
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kini Rangga telah sampai di rumahnya. Ia hendak membangunkan Zia dan mengajaknya turun, akan tetapi ia tidak tega jika harus mengganggu Zia yang tengah tidur.
Akhirnya, Rangga pun menggendong Zia dan membawanya masuk ke dalam istananya yang tak kalah indah dari istana Abraham.
Rangga membawa Zia ke kamarnya, setelah itu ia membaringkan tubuh Zia di atas ranjang king size miliknya.
Cup!
Rangga mengecup kening Zia, kemudian ia memandang wajah Zia yang tengah tertidur. Rangga melihat mata Zia yang bengkak akibat terus menangis sedari tadi, seketika hatinya ikut merasakan apa yang di rasakan oleh hati Zia.
"Istirahatlah, Sayang. Kau terlihat begitu lelah," gumam Rangga lagi.
Melihat Zia yang masih terlelap di dalam tidurnya, Rangga pun segera bergegas keluar dari kamarnya dan menaiki mobilnya menuju ke kediaman Dev.
-------------------------------
"Eeugghh," lenguh Dev yang baru bangun dari tidurnya.
Setelah melakukan hal itu bersama Chika, Dev sempat tertidur pulas karena merasa sangat kelelahan.
Dev membuka matanya secara perlahan, Dev meringis sambil memegangi kepalanya karena ia merasakan pusing yang luar biasa. Mungkin, itu efek dari obat yang tadi di berikan oleh Chika.
"Hikkss! Hikkss! Hikks!"
Dev mendengar suara tangisan seorang perempuan di kamarnya, kemudian Dev segera mencari sumber suara tersebut dan ia merasa sangat terkejut saat melihat Chika atau Sasha yang tengah menangis di sudut ranjangnya.
Namun, Dev lebih terkejut lagi di saat melihat mereka berdua dalam keadaan tanpa busana dan tubuh mereka hanya di tutupi oleh selimut.
"Ada apa ini? Mengapa kau berada di kamarku dan ini semua ...? Apa yang terjadi di sini?" tanya Dev yang masih bingung dengan apa yang terjadi di antara mereka.
"Tuan ... Tuan telah mel3c3hkan saya," balas Chika di sela isak tangisnya.
"Apa?! Tidak! Ini tidak mungkin! Aku tidak akan pernah menghianati cinta Zia!" ucap Dev tegas, ia membantah semua yang di katakan oleh Chika.
"Itu benar, Tuan," ujar Chika lagi semakin terisak.
"DEV! DIMANA KAU?! KELUAR SEKARANG ATAU KUH4NCURKAN SELURUH ISI RUMAH INI!" teriak Rangga yang sudah berada di rumah Dev.
"Rangga?" Dev segera memungut pakaiannya yang tercecer di atas lantai dan ia segera memakainya, kemudian ia turun ke bawah untuk menemui Rangga.
"Ada apa Rangga? Kenapa lo teriak-teriak?" tanya Dev yang tengah menuruni anak tangga.
Rangga yang sedang marah menoleh ke arah Dev, seketika amarahnya semakin menyala-nyala di saat ia melihat ada beberapa tanda merah bekas cup4ng di leher dan tubuh Dev. Kini, Rangga pun mengerti apa yang terjadi hingga membuat Zia pergi dari rumah itu.
Rangga mengepalkan tangannya, kemudian ia segera melayangkan pukulannya ke arah Dev yang kini berdiri di hadapannya.
"Dasar b4j1ng4n!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Rangga terua menerus memukul wajah dan tubuh Dev secara brut4l, hingga sudut bibir Dev mengeluarkan dar4h segar. Namun, Dev tak dapat membalas pukulan Rangga karena ia kalah cepat dari Rangga.
Melihat majikannya dia di pukuli, anak buah Dev tidak tinggal diam. Mereka langsung memegang Rangga beramai-ramai untuk menghentikannya.
"Lepaskan, aku!" Rangga terus melawan dan mencoba melepaskan lengannya dari pegangan anak buah Dev.
"Angga, lo udah salah paham. Ini semua gak benar, Ga. Aku di jebak!" Dev mencoba menjelaskan semuanya kepada Rangga.
"Salah paham atau tidak! Lo udah menghianati Zia, Dev! Dan gue gak bisa menerima itu! Gue sama sekali gak bisa melihat jika orang yang gue sayangi di sakiti, terlebih lagi adik gue satu-satunya yang lo sakiti," jelas Rangga sambil terus melawan agar terlepas dari pegangan anak buah Dev.
"Lepasin gue!" teriak Rangga seraya menghentakkan tangannya dan ia pun terlepas dari pegangan anak buah Dev.
"Lo tau gimana keadaan Zia saat dia tahu kalo cintanya di hian4ti? Dia sangat tersakiti, hatinya h4ncur! Lo tau? Bahkan ia hampir saja kecelakaan tadi," jelas Rangga sambil terus menunjuk-nunjuk ke wajah Dev.
"Apa? Zia kecelakaan?" lirih Dev bertanya.
"Hampir! Ungtunglah mobil gue yang lewat, lo bayangin jika mobil lain yang lewat. Memang gak ada 0t4k lo!" maki Rangga lagi.
"Sekarang dimana, Zia?" tanya Dev lagi dan air mata pun luruh saat ia mendengar tentang Zia.
"Dia ada bersamaku dan Zia akan selalu bersamaku, aku akan membawanya pergi jauh darimu. Aku tidak bisa membiarkan Zia hidup bersama lelaki br3ngsek sepertimu!" ujar Rangga membentak dengan dada yang sudah naik turun akibat menahan amarah.
"Angga, gue mohon! Jangan jauhin Zia dari gue, gue gak mau hidup tanpa Zia. Gue masih cinta sama Zia." Dev menyatukan kedua tangannya memohon kepada Rangga.
"Gak! Ini udah keputusan gue dan gue gak akan ngebatalin lagi. Zia juga sudah tidak ingin kembali kerumah ini." Rangga membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki keluar dari rumah itu.
"Tidak! Rangga, tolong dengarkan penjelasanku." Dev bangkit dan ia segera memegang lutut Rangga, Dev memohon agar Rangga tidak membawa Zia.
"Rangga! Ini semua salah paham, ini semua tidak benar. Aku mohon, tolong jangan bawa Zia pergi," ujar Dev yang sudah terisak.
"Menyingk1rlah, Dev! Keputusanku sudah bulat dan tidak ada yang bisa mengubah keputusanku." Rangga mencoba melepaskan kakinya dari Dev.
"Rangga, apa kau akan memisahkan anak dan ayahnya? Rangga, anak yang ada di dalam kandungan Zia adalah darah dagingku. Aku punya hak atas anak itu, aku mohon Rangga," pinta Dev yang semakin erat memeluk kaki Rangga.
"Anak itu akan kurawat dan kujaga dengan baik, layaknya seorang ayah. Bila perlu, aku akan mengatakan kepadanya jika kau telah m4ti sebelum ia lahir," ucap Rangga spontan dan menyakitkan.
Dev lemas saat mendengar ucapan Rangga, ia benar-benar tidak menyangka jika hari ini akan terjadi kepadanya. Hari yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, Dev merasa jika nyawanya tak lagi bersamanya saat ini bahkan untuk bangkit saja ia sudah tak sanggup di kala mendengar perkataan Rangga.
Ranggaa menghentakkan kakinya untuk ke sekian kalinya dan kali ini ia terlepas dari Dev, Rangga segera bergegas pergi dari rumah itu dan meninggalkan Dev yang masih terduduk lemas di atas lantai.
"TIIDDAAAKKK!" teriak Dev sambil menangis sejadi-jadinya.
"Huh! Huh! Huh!"
Dev membuka matanya dan ia segera bangun dari tidurnya. Keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuh Dev, air matanya juga ikut mengalir dan nafasnya terengah-engah seperti orang yang habis berlari jauh. Ternyata, Dev baru saja mengalami mimpi buruk tentang Zia, akan tetapi ia belum menyadirinya jika itu hanya mimpi.
Dev menoleh ke sampingnya, ia semakin panik saat melihat Zia yang sudah tidak ada di sampingnya. Dev langsung mengambil handphonenya dan menghubungi Rangga, karena ia berpikir jika Rangga sudah membawa Zia.
Tut! Tut!
Setelah beberapa detik, Rangga pun mengangkat panggilan dari Dev.
"Huuwaa! Rangga, kembalikan Zia padaku!" teriak Dev menangis.
Rangga menjauhkan telepon itu dari telinganya saat mendengar Dev berteriak.
"Apaan, sih? Pakek teriak-teriak gak jelas lagi," dumel Rangga dan kembali mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Huwaa! Dimana, Zia?"
"Bisa gak kalo bicara gausah teriak-teriak kek gitu? Lagian lo ini kenapa, sih?" tanya Rangga kesal.
"Zia! Lo bawa kemana Zia?"
"Mana gue tau, Zia kan tinggalnya sama lo bukan sama gue," ujar Rangga seraya mengangkat bahunya sekilas.
"Berarti ... Huwaa! Zia gak ada di rumah, Zia di culik."
"Apa?! Zia di culik?" tanya Rangga terkejut.
"Halo, Dev! Siapa yang nyulik Zia? Woi, anak s3tan! Jawab 4nj1ng." Rangga mengecek handphonenya dan ternyata Dev sudah mengakhiri panggilan tersebut sedari tadi.
"Astoge! Ini si Dev kenapa, sih? Aahh, gue harus kesana sekarang." Rangga memasukkan handphone ke dalam sakunya, lalu ia bergegas menaiki mobilnya dan menuju ke rumah Dev.
------------------------------
Kemudian, Dev keluar dari kamarnya untuk mencari Zia di seluruh rumahnya.
"Zia! Kamu dimana?" teriak Dev sambil menuruni anak tangga.
Dev mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi rumahnya, akan tetapi ia tetap tidak melihat Zia. Dev pun semakin panik, kemudian ia berlari ke luar rumahnya untuk mencari Zia di halaman rumahnya.
Di saat berlari menuju ke halamannya, Zia keluar dari dapur dan ia menatap Dev keheranan saat melihat Dev berlari sambil memanggil namanya. Namun, Dev sama sekali tidak melihat Zia yang tengah memperhatikannya, ia hanya fokus berlari ke halamannya.
"Ada apa dengan Kak Dev? Ngapain Kak Dev lari-lari kek gitu?" gumam Zia bertanya kepada dirinya sendiri.
Kemudian, Zia pun memutuskan untuk mengikuti Dev dari belakang dan ia memilih untuk melihat Dev dari balik jendela kaca yang ada di samping pintu utama rumah itu.
"Sayang! Kamu dimana?" teriak Dev saat berada di halaman depannya.
Tak lama kemudian, Rangga pun sampai di kediaman Dev dan ia semakin panik saat melihat Dev yang menangis di halaman rumahnya.
"Dev, dimana Zia?" tanya Rangga yang baru turun dari mobilnya.
"Gak tau, aku gak tau dimana Zia. Bukannya lo yang udah ngebawa Zia pergi jauh dari hidup gue?" tanya Dev di sela-sela isak tangisnya.
"Woi, anak tuyul! Kapan gue bawa Zia pergi dari lo? Ngadi-ngadi lo, ya?" omel Rangga kesal.
"Ada. Tadi lo datang ke sini, lo bilang jika lo akan bawa Zia pergi jauh dari gue. Lo juga mukul gue sampek berd4rah sudut bibir gue," jelas Dev menceritakan isi mimpinya, akan tetapi Dev masih belum sadar jika tadi itu hanya mimpi.
Rangga melongo keheranan saat mendegar penjelasan Dev yang tak masuk akal menurutnya.
"Hah ... Gue mukul lo?" tanya Rangga lagi seraya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Iya ... Karena gue ketahuan sel1ngkuh, padahal itu semua hanya jebakan tapi lo gak mau dengar," jelas Dev sesugukan karena menahan tangisnya.
"Hhhhha! Entah s3tan apa yang merasuki, Dev. Pasti dia habis mimpi buruk, nih," batin Rangga tertawa.
"Kerjain, ahh," batin Rangga seraya tersenyum jahil.
"Bener, kan, Zia ada sama lo?" tanya Dev yang masih menangis.
"Iya, gue kesini mau ngambil barang-barang Zia karena kami akan segera pergi ke London," ucap Rangga sambil memalingkan wajahnya dari wajah Dev.
"Tuh, kan. Kenapa lo tega misahin gue sama Zia, hah?" Dev kembali menangis keras, sedangkan Rangga hanya berusaha menahan tawanya sekuat mungkin.
"Rangga, aku mohon! Jangan bawa Zia pergi dari kehidupan gue, huuwaa!" Dev berlutut di hadapan Rangga dan memeluk lutut Rangga seperti yang ia lakukan di dalam mimpinya.
"Rangga! Tolong jangan bawa Zia pergi." Dev masih saja menangis seperti anak kecil yang meminta jajan kepada ayahnya.
"Hahhah, ada apa ini? Kenapa Kak Dev bertingkah sangat aneh seperti itu?" Zia tertawa saat melihat tingkah aneh Dev pagi ini.
Melihat Dev yang terus menangis sambil memanggil namanya, Zia pun menjadi sedikit iba kepada Dev. Kemudian, ia segera keluar dan menemui Dev untuk mengakhiri semua drama k0nyol itu.
"Ekhem! Kakak kenapa?" tanya Zia sambil menepuk pelan bahu Dev.
"Rangga jah4t, dia mau bawa Zia ke London dan dia mau menjauhkan Zia dariku," jelas Dev dengan seriusnya tanpa melihat ke arah Zia.
"Rangga, jangan bawa Zia!" pinta Dev lagi.
"Dek, kesamb3t apa suamimu sehingga dia menjadi seperti ini? Hahhha." Rangga tak bisa lagi menahan tawanya.
Dev merasa sangat heran saat melihat Rangga tertawa terbahak-bahak, kemudian Dev pun bangkit dan menatap Rangga dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kenapa lo ketawa?" tanya Dev bingung, sementara yang di tanya hanya ketawa sambil menunjuk-nunjuk ke arah belakang Dev.
"Kak, apa Kakak melihat Zia?" tanya Zia kepada Dev.
"Gak, Zia udah diba ...." Dev sempat menoleh sekilas ke arah Zia, kemudian ia kembali menoleh ke arah Rangga. Namun, tak lama kemudian ia menyadari jika yang tadi bertanya adalah Zia.
"Huuwaa! Ziiaaa!" Dev langsung memeluk Zia dengan sangat erat hingga Zia termundur beberapa langkah.
"Kamu kemana aja, Sayang?" tanya Dev yang masih menangis.
"Gak kemana-mana, tuh. Zia tadi lagi masak di dapur, terus Zia liat Kak Dev lari-lari sambil manggil Zia. Emang ada apa, Kak?" jelas Zia di sertai pertanyaan di akhirnya.
"Di dapur? Bukannya Rangga udah bawa kamu tadi?" tanya Dev lagi.
"Gak, Kak. Bang Rangga baru aja datang," balas Zia lagi.
"Berarti ... Aku mimpi?" tanya Dev seraya melepaskan pelukannya.
Tak!
Rangga menj1tak kepala Dev dengan sangat kuat, hingga Dev meringis kesakitan.
"Sakit gak?" tanya Rangga beserta wajahnya yang tak berdosa.
"Ya sakitlah, lo kira ini apaan? Main jit4k-jit4k aja," omel Dev sambil mengelus kepalanya.
"Nah, berarti tadi itu lo lagi mimpi. Duugong!" ujar Rangga dengan nada ngegas.
"Huuff! Ternyata cuma mimpi," ucap Dev lega seraya mengelus-elus dadanya.
"Makanya, kalo tidak itu baca doa. Jadi di ganggu demit, kan, lo?" ujar Rangga terkekeh pelan.
"Iya, tuh. Waktu Zia bangunin juga malas bangat bangunnya, jadi tidur sama demit, kan?" timpal Zia lagi.
"Dek, kamu tau gak?" tanya Rangga pada Zia dan Zia hanya menggeleng pelan.
"Katanya, kan. Orang yang di ganggu oleh demit, bakal di bawa ke alamnya untuk selamanya," jelas Rangga menakut-nakuti Dev.
"Iya, Bang. Zia juga pernah dengar, katanya kalo orang yang suka bangun tidur telat-telat bakal di bawa sama demit ke alamnya. Serem ya, Bang," timpal Zia ikut menakut-nakuti Dev.
"Iiiihh, kalian apa-apaan, sih? Mana ada demit di jaman modern seperti ini?" ucap Dev kesal sekaligus ia bergidik ngeri.
"Dan konon katanya, seseorang yang sudah di sukai oleh demit. Maka akan sulit lepas dari demit itu dan ia juga harus menikahi demit itu, lalu menjadi warga demit untuk selamanya," tambah Rangga lagi.
"Tapi, Zia juga pernah dengar. Jika hubungan dengan demit itu bisa di putuskan dengan cara mandi sebanyak tujuh kali, jika tidak. Maka dia ...." Ucapan Zia terpotong oleh Dev.
"TIDAAKK! GUE GAK MAU JADI DEMIT!" teriak Dev sambil berlari masuk ke dalam rumahnya, Dev segera menuju ke kamarnya untuk melakukan ritual mandi seperti yang di katakan oleh Zia.
"Hhhhhaa!" tawa Zia dan Rangga pecah saat melihat Dev berlari sambil berteriak seperti tadi.
"Hhhha, tos dulu, Bang!" Zia mengangkat tangannya ke arah Rangga.
Tap!
Tangga menepuk telapak tangan Zia dan mereka melakukan tos.
Setelah cukup puas menertawai Dev, Zia pun mengajak Rangga untuk masuk dan makan bersama mereka.
"Abang, ayo masuk! Kita sarapan bareng," ajak Zia seraya tersenyum manis kepada Rangga.
"Ayo, Dek. Kebetulan juga Abang lagi laper." Rangga mengangguk dan menyetujui ajakan Zia.
Bersambung ....