Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Teror & Aslan Sang Penyelamat



Kini malam pun telah tiba untuk menggantikan matahari dengan bulan, saat ini pula Dev dan Zia tengah berada di kamar mereka.


"Kak, ayo kita makan," ajak Zia seraya melirik sekilas ke arah Dev yang tengah duduk di tepi ranjang dengan tangan yang di lipat di dada nya, dan bibir yang sedikit di manyunkan karena kesal kepada Zia dengan kajadian tadi sore.


"Jadi cerita nya ngambek nih?" tanya Zia sambil tertawa kecil melihat tingkah ke kanak-kanakan suaminya.


"Hemm." Hanya deheman yang keluar dari mulut Dev.


"Yaudah, Zia mau makan duluan ya." Lagi-lagi hanya deheman yang keluar dari mulut Dev, seketika sebuah ide cemerlang terlintas di pikiran Zia.


"Yaudah ga papa kok, kalo Kak Dev marah sama Zia. Malam ini Zia tidur di kamar tamu aja ya," ucap Zia sedih dan bangkit dari tempat tidurnya, namun ketika membelakangi Dev. Zia berusaha sekuat tenaga menahan tawa nya agar tidak pecah.


"Wiiih, bisa bahaya nih kalo Zia ikutan ngambek, bisa-bisa gak dapat jatah aku," batin Dev lalu segera bangkit dan menyusul Zia.


Grep!


Dev langsung memeluk Zia dari belakang dan mulai membujuk Zia.


"Sayang, Kakak gak marah kok. Kamu jangan tidur di kamar tamu ya," bujuk Dev seraya membalik kan tubuh Zia menghadap ke arah nya.


"Beneran Kakak gak marah?" tanya Zia dan Dev mengangguk cepat untuk meyakin kan Zia.


"Yaudah, ayo kita makan Kak. Zia udah laper," ajak Zia sambil merangkul lengan suaminya, sedangkan Dev hanya menurut saja.


Selesai dengan acara makan-makan mereka, Zia dan Dev pun memilih santai di tempat refreshing sambil menyaksikan bulan purnama yang sedang berlangsung.


"Sayang, kamu mau nya kita honeymoon kemana?" tanya Dev sambil mencium pucuk kepala istrinya yang tengah tidur di pelukan nya.


"Zia sih terserah Kakak aja, karena menurut Zia disini pun udah romantis bangat suasana nya. Lagian menurut Zia itu gak penting dimana kita berada, yang penting itu dengan siapa kita bersama," jelas Zia sambil tersenyum ke arah Dev.


Saat tengah asik-asik nya bersenda gurau dengan istri nya, tiba-tiba saja sebuah telepon dari anak buah nya mengganggu suasana romantis mereka.


"Ck! Harus kah sekarang?" ucap Dev seraya meraih ponsel yang ada di sakunya.


"Sayang, bentar ya. Ada telpon dari karyawan kantor," ucap Dev sedikit berbohong, sedangkan Zia hanya mengangguk mengiyakan. Dev pun sedikit menjauh dari Zia dan mengangkat panggilan nya.


"Tuan, kami sudah menemukan mata-mata dari musuh besar kita."


"Bagus, tahan dia jangan sampai dia lolos. Sebentar lagi saya akan ke sana."


Dev memutuskan panggilan nya secara sepihak, lalu meminta izin kepada istrinya untuk keluar sebentar.


"Sayang, Kakak keluar bentar ya ada urusan dadakan di kantor," pamit Dev sedikit berbohong kepada Zia.


"Iya Kak, hati-hati di jalan ya," balas Zia. Kemudian Dev mencium kening istri nya dan berlalu pergi, tak lupa Dev juga membawa semua anak buah nya dan hanya menyisakan beberapa orang saja untuk menjaga Zia.


Belum lama di tinggal oleh Dev, Zia sudah merasa sangat bosan, lalu ia memutuskan untuk melihat dan mengajak Aslan bermain.


"Yah, Aslan nya udah tidur lagi. Makin bosan deh." Zia memutuskan untuk kembali ke ranjang yang tadi ia duduki bersama Dev dan merebahkan tubuh nya disana, belum lama Zia merebahkan tubuh nya di ranjang itu tiba-tiba sebuah pesan masuk ke handphone nya.


[Zia, keluar lah! Dev tadi kecelakaan di jalan dan sekarang dia ada di luar rumah]


Membaca pesan itu, seketika Zia panik bukan main dan berlari memasuki mansion mewah itu untuk melihat suami nya.


"Kok jadi gelap ya," ucap Zia seraya menghidup kan senter di hp nya, karena entah kenapa tiba-tiba saja mansion itu menjadi sangat gelap yang tersisa hanya lah tempat refreshing yang masih terang.


"Bi Sari! Bibi dimana? Bi Ina! Bi Rika! Kalian dimana?" Zia terus berteriak memanggil-manggil nama maid nya, namun sayang tak ada jawaban satu pun dari mereka.


"Mereka kemana ya? Mana gelap bangat lagi." Zia mulai merasa merinding dan ketakutan, di saat Zia sedang berjalan di kegelapan itu tiba-tiba ....


"Zia ... Kamu harus mati Zia ... Hihihi," ucap wanita berbaju putih dengan rambut menutupi wajah nya, yang berdiri di tangga tepat di depan Zia. Saat mendengar suara wanita itu, Zia langsung mengarahkan senter nya ke arah suara dan Zia pun berteriak saat melihat sosok menyeramkan di depan nya yang tampak seperti kuntilanak.


"Aaaaa!" Zia hendak berlari keluar untuk meminta tolong, namun sayang tiba-tiba makhluk itu kembali muncul tepat di depan nya. Zia pun kembali berteriak keras.


Mendengar suara teriakan Zia, seketika Aslan terbangun dari tidur nya. Dan dia menunjuk kan ekspresi hawatir nya saat mendengar suara Zia, Aslan mencoba membuka pintu kandang nya dengan mencakar-cakar nya.


Di sisi lain Zia masih terus saja berlari kesana kemari untuk menghindari makhluk itu yang kini sudah berjumlah tiga orang, Zia benar-benar merasa sangat ketakutan sekarang. Ia mengeluar kan banyak keringat di dahi nya karena ketakutan.


"To -- tolong ja -- jangan bunuh ak -- aku." Zia memohon kepada mereka dengan suara yang gemetar, dan ia memutuskan untuk berlari ke belakang mansion itu tepatnya ke tempat refreshing karena hanya di sana lah yang masih tersisa cahaya yang terang.


Mereka bertiga terus mengikuti Zia dari belakang, dan Zia terus saja berlari hingga kemudian ia pun menghentikan langkah nya karena sudah berada di tepi jurang yang hanya di batasi oleh pembatas kaca setinggi pinggang.


(Halaman belakang rumah Dev itu kan menghadap ke laut lepas, jadi tepat nya halaman belakang rumah nya berada di atas tebing tinggi yang di bawah nya terdapat lautan luas)


Mereka yang melihat Zia begitu ketakutan merasa sangat senang, apalagi sekarang Zia tidak bisa lari kemana-mana. Kemudian salah satu dari mereka berniat untuk membunuh Zia dan mendekat ke arah Zia karena ingin mendorong nya.


"Ja -- jangan men -- mendekat! To -- tolong ja -- jangan bun -- bunuh aku hikkss," pinta Zia di sertai isak tangis karena memang ia sudah sangat takut sekarang, namun seolah tuli hantu itupun semakin mendekat ke arah Zia dan berusaha untuk bisa menyentuh Zia. Namun tiba-tiba ....


***


*karena lama up nya, author buat long part ya ....


Selamat membaca semoga gak bosan...😊😊😊


"Ja -- jangan bun -- bunuh aku." Zia terus saja memohon saat hantu itu semakin mendekat ke arah nya, baru saja hantu itu akan menyentuh tubuh Zia. Namun tiba-tiba saja sesosok bayangan muncul dan menatap tajam ke arah mereka.


"AAARRRGG!" Sebuah raungan keras terdengar oleh mereka, sehingga membuat mereka semua sangat terkejut.


Ya, itu adalah Aslan yang berhasil keluar dari kandang nya karena Zia lupa menggunci pintu kandang nya kembali di saat ingin mengajak Aslan untuk bermain tadi.


Aslan pun berlari sangat kencang ke arah sosok hantu itu, sementara dua hantu lain nya yang berdiri di belakang hantu itu memilih kabur terlebih dahulu dan meninggalkan satu hantu yang masih berada di depan Zia.


Brukk!


Tubuh hantu itu terbanting keras ke atas tanah karena Aslan menerkam nya dengan sangat kuat.


Sreekk!


Aslan mencakar leher hantu itu hingga luka cakarannya sampai ke pipi nya, dan membuat pipi serta leher hantu itu terluka sangat parah dan mengeluarkan banyak darah segar.


"Aslan ...!" Zia ambruk ketanah karena sudah sangat lemah. Seketika Aslan meninggalkan hantu itu dan berlari ke arah Zia saat melihat Zia terbaring tak berdaya di atas tanah.


Melihat kesempatan emas itu, hantu itu pun memilih bangkit dan meninggalkan rumah itu meskipun sangat kesusahan berlari karena seluruh badan nya berasa remuk. Akan tetapi ia tetap berusaha untuk menjauhi mereka.


Aslan terus saja maraung kecil seolah meminta tolong dan sesekali ia mengusap tubuh Zia dengan kepalanya.


--------------------------


Di sisi lain, Dev yang tengah menyiksa musuh nya tiba-tiba saja merasakan sebuah firasat buruk terhadap Zia.


"Kenapa tiba-tiba perasaan ku gak enak ya, apa terjadi sesuatu kepada Zia?" Dev menghentikan aksinya dan memilih untuk menghubungi istrinya.


"Ayo lah Sayang, angkat telpon nya." Dev berusaha berulang kali menghubungi istrinya, namun sayang tak ada satupun jawaban dari istri nya. Karena tidak mendapat jawaban dari sang istri, kepanikan Dev pun semakin menjadi jadi sekarang.


"Kalian tahan dia dan jangan sampai lolos, saya akan segera pulang sekarang!" ucap Dev tegas kepada anak buah nya.


"Siap, Tuan!" jawab mereka serempak, lalu mereka kembali mengikat dan mengurung mata-mata yang telah mereka tangkap itu.


Dev pun segera keluar dari bangunan tua tempat dia biasa menyiksa orang, dan di susul juga oleh beberapa bodyguard nya di belakang.


Dev segera menaiki mobil nya dan di ikuti oleh mobil anak buah nya di belakang, karena tempat itu dan rumah nya lumayan jauh. Jadi membutuhkan waktu sedikit lama untuk sampai ke kediaman Abraham.


------------------------


"Dimana kalian? Awwss," teriak hantu itu seraya meringis kesakitan.


"Kami disini Ren," balas teman nya.


"Kamu kenapa kok kaya kesakitan gitu? dan baju kamu juga berdarah, ada apa sebenar nya Ren?" tanya teman nya itu yang sudah menunggu Renata di mobil.


Renata pun langsung memasuki mobil nya, dan langsung membuka wig nya untuk melihat kondisi wajah dan leher nya. Kedua teman nya yang melihat luka bekas cakaran di leher Renata merasa sangat terkejut.


"Iya gue gak sempat lari, lalu di terkam oleh singa itu dan gue di cakar," jelas Renata sambil membersihkan luka nya.


"Lo sih, gue bilang juga udah cukup. Lo malah makin maju," omel Risna.


"Ya, ini salah gue. Mending sekarang kita pergi dari sini sebelum ketauan," saran Renata dan di angguki oleh kedua teman nya, kemudian mereka pun melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah itu.


"Ren, mendingan kita kerumah sakit sekarang. Gue takut luka lo makin parah karena infeksi," saran Rista kepada Renata.


"Boleh, gue juga udah gak tahan nih. Awss sakit bangat," ringis Renata sambil memegangi pipi nya yang terus mengeluarkan darah segar.


"Ren, anting lo satu lagi kemana?" tanya Risna heran karena melihat anting Renata hanya tinggal sebelah.


"Astaga! Pasti anting gua jatuh di rumah Dev waktu leher gua di cakar sama singa itu," ucap Renata panik.


"Yaampun Ren, lo kok bisa ceroboh sih. Kalo Dev tau kita pelakunya bisa mati kita Ren," ucap Rista panik.


"Lalu mau gimana lagi, kan gak mungkin kita kesana lagi buat ngambil anting gue," balas Renata sambil berpikir keras.


Kok bisa ya Renata, Risna dan Rista bekerja sama?


Flashback On


* * * * * * * * * *


Renata merasa sangat frustasi dan marah sekarang, karena mendapat ejekan dari teman-teman kantornya. Ia kemudian menghentikan aksinya dan mulai merencanakan sesuatu yang buruk terhadap Zia.


"Awas lo Zia, akan gue buat lo menderita hhhhha." Renata tertawa terbahak-bahak sambil menyeka air matanya.


Renata pun berpikir keras apa yang akan dia lakukan untuk membuat Zia menderita, setelah ide jahat dia dapat kan. Lalu ia pun memilih untuk meminta saran dari sahabat kembar nya.


"Rista, gue pengen ketemu sama kalian nanti sore jam tiga. Apa kalian sempat?" tanya Renata sambil memegang handphone nya.


"Sempat kok, lo mau kita ketemu dimana?" tanya Rista di seberang sana.


"Di taman tempat biasa kita ketemuan," balas Renata.


"Ok, gue tunggu lo disana." Rista pun memutuskan panggilan secara sepihak.


Jam kini sudah menunjuk kan pukul 14:45 WIB, artinya sebentar lagi Renata akan bertemu dengan sahabat nya. Setelah pekerjaan kantor selesai, ia pun segera menuju ke tempat yang sudah di tentukan.


"Rista! Risna!" Renata langsung memeluk kedua sahabat nya itu.


"Lo berdua apa kabar?" tanya Renata sambil melepas pelukan nya.


"Kita baik Ren, lo sendiri gimana?" tanya Risna lagi.


"Gue juga baik, cuman hati gue yang ga baik-baik aja," ucap Renata kesal.


"Emang ada apa Ren, coba cerita ke kita," ucap Rista, lalu mereka bertiga pun duduk di bangku taman itu. Renata pun mulai menceritakan semua nya kepada sahabat nya itu.


"Apa! Zia? Istri Dev?" ucap mereka serempak karena merasa sangat terkejut.


"Iya, kalian berdua kenal Zia?" tanya Renata lagi.


"Iya, dia itu saudara tiri kami yang sering kami siksa itu," jelas Risna.


"Ooww, jadi gitu. Gimana kalo malam ini kita kerjain Zia biar dia ketakutan," ajak Renata sambil tersenyum licik.


"Gue sih mau bangat, tapi gue ga tau rumah nya dimana. Dan kalo Dev ada dirumah bisa-bisa kita mati Ren," ucap Rista serius.


"Tenang, gue tau dimana rumah nya dan kita bakal tunggu Dev gak ada dirumah." Renata tersenyum licik dan mulai menceritakan semua rencana nya kepada kedua sahabat nya itu.


"Wiihh, seru juga rencana lo. Gue setuju bangat," ucap Risna dengan senyum yang melengkung di wajah nya.


Malam pun tiba, kini Renata, Rista dan Risna sedang mengintai rumah Dev dari kajauhan dengan menggunakan teropong.


"Bagus, Dev kek nya gak ada dirumah malam ini," ucap Renata sambil terus memgangi teropong nya.


"Tapi kan itu masih ada penjaga nya, Ren," ucap Rista yang ikut melihat rumah Dev dengan menggunakan teropong.


"Tenang, untuk mereka gue udah siapain ini." Renata menunjuk kan obat bius yang ada di tas nya kepada Rista dan Risna.


"Wiiih, keren juga lo. Emang niat bangat ya lo mau nakutin Zia?" tanya Risna sambil tersenyum bahagia.


"Iya lah, kalo perlu akan gue bunuh juga dia malam ini," balas Renata sambil tersenyum jahat.


"Yaudah sekarang ayo kita beraksi mumpu Dev udah keluar," ajak Renata kepada kedua sahabat nya dan di angguki oleh mereka.


Trio R pun melanjutkan aksinya saat melihat mobil Dev keluar dari pekarangan rumah nya, kemudian mereka memakai penutup wajah nya dan mulai membius satu persatu anak buah dirumah Dev.


Setelah mereka membius semua penjaga dan pembantu dirumah itu, trio R pun mengurung dan mengikat mereka di dalam gudang. Tak lupa trio R juga memakai lapban di mulut mereka agar mereka tidak bisa berteriak.


Jam sudah menunjuk kan pukul 10:00 WIB, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengerjai Zia. Renata dan kedua sahabat nya memakai kostum kuntilanak mereka, lalu setelah itu Renata meminta nomor handphone Zia kepada Rista dan mengirim kan Zia pesan tentang kecelakaan Dev. Sedangkan Risna mematikan semua lampu disana.


"Kita kerjain Zia habis habisan malam ini, sampek dia mati ketakutan," ucap Renata di sertai tawa licik nya.


"Hhhh kita setuju bangat Ren." Risna dan Rista ikut tertawa terbahak-bahak.


"Shuut, Diam! Liat itu Zia udah masuk kalian berdua bersiap-siap lah." Mereka pun berpencar dan menjalan kan aksinya.


Flashback Off


* * * * * * * * * *


-----------------------------


Dev kini telah sampai di halaman mansion mewah nya, ia sempat heran kenapa rumah nya menjadi sangat gelap. Dev pun menyuruh anak buah nya agar tetap waspada dan berhati-hati.


"Semua nya waspada lah dan tetap berhati-hati siapa tau ada musuh di dalam!" seru Dev kepada semua anak buah nya. Lalu semua anak buah nya termasuk Dev sendiri mengeluarkan pistol untuk berjaga-jaga bila ada musuh di dalam, sementara sebagian yang lain nya di perintahkan oleh Dev untuk menghidupkan lampu.


Lampu pun kembali menyala, namun setelah di periksa tak ada tanda-tanda ada nya musuh disana. Namun Dev tetap menghawatir kan istrinya karena sedari tadi tidak ada seorang pun yang menyambut mereka pulang.


"AAARRRGG!" Auman keras Aslan kembali terdengar hingga membuat semua berlari ke tempat dimana Aslan berada sekarang.


"ZIA!" Dev berlari kencang menghampiri istrinya yang terbaring di tanah, sedangkan di samping nya ada Aslan yang tengah mondar mandir gelisah.


"Sayang, bangun lah! Apa yang terjadi disini?" Dev menepuk-nepuk pelan pipi istri nya agar ia bangun.


"Aarrggg," Aslan membalas pertanyaan Dev dengan raungan kecil dan membawa sebuah anting wanita di mulut nya, lalu meletakkan nya di hadapan Dev.


"Anting? Tapi seperti nya ini bukan milik Zia karena Zia tidak pernah memakai anting seperti ini. Bagus, ini akan ku jadikan sebagai petunjuk untuk menangkap pelaku nya," gumam Dev seraya menatap anting itu dan senyum jahat pun menggembang di bibir nya.


"Kerja bagus, Nak." Dev tersenyum dan mengelus kepala Aslan, karena ia sudah mengerti bahwa Aslan yang telah menyelamat kan istri nya.


"Kalian! Cepat lah cari para penjaga dan pembantu yang ada dirumah ini, cari mereka di seluruh pekarangan rumah! Barangkali ada yang menyekap mereka di salah satu sudut rumah ini," titah Dev kepada anak buah nya.


"Baik, Tuan." Anak buah nya segera menjalan kan tugas yang di berikan oleh Dev.


"Dan kamu, ambil lah anting itu dan periksa sidik jari yang ada di sana!" titah Dev kepada satu bodyguard yang masih berada di samping nya.


"Baik, Tuan." Bodyguard nya langsung mengambil anting itu dan memegang nya menggunakan tisu.


Sementara Dev mengangkat tubuh istrinya dan membawa menuju ke kamar, sedangkan Aslan mengikuti nya di belakang.


Dev tak mencegah Aslan untuk mengikutinya, karena ia tahu pasti Aslan juga khawatir kepada Zia. Meskipun binatang, jika sudah bersahabat dengan manusia maka ia akan menjaga dan menghawatir kan orang itu.


Ingat ya, binatang pun punya perasaan loh cuman mereka ga bisa bicara aja.


Bersambung ....