Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Zia Mulai Ngidam



Satu minggu kemudian ....


Setelah kejadian di rumah sakit malam itu, Chika tak pernah terlihat lagi. Ia menghilang bagaikan di telan bumi, kemana Chika, apakah ia sudah mati? Entahlah, yang jelas Dev tidak pernah memb\*nuhnya.


Hari ini Dev sudah di izinkan untuk kembali ke rumahnya, Dev begitu senang saat mendapatkan kabar bahwa ia telah di bebaskan dari ruangan yang khas dengan bau obat-obatan itu. Kini Dev dan Zia sedang berada di dalam mobilnya, mereka menuju ke kediaman Abraham.


"Kak, Aslan kemana, kenapa udah seminggu ini dia gak ada di rumah?" tanya Zia penasaran, karena ia juga rindu pada Aslan.


"Ada dirumah Reza, Kakak sengaja suruh Reza bawa Aslan kesana karena Kakak gak sempat jagain Aslan waktu itu," jelas Dev.


"Eemm, emang Kakak kemana kenapa gak sempat jagain Aslan?" tanya Zia bingung di sertai wajah tanpa dosanya.


"Karena Kakak sibuk cari kamu, Sayang." Dev tersenyum manis kepada Zia, sedangkan Zia hanya cengengesan saja.


"Hhhhe, lupa aku." Zia masih saja menyengir untuk menutupi rasa malunya, sedangkan Dev hanya menggelengkan kepalanya saja.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di halaman mansion mewah milik Dev. Para maid dan para bodyguard Dev telah berdiri rapi di halaman mansionnya, tak lupa pula mereka menggelar karpet merah hingga ke dalam rumah mewah Dev.


Dev dan Zia turun dari mobil mereka setelah pintu mobil dibuka oleh Bima, mereka berdua berjalan melewati karpet merah itu. Semua penjaga dan para maid membungkuk saat Dev dan Zia melewati mereka, mereka menyambut Dev dan Zia layaknya ratu dan raja.


Kini Dev dan Zia sudah berada di kamar mereka, Dev langsung merebahkan tubuhnya ke kasur king size miliknya yang sudah seminggu tidak ia pakai. Sedangkan Zia memilih berdiri di balkon kamarnya untuk menyaksikan sunset.


"Yuhuu! Akhirnya bisa tidur lagi di sini," teriak Dev kegirangan sambil meloncat-loncat di atas kasurnya.


Zia menatap aneh ke arah Dev dan menggaruk kepalanya saat melihat tingkah Dev, karena jujur saja ia belum pernah melihat Dev seperti itu.


"Kakak baik-baik aja, kan?" tanya Zia sambil mendekat ke arah Dev. Dev menghentikan aksinya dan menyengir kuda ke arah Zia.


"Hhhhe, iya Sayang. Kakak baik-baik aja kok," ucap Dev seraya turun dari ranjangnya.


"Aku pikir tadi Kakak uda ...." Zia menggantungkan ucapannya.


"Udah apa, Sayang? Kamu pikir Kakak udah gila, ya?" tanya Dev menebak dan terus mendekat ke arah Zia.


"I--iya, a--aku pikir Kakak u--udah gila." Zia terus mundur ke belakang untuk menghindari Dev hingga kemudian ia berhenti karena terjatuh ke atas sofa, Dev masih saja maju ke arah Zia dan kini ia mulai membuka kancing bajunya.


Zia menelan ludahnya dengan susah payah karena takut kepada Dev, Dev hendak menindih Zia, akan tetapi Zia segera menopang tubuh Dev dengan tangannya. Namun, kekuatan Zia tidak ada artinya di hadapan Dev.


"Kenapa hmm? Bukankah kau ingin melihatku gila?" tanya Dev seraya tersenyum nakal dan mulai membelai rambut Zia.


"Ja--jangan Kak, Zia be--belum si--siap," ujar Zia gemetar, ia merasa sangat gugup dan takut sekarang, keringat dingin mulai membahasi pelipisnya.


Dev segera mengangkat tubuh mungil Zia ke atas ranjangnya, ia menidurkan Zia di atas ranjangnya dan ia ikut tidur dengan menindih tubuh Zia. Zia memberontak berusaha melepaskan diri, tetapi ia tetap tidak bisa melawan Dev.


--------------------------------


Jam sudah menunjukkan pukul 02:00 dini hari, Dev sudah tertidur lelap di samping Zia sedangkan Zia belum juga memejamkan matanya, ia terus menatap kosong ke arah dinding hingga tak terasa bulir-bulir bening mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.


Kemudia Zia mulai terisak saat memikirkan anak yang tengah ia kandung sekarang, Zia sangat hawatir kepada anaknya. Apakah ia akan keguguran karena telah berhubungan suami istri? Begitulah yang ada di dalam pikiran Zia.


Dev terbangun saat mendengar tangisan Zia, ia segera bertanya kepada Zia. Dev sangat khawatir saat mendengar istrinya menangis.


"Sayang ... Kau kenapa, mengapa kau menangis?" tanya Dev sambil memeluk Zia, tapi Zia segera menepis pelukan Dev.


"Kak Dev jahat! Gimana kalo Zia keguguran hah?" bentak Zia marah.


Dev tersenyum dan kembali memeluk istrinya, Zia masih saja memberontak tapi Dev semakin mengeratkan pelukannya untuk membuat Zia tenang.


"Sayang ... Kamu ga usah khawatir. Kakak udah tanya sama dokter, katanya itu gak papa sebab kamu dan bayi kita sangatlah sehat. Selama kamu dan bayi kita sehat, kandungan kamu bukanlah penghalang untuk kita melakukan itu asalkan jangan terlalu sering," jelas Dev panjang lebar.


"Jadi, Zia gak akan meguguran?" tanya Zia sambil berbalik menatap Dev.


"Iya, Sayangku. Apa kamu merasa kesakitan sekarang atau merasa keram di perut kamu?" tanya Dev lagi, sedangkan Zia hanya menggeleng pertanda tidak.


"Nah, berarti kamu dan kandungan kamu baik-baik aja, Sayang." Dev tersenyum manis ke arah Zia.


"Sekarang tidur ya, Sayang." Dev menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, tak lupa Dev juga mencium kening Zia dengan lembut.


Zia hanya diam dan kembali menutup matanya untuk tidur, baru saja Zia memejamkan matanya. Tiba-tiba ia kembali terbangun karena rasa lapar telah menyerang perutnya, ia mencoba menahan rasa laparnya hingga ia berbalik ke kanan dan ke kiri. Dev kembali terbangun saat merasakan pergerakan dari Zia.


"Ada apa, Baby, mengapa belum tidur?" tanya Dev lagi.


"Zia lapar," lirih Zia sambil memegangi perutnya.


"Yaudah. Kamu mau makan apa biar Kakak ambilkan?" tanya Dev seraya bangkit dari tidurnya.


"Zia mau makan nasi goreng buatan, Kakak," ucap Zia yang juga ikut bangkit sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Tapi Sayang, Kakak ga bisa ma ...." Zia langsung menyela perkataan Dev.


"Gak mau tau, pokoknya Zia pengen makan masakan Kakak." Zia tetap teguh dengan keinginannya.


Dev menghela nafasnya dengan kasar, kemudian ia bangkit dan memakai pakaiannya.


"Yaudah, kamu tunggu disini biar Kakak masak dulu," ucap Dev kesal, ia berlalu pergi menuju dapur untuk memasak.


Zia juga ikut memakai bajunya, setelah itu ia pun turun ke bawah untuk melihat Dev memasak di dapur.


-----------------------------------


Sesampainya di dapur, Dev merasa sangat bingung saat berhadapan langsung dengan alat-alat masak. Ia bingung harus memulai dari mana, apalagi ia juga belum pernah menyentuh satu pun alat masak sebelumnya.


"Aduhhh, aku harus mulai dari mana?" monolog Dev seraya menggaruk-garuk kepalanya. Tak lama kemudian, ide cemerlang muncul di pikiran Dev.


"Oh ya, liat google aja kali, ya." Dev tersenyum lebar karena berhasil menemukan cara yang jitu untuk mengatasi masalahnya.


"Pinter juga ide gue," puji Dev kepada dirinya, kemudian ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan ia mulai mencari cara memasak nasi goreng.


Setelah mendapatkan caranya, ia segera menyiapkan segala keperluannya untuk memasak. Tak lama kemudian, Zia pun datang dan duduk di meja makan sambil memperhatikan Dev yang tengah memasak.


"Keknya makan nasi goreng pakek sate kambing, enak deh," monolog Zia seraya membayangkan makanannya.


Setelah beberapa menit memasak makanannya, akhirnya Dev telah selesai. Ia segera menyajikan makanan itu dan menghidangkannya untuk Zia yang sudah menunggu di meja makan.


"Ini Sayang, di habisin, ya." Dev menaruh makanan itu di depan Zia, ia juga ikut duduk di samping Zia untuk menemaninya makan.


Namun, karena merasa sangat mengantuk, Dev pun memilih tidur di atas meja sambil menunggu Zia makan. Baru saja ia terlelap, tiba-tiba Zia kembali membangunkannya.


"Kak." Zia menggoyangkan bahu Dev agar ia bangun.


"Ada apa, Sayang?" lirih Dev sambil membuka matanya yang terasa berat karena mengantuk.


"Zia kepengen sate, Kak," ujar Zia seraya tersenyum.


"Apa! Sate?" Dev melebarkan mata dan mulutnya karena amat sangat terkejut mendengar permintaan Zia.


"Eum-eum, Zia pengen makan nasi goreng pake sate kambing," balas Zia disertai wajah tak bersalahnya.


"Sayang. Mana ada orang jual sate jam segini, ini udah larut loh Sayang. Besok kita belik aja, ya." Dev berusaha membujuk Zia, akan tetapi Zia tetap bersikeras agar keinginannya terwujud.


"Yaudah, kalo nanti anaknya ngiler terus jangan salahin Zia," ucap Zia seraya memayunkan bibirnya.


Dev mendengkus kesal sambil mengusap wajahnya dengan kasar, ia sangat kesal kepada Zia tapi ia tetap bersabar. Karena bagaimanapun juga, Zia tengah mengandung anaknya sekarang dan itu juga permintaan dari anaknya.


"Yaudah, Kakak beliin kok." Dev tersenyum kecut, kemudian ia segera bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar rasa kantuknya hilang.


"Kak, Zia ikut ya!" teriak Zia dari arah dapur.


"Iya, cepat siap-siap!" titah Dev yang ikut berteriak dari dalam kamar mandi.


Beberapa menit telah berlalu, kini Zia dan Dev sudah siap mencari satenya, mereka langsung menaiki mobil mewah Dev. Tak lupa pula, Zia membawa kotak makan yang berisi nasi goreng buatan Dev tadi.


"Sayang, ngapain bawa kotak makan segala?" tanya Dev penasaran karena melihat Zia membawa kotak makan.


"Biar bisa makan terus pas satenya ketemu nanti," jelas Zia singkat seraya melemparkan senyumnya kepada Dev.


Dev seketika merasa sangat iba kepada Zia saat mendengar penuturan Zia bahwa ia memang sangat ingin memakan sate, rasa malas yang tadi menguasai hati Dev kini telah berubah menjadi semangat demi istrinya.


"Pengen bangat, ya?" tanya Dev sambil fokus menyetir.


"Iya Kak, pengen bangat," balas Zia tersenyum kembali.


Dev berkeliling kota untuk mencari orang yang masih menjual sate, setelah berkeliling hampir setengah jam, akhirnya mereka menemukan warung sate yang buka 24 jam.


"Sayang. Tunggu disini ya, biar Kakak yang pesan satenya." Dev turun dari mobil mewahnya dan langsung menjual sate, sementara Zia hanya menunggu di dalam mobil sambil melihat Dev memesan sate.


"Pak, satenya dua bungkus ya," ucap Dev kepada penjual sate itu.


"Iya Tuan, saya bakar dulu ya," balas penjual itu sambil membakar sate pesanan Dev dan yang lain.


Dev memilih kembali menunggu di dalam mobilnya bersama Zia. Zia terus menunggu satenya hingga akhirnya ia merasa bosan, kemudian Zia segera mengeluarkan sifak konyolnya agar bosannya hilang.


"Kak, itu yang jualnya manusia beneran, kan?" tanya Zia serius.


"Iya Sayangku, emang ada setan jual sate?" Dev berusaha menahan tawanya.


"Mana tau, bisa jadi kan hantu yang jual sate. Kek di film-film horor itu kan banyak tu, hantu jual sate dan ada juga hantu beli sate," jelas Zia serius, tetapi Dev tidak dapat menahan tawanya lagi.


"Hhhhha, dasar korban film horor," ujar Dev di sertai gelak tawanya.


"Ish, Kak Dev mah di bilangin gak percaya." Zia melipat tangan di dadanya karena kesal kepada Dev yang menertawainya.


"Kak. Coba deh liat kaki mang satenya, melayang atau nyentuh tanah!" titah Zia kepada Dev, akan tetapi Dev semakin tertawa keras.


"Hhhha, Sayang jangan ngadi-ngadi, deh," tutur Dev yang masih tertawa.


Zia kembali merajuk karena Dev terus menertawainya, kemudian Dev berhenti saat melihat Zia yang sedang komat kamit seperti membaca sesuatu.


"Sayang, kamu lagi ngapain?" tanya Dev sambil mengernyit bingung.


"Lagi baca ayat kursi, mungkin setelah Zia bacain ayat kursi, warung ini bisa tiba-tiba ilang dan jadi hutan atau apa, kek," jelas Zia serius dan ia kembali melanjutkan bacaannya.


Lagi-lagi Dev menertawainya, hingga kemudian ia berhenti karena si tukang sate datang membawa pesanan mereka.


"Tuan, ini satenya," ucap mang sate seraya menyerahkan bungkusannya.


"Ini uangnya. Ambil aja kembalian nya!" Dev menyerahkan uangnya dan mengambil sate itu, si tukang sate hendak pergi. Namun, ia di cegah oleh Zia.


"Pak. Bapak ini manusia, kan?" tanya Zia serius. Dev dan tukang sate itu hanya menggeleng kepala mendengar ucapan Zia, kemudian tukang sate itu menjawab pertanyaan Zia.


"Iya Nona, saya manusia kok. Cubit aja kalo gak percaya." Tukang sate itu menyerahkan tangannya untuk di cubit oleh Zia.


"Pak. Maafkan istri saya, ya. Dia hanya becanda, maklum lah ini udah larut," jelas Dev kepada tukang sate itu agar dia tidak tersinggung dengan ucapan istrinya.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya juga tidak tersinggung." Tukang sate itu tersenyum dan kembali ke warungnya.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Zia langsung saja melahap sate itu bersamaan dengan nasi goreng yang ia bawa tadi.


"Enak, Sayang?" tanya Dev sembari menyetir mobilnya.


"Enak bangat, Kak," balas Zia dengan mulut yang sudah penuh dengan makanan, Dev hanya tersenyum saat melihat istrinya bahagia.


Zia terus melahap makanannya, sedangkan Dev hanya fokus menyetir mobilnya menuju ke rumah mereka.


Bersambung ....