
Devan dan Farhan masih memeluk Rangga sambil menangis, akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa Rangga mulai menanggapi tangisan mereka dengan ikut meneteskan air matanya.
Hanya dokter yang menyaksikan kejadian itu, dokter itu segera memberitahukan Devan dan Farhan untuk melihat reaksi Rangga.
"Tuan, lihatlah! Pasien mengeluarkan air mata," ucap dokter itu seraya menunjuk wajah Rangga, lebih tepatnya ke arah mata Rangga yang sedang mengeluarkan air.
Dev dan Farhan begitu senang mendengar kabar itu, mereka sangat senang karena sahabatnya telah kembali. Dev dan Farhan segera melepaskan pelukan mereka, kemudian mereka menatap wajah Rangga dengan penuh harap.
"Dev, Rangga kembali," ucap Farhan senang saat melihat Rangga mengeluarkan air matanya.
Jari jemari Rangga mulai bergerak secara perlahan, tak lama kemudian Rangga ikut membuka matanya secara perlahan.
"Eugh," lenguh Rangga sambil memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut.
Hikks!
Hikks!
Rangga sempat terkejut saat mendengar suara isak tangis di ruangan itu, ia segera memalingkan wajahnya ke arah kanan, yaitu ke arah sumber suara itu berasal.
Dev dan Farhan segera menghapus air matanya dengan secepat kilat saat Rangga menoleh ke arah mereka, kemudian Dev dan Farhan segera memasang wajah datar mereka yang berpura-pura tidak peduli kepada Rangga.
"Farhan, Devan. Apa kalian habis menangis?" tanya Rangga penasaran saat melihat mata mereka yang bengkak seperti habis menangis, di tambah lagi hidung mereka juga merah padam.
"Sok tau lo," ketus Dev dengan gaya dinginnya.
"Sejak kapan sahabatku jadi cengeng?" tanya Rangga terkekeh pelan.
"Gak, kita gak nangis kok," ucap Farhan berpura-pura.
"Dev, Farhan. Tolong maafkan segala kesalahanku, aku akan segera menyerahkan diriku kepada polisi dan aku akan bertanggung jawab atas semua kesalahanku," jelas Rangga memohon dengan tulus.
"Aarrgg!" Dev mengerang marah dan mengepalkan tangannya, kemudian ia melayangkan kepalan tangannya ke arah Rangga yang tengah duduk di atas brangkar.
Rangga menutup matanya rapat-rapat saat melihat Dev maju ke arahnya sambil mengangkat kepalan tanggannya, Farhan juga sempat panik saat melihat Dev yang akan memukul Rangga.
Namun, tepat di depan wajah Rangga. Dev menghentikan aksinya dan ....
Grep!
Dev memeluk erat tubuh Rangga karena ia benar-benar rindu akan pelukan itu. Rangga merasa sangat terkejut saat Dev memeluk dirinya dengan tiba-tiba, akan tetapi ia segera membalas pelukan dari sahabatnya yang juga telah lama ia rindukan.
"Dev, apa kamu sudah memaafkanku?" tanya Rangga lagi.
"Diam b*doh! Baru aja sadar udah banyak bicara," tukas Dev sambil memukul pelan kepala Rangga.
Farhan merasa sangat lega saat melihat Dev yang sudah tidak marah kepada Rangga, sejurus kemudian Farhan juga ikut memeluk Rangga.
Mereka berpelukan sangat erat, jujur saja mereka sangat merindukan satu sama lain. Mereka menangis haru sambil semakin mengeratkan pelukan mereka, mereka melupakan dendam lama dan kembali bersahabat sekarang.
Setelah berpelukan selama beberapa menit, merekapun segera melepas pelukannya dan saling menatap satu sama lain.
"Kalian sudah memaafkan aku?" tanya Rangga lagi.
"Tidak. Karena kami ingin agar kau kembali menjadi sahabat kami, kami tidak ingin hanya memaafkanmu. Kami ingin kita kembali membangun persahabatan kita seperti dulu lagi," jelas Farhan serius.
"Apa kau bersungguh-sungguh?" tanya Rangga dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ga usah cengeng," ucap Dev tegas saat melihat Rangga akan mengeluarkan air matanya, padahal ia sendiri juga hampir menangis sekarang.
"Iya, aku gak nangis kok." Rangga terkekeh pelan sambil menghapus air matanya.
"Sahabat?" Dev mengulurkan telapak tangannya ke arah Rangga, kemudian Rangga langsung menyambutnya.
Farhan ikut meletakkan kedua tangannya di atas tangan mereka. Alhasil, terbentuklah sebuah jabatan tangan khas seperti saat mereka masih bersahabat dulu, dulunya mereka sangat sering melakukan jabat tangan khas mereka saat hendak melakukan apapun, baik saat bertanding atau saat menguatkan satu sama lain.
Sekilas, bayang-bayang indah saat mereka bersahabat dulu kembali teringat di pikiran mereka masing-masing.
"Dev, bagaimana keadaan Zia?" tanya Rangga sambil menatap Dev serius.
"Yaampun, aku lupa kalo Zia belum sadar dan ini semua gara-gara lo," ucap Dev sambil menepuk pelan jidatnya.
"Iya, Dev. Aku tau ini semua salahku." Rangga kembali merasa bersalah.
"Yaelah, sensitif amat sih. Maksud gue, ini semua gara-gara lo yang udah bikin kita nangis-nangis di sini sampe kita lupa sama Zia," jelas Dev panjang lebar.
"Hhhhhe." Rangga hanya bisa menyengir.
"Ga. Aku akan liat dulu kondisi Zia, lo tetap di sini dan istirahat yang cukup," ucap Dev memperingati Rangga.
"Sebentar, biar saya periksa dulu kondisi anda." Dokter itu langsung memeriksa keadaan Rangga, setelah di periksa semuanya normal sekarang dan Rangga sudah membaik.
"Gimana, Dok?" tanya Farhan dengan sedikit cemas.
"Dia sudah baik-baik saja, tapi dia tetap harus beristirahat dan dia juga harus meminum suplemen penambah darah. Ini resep obatnya," jelas dokter itu sambil memberikan secarik kertas berisi resep obat.
--------------------------------
"Eugghh," lenguh Zia sambil membuka matanya.
Zia menatap langit-langit ruangan yang khas dengan bau obat-obatan itu, ia menyusuri seluruh isi ruangan itu untuk mencari suaminya. Namun, hanya ada Bima di sana yang sedari tadi menatapnya.
"Nyonya, apa kau sudah merasa baikan?" tanya Bima dan Zia hanya mengangguk.
"Dimana Kak Dev?" tanya Zia bingung karena tidak melihat suaminya di ruangan itu.
"Nah, itu Tuan," ucap Bima seraya menunjuk ke arah Dev yang baru saja masuk bersama dengan Farhan dan Rangga.
Dev sangat senang saat melihat Zia yang sudah sadar, ia segara berlari ke arah Zia dan memeluknya dengan erat.
Cup!
Cup!
Cup!
Dev mengecup seluruh wajah Zia, tak ada satupun bagian yang terlewatkan.
"Sayang, apa kau sudah merasa baikan?" tanya Dev yang masih memeluk Zia.
"Iya, Kak. Zia udah baikan sekarang," balas Zia sambil tersenyum manis kepada Dev.
"Kak," panggil Zia pelan.
"Iya, Sayang. Ada apa hmm?" tanya Dev seraya melepas pelukannya, kemudian ia menatap manik mata Zia dengan serius.
"Tadi Zia mimpi aneh, Kak. Zia mimpi ketemu sama Ayah dan Ibu, tapi di dalam mimpi itu Zia juga melihat seseorang yang katanya itu adalah Kakak kandung Zia," jelas Zia serius.
"Kakak! Bukankah kamu tidak punya Kakak?" tanya Dev penasaran.
"Ga tau sih, Kak. Tapi Ibunya Zia yang bilang kalo orang itu Kakak kandung Zia," ucap Zia lagi.
"Mengapa mimpi Zia sangat sama denganku?" batin Rangga bingung.
"Apakah Zia adalah adikku? Aku harap itu benar, jika memang benar Zia adalah adikku. Maka aku akan menjaganya seperti pesan Ayah padaku," batin Ranga penuh harap.
"Aku harus segera mencari tau kebenarannya," gumam Rangga.
"Sudahlah, Sayang. Mungkin itu hanya bunga tidur saja," ucap Dev seraya mengelus rambut Zia.
"Mungkin. Tapi Ayah dan Ibu nitip salam buat Kakak," ujar Zia di sertai senyumnya.
"Iya, Sayang," balas Dev lagi di sertai senyum manis yang tak pernah pudar di wajahnya.
"Oh ya, Farhan, Dev. Ayah dan Ibuku juga nitip salam buat kalian," timpal Rangga lagi hingga membuat Dev dan Farhan semakin bingung.
"Ga. Kenapa mimpi kalian hampir sama?" tanya Farhan sembari mengerjitkan alisnya karena bingung.
"Entahlah, aku juga gak tau," balas Rangga seraya mengangkat bahunya sekilas.
"Udah lupakan saja, yang penting semuanya sudah membaik sekarang," jelas Dev menenangkan mereka.
Mereka terus saja berbincang-bincang hangat layaknya keluarga yang sedang berkumpul dan sesekali mereka tertawa bahagia, benar-benar seperti sebuah keluarga yang hangat.
Namun ternyata, di luar ruangan itu ada seseorang yang menatap benci ke arah mereka semua. Ia sangat marah saat mengetahui Zia dan bayinya selamat, siapakah orang itu? Siapa lagi kalau bukan Chika.
"Aarrgg! Kenapa dia masih hidup?" gumam Chika dengan penuh emosi saat melihat Zia baik-baik saja.
"Pokoknya. Bagaimanapun caranya, aku akan menghabisimu Zia dan aku akan segera merebut Dev darimu," ucap Chika di sertai senyumnya yang licik.
"Dan untukmu Rangga, aku akan membalas hinaanmu dan akan kubuktikan padamu bahwa aku ini tidak lemah," gumam Chika sambil menekan setiap kata-katanya.
Setelah cukup muak menyaksikan kebahagiaan mereka, Chika segera pergi dari sana karena dadanya sudah terasa amat panas menyaksikan canda tawa mereka. Di tambah lagi, ia sangat marah saat mengetahui Rangga telah berbaikan dengan Dev. Itu artinya, peluangnya untuk menyakiti Zia semakin kecil, akan tetapi ia tetap keukeh dengan tujuannya untuk menghabisi Zia.
"Aku tidak akan pernah mundur sebelum Zia mat*," gumam Chika seraya menyeringai sambil melihat pisau kecilnya yang sedari tadi ia pegangi.
Bersambung ....