
Jam sudah menunjukkan pukul 08:00 pagi, kini trio Nia sedang menuju ke kamar Zia untuk mengantarkan sarapan pagi.
"Yah, Zia masih tidur, Kak," ucap Tania.
"Ga papa, tarok aja makanannya di atas nakas, nanti kalo udah bangun pasti di makan kok," jelas Sania.
Tania pun menaruh sarapan itu di atas nakas dan mereka pun hendak keluar dari kamar Zia, tetapi tiba-tiba saja langkah mereka terhenti karena mendengar suara Zia yang sedang mengingau.
"Hikkss Kak Dev, kenapa Kak Dev tega hikkss," isak Zia dengan mata yang masih tertutup.
"Kenapa Kak, kenapa Kakak milih Chika? Hikkss." Zia masih saja menangis di dalam tidurnya.
Trio Nia pun bingung melihat sikap Zia, karena semalam Zia sudah sangat senang dan akan pulang hari ini. Akan tetapi mengapa ia bersedih sekarang. Begitu lah yang ada di pikiran trio Nia.
"Kak, kenapa dengan Zia?" tanya Sania kepada Kania.
"Entah lah, dan siapa Chika itu?" tanya Kania lagi.
"Kak, aku rasa, Chika itulah biang masalah di antara mereka. Aku yakin itu," ujar Tania menebak.
"Bisa jadi sih, coba kita cek handphonenya. Barangkali ada petunjuk disana." Kania pun meraih ponsel yang ada di samping Zia dan membukanya, betapa terkejutnya mereka saat membaca pesan dari Dev itu.
"Ini gak mungkin, gak mungkin ini dari Tuan Dev. Aku yakin ada yang sengaja mengirim pesan ini untuk membuat Zia sedih," ujar Kania, ia sangat tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
"Kau benar Kak, dan aku rasa inilah si Chika itu," ucap Tania sambil menunjuk Chika yang ada di dalam foto itu.
"Sania, Tania, Kalian jagalah Zia! Aku akan segera menemui Tuan Dev untuk bertanya yang sebenarnya. Setelah itu aku juga akan membawa Tuan Dev kemari," jelas Kania kepada adik-adik nya.
"Iya Kak, Kakak hati-hati di jalan," balas Sania dan Tania serempak. Kania pun segera bergegas untuk mencari Dev, sedangkan Sania dan Tania membangun kan Zia yang sedang mengingau.
"Zia ... Bangunlah!" Tania menggoyangkan tubuh Zia dengan lembut, seketika Zia pun bangun sambil menghapus air matanya.
"Ada apa Zia, mengapa kau menangis?" tanya Sania berpura-pura tidak tau.
"Tidak, aku tidak apa-apa," balas Zia berbohong.
"Kau yakin tidak mau bercerita kepada kami?" tanya Tania lagi.
"Apa kau akan kuat menghadapinya sendiri?" tanya Sania sambil menatap Zia yang membelakangi mereka.
Seketika, air mata Zia kembali luruh di saat mengingat kabar buruk yang ia dapat kan semalam. Ia memalingkan wajahnya dan menatap kedua gadis kembar itu.
"Zia ... Kemari lah!" Tania merentangkan tangannya memberi isyarat agar Zia memeluknya, dan Zia langsung berhamburan ke dalam pelukan Tania.
"Hikkss aku gak kuat hikkss, aku ga kuat hiikks." Zia menangis sejadi-jadi nya di dalam pelukan Tania.
"Kau harus kuat Zia, kuat kan dirimu demi anak yang sedang kau kandung sekarang." Sania menyemangati Zia sambil terus mengelus kepala nya.
"Kau tidak boleh lemah Zia, kami berjanji kepadamu bahwa kami akan segera mempersatukan kalian lagi," jelas Tania meyakin kan Zia.
"Iya, kami akan selalu ada untukmu," timpal Sania ikut meyakin kan Zia.
"Menangislah Zia, keluarkan semua masalahmu. Namun, kau tidak boleh lemah," jelas Tania lagi. Tania mengelus lembut punggung dan kepala Zia agar ia merasa lebih tenang.
"Kau tidak boleh lemah. Apa kau mengerti?" tanya Sania, sedangkan Zia hanya mengangguk di dalam pelukan Tania.
Beruntung lah Zia karena ada mereka yang menyemangatinya di saat ia sedang terpuruk, jika tidak, mungkin saja Zia sudah mengakhiri hidupnya sekarang.
--------------------------------
Di sisi lain, Dev sudah mulai tersadar setelah tidur panjang semalam. Ia segera membuka matanya walau ia merasa amat sangat pusing, kepalanya berdenyut kencang karena efek minuman yang ia minum semalam.
Dev mencoba bangun, akan tetapi ada yang mengganjal di tubuhnya seolah mencegahnya bangun. Ia pun segera melihat apa yang mengganjal di tubuhnya saat ini, dan ternyata itu adalah Chika.
"Aarrgg! Minggir kau." Dev mendorong keras Chika yang sedang memeluk tubuhnya, hingga Chika merasa sangat terkejut.
"Dev, kau sudah bangun," ucap Chika sambil mengucek matanya.
"Mengapa kau ada di sini?" tanya Dev sambil bangkit dari tidurnya.
"Semalam aku tidur bersamamu, dan kita juga bersenang-senang," ungkap Chika berbohong, padahal semalam tidak terjadi apa-apa di antara mereka karena Dev sudah pingsan terlebih dahulu sebelum sampai ke kamar.
"Dan sebentar lagi akan ada anakmu di sini," ucap Chika sambil menunjuk perutnya. Dev tidak memperdulikan Chika, ia terus saja memakai bajunya yang sudah di buka oleh Chika semalam.
Dev hendak keluar dari kamar itu, akan tetapi langkahnya terhenti karena Chika memeluknya dari belakang.
"Dev, ayolah kita bersenang-senang dan lupakan lah Zia." Chika mencoba menggoda Dev, tetapi Dev tidak pernah tergoda dengan Chika. Dev langsung menghempaskan tubuh Chika yang sedang memeluknya.
Brukk!
Chika terjatuh ke lantai dan dahinya terhantuk ke tembok hingga mengeluarkan darah segar. Dev kembali melangkah kan kakinya, akan tetapi lagi-lagi Chika menghentikannya.
"Berhenti! Aku tau dimana Zia," teriak Chika, hingga Dev seketika berhenti saat mendengar nama Zia.
"Cepat katakan! Dimana Zia?" desak Dev seraya berbalik dan menatap tajam ke arah Chika.
"Aku tidak akan mengatakannya, sebelum kau mengatakan bahwa kau mencintai aku," ucap Chika tersenyum licik.
"Jangan main-main dengan ku, cepat katakan sebelum kau ku habisi di sini!" ancam Dev mendesak Chika.
"Tidak! Aku tidak akan mengatakannya. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka Zia juga tidak bisa," jelas Chika lagi.
"Baiklah, akan ku paksa kau." Dev mendekat ke arah Zia yang tengah duduk di lantai, kemudian Dev kembali memcekik leher Chika dengan kuat. Namun, kali ini Chika malah tertawa seperti orang gila.
"Hhhhhha! Semakin kau lama bersama ku, maka akan semakin dekat kau akan berpisah dengan Zia hhhhha," jelas Chika tertawa sambil menahan sakit.
"Apa maksudmu?" tanya Dev sembari mengeratkan cengkraman tangannya.
"Aku sudah mengirim kan foto tentang kita semalam kepada Zia, dan aku juga sudah mengirimkan surat cerai kepadanya yang sudah kau tanda tangani. Dan sebentar lagi kalian akan berpisah hhhhhha," jelas Chika lagi dengan terus tertawa.
"Hhhhhh carilah Zia, dan batalkan perceraian kalian jika kau bisa," ujar Chika sambil tersenyum licik.
"Aarrggg!" Dev mengerang marah dan melepaskan cengkramannya, kemudian ia segera berlari keluar dari bar itu. Ia segera naik ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan penuh, meskipun kepalanya sedang sakit sekarang, tetapi Dev tidak menghiraukannya.
Dev segera mengeluarkan handphonenya dan melacak keberadaan Zia, akhirnya dia pun menemukan keberadaan Zia.
"Akhirnya aku menemukanmu, Baby." Dev tersenyum senang dan terus menatap handphonenya.
Dev terlalu senang hingga ia lupa bahwa saat ini ia sedang menyetir mobil, tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada sebuah truk besar yang kehilangan kendali dan truk itu sedang menuju ke arahnya sekarang.
Titt! Tittt! Tittt!
Truk itu terus membunyikan klaksonnya agar orang-orang memberinya jalan. Mendengar suara klakson yang terus di bunyikan, Dev pun tersadar dari lamunannya dan ia sangat terkejut ketika melihat ada truk yang sedang melaju kencang ke arahnya.
Dev mencoba mengelak dari truk itu sebisa mungkin karena ia masih ingin bertemu Zia, akan tetapi terlambat sudah dan takdir berkata lain.
Brukk! Prangg!
Suara tabrakan dan pecahan kaca-kaca mobil terdengar begitu keras hingga membuat para pengguna jalan yang lainnya merasa sangat terkejut, kemudian mereka segera mendekat ke area kecelakaan. Polisi pun ikut mendekat ke arah mobil Dev dan truk yang kini sudah terguling, sedangkan mobil Dev terbalik ke bawah.
Dev terluka sangat parah hingga kepala serta telinganya mengeluar banyak darah segar dan tubuh nya juga tertusuk oleh beberapa pecahan dari kaca mobilnya, akan tetapi Dev masih sadar dan di sisa-sisa kesadarannya. Dev mengingat semua kenangan manis tentang Zia, hingga kemudian ia pun menutup matanya dan tak sadarkan diri.
Kania yang baru saja pulang dari rumah Dev, terpaksa harus menghentikan mobilnya di tengah jalan saat melihat ada kecelakaan tragis yang berada tak jauh dari hadapannya.
"Yaampun, parah bangat kecelakaannya." Kania turun dari mobilnya untuk melihat siapa korbannya, alangkah terkejutnya ia saat melihat Dev yang di papah oleh para warga dan di masukkan ke dalam mobil ambulans.
"Tuan!" ucap Kania terkejut.
Kania segera menaiki mobilnya dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia begitu terburu-buru menuju ke rumahnya untuk memberitahukan kabar ini kepada Zia.
Tak lama setelah Kania pergi, Chika pun datang dan ia juga sangat terkejut di saat melihat mobil Dev yang sudah terbalik.
"Devan!" Chika segera turun dan bertanya kepada para warga yang ada di sana. Setelah mendapat informasi dari para warga, Chika segera menyusul ke rumah sakit yang telah di beritahukan oleh para warga.
--------------------------------
Prangg!
Gelas yang sedang di pegang oleh Zia jatuh, lalu tiba-tiba perasaan nya menjadi tidak enak dan ia mengkhawatir kan Dev.
"Mengapa tiba-tiba firasat ku tidak enak, apakah terjadi sesuatu kepada Kak Dev?" monolog Zia sambil memegang dadanya yang terasa sedikit sesak.
"Ada apa Zia, apa kau baik-baik saja?" tanya Tania yang baru saja datang bersama Sania.
"Aku baik-baik saja, aku akan membersihkah ini." Zia berjongkok dan hendak membersihkan pecahan beling itu, tetapi ia di cegah oleh Sania.
"Tidak perlu Zia, biar kan saja!" ujar Sania sambil tersenyum, dan ia mendekat lalu membangun kan Zia agar tidak lagi berjongkok.
Tak lama kemudian, bel pintu pun berbunyi pertanda ada yang datang. Mereka segera menuju ke ruang keluarga untuk melihat siapa yang datang.
"Permisi, apa ada istri Tuan Dev di sini?" tanya pria itu yang berpakaian seperti pengacara.
"Ada, siapa kau ini?" tanya Tania sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Aku adalah pengacara pribadi Tuan Dev, saya kesini ingin bertemu dengan Nyonya Zia," jelas pengacara itu lebih tepatnya pengacara gadungan yang di suruh oleh Chika.
"Yaudah, silakan masuk!" Sania membiarkan pria itu masuk, kemudian pengacara itu duduk di sofa yang berada tepat di depan Zia.
"Apakah kau Ziana Sofia Andara?" tanya pria itu kepada Zia, sedangkan Zia hanya mengangguk.
"Tujuan ku kesini karena ingin memberikan ini kepadamu," jelas pengacara itu sambil memberikan sebuah sirat yang tak lain adalah surat perceraian.
Degh!
Air mata Zia kembali menetes dan dadanya terasa sesak, ternyata Dev benar-benar mengirimkan surat cerai kepadanya.
"Tanda tangani surat itu! Dan jika bisa tanda tangani sekarang juga," titah pengacara itu dengan sedikit mendesak.
Sania dan Tania terus memperhatikan gerak gerik pengacara itu yang menurut mereka sangat mencurigakan, mereka kemudian mendekat ke arah Zia untuk melihat surat itu dengan jelas.
"Coba ku lihat." Sania langsung mengambil surat itu dan memeriksanya, ternyata benar kecurigaan mereka. Surat itu adalah surat palsu.
Srakk!
Sania langsung merobek surat itu menjadi beberapa bagian, kemudian ia membuangnya ke muka si pengacara gadungan itu.
"Siapa yang menyuruhmu hah?" tanya Sania mendesak pengacara gadungan itu.
"Aku tidak akan mengatakan nya," jawab pria itu.
"Katakan, atau kau akan ku habisi sekarang juga," ancam Tania sambil mendekat ke arah pria itu.
Brakk!
Kania menendang pintu rumahnya, hingga membuat semua orang yang ada di dalam merasa sangat terkejut.
"Ada apa, Kak?" tanya Sania bingung+terkejut saat ia melihat Kania menendang pintu.
"Gawat! Tuan Dev kecelakaan parah, sekarang dia sudah di bawa ke rumah sakit kota," jelas Kania panik.
"Apa! Kak Dev kecelakaan?" tanya Zia terkejut.
"Iya, sekarang ikutlah bersamaku!" ajak Kania dan langsung di setujui oleh Zia.
Melihat mereka yang tengah lalai, pengacara gadungan itu mengambil kesempatan emas itu untuk melarikan diri dari sana.
"Kak, bawalah Zia! Nanti kami akan menyusul setelah menangkap orang itu," jelas Sania terburu-buru.
"Siapa dia?" tanya Kania penasaran.
"Nanti kami ceritakan." Sania dan Kania segera mengejar orang itu, sedangkan Kania membawa Zia ke rumah sakit.
Bersambung ....