Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Kenapa



6 Bulan kemudian ....


Setelah kem4tian keluarga Harun, keluarga Zia dan Dev hidup sangat bahagia tanpa ada gangguan sedikitpun.


Malam sudah sangat larut, tetapi Zia tak kunjung mengantuk. Saat ini, Zia tengah duduk termenung di balkon kamarnya seraya mengelus perutnya yang sudah membesar. Zia mulai gelisah, ia mulai takut. Bukan takut karena waktu melahirkan sudah dekat, tetapi ia takut karena semenjak ia hamil tua. Zia belum pernah merasakan tanda-tanda anaknya men3ndang, itulah hal yang ia khawatirkan.


"Sayang ... Ayo tidur! Ini udah larut, loh." Dev menghampiri Zia.


"Sayang ...," panggil Dev sambil memegang bahu Zia.


"Ada apa, Sayang?" tanya Dev saat melihat Zia yang melamun.


"Gak Kak, Zia gak papa," ujar Zia tersenyum paksa.


"Yaudah ... Ayo kita tidur, Sayang!" ajak Dev merangkul bahu Zia dan membantunya berjalan, Zia sangat kesusahan berjalan karena ia sedang hamil tua.


"Sayang ... Kakak udah gak sabar menunggu kehadiran Dev junior," ucap Dev seraya mengelus perut buncit Zia.


"Iya Kak, Zia juga." Zia masih saja memaksakan senyumnya karena ia masih memikirkan tentang apa yang ia pikirkan tadi.


"Ya Tuhan. Aku harap, anakku lahir ke dunia ini dengan selamat," batin Zia berdoa.


"Sayang ... Kamu lagi mikirin apa?" tanya Dev lagi saat melihat Zia yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Gak ada, Kak." Lagi-lagi Zia memilih untuk tidak memberitahukan Dev, agar Dev tidak khawatir.


"Tidur ya, Sayang." Dev merebahkan tubuh Zia di atas kasur dengan sangat hati-hati, setelah itu Dev pun ikut berbaring di samping istrinya.


"Semoga mimpi indah, Sayang." Dev mendekat ke arah Zia dan mengecup kening Zia pelan.


Zia tersenyum tipis saat Dev mengecup keningnya, setelah itu ia mulai memejamkan matanya. Melihat Zia yang sudah memejamkan matanya, Dev juga ikut memejamkan matanya.


Baru satu jam tidur, tiba-tiba Zia kembali terbangun karena merasakan sakit yang luat biasa di bagian pinggang dan perutnya hingga ia meringis pelan.


"Aww!" ringis Zia memegangi perutnya.


Zia mencoba bangun dari tidurnya, Zia terus mencoba menahan rasa sakit itu. Namun, semakin lama rasa sakit itu semakin menjalar ke seluruh tubuhnya dan rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.


"Aakhhh!" teriak Zia yang sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Dev yang terkejut akibat teriakan Zia.


"Sakit, Kak." Zia terus meringis kesakitan.


"Apa ini sudah waktunya?" batin Dev mulai panik, Dev semakin panik saat melihat keadaan di luar rumah sedang hujan dan badai.


"Sayang, Ayo kita ke rumah sakit!" Dev hendak mengangkat Zia, tetapi Zia segera mencegahnya.


"Tidak, Kak. Zia udah gak kuat," ujar Zia yang terus saja meringis.


Dev mulai berpikir keras, Zia pasti sudah tidak sanggup jika harus pergi ke rumah sakit di tambah lagi keadaan sedang hujan. Kemudian, Dev memutuskan untuk memanggil ibunya.


"Tunggu sebentar, Sayang." Dev segera berlari keluar kamarnya sambil memanggil-manggil ibunya.


"Ibu!" panggil Dev seraya berlari ke kamar orang tuanya.


"Ada apa, Nak?" tanya bu Devi yang baru saja keluar dari kamarnya karena mendengar Dev berteriak memanggilnya.


"Ada apa, Dev?" tanya Tuan Andra yang ikut keluar bersama Bu Devi.


"Ibu, Zia akan melahirkan tapi di luar sedang hujan deras. Tolong bantu Zia, Bu," pinta Dev pada ibunya.


"Ayo!" Bu Devi segera berlari ke kamar Dev yang terletak tak jauh dari kamarnya, sementara Tn. Andra hanya menunggu di luar kamar Dev.


Sesampainya di kamar Dev, bu Devi langsung membantu proses persalinan Zia. Sedangkan Dev duduk di samping Zia sambil terus menyemangatinya, Dev merasa sedikit sesak di saat mendengar teriakan Zia yang begitu menyakitkan baginya.


"Ayo, Nak. Terus dorong," ucap ibunya Dev yang membantu Zia.


Zia terus berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan bayi itu, Zia menggenggam tangan Dev dengan sangat kuat karena menahan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya.


Beberapa jam berlalu, tepat di tengah malam. Zia pun berhasil melahirkan bayi dengan jenis kelamin laki-laki.


"Selamat, Dev. Kau mendapatkan seorang putra," ucap bu Devi yang tengah menimang bayi itu.


Dev tersenyum bahagia saat mendengar dirinya mendapatkan seorang putra, ia pun langsung mengecup wajah Zia berkali-kali karena ia merasa sangat bahagia. Namun, berbeda dengan Zia, ia malah terlihat tidak senang karena melihat anaknya tidak menangis atau sama sekali.


"Ibu, kenapa anakku tidak menangis?" tanya Zia lirih karena ia masih sangat lemah.


Bu Devi yang mendengar pertanyaan dari Zia segera tersenyum kemudian ia langsung mengecek bayi itu, perlahan senyum di wajah ibunya Dev memudar setelah memeriksa bayi itu.


"Ada apa, Ibu?" tanya Dev yang bingung saat melihat senyum ibunya mulai memudar.


"Dev ...." Bu Devi tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya menatap Dev sambil menggeleng perlahan.


"Kenapa Bu? Kenapa Ibu terlihat tidak senang?" tanya Dev mulai panik, Dev segera bangkit untuk melihat anaknya sendiri.


"Bayinya tidak bernafas, Dev," lirih bu Devi di sertai airmatanya.


"Tidak! Itu tidak mungkin, anakku pasti baik-baik saja." Dev langsung mengambil bayi itu dari tangan ibunya.


"Hey, Nak. Bangunlah! Kenapa kau menakuti Ayah dan Ibumu ini." Dev mencoba menepuk b0k0ng anaknya agar bayi itu menangis, tetapi sayangnya Dev tidak berhasil. Meski Dev telah menepuknya beberapa kali, bayi itu tak kunjung menangis.


"Ada apa, Kak?" tanya Zia bergetar dengan airmata yang sudah siap untuk turun.


"Zia ... Bayi kita ... Bayi kita telah tiada." Dev menangis sejadi-jadinya.


"Tidak! Tidak mungkin, anakku pasti baik-baik saja. Tidakkk!" teriak Zia dan tangisannya pecah di saat mendengar jika ia melahirkan anak yang sudah lebih dahulu meningg4l.


Brukk!


Zia terjatuh ke lantai karena ia mencoba turun dari ranjangnya, ibunya Dev yang melihat Zia jatuh segera menghampirinya dan mencoba membangunkan Zia. Bu Devi membawa Zia mendekati Dev yang saat ini tengah menangis di atas lantai sambil menggendong bayi mereka, Zia terduduk lemas di depan Dev.


Kemudian dengan tangan bergetar, Zia mencoba meraih bayi itu dan mengambilnya dari gendongan Dev.


"Nak, kenapa kau tidak menangis? Apa kau tidak haus?" tanya Zia berbicara kepada bayinya yang sudah tak bernyawa.


"Ayo, Nak. Ibu akan menyusuimu." Zia berbicara dengan bayi itu, ia masih yakin jika bayi itu masih hidup.


"Nak, kenapa kau diam saja?" Zia ikut menepuk-nepuk tubuh bayinya, tetapi tetap saja tiada reaksi dari bayi itu.


"Ibu, mengapa bayiku diam saja?" tanya Zia pada mertuanya.


"Sabarlah, Nak. Anakmu telah tiada sebelum kau melahirkannya, terimalah kenyataan ini, Nak." Bu Devi mencoba membuat Zia mengerti, tetapi Zia segera membantahnya.


"Tidak! Kau salah Ibu. Anakku tidak mungkin meninggalkan aku, aku sudah menjaganya dengan sangat baik. Bahkan dokter juga bilang kalo kandunganku sangat kuat, lalu mengapa anakku bisa tiada?" Zia meracau tak jelas di sela-sela tangisannya.


"Tuhan! Mengapa kau bersikap sangat tidak adil kepadaku? Kenapa?!" Zia berteriak dan menangis sejadi-jadinya sambil memeluk bayi tak bernyawa itu.


Andra yang mendengar suara tangisan Zia segera masuk ke dalam kamar Dev, Tn. Andra merasa sangat bingung saat melihat mereka semua menangis.


"Ada apa ini?" tanya Andra pada istrinya.


"Cucu kita, Mas. Cucu kita sudah meninggal semenjak dalam kandungan." Bu Devi tidak bisa menjelaskannya lebih lanjut karena ia sudah terisak, jadi ia hanya bisa memeluk suaminya.


Andra ikut terduduk lemas di atas lantai pada saat mendengar kabar bahwa cucunya telah tiada, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain ikut menangis bersama mereka.


Malam yang seharusnya menjadi malam yang penuh tawa bahagia berubah menjadi malam yang penuh tangisan, mereka semua sangat sedih dengan kepergiaan cucu mereka bahkan mereka belum sempat menamai anak itu. Namun, takdir sudah berkata lain dan Tuhan sudah mengambil anak itu terlebih dahulu.


Bersambung ....