Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Semakin Tertarik



"Kak, sini biar Zia bantu siap-siap," ucap Zia seraya tersenyum ke arah Dev yang baru keluar dari kamar mandi.


Dev membalas senyuman Zia, kemudian ia duduk di kursi yang ada di depan meja rias Zia. Zia langsung mengambil alih handuk kecil yang ada di tangan Dev, dan ia mulai mengelap rambut Dev yang basah.


"Kak, tolong bawa pulang Aslan dong. Zia kangen," pinta Zia sambil terus mengelap rambut Dev.


"Iya Sayang. Nanti Kakak suruh Reza bawa pulang Aslan, Ok," ucap Dev mayakinkan Zia.


"Yey! Makasih, Kak." Zia langsung mengecup pipi Dev hingga membuat Dev tersenyum lebar.


"Sayang, jangan di situ tapi di sini," ujar Dev seraya menunjuk bibirnya.


"Apaan sih, Kak," ketus Zia, ia terus saja fokus mengelap rambut Dev tanpa menghiraukan permintaan Dev tadi.


"Yaudah, berarti Aslan tetap di sana aja," gumam Dev di sertai ancamannya.


"Jangan dong, Kak. Zia kangen bangat sama Aslan, Zia dah sebulan gak liat Aslan masa ia Kakak biarin Aslan tetap di sana," omel Zia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aslan akan Kakak bawa pulang kalo kamu mau cium Kakak di sini," jelas Dev sambil menunjuk bibirnya lagi.


Zia menghela nafas kasar, ia terpaksa menuruti permintaan Dev demi Aslan.


"Iya, Zia mau," jawab Zia kesal.


Dev tersenyum ketika mendengar jawaban dari Zia, Dev segera menarik Zia hingga Zia terduduk di pangkuannya dan setelah itu ia mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Zia, kemudian mereka mulai berc**man dengan mesranya.


Setelah beberapa menit melakukan morning kiss, Dev pun melepaskan tautan bibir mereka.


"Thank you, Baby," lirih Dev sambil mengusap bibir Zia yang basah akibat ulahnya tadi.


"Iya Kak, tapi Kakak jangan lupa bawa Aslan pulang, Ok," ucap Zia mengingatkan Dev.


"Tentu, Cintaku." Dev kembali mengecup pipi Zia, sedangkan Zia hanya tersenyum manis di kala mendengar ucapan Dev.


Zia segera turun dari pangkuan Dev dan kembali membantu Dev bersiap-siap.


"Nah, udah selesai tapi kek ada yang kurang, apa ya?" tanya Zia kepada dirinya sendiri.


"Dasinya belum, Sayang," ucap Dev di sertai tawa kecilnya.


"Oh iya, Zia lupa." Zia menepuk pelan jidatnya, kemudian ia segera mengambil dasi dan memakaikannya di leher kemeja Dev.


"Nah, baru ganteng," ucap Zia sambil memandangi Dev.


"Perasaan aku ini selalu ganteng," gumam Dev sambil melihat ke arah dinding.


"Ish, kepedean bangat deh," balas Zia sambil memutar bola matanya dengan malas.


Zia segera membalikkan badannya dan hendak keluar dari kamar mereka, tapi Dev segera menghentikan langkah Zia dengan memeluknya dari belakang.


"Sayang, mau kemana hmm?" tanya Dev lembut.


"Mau makan, Kak. Zia dah laper bangat," balas Zia sambil memegangi perutnya.


"Yaudah, ayo kita makan bareng." Dev melepaskan pelukannya, lalu ia beralih menggendong Zia ala bride style dan membawanya ke dapur untuk sarapan.


Setelah selesai sarapan, Dev langsung berpamitan kepada Zia karena ia akan segera berangkat ke kantor.


"Sayang, Kakak pamit dulu ya," ucap Dev sambil mencium kening Zia.


"Iya Kak, hati-hati di jalan ya," balas Zia tersenyum.


"Iya Baby, kamu juga hati-hati ya. Jangan capek dan banyak-banyak istirahat agar bayi kita sehat, dan jangan lupa makan makanan sehat," jelas Dev memperingati Zia.


"Iya, Kak Dev yang bawel," ucap Zia sambil mengangguk pelan.


Dev kembali mengecup kening Zia, setelah itu ia juga mencium perut Zia yang sudah agak buncit karena usia kandungannya sudah memasuki usia tiga bulanan.


"Bye Sayang," pamit Dev seraya melambaikan tangannya kepada Zia, sedangkan Zia hanya tersenyum sambil membalas lambaian tangan Dev.


Ternyata tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang menyaksikan kemesraan mereka dari kejauhan dan orang itu melihat ke arah mereka dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Siapa lagi kalo bukan Chika.


"Aku akan menghabisimu, Zia. Dev hanya milikku seorang dia teman masa kecilku dan dia cinta pertamaku, jadi aku gak ngebiarin lo hidup bersama Dev," gumam Chika penuh amarah.


"Akan ku habisi kau dan anakmu," monolog Chika di sertai seringainya yang manakutkan.


--------------------------------


"Kapan Aslan akan kemari?" tanya Zia kepada salah satu penjaganya.


"Sebentar lagi, Nyonya," balas penjaga itu seraya tersenyum.


Zia merasa bosan karena tidak ada Aslan sehingga tidak ada yang bisa di ajak main, kemudian ia berpikir akan duduk di taman dekat mansion Dev sambil menunggu Aslan pulang.


"Nyonya, anda mau kemana?" tanya penjaganya saat melihat Zia yang mendekati gerbang.


"Cuman mau ketaman itu, mau nungguin Aslan pulang," jelas Zia sambil menunjuk ke arah taman yang ada di seberang jalan.


"Kami akan ikut bersama, Nyonya," ucap salah satu penjaganya, kemudian ia langsung berdiri di dekat Zia di ikuti pula oleh teman-temannya yang lain.


"Eh, gausah. Aku cuman mau duduk di situ aja, deket kok tamannya," ujar Zia menolak untuk di kawal oleh penjaganya. Jujur saja, ia merasa tidak nyaman jika harus di kawal saat hendak pergi kemana-mana.


"Ini demi keamanan, Nyonya," ucap salah satu dari mereka.


"Tapi, Nyo ...." Zia langsung memotong ucapan mereka.


"Gak ada penolakan, cepat kembali ke tugas masing-masing!" titah Zia tegas, kemudian para penjaga itu terpaksa mematuhi Zia dan kembali menjalankan tugas mereka masing-masing.


Zia keluar dari pekarangan rumah Dev dan menuju ke taman yang ada di seberang jalan, ia segera duduk di bangku taman itu sambil memainkan smartphonenya.


"Bagus, mangsaku keluar dengan sendirinya," monolog Chika sambil tersenyum penuh kemenangan.


Chika berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menghabisi Zia karena Dev juga tidak ada dirumah, di tambah lagi Zia tengah duduk sendiri sekarang tanpa di kawal oleh penjaganya.


Chika segera mengeluarkan pisau dari saku jaket hitamnya, ia berniat untuk menikam Zia sekarang juga. Chika segera memakai masker dan topi agar orang tidak dapat mengenalinya. Perlahan tapi pasti, Chika langsung mendekat ke arah Zia.


Di sisi lain, pria misterius itu menghentikan mobilnya tepat di samping taman itu, ia juga berpikir bahwa ia akan istirahat di sana sejenak agar pikirannya sedikit fresh.


"Aku sepertinya kenal dengan gadis itu," gumam pria itu saat melihat Zia yang tengah duduk di bangku taman.


Pria itu terus mencoba mengingat-ingat tentang Zia hingga kemudian ia ingat, bahwa Zia adalah istri dari musuhnya yang ia cintai.


"Ternyata dia lebih cantik dari yang ku lihat di foto semalam," monolog pria itu sambil menatap kagum ke arah Zia.


Tiba-tiba saja pria itu merasa ada yang aneh saat melihat ada seseorang yang mendekat ke arah Zia sambil membawa pisau di tangannya, kemudian pria itu segera turun dari mobilnya dan berlari ke arah Zia karena ia melihat bahwa orang itu akan menikam Zia dari belakang.


Hap!


Pria itu langsung menangkap pisau yang hendak menusuk Zia hingga membuat tangannya terluka dan mengeluarkan darah segar, Zia begitu terkejut saat melihat ada yang ingin menusuknya.


Bugh!


Pria itu langsung menendang Chika hingga ia terjatuh ke tanah, lalu Chika segera bangkit dan lari dari taman itu. Pria itu hendak mengejar Chika, tapi di tahan oleh Zia.


"Tunggu!" Zia menarik tangan pria itu untuk menghentikannya.


"Biarkan orang itu. Sekarang kita obati dulu luka, Kakak," ucap Zia seraya menarik pria itu dan mendudukkannya di bangku taman.


"Kamu gak papa, kan?" tanya pria itu sambil menatap Zia.


"Gak Kak, makasih ya udah nolongin Zia. Tunggu di sini ya, Kak, biar Zia ambil dulu kotak P3Knya di rumah Zia," ujar Zia seraya melangkah pergi, tapi pria itu langsung menghentikan Zia.


"Di mobilku ada kotak P3K, ambil aja di sana biar lebih dekat," jelas pria itu sambil menunjuk ke arah mobilnya.


Zia mengikuti arahan dari pria itu dan langsung pergi ke arah mobilnya, setelah menemukan apa yang ia cari, Zia segera kembali kepada pria itu untuk mengobati luka pria itu.


"Kak, maafin Zia, ya. Gara-gara Zia, Kakak jadi terluka gini," ucap Zia sembari membersihkan luka pria itu.


"Sssttt, awws," ringis pria itu saat merasa perih di telapak tangannya.


Zia segera meniup luka pria itu saat mendengarnya meringis, setelah meniup luka itu beberapa kali. Zia segera memakai obat pada luka pria itu dan membalut luka pria itu dengan sangat teliti. Pria itu hanya menatap wajah Zia, hatinya semakin terpesona akan perhatian yang Zia berikan.


Pria itu terus memperhatikan Zia yang tengah membalut tangannya sekarang, kelembutan dari Zia membuatnya melupakan rasa sakitnya.


"Dah siap," ucap Zia setelah membalut luka pria itu, tapi pria itu masih saja menadahkan telapak tangannya hingga membuat Zia sedikit bingung.


"Kak, udah selesai loh," ucap Zia lagi dan membuat pria itu tersadar dari lamunannya.


"Em, ya. Udah selesai, ya?" tanya pria itu seraya menurunkan tangannya dan membuang pandangannya ke sembarang arah.


"Kakak kenapa?" tanya Zia bingung saat melihat sikap pria itu.


"Gak papa kok," jawab pria itu berbohong, padahal jantungnya sedang berdetak kencang sekarang.


"Yakin?" tanya Zia lagi dan pria itu hanya mengangguk mengiyakan.


"Oh ya, nama Kakak siapa?" tanya Zia ramah.


"Namaku Rangga Alviandra, kamu bisa panggil aku Rangga," jelas pria itu seraya tersenyum.


Rangga Alviandra, ia adalah seorang pria yang memiliki wajah tampan dan ia juga seorang CEO yang sukses, selain itu Rangga juga termasuk musuh besar dari Devan bahkan keluarga mereka telah bermusuhan sangat lama hingga bisa di katakan, jika Rangga adalah musuh bebuyutan Dev.


"Kalo nama kamu siapa?" tanya Rangga berpura-pura tidak tau.


"Namaku Ziana Sofia Andara, Kakak bisa panggil aku Zia," jelas Zia sambil ikut tersenyum.


Tak lama setelah perkelanan itu, Zia pun segera berlari ke rumahnya saat melihat Reza turun dari mobilnya bersama dengan Aslan.


"HUUWAA ASLANNN!" teriak Zia sambil berlari ke rumahnya.


"Aslan, bukankah suaminya Devan?" gumam Rangga bertanya kepada dirinya sendiri.


Mendengar suara teriakan Zia, Aslan pun ikut berlari menghampiri Zia. Zia memeluk erat tubuh Aslan yang sudah lama tidak bertemu dengannya, begitupun dengan Aslan ia juga menunjukkan rasa yang sama dengan Zia, yaitu rasa rindu.


"Aslan, aku kangen bangat sama kamu," ucap Zia di sertai air mata harunya. Sedangkan Aslan hanya meraung kecil seperti membalas ucapan Zia.


"Ooooh jadi Aslan itu singa," ucap pria itu santai.


"What! Singa?" Pria itu sangat terkejut karena baru pertama kali ia melihat wanita yang tidak takut dengan singa, bahkan sangat akrab.


Zia segera membawa Aslan masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Rangga masih tercengang dan tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.


Bersambung ....


🥰🥰