Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Zia Sakit & Keharmonisan



Dev telah tiba di kamar nya, dia langsung membaring kan tubuh Zia di atas kasur mereka. Sedangkan Aslan memilih untuk tidur di lantai menunggu Zia bangun.


Dev ingin mengganti pakaian Zia, namun ia memilih untuk membawa Aslan kembali ke kandang nya terlebih dahulu. Aslan sempat menolak sebab tak mau meninggalkan Zia namun karena di bujuk oleh Dev, ia pun mau meninggalkan Zia.


"Ayolah Aslan, ibu Zia akan baik-baik aja kok. Besok dia akan bermain lagi bersama kita," bujuk Dev sambil mengelus-ngelus kepala Aslan, kemudian Aslan pun menuruti Dev dan mengikuti Dev menuju ke kandang nya.


Setelah membawa Aslan ke kandang nya, Dev pun kembali ke kamar nya untuk melihat Zia. Sesampai nya di kamar, Dev langsung menggunci pintu kamar nya lalu menuju ke arah lemari dan mengambil kan pakaian ganti untuk Zia.


Dia mulai membuka pakaian Zia dan mengganti nya, Dev sempat di terpa badai ***** saat melihat tubuh mulus Zia. Akan tetapi ia lebih memilih untuk menahan hasrat nya, sebab ia tidak lah egois sehingga ia akan memaksa istri nya yang sedang tidak sehat.


Setelah mengganti pakaian Zia, Dev pun ikut berbaring di samping Zia dan memeluk tubuh kecil istri nya.


Cup!


"Selamat malam, Sayang." Dev mengecup kening Zia dan mengelus kepala nya, kemudian Dev pun menutup matanya dan terlelap tidur bersama sang istri yang belum juga sadar.


Baru beberapa jam tertidur. Dev pun terbangun karena merasa ada pergerakan dari Zia, Dev membuka mata nya dan melihat Zia yang tengah mengingau.


"Jangan bunuh aku, A -- aku mo -- mohon hah hah hah." Zia nampak begitu ketakutan sehingga keringat bercucuran di kening nya, serta nafas yang ter engah-engah seperti orang habis berlari. Zia juga menggengam kuat sprei tempat ia tidur, di mulut nya hanya terucap kata-kata yang sama yaitu. "Jangan bunuh aku." Hanya itulah yang terdengar.


"Yaampun Sayang, kamu kenapa? Sayang bangun lah!" Dev sangat khawatir kepada istrinya. Dev menepuk-nepuk pelan pipi istrinya agar Zia bangun, namun sayang Zia tak kunjung sadar juga.


"Yaampun Baby, badan kamu panas bangat." Dev bertambah panik ketika tak sengaja memegang dahi Zia, Dev pun terus mencoba membangun kan Zia dengan menggoyangkan tubuh Zia. Hingga beberapa saat kemudian Zia pun bangun, namun ia masih saja memohon agar tidak di bunuh.


"Aaaa! Pergi kamu! Jangan bunuh aku hikks hikks!" Zia mendorong tubuh Dev dan beringsut mundur untuk menjauh dari Dev, Dev sempat bingung dengan sikap Zia lalu ia pun mendekati Zia dan menarik tubuh Zia kedalam pelukan nya.


"Lepas kan aku! Jangan bunuh aku hikks hikks." Zia menangis sejadi-jadi nya di dalam pelukan Dev, dan ia terus saja meronta-ronta dan memukul dada bidang Dev.


Dev hanya bisa mengeratkan pelukan nya agar Zia lebih tenang, dan tak terasa air matanya juga ikut menetes ketika melihat kondisi istrinya. Ia tak sanggup menahan nya karena ia juga tersiksa jika Zia seperti itu.


"Shuutt, tenanglah Sayang. Ini Kakak hikks hikks," ucap Dev di sertai isak tangis nya.


"Sayang, tenangkan dirimu. Ini Kakak Sayang, ini suami mu hikkss hikks." Dev masih saja terisak sambil mengusap lembut kepala istri nya. Perlahan-lahan Zia mulai berhenti melawan dan ia mulai tenang, kemudian Zia memanggil Dev.


"Kak ... Zia takut," lirih Zia sambil membalas pelukan suami nya.


"Tenang lah, Sayang. Ada Kakak disini," balas Dev sambil mencium dan mengusap pucuk kepala Zia.


"Sayang, berbaring lah. Kakak akan mengambil air dingin dulu untuk mengompres kamu agar panas nya turun," jelas Dev sambil membaring kan tubuh istri nya, dan menutupi tubuh Zia dengan selimut.


"Tapi Kak, Zia takut Kak," lirih Zia seraya memegang tangan suami nya agar Dev tidak pergi darinya.


"Sayang ... Kakak gak akan lama kok, Kakak janji. Kalo Kakak lama maka kamu boleh marah sama Kakak," bujuk Dev seraya tersenyum ke arah Zia, lalu Zia pun mematuhi Dev dan membiarkan Dev pergi.


Dev segera turun dan menuju ke dapur, baru saja ia sampai di dapur tiba-tiba saja anak buah nya datang dan menghampiri nya.


"Tuan, saya sudah menemukan para maid dan penjaga yang lain nya, tapi syukurlah tidak ada yang terluka. Hanya saja saat kami menemukan mereka, mereka dalam keadaan pingsan," jelas anak buah nya kepada Dev.


"Bagus, apakah kau juga sudah menemukan hasil tes sidik jari di anting itu?" tanya Dev sambil terus mengambil keperluan nya untuk mengompres Zia.


"Itu belum, Tuan. Mungkin hasil nya akan ada besok pagi," balas anak buah nya, sementara Dev hanya menggangguk mengiyakan.


"Itu untuk apa Tuan, apakah nyonya sedang sakit?" tanya anak buah nya penasaran.


"Iya, dia sedang demam. Sepertinya ia sangat ketakutan, mungkin saja ada yang sudah menakut-nakuti nya," jelas Dev serius.


"Mungkin saja, Tuan. Kami akan segera menangkap orang itu setelah melihat hasil tes sidik jarinya," ucap anak buah nya meyakinkan Dev.


"Bagus. Sekarang kamu periksa para maid dan penjaga yang lain nya, dan tanya kan kepada mereka apa yang terjadi. Mungkin saja ada sedikit petunjuk dari mereka," titah Dev kepada anak buah nya dan ia segera bergegas menuju ke kamar nya.


"Baik, Tuan." Anak buah nya pun bergegas menjalan kan tugas dari Dev.


Sesampainya di kamar, Dev hanya tersenyum melihat istrinya yang sudah tertidur lelap. Ia pun mendekati Zia dan mulai meletak kan handuk kecil basah di kening Zia, kemudian ia pun ikut berbaring di samping Zia karena ia memang sudah sangat mengantuk.


Dev mencium kening Zia dan kembali memeluk erat tubuh istri nya.


"Hoam, semoga cepat sembuh Sayang ku," ucap Dev sambil mengusap lembut kepala Zia, ia kemudian mencium kening Zia dan mulai terlelap menyusul Zia ke alam mimpi.


***


Malam yang semalam di lalui oleh Zia dengan penuh drama menakutkan, kini telah berganti dengan pagi yang cerah serta di hiasi pula dengan alunan nada dari kicauan burung-burung kecil di luar sana.


Kemudian Dev pun terbangun dari alam mimpi nya saat merasakan silau di karena kan matahari yang masuk ke kamar nya, Dev tersenyum manis saat menatap istrinya yang masih terlelap dalam tidur. Dev segera memegang dahi istri nya guna memastikan apakah Zia masih demam atau sudah turun.


"Syukur lah demam nya sudah turun" ucap Dev lega sambil mengangkat handuk kecil yang masih menempel di kening Zia. Tak lama kemudian Zia pun menggeliat dan akan membuka matanya, melihat Zia yang hendak terbangun dari tidur nya. Dev pun memilih kembali menutup mata nya.


Zia tersenyum tatkala melihat suami nya yang ia pikir masih terlelap dalam tidur, kemudian Zia mengelus lembut wajah mulus suami nya.


"Kak Dev, memang sangat tampan." Zia terus mengelus wajah suami nya, namun entah kenapa. Tiba-tiba saja Zia merasa sangat tertarik saat melihat dada bidang dan perut sixpack Dev yang tidak di tutupi apapun karena Dev tidak memakai baju, Zia pun perlahan menurun kan tangan nya dan mengelus dada serta perut sixpack suami nya dengan sangat lembut.


Dev yang merasakan belaian lembut dari istrinya, seketika aset pribadi nya terbangun. Dev kemudian memegang tangan Zia secara tiba-tiba yang membuat Zia sedikit terkejut, lalu Dev mencium tangan Zia dengan mesra tanpa membuka matanya.


"Ka -- Kak Dev, udah bangun?" tanya Zia sedikit terbata-bata karena terkejut.


"Iya Baby." Dev menjawab pertanyaan Zia dengan penuh *******, yang membuat Zia mengernyitkan bingung.


"Sayang, apa kamu masih sakit?" tanya Dev sambil menatap Zia dengan tatapan penuh *****.


"Gak Kak, Zia udah baik-baik aja. Zia juga udah sehat sekarang," balas Zia jujur, dan tersenyum manis ke arah Dev.


Mendengar jawaban dari Zia, seketika semangat Dev semakin menggebu-gebu. Dev langsung saja membalik kan tubuh Zia yang semula menyamping kini sudah terlentang, tanpa menunggu lama Dev pun menindih tubuh mungil Zia.


"Ka -- Kak Dev, ma -- mau nga -- ngapain?" tanya Zia terbata-bata karena gugup, namun ia tak melawan sebab Dev sekarang adalah suami sah nya dan sudah hak dia juga untuk melayani suami nya.


"Sayang ... Sudah siap kah kamu?" tanya Dev tanpa menjawab pertanyaan Zia, Dev memilih bertanya kepada Zia karena ia tak mau memaksa kan kehendak nya kepada istri nya. Ia ingin mereka sama-sama merasakan indah nya cinta tanpa ada yang terpaksa di antara mereka.


Zia sempat ingin menggeleng pertanda tidak, namun entah mengapa tatapan Dev membuat nya seolah tersihir sehingga ia mengangguk cepat saat Dev bertanya. Melihat Zia yang mengangguk pertanda sudah siap, Dev pun memulai aksi nya dan menyalur kan semua hasrat nya kepada istri nya.


Di sisi lain, Renata masih saja meringis kesakitan karena luka nya yang semakin parah. Ia kini tengah mengganti perban luka nya, tiba-tiba saja handphone nya berbunyi dan menampilkan nama sahabat nya yaitu Risna.


"Ren, kita di depan nih."


"Kalian masuk aja, ga di kunci kok."


"Lo dimana?"


"Gue di kamar lagi ganti perban."


"Yaudah kita kesana ya."


Risna pun memutuskan percakapan nya dan memasuki rumah Renata, dan tak lama mereka pun sampai di depan pintu kamar Renata.


"Yaampun Ren, luka lo kok makin parah aja!" ucap Rista terkejut saat melihat luka Renata semakin melebar.


"Gue juga gak tau, padahal gue selalu olesin obat yang di kasih dokter itu dan gue juga minum obat teratur," jelas Renata sambil terus membersihkan luka nya.


"Atau jangan-jangan lo kena azab, Ren," ujar Risna menakut-nakuti Renata.


"Mata lo kena azab, orang cuman di cakar doang kok lo bilang kena azab," balas Renata kesal.


"Ya, mana tau. Soalnya kan lo itu jahat," tutur Risna jujur yang membuat Renata semakin kesal.


"Risna, gak usah ngadi-ngadi deh lo. Mana ada nakut-nakutin orang aja kenak azab," jelas Renata kesal.


"Udah-udah stop! Mending sekarang kita bantuin Renata," ajak Rista kepada adik nya Risna.


"Sini Ren kita bantuin," ucap Risna, lalu Rista dan Risna membantu Renata untuk memakai perban pada luka nya.


"Ren, lo masih ada rencana untuk nyakitin Zia?" tanya Rista sambil terus membalut luka Renata.


"Gue gak akan menyerah Ris, gue akan terus menyakiti Zia dan setelah itu gue akan ngebunuh Zia juga," jawab Renata di sertai seringai nya yang menakutkan.


"Anj*r jahat bener sih lo, udah luka kek gitu juga masih ada niatan mau bunuh Zia." Risna menggelengkan kepala nya karena tak habis pikir akan sahabat nya, yang menurutnya sudah kehilangan akal sehat.


"Luka ini tak sebanding dengan sakit hati ku, Risna. Jadi gue akan terus mencoba menghancur kan Zia, sampai sehancur-hancur nya hhhhhha." Renata tertawa terbahak-bahak, hingga kemudian ia meringis karena merasakan sakit di leher dan pipi nya.


"Tuh kan, gue bilang juga apa. Lo ga usah mikirin dulu tentang rencana ngebunuh Zia, pikir aja tentang kita apakah kita akan selamat jika Dev tau kita lah pelakunya. Apalagi sekarang buktinya sudah ada di tangan Dev, dan lo liat juga sekarang gimana kondisi lo," Rista berusaha menjelaskan kepada Renata tentang apa yang dia pikir kan, dan jujur saja Rista sudah merasa takut sekarang.


Renata hanya terdiam di kala mendengar kan penjelasan Rista, kemudian ia pun berpikir keras bagaimana cara nya untuk menghindar dari Dev.


---------------------------


Dev dan Zia sudah selesai mengarungi indah nya lautan cinta, kini Dev pun mengajak Zia untuk turun ke bawah setelah selesai melakukan ritual mandi mereka.


"Sayang, kita sarapan bareng ya," ajak Dev sambil mencari baju di lemari nya.


Zia sempat bingung saat melihat Dev mamakai baju santai nya, dan ia pun memilih untuk bertanya agar penasaran nya hilang.


"Kakak gak ke kantor hari ini? Kenapa pakek baju biasa gitu?" tanya Zia sambil terus menyisir rambut nya.


"Gak Sayang, karena Kakak mau menghabiskan waktu bersama istri Kakak yang paling cantik ini," balas Dev seraya mendekati Zia dan menyisir rambut Zia.


Zia hanya tersenyum mendengar jawaban dari suami nya, dia benar-benar di buat nyaman oleh perhatian Dev yang semakin hari semakin bertambah.


Kemudian Dev menggendong tubuh Zia, dan membawa nya menuju dapur untuk sarapan. Setelah selesai sarapan, Dev mengajak Zia untuk jalan-jalan. Namun Zia menolak karena ia lebih suka menghabiskan waktu di tempat refreshing saja, apa lagi di sana juga memiliki pemandangan yang sangat indah dan sepi.


Jadi Zia merasa disana adalah tempat yang cocok untuk bermesraan bersama suami nya.


"Yaudah Sayang, Kakak ikut aja." Dev tersenyum dan kembali menggendong istri nya ala bride style lalu membawa nya ke tempat resfreshing.


Sesampai nya di tempat refreshing, Dev langsung menurun kan tubuh istrinya di atas ranjang empuk yang sengaja ia taruh di sana untuk bersantai. Dev meletek kan tubuh sang istri di dalam pelukan nya, dan mulai memanja kan istrinya.


"Sayang, coba cerita sama Kakak tentang kejadian semalam," ucap Dev sambil mencium pipi istri nya.


Zia sempat merasa takut di saat mengingat kejadian semalam, namun Dev segera menenangkan nya dengan mengerat kan pelukan nya dan mengelus lembut pucuk kepala Zia, Lalu seketika Zia pun merasakan ketenangan, dan mencerita kan semua nya kepada Dev.


"Apa kamu liat wajah mereka?" tanya Dev serius setelah mendengar kan cerita Zia.


"Gak Kak, karena wajah mereka di tutupi rambut panjang," jelas Zia lagi.


"Dan Kakak tau gak siapa yang nolongin Zia?" tanya Zia, sedang kan Dev hanya menggeleng pelan.


"Aslan Kak, dia yang nolongin Zia. Dan Zia sempat liat, salah satu dari mereka di cakar oleh Aslan tepat di bagian leher hingga luka nya sampai ke pipi. Habis itu Zia gak ingat lagi karena Zia udah pingsan," jelas Zia panjang lebar.


"Sayang, kamu ga usah takut lagi ya. Karena mereka itu adalah manusia, dan Kakak akan segera melaporkan mereka kepada polisi," ujar Dev sedikit berbohong untuk menenang kan Zia.


(Ya kali Dev minta bantuan polisi, sebab jika sudah menjadi musuh nya maka orang itu tidak akan keluar hidup-hidup dari perangkap nya. Bahkan mayat nya saja tidak bisa di temukan lagi setelah di bunuh oleh Dev, itu semua hanya alasan Dev agar Zia tidak takut kepada suami nya yang tak lain adalah mafia paling sadis.)


Zia hanya mengangguk pelan dan tersenyum manis ke arah Dev. Dev pun kembali mendekat kan wajah nya ke wajah Zia. Lalu tanpa aba-aba Dev langsung menci*um bibir mungil istrinya dan sesekali ******* nya, Zia juga ikut mel*mat bibir Dev.


Seketika perasaan takut Zia terganti kan dengan perasaan bahagia yang ia dapat dari Dev, ia benar-benar sangat nyaman berada di dekat Dev.


Dev menghentikan aksi nya sejenak, lalu ia menidurkan tubuh istrinya di atas kasur empuk itu dan mulai melanjutkan aksinya lagi. Setelah beberapa menit, Dev pun melepas tautan bibir mereka dan tersenyum manis ke arah istrinya.


"Sayang, apa kamu bahagia bersama ku?" tanya Dev sambil menatap manik mata Zia.


"Iya Kak, Zia sangat bahagia bersama Kakak," balas Zia seraya tersenyum dan menatap balas manik mata Dev. Dev yang mendengar itu langsung memeluk tubuh Zia yang sedang ia tindih sekarang, Zia hanya tersenyum seraya mengeluarkan air mata haru karena mendapat suami sebaik Dev.


Kemudian Zia pun membalas pelukan Dev dan mengelus kepala Dev yang kini tengah menyandarkan kepala nya di atas dada Zia, Dev juga merasakan hal yang sama dengan Zia. Ia teramat bahagia karena mendapat pasangan hidup seperti Zia, terlebih lagi Zia juga cinta pertama Dev dan Dev juga cinta pertama Zia. Itulah hal yang membuat kisah cinta mereka semakin terasa seperti kisah cinta adam dan hawa.


Bersambung ....