
Zia pergi ke kamar tamu yang ada di rumah Rangga untuk beristirahat, tetapi Zia tidak langsung tidur melainkan ia tengah memikirkan cara untuk membebaskan orangtuanya. Namun, setengah jam kemudian Zia sudah merasa amat sangat mengantuk dan ia pun tertidur, mungkin itu karena ia terlalu lama menangis tadi.
Rangga pergi melihat Zia, Rangga berniat ingin mengajak Zia menemui Dev untuk menceritakan masalah ini. Namun, ia mengurungkan niatnya setelah melihat Zia yang sudah tertidur.
"Istirahatlah, Zia. Kau tak perlu khawatir, aku akan segera membebaskan orangtua kita." Rangga menatap Zia sendu, setelah itu ia kembali menutup pintu kamar Zia dan segera bergegas pergi dari kamar itu.
"Jagalah Adikku sebelum aku pulang, jangan lengah sedikitpun. Ingat! Jaga dia dengan baik!" titah Rangga kepada para bodyguardnya.
"Baik, Tuan!" jawab mereka serempak.
"Tuan, kau mau kemana? Apa perlu kuantar?" tanya Alex, anak buah sekaligus supir pribadi Dev.
"Tidak, Alex! Kau juga harus ikut berjaga-jaga di sini, aku akan pergi sendiri," jelas Rangga dan Alex hanya mengangguk patuh.
Rangga segera bergegas keluar dari rumahnya dengan tergesa-gesa, sejujurnya Rangga sangat khawatir meninggalkan Zia sendiri walau di rumahnya. Akan tetapi, ia tak punya pilihan lain karena Dev dan Farhan beserta Tuan Andra harus mengetahui tentang hal ini.
-------------------------------
Pukul 18:00 malam.
Tak terasa Zia sudah tertidur selama empat jam, tetapi tak lama kemudian Zia pun terbangun karena merasa lapar.
"Eugh ... lapar bangat," lirih Zia seraya bangun dari tidurnya.
"Hooaamm." Zia menguap, setelah itu ia meregangkan seluruh tubuhnya.
Zia belum sadar jika ia sudah tertidur selama itu, bahkan ia tidak sadar jika saat ini sudah malam. Namun, Zia merasa ada yang aneh, kemudian ia pun melihat ke arah jendela. Betapa terkejutnya Zia di saat ia melihat jika matahari telah berganti dengan malam, Zia sangat marah kepada dirinya sendiri karena sudah tidur selama itu.
"Aaarrggh! Bagaimana aku bisa tidur selama itu?" Zia mengerang marah.
"Bang Rangga kemana, lagi? Kok gak bangunin Zia?" monolog Zia yanh sudsh mulai kesal kepada Rangga.
"Duuhhh, pasti Zia udah di cariin sama Kak Dev," gumam Zia sedikit panik dan ia langsung mengecek ponselnya.
"Aneh. Kak Dev kok gak nelpon Zia, ya?" tanya Zia pada dirinya sendiri setelah mengecek handphonenya dan ia tak melihat satu pun panggilan terlewatkan dari Dev.
"Pasti ada yang gak beres di sini," batin Zia mulai merasa jika ada sesuatu yang sedang terjadi saat ini.
Zia menuju ke kamar mandi dan mencuci wajahnya agar rasa kantuknya hilang, setelah itu Zia langsung bergegas keluar dari kamar itu untuk mencari Rangga dan meminta Rangga agar mengantarnya pulang ke rumah Dev.
"Bang Rangga!" panggil Zia sedikit berteriak.
"Abang dimana? Bang Rangga!" teriak Zia lagi.
"Maaf, Nona. Tuan Rangga tidak ada di rumah, tadi sore Tuan Rangga pergi entah kemana," ujar salah satu anak buah Rangga memberitahu Zia.
"Lalu Bang Rangga belum pulang?" tanya Zia.
"Iya, Nona," jawab bodyguard itu mengangguk.
"Kalo begitu, antarkan aku ke rumahku!" pinta Zia pada bodyguard itu.
"Ta--tapi, Nona. Tuan Rangga bilang, kami tidak boleh membiarkan anda kemanapun sebelum Tuan pulang," jelas bodyguard itu lagi.
"Baiklah, kemarikan kuncinya!" pinta Zia seraya menatap bodyguard itu dengan tatapan dingin.
"Ta--tapi, Nona," jawab bodyguard itu ragu-ragu.
"Berikan, atau aku pulang sendiri," ancam Zia lagi, kemudian bodyguard itu pun menyerahkan kunci mobil pada Zia.
Setelah mendapat kunci mobilnya, Zia segera berlari keluar dan menaiki mobil Rangga. Beberapa bodyguard berusaha menghentikan Zia, tetapi Zia tetap bersikeras untuk pergi dari rumah itu.
Zia langsung menghidupkan dan mengendarai mobil pribadi milik Rangga, ia mengendari mobil itu dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Tak lama kemudian, Zia telah sampai di rumah Dev.
Zia semakin merasa ada yang aneh saat melihat kondisi rumah itu yang nampak sangat sepi, bahkan ia tak melihat satu pun penjaga yang berjaga di luar rumah itu.
"Aneh, kemana para penjaga?" gumam Zia turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobil itu.
"Loh. Ini kan mobil Bang Rangga, mobil Kak Dev dan Ayah juga ada di sini. Tapi kemana mereka?" ucap Zia yang semakin heran.
"Pintunya terbuka, tapi kemana mereka?" Zia mulai melangkah masuk ke dalam rumah itu dengan perasaan yang masih sangat bingung.
"Kemana semua orang?" ujar Zia setelah memasuki rumah itu.
"Kak Dev! Bang Rangga! Ayah! Dimana kalian?" teriak Zia memanggil mereka.
"Bi Sari! Bi Ina! Bi Rika! Bima! Dion! Ada dimana kalian?" teriak Zia lagi.
"Aku mohon keluarlah, ini tidak lucu!" teriak Zia.
"Kemana semua orang?" ucap Zia yang mulai panik.
Kini Zia berhenti berteriak, ia pun bergegas untuk mencari mereka di seluruh ruangan. Namun, setelah mencari kesana kemari, Zia tak kunjung menemukan keluarganya bahkan ia tak juga menemukan satu pun bodyguard di rumah itu.
"Tidak! Pasti telah terjadi sesuatu di sini," ujar Zia yakin.
"Cctv. Ya, Zia harus memeriksa cctvnya." Zia hendak pergi ke ruang kontrol cctv, tetapi ia menghentikan langkahnya karena tiba-tiba saja handphonenya berbunyi.
Ada nomor tak di kenal yang menghubunginya, nomor itu menghubungi Zia melalui video call.
Zia segera mengangkat panggilan dari nomor yang tak di kenal itu, Zia sangat terkejut saat melihat mertua dan suaminya beserta Rangga sedang di ikat tepatnya di tempat Ayah dan Ibunya di sekap. Zia juga melihat Farhan di sana.
"Hy Zia. Gimana, kamu pasti panik kan mencari mereka? Tenang aja, suamimu aman bersamaku," ucap Chika yang melalukan video call bersama Zia.
"Aku sudah menduganya, ini pasti ada sangkut pautnya dengan mereka. Kurang aj4r kau, Chika," batin Zia memak1 Chika.
"Zia, kamu mau mereka selamat?" tanya Chika lagi dengan senyum mengejek Zia.
"Iya, Aku mau mereka selamat," jawab Zia mengangguk cepat.
"Jika kamu mau mereka selamat, datanglah kemari sendirian dan bawa surat perusahaan Ayahku. Bawa juga semua surat rumah dan seluruh properti milik Andra, jika tidak ...." Chika langsung memerintahkan anak buah ayahnya untuk menodongkan senjata ke kepala mereka semua.
"Ti--tidak Chika, aku mohon padamu. Jangan sakiti keluargaku, aku akan pergi ke sana. Tapi aku mohon, jangan sakiti mereka!" Zia menangis dan memohon kepada Chika.
"Tidak, Zia! Jangan pergi kesini, ini sangat berbahaya untukmu." Rangga dan yang lainnya melarang Zia agar tidak pergi ke sana.
"Jangan dengarkan mereka Zia, lakukan apa yang kukatakan jika memang kau ingin mereka selamat," jelas Chika lagi.
"Baiklah, aku akan pergi kesana." Zia mengangguk mematuhi ucapan Chika.
"Bagus, anak pintar. Ingat Zia! jangan pernah mencoba menipuku jika kau ingin mereka selamat, datanglah sendiri dan bawakan semua yang kuminta tadi," jelas Chika lagi dengan terus mengancam Zia.
"Oh ya, Zia. Tanda tangani juga surat c3rai yang ada di meja itu, maka setelah itu Dev akan menjadi milikku." Chika tertawa senang saat mengatakan jika Dev akan menjadi miliknya.
Lagi-lagi Zia mengangguk patuh karena ia memang tidak mau jika keluarganya terluka, berkali-kali pula mereka semua mencoba memperingati Zia. Namun, Zia sama sekali tidak punya pilihan lagi selain mengikuti semua permintaan Chika.
"Zia, jangan coba-coba menipuku. Aku sudah mengirim satu anak buahku di sana, dia yang akan membawamu kemari," jelas Chika lagi dan Zia lagi-lagi hanya mengangguk saja.
Chika telah mengakhiri panggilan itu, tiba-tiba datanglah satu anak buah Chika yang ia bilang tadi dan anak buah Chika itu langsung menod0ngkan senjata ke kepala Zia. Ternyata, anak buah Chika ini telah bersumbunyi sedari tadi di rumah itu.
Meskipun di t0dong dengan senjata di kepalanya, Zia tetap berusaha untuk tenang dan tidak panik sedikit pun.
"Cepat tanda tangan surat itu!" titah pria itu memaksa Zia.
"Ba--baiklah," balas Zia berpura-pura gugub.
Pria itu segera mendorong Zia menuju ke arah meja yang sudah terletak surat c3rai di atasnya, lagi-lagi ia memaksa Zia agar mau menanda tangani surat c3rai itu.
"Kau kira aku ini b0d0h, Chika. Kau kira aku akan memberikan semua yang kau minta tadinya? Heh, kau melakukan kesalahan Chika," batin Zia seraya memainkan pulpen yang ada di tangannya.
"Cepat!" bentak pria itu lagi, tetapi Zia masih asik memainkan pulpen itu.
Jleb!
Dengan jurus secepat kilat Zia menyerang pria itu dengan menancapkan pulpen itu tepat di lehernya, setelah itu Zia segera merebut pistol yang ada di tangan pria itu.
"Aakhh! Akkhh!" teriak pria itu yang kesakitan karena lehernya di t*suk oleh Zia.
Dor!
Dor!
Zia men3mbak pria itu tepat di kepalanya hingga ia t3was di tempat, Zia tersenyum bahagia di saat cipratan d4rah pria mengenai wajahnya dan tubuhnya.
"Pasti akan lebih menyenangkan saat d4rah para b4jingan itu yang mengalir seperti ini, tapi tidak masalah. Hanya tinggal menghitung waktu saja dan dar4h mereka pun akan mengalir lebih deras dari ini, hhhhha!" Zia tertawa puas saat membayangkan tentang k3matian mereka.
"Mulailah menghitung waktu kalian." Zia segera meninggal jasad pria di sana, setelah itu ia segera menuju ke kandang Aslan.
"Aslan, ikutlah bersamaku! Aku punya banyak makanan untukmu malam ini." Zia segera mengalungkan tali di leher Aslan, setelah itu ia segera membawa Aslan keluar dari kandangnya.
Sepertinya, 1blis yang selama ini bersemayam di tubuh Zia sudah bangun. Saat ini yang ada di pikiran Zia hanyalah keselamatan keluarganya, selain itu Zia juga sudah tidak sabar untuk m3nghab1si mereka.
Bersambung ....
Apakah Zia akan berhasil menyelamatkan keluarganya?
🥰