Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Chika Tersiksa



Zia masih saja setia menunggu Dev untuk bangun karena jujur saja, ada rasa rindu yang berat di hatinya. Apalagi ia sudah tau kebenarannya bahwa Dev tidak pernah menikah dengan Chika, itu semuanya hanyalah akal-akalan dari Chika agar mereka berpisah.


Setelah mengetahui kebenarannya, rasa salah pun muncul di benak Zia dan ia juga sangat menyesal karena Dev kecelakaan saat mencarinya, menurutnya ini semua adalah salahnya.


"Kak, cepatlah bangun hikkkss," lirih Zia sambil memeluk Dev yang masih menutup matanya.


Tak lama kemudian, Zia pun tertidur sambil memeluk Dev karena ia memang sudah sangat mengantuk. Dev mulai tersadar dan itu bisa di lihat dari pergerakan jari-jarinya, perlahan Dev membuka matanya.


"Aws, aku dimana?" lirih Dev sambil menyisirkan pandangannya ke seluruh ruangan bernuansa putih itu, kemudian Dev melihat seorang gadis yang tengah memeluknya dan gadis itu tidak asing baginya.


Degh!


Jatungnya berdetak kencang, benarkah itu Zia yang tengah memeluknya atau hanya halusinasinya saja. Dev mengucek matanya beberapa kali karena ia pikir, ia hanya sedang bermimpi saja.


"Benarkah ini Zia?" batin Dev penasaran.


"Sayang ...." Dev mengusap lembut rambut milik Zia, seketika Zia pun bangun saat merasa ada yang menyentuhnya.


"Hooamm ...." Zia menguap dan merentangkan tubuhnya, akan tetapi ia segera berhenti saat melihat Dev yang sudah bangun.


"Ka--Kak Dev ud ...." Belum habis Zia mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba saja Dev sudah memeluknya sedangkan Zia hanya diam sejenak karena ia pikir bahwa Dev akan marah kepadanya, kemudian ia juga ikut membalas pelukan Dev dengan erat.


"Sayang, Hikkss hikss kamu kemana aja, mengapa kamu pergi dari Kakak? Hikks hikss," tanya Dev di sela-sela isak tangis harunya.


"Maaf Kak, aku udah salah paham kepada Kakak hikks hikkss," balas Zia yang ikut terisak.


"Apa aku harus sekarat dulu agar kau kembali kepadaku? Hikkss hikks," tanya Dev lagi yang masih saja terisak di dalam pelukan Zia.


"Enggak Kak hikkss hikss. Zia janji bahwa Zia gak akan ninggalin Kakak lagi hikss hikks," balas Zia meyakinkan Dev.


"Jika kau pergi lagi, maka aku akan mati agar kau cepat kembali kepadaku hikkss hikss." Dev masih saja memeluk erat tubuh Zia dan ia terus menangis, karena ia memang teramat rindu pada istrinya ini.


"Tidak! Jangan katakan itu hikkss, bagaimana aku bisa hidup tanpa Kakak hikkss hikss." Zia menangis sejadi-jadinya saat mendengar penuturan Dev, ia semakin merasa sangat bersalah kepada Dev.


Mereka masih saja berpelukan sambil menangis, tetapi di balik tangisan itu ada sebuah rasa bahagia yang besar karena mereka berhasil bersatu lagi.


"Kak, maafin Zia hikkss. Kakak kecelakaan pasti gara-gara Zia, 'kan?" tanya Zia di sela isak tangisnya.


"Tidak Sayang, kau tidak bersalah." Dev mengecup pipi Zia hingga berkali-kali.


"Sayang, kemarilah!" Dev melepaskan pelukannya dan menaikkan tubuh Zia ke ranjang tempat ia tidur sekarang, kemudian ia menidurkan Zia di pelukannya.


"Sayang, Kakak mohon jangan pergi lagi, ya," ucap Dev seraya manatap Zia dengan sendu.


"Iya Kak, Zia janji gak akan pergi lagi dari Kakak," balas Zia seraya tersenyum.


Mereka terus saja menatap manik mata satu sama lain, di mata itu tersirat rasa rindu yang teramat sangat dalam kepada satu sama lain dan dimana itu juga tersirat cinta yang besar. Kemudian Dev mendekatkan wajahnya dengan wajah Zia dan menc*um bibir Zia dengan lembut.


Zia pun segera membalas ci*man itu, mungkin ia juga sudah sangat rindu akan hal itu. Mereka berdua saling melepas rindu kepada satu sama lain dan rasa sakit mereka karena menanti satu sama lain telah tergantikan sekarang.


Setelah cukup lama melakukan aksi romantis itu, Dev pun menghentikan aksinya dan kembali memeluk erat istrinya.


"Kak ... Apa Kakak gak marah kepada Zia?" tanya Zia sambil melepas pelukannya, jujur saja ia masih merasa bersalah sekarang.


"Marah, bahkan Kakak mau hukum kamu. Apakah kamu siap?" tanya Dev sambil menahan tawanya saat melihat Zia mulai ketakutan.


"A--aku siap, Kak." Zia menunduk takut dan ia bersedia menerima hukuman apapun dari Dev.


"Uluhhh uluhh, istriku yang polos. Mana mungkin Kakak ngehukum baby gemoy kek kamu emm." Dev mencubit pipi Zia karena sangat gemas saat melihat wajah Zia yang sedang cemberut.


"Aaaaa, lepasin Kak ...," rengek Zia sambil berusaha melepaskan tangan Dev dari pipinya.


Dev melepaskan cubitannya dan beralih mengecup seluruh wajah Zia, tak ada satu bagian pun yang terlewatkan. Tak lama kemudian datanglah si kembar yang baru saja kembali dari rumah mereka, sebelumnya mereka sudah menjenguk Dev. Namun, karena Dev belum sadar dan Zia juga sudah tertidur, mereka pun memilih untuk pulang sebentar.


Tok! Tok! Tok!


Mereka memilih mengetuk pintu terlebih dahulu agar tidak mengganggu Dev dan Zia yang mungkin saja sedang bermesraan dan saling melepas rindu sekarang. Zia segera membenarkan posisinya dan hendak turun dari ranjang itu saat mendengar suara ketukan pintu, akan tetapi Dev mencegahnya untuk turun.


"Tetap disini, Baby." Dev mengeratkan pelukannya agar Zia tidak bisa turun.


"Tapi Kak, Zia malu kalo ada yang liat kita kek gini," ucap Zia sambil terus berusaha melepaskan pelukan Dev.


"Untuk apa malu? Kau ini istri sah ku bukan j*lang, jadi kau tak perlu merasa malu kepada siapa pun," jelas Dev meyakinkan Zia.


Tok! Tok! Tok!


"Masuklah!" titah Dev. Setelah mendengar suara Dev, trio Nia pun langsung masuk dan duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu setelah memberikan keranjang buah kepada Zia.


"Apa Tuan sudah lebih baik sekarang?" tanya Kania serius.


"Ya, aku lebih baik sekarang. Apalagi Zia sudah kembali kepadaku," jelas Dev singkat dan ia kembali mengeratkan pelukannya sehingga membuat pipi Zia memerah karena menahan malu.


"Tuan, kami sudah menemukan siapa akar masalah diantara kalian dan kami juga sudah menangkap orang itu," jelas Tania serius.


"Kerja bagus, terima kasih juga karena telah menjaga istriku ini. Tapi mengapa kalian tidak memberitau aku bahwa Zia ada dirumah kalian?" tanya Dev seraya menatap tajam ke arah mereka bertiga.


"Bagus, aku bangga pada kalian," balas Dev tersenyum.


Mereka terus saja mengobrol dan berbincang-bincang hangat di dalam ruangan itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang menobrak pintu hingga membuat mereka sangat terkejut.


Brakk!


"Woi a**ing! Lo gak bisa apa ngetuk dulu sebelum masuk?" bentak Dev kesal, sedangkan Farhan hanya menyengir bak kuda nil.


"Hhhhe sorry-sorry, gue panik bangat pas dapat kabar kalo lo kecelakaan tadi, hahh hah huuff!" jelas Farhan sambil menetralkan nafasnya.


"Tapi lo baik-baik aja, kan?" tanya Farhan seraya duduk di samping trio Nia.


"Iya, gue udah baik-baik aja apalagi ada obatnya disini." Dev mengecup pipi Zia yang tengah berada di pelukannya.


"Ish, Kak Dev apa-apaan, sih? Zia malu tau," gumam Zia kesal.


"Gausah malu, Sayang," bisik Dev di telinga Zia.


"Ekhem! Rumah sakit serasa milik berdua seolah yang lain cuma numpang," ejek Farhan sambil melihat ke arah dinding.


"Iri bilang bro, makanya lo nikah biar bisa kek kita," balas Dev di sertai tatapan tajamnya.


Perdebatan yang gak ada faedahnya sudah di mulai, sedangkan trio Nia dan Zia hanya menggelengkan kepala mereka saat melihat tingkah kedua sahabat karib itu.


Setelah mereka selesai berdebat, Kania langsung meminta izin kepada Dev untuk mengajak Zia pulang dan mengambil pakaiannya di rumah trio Nia.


"Tuan, izinkan kami membawa Nyonya Zia untuk pulang," pinta Kania sopan.


"Iya, tetapi jaga istriku baik-baik dan pastikan dia selalu aman," balas Dev.


"Tapi Kak, Zia gak mau pulang, Zia mau jaga Kakak," rengek Zia manja.


"Pulang dulu, Zia. Biar aku yang menjaga Dev," ucap Farhan meyakinkan Zia.


"Pulang dulu ya, Sayang, Kakak udah gak papa kok," bujuk Dev sambil mengusap lembut kepala Zia, kemudian Zia pun mau pulang bersama trio Nia.


-----------------------------


Setelah mengantar Zia kembali ke rumah sakit, trio Nia langsung menuju ke ruang mayat untuk melihat Chika dan menjalankan aksi mereka untuk mengerjai Chika.


"Gimana, kita lakukan sekarang?" tanya Kania kepada kedua saudara kembarnya.


"Tentu, kami sangat tidak sabar ingin melihat wajah ketakutan si j*l*ng itu," balas Tania kegirangan.


"Yaudah, bersiap-siaplah sekarang! Dan kita akan melakukannya tepat tengah malam nanti," jelas Kania di sertai senyum smirknya. Merekapun pergi dan menyiapkan semua yang mereka butuhkan.


Jam sudah menunjukkan pukul 00:00 tengah malam, kini semua penghuni di rumah sakit itu telah tertidur termasuk Dev dan Zia, akan tetapi tidak dengan trio Nia karena mereka baru akan memulai permainannya kepada Chika.


Mereka telah sampai di depan pintu kamar mayat, mereka segera membuka pintunya dan terlihat Chika yang sedang memeluk lututnya karena ketakutan, padahal disana sedang tidak ada mayat tapi yang namanya kamar mayat tetap akan menyisakan kesan seram walau tak ada mayatnya.


Kriiieett!


Pintu telah terbuka sepenuhnya, lalu Chika mendongak dan terlihatlah tiga sosok wanita yang sedang berdiri di pintu, seketika harapan muncul di benak Chika dan ia segera berlari menuju ketiga orang itu untuk meminta bantuan.


"To ... Aaaaaa!" Chika berteriak kencang di saat melihat wajah mereka dari dekat. Wajah mereka membusuk bola mata mereka keluar dan carinan darah yang berbau busuk mengalir di kepala mereka, Chika amat sangat ketukan ketika melihat tiga sosok wanita itu yang lebih mirip dengan hantu.


"Aaaaa! To--tolong jang--jangan sakiti a--aku." Chika sangat ketakutan saat tiga hantu itu mendekat ke arahnya, Chika bergetar hebat hingga tak terasa ia pun ngompol di celana.


Melihat Chika yang mengompol membuat trio Nia hampir tidak bisa menahan tawanya, kemudian mereka memutuskan untuk membuat diri mereka menghilang dan tertawa terbahak-bahak.


Chika semakin takut saat mendengar suara tawa mereka yang tak tau dimana mereka, Chika duduk di lantai sambil menangis ketakutan.


"Hikksss hikksss tolong!" teriak Chika di sela isak tangisnya, tetapi sayang karena ruangan itu kedap suara, jadi tidak ada satupun yang akan mendengarnya.


Dia terus menangis karena sangat takut, tiba-tiba saja hantu itu kembali muncul dan kini mencekik lehernya.


"Akan ku habisi kau hihihi," ucap Tania di sertai tawa khas kuntilanaknya.


"Ja--jangan hikkss hikkss, a--aku moh--mohon hikks," pinta Chika memelas, akan tetapi Tania tidak menggubrisnya. Tania langsung menbenturkan kepala Chika ke dinding hingga kepalanya mengeluarkan darah.


"Awwss, ampun hikkss hikkss," ringis Chika kesakitan. Setelah menghukum Chika, mereka pun kembali menghilang tanpa jejak.


Chika segera merangkak menuju ke arah pintu dan hendak membukanya, tapi lagi-lagi mereka muncul entah dari mana dan menghalangi jalannya.


"Mau kemana cantik, hihihihi." Kini giliran Sania yang menghukum Chika, ia menjabak rambut Chika dan mendorongnya kesegala arah hingga Chika kembali meringis kesakitan.


Karena tak kuat menahan rasa takut dan rasa sakit, akhirnya Chika pingsan dan tak sadarkan diri. Mereka bertiga tersenyum penuh kemenangan karena melihat Chika yang sudah terkulai lemas di atas lantai.


"Dasar lemah! Segitu aja udah pingsan," sinis Kania di sertai senyum jahatnya.


Mereka langsung pergi dari sana, pintu ruangan itu tidak lagi di kunci oleh mereka karena mereka membiarkan Chika bebas untuk sementara waktu sebelum Dev sembuh total.


Bersambung ....