatnya menjitak kepala Dev sebelum pergi dari sana.


Tak!


"Aduh, mulus kali kepalanya. Kabooorrr!" setelah menjitak kepala Dev, Rangga lari keluar dari kamar itu dengan gaspul. Sementara Zia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.


"Kurang asam tuh, anak. Maunya apaan sih? Pakek ngejitak kepala orang lagi. Tunggu lo, akan gue balas kedzaliman yang lo lakuin ke gue." Dev hendak mengejar Rangga, akan tetapi Zia mencegahnya.


"Udahlah, Kak. Biarin aja, ayo kita makan lagi," ajak Zia sambil menarik tangan Dev.


"Yaudah, ayok." Dev kembali duduk di samping Zia.


"Sayang, berhenti!" titah Dev di saat melihat Zia yang memasukkan potongan pizza yang telah ia robek kedalam mulutnya, otomatis Zia berhenti saat Dev menyuruhnya berhenti.


Dev mendekatkan wajahnya ke wajah Zia, setelah itu ia mulai menggigit bagian pizza yang masih belum sepenuhnya masuk ke dalam mulut Zia, Dev mengikis jarak di antara bibir mereka dengan menggigit pizza itu secara perlahan hingga bibir mereka saling bersentuhan.


Setelah b1bir keduanya saling bertemu, Dev m*lum4t benda kenyal milik Zia dengan sangat lembut hingga membuat Zia tersipu malu karenanya. Meski bukan yang pertama kali, tetapi Zia tetap saja selalu di buat tersipu malu oleh sikap Dev yang romantis.


Dev melepaskan tautan b1b1r mereka, kemudian ia menatap Zia yang tengah menunduk di hadapannya karena malu.


"Sayang, pipinya kok merah gitu?" tanya Dev sambil terkekeh pelan.


"Aaaa ... Ini semua gara-gara Kakak." Zia membenamkan wajahnya di dada bidang milik Dev, sementara Dev hanya tertawa kecil saat melihat Zia yang tersipu malu karena ulahnya.


"Sayang, ayo kita habiskan makanan ini," ajak Dev lagi dan langsung di angguki oleh Zia.


Mereka kembali melanjutkan acara makan-makan mereka dengan di iringi canda tawa bahagia dari mereka, sesekali mereka tertawa lepas seolah tak ada beban sama sekali di dalam hidup mereka.


Di sisi lain, Chika tengah mengintip kemesraan itu dengan tatapan marah. Ia benar-benar marah melihat mereka yang tertawa lepas, ia juga marah karena tidak berhasil menyakiti Zia dengan racun yang tadi ia campurkan ke dalam jus itu.


"Mengapa racun itu tidak sedikit pun terpengaruh pada Zia dan bayinya? Kemana jus beracun itu dan siapa yang telah menukarnya?" monolog Chika bertanya-tanya keheranan.


"Ya, jus itu pasti sudah di tukar atau di buang oleh seseorang. Tapi, siapa yang melakukan hal itu?" batin Chika masih bertanya-tanya.


Muak akan kemesraan itu, Chika pun memutuskan untuk pergi dari sana karena ia benar-benar sudah tidak tahan melihat mereka yang tengah bersenda gurau bahagia.


Bersambung ....


Kemana jus itu?


Apakah seseorang telah menukarnya?