
Zia dan Kania kini sedang menuju ke rumah sakit, di sepanjang perjalanan Zia tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Dev dan Zia juga terus menangis karena memikirkan keadaan Dev. Zia berdoa dengan sangat tulus untuk keselamatan Dev hingga ia melupakan masalah yang sedang menimpa keluarganya sekarang, di hatinya hanya ada Dev dan Dev.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mereka pun sampai di rumah sakit kota. Kania dan Zia langsung turun dari mobil itu dengan tergesa-gesa, setelah mereka bertanya kepada suster dimana ruangan Dev. Mereka pun langsung menuju ke ruangan tempat Dev di operasi sekarang.
"Kan ...," lirih Zia seraya menghentikan langkahnya karena melihat Chika yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Gak papa, ada aku di sini," ucap Kania menenangkan Zia, kemudian Zia pun melanjutkan langkahnya dan mendekat ke ruangan itu.
"Ngapain lo disini, hah?" bentak Chika saat melihat Zia.
Plakk!
Tanpa aba-aba, kania langsung menampar pipi mulus chika hingga ia meringis kesakitan.
"Aws, lo apa-apaan, sih? Lo gak tau siapa gue?" tanya Chika sambil mengelus pipinya.
"Gue gak tau lo siapa, yang gue tau lo itu adalah p*lakor diantara Tuan Dev dan Nyonya Zia," jelas Kania dengan ucapan pedasnya.
"Kurang aj*r!" Chika hendak menampar Kania, tetapi dengan sigap Kania langsung mencekal tangan Chika dan memutar pergelangan tangannya hingga Chika kembali meringis.
"Lo mau nampar gue?" tanya Kania seraya mengencangkan putarannya.
"Aww, sakit, lepasin gue," ringis Chika kesakitan.
"Udah Kan, lepasin aja." Zia melerai pertengkaran diantara mereka. Kemudian Kania pun melepaskan Chika, tetapi Kania tak lupa untuk mendorong Chika hingga tersungkur ke lantai.
"Awas lo! Kalo gue udah punya bukti bahwa lo adalah p*lakornya, akan gue habisi lo," ancam Kania seraya mencengkram dagu Chika dengan kuat, sedangkan Chika hanya bisa diam karena takut kepada Kania.
--------------------------------
Di sisi lain, aksi kejar-kejaran antara gadis kembar dan pengacara gadungan itu belum juga selesai. Mereka terus mengejar pria itu, akan tetapi tak kunjung mendapatkannya. Namun, tak lama kemudian sebuah ide muncul di pikiran mereka saat mereka melihat ada beberap balok berukuran sedang yang terletak di pinggir jalan.
"Kak! Lempar baloknya!" teriak Tania, lalu Sania segera melempar balok itu dan mengenai punggung pria itu hingga membuatnya jatuh seketika, akan tetapi tidak pingsan.
"Kena lo." Sania dan Tania tersenyum penuh kemenangan, lalu mereka langsung mengikat tangan pria itu.
"Ikut kami!" titah Sania kepada pria itu, pria itu langsung memberontak saat hendak di bawa.
Bugh!
Tania langsung memukul tengkuk pria itu dengan kuat hingga membuatnya pingsan seketika, mereka pun langsung menyeret pria itu dan menyekapnya di gudang rumah mereka.
Byuurr!
Seember air di tumpahkan oleh gadis kembar itu ke wajah pria itu hingga membuatnya terbangun seketika, pria itu sempat memberontak hendak melepaskan diri, akan tetapi sayang karena mereka mengikatnya dengan sangat kuat.
"Cepat katakan! siapa yang menyuruhmu?" tanya Sania, yang tengah duduk sambil menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya.
"Gue gak akan bilang," ucap pria itu menolak.
"Baiklah, sampai kapan kau akan diam?" Tania langsung menarik pelatuk pistolnya dan menodongkannya tepat di kepala pria itu.
"Mau jujur atau mati?" tanya Tania memberi pilihan.
"Aku tidak akan menghianati Tuanku." Pria itu terus bersekiras menolak hingga membuat Sania dan Tania sangat geram, dan tanpa aba-aba Sania langsung menembak lutut pria itu.
Dorr!
"Aaakkkhhh!" teriak pria itu kesakitan.
"Cepat katakan!" titah Sania mendesak.
"Tidak, a--aku tidak akan mengatakannya, awwss," balas pria itu seraya meringis kesakitan akibat rasa sakit di lutut nya.
"Katakan!" Tania menekan lutut pria itu dengan pistolnya, hingga pria itu kembali berteriak.
"Aaaakkkhhh! A--ampun." Pria itu berteriak karena merasakan sakit yang luar biasa di lututnya akibat di tekan oleh Tania.
"Katakan sekarang juga!" bentak Sania sambil memasukkan pistolnya ke dalam mulit pria itu, seketika pria itu langsung setuju untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Mau katakan?" Tanya Sania lagi dan pria itu langsung mengangguk.
Kemudian Sania mengeluarkan pistolnya dari dalam mulut pria itu, dan membiarkan pria itu menceritakan segalanya. Pria itu langsung menceritakan semuanya tanpa ada yang ia sembunyikan sedikit pun.
"Jadi, yang nenyebabkan kekacauan ini, Chika?" tanya Tania kepada pria itu dan pria itu hanya mengangguk.
"Aku mohon tolong lepaskan aku," pinta pria itu memelas.
Tania dan Sania tidak menggubris permintaan pria itu, mereka hanya fokus mengirimkan pesan kepada Kania yang kini berada di rumah sakit.
-------------------------------
Ting!
[Kak, ternyata benar dugaan kita. Chika lah dalang di balik semuanya]
[Apa kalian sudah dapatkan buktinya?]
[Sudah Kak, kami sudah menangkap salah satu orang suruhannya]
[Bagus]
[Kak, bagaimana keadaan Tuan Dev?]
[Kami juga belum tau karena dia masih di ruang operasi]
[Kami akan segera kesana, Kak]
[Ya, cepatlah karena di sini juga ada Chika]
[Akan Kakak usahakan]
Kania mematikan ponselnya setelah membaca dan membalas pesan dari adiknya, kemudian ia beralih menatap Chika dengan tatapan tajam hingga membuat Chika sedikit ngeri.
Dua jam telah berlalu, tetapi dokter yang menangani Dev tak kunjung keluar dari ruangan itu hingga membuat mereka yang menunggu semakin khawatir.
Sementara di dalam ruangan operasi, dokter telah selesai mengoperasi Dev bahkan luka-luka Dev telah di jahit dan di tutupi dengan perban. Namun, dokter merasa sangat heran karena Dev tidak menunjukkan tanda-tanda membaik melainkan detak jantungnya semakin melemah.
"Ini sangat aneh. Operasinya berjalan dengan lancar, tapi mengapa pasien semakin melemah? Dan ia juga seperti sedang gelisah sekarang." gumam dokter itu, kemudian dokter itu mulai kembali memeriksa kondisi Dev.
Tak lama kemudian Dev menghela nafasnya dengan kasar, ia seperti begitu kesulitan berfas sehingga dadanya terangkat naik dan turun. Dev juga terlihat sangat gelisah dan ia terus saja memanggil nama Zia.
"Haaa! Zia ... Zia ... Zia," lirih Dev dengan mata yang masih tertutup.
"Cepat panggilkan keluarga pasien yang bernama Zia!" titah dokter itu kepada perawat, dan perawat segera berlari keluar untuk memanggil Zia.
"Permisi, siapa di sini yang namanya Zia?" tanya suster itu.
Chika hendak mengaku bahwa dirinya adalah Zia, akan tetapi dengan sigap Kania langsung menginjak kaki Chika dengan keras hingga membuatnya berteriak.
"Aku ... Aaaakkkhh!" teriak Chika.
"Maaf, tolong jangan buat keributan di sini," ucap suster itu memperingati mereka.
"Maaf Sus, teman saya memang agak gila. Saya akan membawanya pergi hhhe." Kania langsung menjabak rambut Chika dan membawanya menjauh dari ruangan itu.
Kania sengaja melakukan itu untuk memberi kesempatan agar Zia menemui Dev dan ia juga ingin pelajaran kepada Chika, ia segera membawa Chika menuju ke kamar mayat. Tak lama kemudian Sania dan Tania pun telah sampai, mereka langsung menuju ke kamar mayat karena di suruh oleh Kakak nya.
"Lepaskan aku!" Chika terus memberontak, ia berusaha melepaskan tangan Kania yang mencengkram rambutnya.
"Aaarrg! Berisik lo." Kania langsung memukul tengkuk Chika hingga ia pingsan di tempat.
"Kak, kita apakan dia?" tanya Sania yang baru datang bersama Tania.
"Kita kurung dia di kamar mayat ini," balas Kania seraya tersenyum jail.
"Tapi kita gak punya kunci, Kak. Gimana kita akan mengguncinya di sini?" tanya Tania bingung.
"Hhhhe, lihat penjaga itu." Kania menunjuk ke arah penjaga pintu kamar mayat yang sedang tertidur.
"Apa kalian mengerti?" tanya Kania terkekeh pelan.
"Hhhhe kita ngerti, Kak." Mereka pun langsung mendekati satpam itu dan mencoba mengambil kunci yang tergantung di pinggang satpam itu.
Mereka merangkak sedikit demi sedikit agar penjaga itu tidak terbangun, lalu mereka mengambil kunci kamar mayat dengan sangat hati-hati. Setelah berhasil mengambil kuncinya, mereka kembali merangkak menuju Kania yang sudah menunggu di pintu kamar mayat.
-----------------------------
"Apa kau Zia?" tanya suster itu kepada Zia, sedangkan Zia langsung mengangguk cepat.
"Masuklah! Pasien terus memanggilmu dari tadi, pasien sangat gelisah sekarang," jelas suster itu dan Zia langsung masuk ke ruangan itu dengan terburu-buru.
Dada Zia kembali terasa sesak saat melihat kondisi Dev yang sangat gelisah hingga tak terasa air matanya kembali luruh membasahi pipinya, Zia segera mendekat ke arah Dev dan menggenggam tangannya.
"Kak ... Zia ada di sini hikkss, Kakak jangan khawatir kan Zia hikkss hikss Zia baik-baik aja," ucap Zia di sela isak tangisnya, ia mengusap kepala Dev dengan lembut agar Dev sedikit tenang.
Dev mulai sedikit tenang, nafasnya mulai teratur sekarang dan detak jantungnya juga kembali normal. Melihat perkembangan Dev, dokter itu tersenyum dan menyuruh Zia untuk terus menyemangati Dev.
"Bagus, kondisi pasien membaik sekarang. Teruslah menyemangatinya!" titah dokter kepada Zia seraya tersenyum.
"Kak ... Bangunlah! Zia sudah memaafkan, Kakak," bisik Zia di telinga Dev dan Dev segera bereaksi, ia mengeluarkan air matanya saat mendengar perkataan Zia.
"Kak ... Zia sangat menyayangi, Kakak." Zia mengecup kening Dev dengan sangat lembut, lagi-lagi Dev menanggapinya dengan air mata.
"Kak, lihatlah! Anak kita juga sangat sehat, ia juga rindu pada ayahnya." Zia mengambil tangan Dev dan meletakkan tangan Dev di perutnya.
Dev berhenti mengeluarkan air matanya, ia sudah benar-benar tenang sekarang. Namun, ia tak kunjung membuka matanya hingga membuat Zia sedikit panik.
"Dok, apa yang terjadi kepada suami saya?" tanya Zia khawatir.
"Tenanglah, suami anda baik-baik saja dan ia baru saja melewati masa kritisnya," jelas dokter itu tersenyum.
"Tapi, mengapa ia belum membuka matanya?" tanya Zia lagi.
"Itu karena kondisi tubuhnya yang masih lemah. Anda tidak perlu khawatir, ia akan segera sadar setelah pengaruh obat biusnya hilang," jelas dokter itu lagi.
"Cepatlah bangun, Kak. Zia sangat merindukan, Kakak." Zia menghapus sisa-sisa air mata Dev, kemudian ia beralih mencium kening Dev lagi.
"Sus, pindahkan pasien ke ruang rawat!" titah dokter itu sambil melangkah keluar dari ruangan itu.
Suster segera memindahkan Dev ke ruang rawat, sedangkan Zia hanya mengikuti suster itu sambil ikut mendorong ranjang Dev.
---------------------------------
"Kapan kita buka lagi, Kak?" tanya Tania.
"Besok," jawab Kania enteng.
"Hhhhh auto mati ketakutan dah si j*lang itu hhhhha." Sania tertawa terbahak-bahak saat membayangkan Chika ketakutan.
"Biarin aja. Ayo, kita lihat kondisi Tuan Dev," ajak Kania kepada kedua adik kembarnya.
"Ayo, Kak," jawab mereka serempak. Kemudian trio Nia meninggalkan Chika yang masih pingsan di dalam kamar mayat itu, tak lupa pula mereka juga membawa kunci kamar mayat bersama mereka.
Bersambung ....