Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Salah Sasaran



Di tengah-tengah kesenangannya, tiba-tiba Rangga terkejut bukan main saat melihat Dev yang keluar dari kantor bersama kliennya.


"Selamat, Tuan. Semoga project kita berjalan dengan lancar," ucap klien paruh baya itu sambil mengulurkan tangannya kepada Dev.


"Iya, Pak. Semoga saja project ini berjalan dengan mulus dan terima kasih atas kerjasamanya," ucap Dev seraya membalas uluran tangan pria itu.


"Baik, saya permisi dulu." Pria itu langsung menaiki mobilnya dan pergi meninggalkan kantor Dev, sedangkan Dev kembali masuk ke dalam kantornya untuk menemui Zia.


Di sisi lain, Rangga masih bingung dan tercengang saat melihat Dev masih berada di kantornya.


"Devan, lalu di mobil itu?" gumam Rangga bertanya kepada dirinya sendiri.


Tak ingin lama-lama berpikir, akhirnya Rangga memutuskan untuk bertanya kepada satpam yang tadi. Barangkali ia tau siapa yang baru saja pergi dengan mobil pribadi Dev.


"Permisi, siapa yang tadi pergi dengan mobil Tuan Dev?" tanya Rangga penasaran.


"Oh, tadi itu Nyonya Zia, Nyonya ingin pulang karena merasa tidak enak badan," jelas satpam itu serius hingga membuat Rangga semakin kaget dan panik.


"Apa! Zia?" tanya Rangga tak percaya, sementara satpam itu hanya mengangguk untuk meyakinkan Rangga.


"Nggak, nggak mungkin. Tidakk!" teriak Rangga.


"Ada apa, apa yang terjadi kepadamu?" tanya satpam itu. Namun, bukannya menjawab, Rangga langsung berlari menuju mobilnya dengan tergesa-gesa.


"Huh, dasar aneh," umpat satpam itu kesal karena pertanyaannya tidak di jawab.


Rangga mencoba mengejar mobil Zia untuk menghentikannya agar Zia tidak kecelakaan, Rangga membawa mobilnya dengan kecepatan penuh. Pikirannya sangat kacau sekarang, ia sangat menyesal karena tidak memastikan terlebih dahulu apakah ada Zia bersama Dev.


"Aaarrgg, kenapa sih gua bisa ceroboh gini." Rangga mengerang marah sambil memukul stier mobilnya dengan keras.


"Aku gak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu kepada Zia," gumam Rangga dan tanpa ia sadari air matanya luruh membasahi kedua pipinya.


"Zia dimana kamu?" monolog Rangga sambil terus melihat ke kanan dan ke kiri.


Tak lama kemudian, Rangga pun menemukan mobil Zia yang sedang berjalan dengan mulusnya tanpa ada halangan apapun. Rangga sedikit lega, akan tetapi ia belum sepenuhnya lega karena ia belum bisa menghentikan Zia.


Titt! Titt!


Rangga mencoba memberi kode kepada supir mobil Zia agar ia menghentikan mobilnya, tapi sayang mereka sama sekali tidak mengerti akan kode yang di berikan oleh Rangga. Mereka berpikir, itu hanya orang iseng saja.


-----------------------------


"Sayang, Kakak udah selesai," ucap Dev seraya membuka pintu ruangannya.


"Sa ... Dimana Zia?" tanya Dev kepada dirinya sendiri.


Dev mulai khawatir karena tidak melihat Zia di ruangannya, ia pun berpikir untuk mencari keberadaan Zia. Baru saja akan mencari Zia, tiba-tiba ada yang memanggil Dev dari belakang.


"Tunggu, Tuan!" teriak Rina dari arah belakang Dev.


Dev berbalik dan menatap Rina dengan tatapan dinginya.


"Apa Tuan mencari Nyonya Zia?" tanya Rina serius.


"Ya. Apa kau tau dimana Zia berada?" tanya Dev serius.


"Nyonya sudah pulang, Tuan. Tadi kami sempat berbincang-bincang, tapi entah mengapa tiba-tiba Nyonya merasa tidak enak badan. Jadi, Nyonya memilih untuk pulang tanpa memberitahukan Tuan, karena Nyonya tidak ingin Tuan terganggu," jelas Rina panjang lebar.


"Dengan siapa Zia pulang?" tanya Dev lagi.


"Dengan Bima, Tuan," jawab Rina.


Tanpa berbasa basi lagi, Dev langsung menyusul Zia dengan mobil kantornya. Ia mulai khawatir akan kesehatan Zia, ia takut jika terjadi sesuatu kepada kandungan Zia.


-----------------------------


Rangga masih saja mencoba menghentikan mobil Zia dengan cara menyalipnya, tapi sayang mobil itu melaju lebih cepat dari mobilnya.


Bima terus saja menyetir dengan fokus hingga tercipta suasana sunyi di dalam mobil itu, tak lama kemudian handphone Bima berbunyi dan memecahkan kesunyian di antara mereka.


Bima langsung mengangkat panggilannya saat melihat bahwa Devlah yang menelponya.


"Iya, Tuan. Nyonya tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja"


"Syukurlah, sekarang kalian ada dimana?"


"Kami sedang berada di jalan menuju ke rumah, Tuan"


Karena terlalu fokus berbicara dengan Dev, Bima pun menjadi tak konsentrasi dalam menyetir mobilnya.


"Bima, awass!" teriak Zia saat melihat sebuah truk bermuatan sawit berada tepat di depan mereka.


Bima terkejut, ia pun mengelak sebisa mungkin dan akhirnya berhasil menghindari truk itu. Namun, terlepas dari mulut harimau, mereka masuk ke mulut buaya. Begitulah kata pepatah. Setelah selamat dari truk itu, mobil mereka tidak bisa di hentikan karena remnya tidak berfungsi hingga kemudian mobil mereka menabrak pembatas jalan dan terjatuh ke jurang.


Brukk!


"Tidakk!" teriak Rangga saat melihat mobil Zia masuk ke dalam jurang yang ada di tepi jalan.


Mobil yang di naiki oleh Zia dan Bima terjun ke jurang tanpa ada halangan apapun setelah pembatas jalan yang tadi mereka tabrak, dan setelah sampai di dasar jurang. Mobil mereka langsung meledak hingga membuat suara ledakan besar yang memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.


Semua pengguna jalan yang sedang berlalu lalang, langsung menghentikan kendaraan mereka di saat melihat ada kecelakaan. Sementara Rangga begitu shok saat melihat Zia yang kecelakaan, ia segera turun dari mobilnya dan hendak terjun ke jurang, untunglah ada para warga yang dengan cepat menghentikan Rangga.


"Lepas, lepaskan aku!" Rangga mencoba melepaskan tangan para warga yang memegangi lengannya kanan dan kiri.


"Hentikan, Nak. Jangan turun ke bawah itu jurang dan itu berbahaya untuk kamu, Nak," ucap salah satu warga berusaha membuat Rangga mengerti.


"Lepaskan, aku harus melihat keadaan kekasihku," ucap Rangga sambil terus melawan agar para warga melepaskannya, akan tetapi kekuatan Rangga tidak ada apa-apanya di hadapan para warga yang sedang memegangnya.


Rangga lelah melawan, akhirnya ia memohon kepada para warga agar mereka mau melepaskannya.


"Aku mohon, tolong lepaskan aku," pinta Rangga memohon, air matanya seketika luruh begitu deras saat memikirkan nasib Zia.


Para warga begitu iba melihat Rangga yang sangat terpukul akan kehilangan kekasihnya, tapi meskipun merasa iba kepada Rangga. Para warga tetap tidak melepaskan Rangga karena mereka takut jika Rangga akan mencoba terjun ke jurang lagi, mereka hanya terus mencoba menenangkan Rangga.


Rangga tak lagi melawan, ia hanya bisa menangis sambil terduduk lemas di atas jalanan aspal.


--------------------------------


"Awwss, ada apa ini?" Dev tiba-tiba merasa nyeri yang teramat sangat di dadanya.


"Awwss, mengapa ini begitu menyakitkan?" Dev masih saja meringis sambil memegangi dadanya yang terasa amat nyeri entah kenapa.


Supir Dev merasa khawatir saat melihat Dev terus menerus meringis sambil memegangi dadanya, hingga ia memilih memarkirkan mobilnya ke tepi jalan.


"Tuan, apa kau baik-baik saja, apa Tuan perlu ke rumah sakit?" tanya supir Dev seraya menatap Dev iba.


"Tidak, aku baik-baik saja. Lanjutkan perjalanannya!" titah Dev sambil terus memegangi dadanya yang masih terasa nyeri.


"Baik, Tuan." Supir itu kembali menjalankan mobil mereka, Sedangkan Dev hanya memejamkan matanya dan mencoba manahan sakit di dadanya.


"Ada apa ini, apakah Zia baik-baik saja?" batin Dev khawatir.


"Aku harap, Zia baik-baik saja," batin Dev lagi dan tak terasa, air matanya mengalir dengan tiba-tiba bahkan dirinya pun bingung dengan apa yang terjadi kepadanya.


"Ada apa ini dan air mata ini?" batin Dev sambil mengusap air matanya dengan telapak tangannya, tetapi air matanya tetap tak berhenti mengalir bahkan sekarang ia mulai terisak.


"Tuan, apa anda yakin bahwa ada baik-baik saja?" tanya supir itu lagi.


"I--iya, aku baik-baik saja," ucap Dev di sertai isak tangisnya.


Mobil terus di lajukan menuju ke rumah Dev, tiba-tiba saja supir itu menghentikan mobilnya saat melihat ada sekumpulan orang yang berkumpul di tepi jalan.


"Ada apa, apa ada kecelakaan?" tanya Dev, ia masih saja mengeluarkan air matanya bahkan ia semakin terisak saat melihat sekumpulan orang itu. Ia merasa seperti ada kaitannya dengan kecelakaan itu.


"Saya tidak tahu, Tuan. Sepertinya memang benar ada kecelakaan di depan," jelas supir itu.


"Mari kita lihat!" ajak Dev sambil berusaha menahan tangisnya.


Bersambung ....


Bagaimana kondisi Zia, apakah Zia dan calon bayinya selamat?