
Seminggu kemudian ....
Kini, Zia tengah duduk di atas brangkarnya dengan penuh rasa bosan, di tambah lagi tiga cogan itu tidak ada di sana untuk menghiburnya, yang ada hanya para penjaga yang menjaganya siang dan malam.
"Huh, bosan bangat." Zia menghela nafasnya dengan kasar.
"Nak, apa kamu juga bosan?" tanya Zia sambil mengelus perutnya.
"Bima, kemana Kak Dev dan gengnya?" tanya Zia di sertai wajah cemberutnya.
"Mereka sedang membeli makanan untuk kita semua, Nyonya," jawab Bima sambil terkekeh pelan saat melihat wajah Zia yang cemberut, yang menurutnya semakin cantik saja.
Tunggu. Apakah Bima menyukai Zia? Tentu, siapa sih yang tidak suka kepada majikan secantik dan sebaik Zia. Namun, Bima tidak pernah berniat jahat kepada majikannya apalagi sampai menghianati Tuannya, itu tidak pernah terpikirkan sama sekali olehnya.
"Bima, bisakah kau bawakan Aslan kemari? Aku sangat bosan di sini," pinta Zia masih dengan wajah cemberutnya.
"Nyonya. Mana mungkin saya bawa Aslan kemari, yang ada nanti semua penghuni rumah sakit ini bisa kabur karena takut sama Aslan," jelas Bima di sertai tawa kecilnya.
"Ya juga sih, tapi aku benar-benar sangat bosan dan aku ingin pulang," rengek Zia yang semakin cemberut.
Kemudian, Zia merebahkan tubuhnya lalu menutupi wajah dan seluruh tubuhnya dengan selimut rumah sakit itu. Sementara Bima dan penjaga yang lainnya hanya bisa tertawa kecil saat melihat tingkah Zia yang menggemaskan.
Selang beberapa menit, tiga cogan itu datang setelah membeli makanan untuk mereka makan. Dev and the geng merasa sangat khawatir saat melihat Zia yang di tutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, mereka sangat khawatir karena mereka pikir Zia telah terjadi sesuatu kepada Zia.
"Kenapa Zia seperti itu?" tanya Dev kepada anak buahnya.
"Nyonya sedang ngambek, Tuan," balas Bima di sertai kekehan kecil di akhir kalimatnya.
Mendengar penjelasan dari Bima, semuanya kembali tertawa kecil termasuk Dev and the gang.
"Sayang, kamu marah karena Kakak tinggalin tadi?" tanya Dev sembari mendekat ke brangkar Zia.
"Hmm." Zia hanya membalas pertanyaan Dev dengan deheman.
"Sayang. Ayo makan dulu, Kakak bawain makanan kesukaan kamu, loh," ucap Dev mencoba membujuk Zia.
Zia tak menjawab pertanyaan Dev, ia tak berniat untuk makan bersama Dev and the geng. Akan tetapi, tiba-tiba sebuah wangi dari soto ayam menyeruak ke hidungnya dan membuat perutnya semakin meronta-ronta karena kelaparan.
"Yaampun ... Bau sotonya wangi bangat lagi," batin Zia sambil menelan ludahnya saat membayangkan soto itu.
"Sayang, ayo makan!" ajak Dev lagi.
"Gak laper." Zia masih mempertahankan ngambeknya.
"Yakin ... Yaudah ga papa kok biar kami aja yang makan."
"Ayo Far, Rangga, di makan aja makanannya sampai habis. Zia juga gak mau kok," ucap Dev sambil menahan tawanya.
Kemudian, Zia membuka selimutnya dan menatap tajam ke arah mereka yang hendak memakan makanan kesukaannya.
"Khemm!" Zia melipat kedua tangannya di dada dan melirik ke arah mereka dengan tatapan setajam silet.
"Eh, Dedek Zia. Ada apa, apa mau makan juga?" tanya Rangga sembari menahan tawanya.
"Hhhhe, Zia gak mau kok karena Zia gak punya mulut," balas Zia di sertai senyum yang di buat-buat.
"Oh, kalo gitu mari kita lanjutkan," timpal Farhan lagi yang membuat Zia semakin kesal kepada mereka.
"Wahai tiga cogan yang gak pernah peka. Bolehkah aku meminta sedikit makanannya?" pinta Zia sambil tersenyum kecut.
"Hhhhhha," tawa mereka semua pecah di kala mendengar ucapan dari Zia, menurut mereka Zia benar-benar sangat menggemaskan.
"Tawa teros, moga aja mulutnya ke masukan lalat," gumam Zia sambil memutar bola matanya dengan malas.
Setelah cukup menertawakan Zia, merekapun melanjutkan kembali acara makan-makan mereka yang sempat tertunda oleh drama Zia.
--------------------------------
Jauh di dalam hutan belantara yang sangat luas dan lebat, ternyata terdapat sebuah rumah lebih tepatnya sebuah gubuk kecil yang di huni oleh seorang pria yang sudah berumur setengah abad. Dia tidak sendirian di sana, melainkan dia tinggal bersama anak buahnya.
Sekarang pria itu tengah duduk di kursinya sambil menatap foto keluarganya, saat menatap foto itu, ada rasa rindu yang teramat sangat dalam kepada putranya. Namun, rasa dendam juga ikut memenuhi hatinya di saat mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang merenggut istrinya, bahkan nyawanya sendiri hampir saja hilang karena ulah seseorang yang sudah menghancurkan keluarganya.
"Tunggu kau Harun, aku akan segera kembali untuk membalaskan dendamku. Aku akan kembali untuk memberimu hukuman, akan ku balas semua perbuatanmu kepada keluargaku. Aku datang Harun, aku datang untuk menghukummu," gumam pria itu dengan emosi yang sudah memenuhi dadanya.
"Tuan, apa kau yakin akan membalaskan dendammu sekarang?" tanya anak buahnya, ia sedikit khawatir karena melihat Tuannya yang sudah tidak muda lagi untuk bertarung seperti dulu.
"Aku sangat yakin, bahkan tidak peduli jika diriku harus benar-benar tiada kali ini. Tujuanku hanyalah membalaskan dendam keluargaku yang telah di hancurkan oleh makhluk rakus bernama Harun itu," jelas pria itu seraya menahan emosinya.
"Lalu kapan kita akan keluar, Tuan?" tanya anak buahnya lagi.
"Sekarang, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan aku sudah cukup bersembunyi selama bertahun-tahun ini. Aku tidak bisa lagi melihat Harun hidup di atas penderitaan orang lain, sudah cukup dia hidup nyaman. Sekarang sudah saatnya dia menerima hukuman atas segala perbuatan jahatnya," jelas pria itu lagi.
"Baiklah, Tuan. Aku akan menyiapkan segala keperluan kita," ucap anak buahnya dan mulai mengemas semua perlengkapan mereka untuk pergi dari hutan itu.
"Putraku, ku harap kau baik-baik saja di sana," gumam pria itu seraya menatap sendu ke arah bingkai foto yang sedang ia pegang sekarang, ia sangat sedih karena telah meninggalkan putra semata wayangnya selama bertahun-tahun.
Namun, ia memiliki alasan tersendiri untuk meninggalkan putranya. Bukan berarti ia tidak menyayangi putranya, akan tetapi ia terpaksa bersembunyi untuk menyembuhkan luka fisik dan luka hatinya.
Bersambung ....
Siapakah pria itu? Dan siapa putranya?