Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Ketahuan



Selesai memakan sarapan mereka, Dev dan Rangga langsung berangkat menuju ke Bandara untuk menjemput Tn. Andra.


Sementara Zia tidak mau ikut bersama mereka karena Zia akan menunggu Andra di rumah saja, ia juga akan memasak makanan kesukaan mertuanya.


Setelah suami dan kakaknya pergi ke Bandara, Zia pun pergi ke dapur untuk mulai memasak. Tak lupa, ia juga memanggil beberapa maid untuk membantunya.


"Bi Sari! Bi Ina! Bi Rika! Sasha!" panggil Zia dari arah dapur.


Selang beberapa detik, mereka pun datang ke dapur kecuali Sasha.


"Sasha dimana?" tanya Zia pada mereka.


"Ada di kamarnya, Nyonya. Tadi pagi dia bilang lagi gak enak badan," jelas Bi Sari.


"Eum, baiklah. Saya akan memasak makanan favorit Kak Dev dan Ayah karena Ayah akan pulang hari ini, jadi saya mau kalian membantu saya." Zia pun menjelaskan semuanya kepada mereka.


"Kalian mengerti?" tanya Zia setelah ia menjelaskan semuanya.


"Mengerti, Nyonya!" jawab mereka bersamaan.


"Bi, saya akan menjenguk Sasha di kamarnya. Jadi, kalian bersihkan terlebih dulu bahan-bahan makanannya, setelah saya kembali kita akan mulai memasaknya," jelas Zia lagi dan para maidnya hanya mengangguk mengerti.


Zia tersenyum sekilas, setelah itu dia menuju ke kamar pembantu untuk melihat kondisi Sasha.


Saat sudah sampai di depan kamar Sasha, Zia hendak mengetuk pintu. Namun, ia menghentikan aksinya saat melihat pintu sedikit terbuka dan ia juga mendengar Sasha seperti sedang berbicara dengan seseorang melalui telponnya.


Zia mengintip Sasha melalui celah pintu yang sedikit terbuka, Zia merasa curiga di saat melihat Sasha yang terlihat sehat-sehat saja.


Di sisi lain, Chika berbicara dengan Ayahnya tanpa mengetahui jika Zia sedang menguping semua pembicaraannya.


"Ayah, Chika lagi bete bangat, nih," ujar Chika.


"Ada apa, Nak. Apa ada masalah?"


"Iya, Ayah. Dev merasa curiga kepadaku, lalu ia menambah keamanan di rumah ini untuk menjaga Zia. Otomatis, Chika gak bisa ngapa-ngapain selain cuci ngepel dan lain-lain. Chika capek, Ayah," jelas Chika mengeluh kepada ayahnya.


"Nak, jika kau tidak bisa menc3lakai Zia. Bukankah kau bisa membuat mereka berpisah?"


"Giaman caranya, Ayah? Kan, udah Chika bilang kalo di sini banyak bangat penjaganya," tanya Chika kepada ayahnya.


"Didalam sebuah hubungan. Hal apa yang paling di benc1 oleh wanita maupun lelaki?"


"Penghi4natan. Ohh ... Chika mengerti Ayah, Chika mengerti apa yang harus Chika lakukan. Terima kasih, Ayah!" Chika mengakhiri panggilan tersebut, kemudian ia melompat-lompat kegirangan karena kembali mendapatkan idenya untuk memisahkan Dev dan Zia.


"Pokoknya, gimana pun caranya akan gue lakukan untuk mendapatkan Devan," monolog Chika, ia berbicara bebas karena ia pikir tak ada yg mendengarnya.


Zia yang mendengar semua itu hanya tersenyum miring, ternyata semua kecurigaannya benar jika ada yang aneh dengan Sasha itu. Zia mulai merasa ada yang aneh dengan Sasha saat melihat Sasha yang suka mencium atau memeluk pakaian Dev saat mencuci atau menyetrikanya, Zia juga melihat jika Sasha ini suka caper kepada Devan.


"Ternyata kau Chika dan kau datang ke sini untuk merebut suamiku dariku? Tidak semudah itu Chika, aku akan mempertahankan hubungan ini. Jika perlu, kau pun akan kus1ngkirkan dari dunia ini demi menjaga hubunganku," batin Zia menatap Chika dengan tatapan kebenc1an.


"Aku tidak akan memberitahukan semua orang tentang hal ini, karena aku akan bermain bersama Chika dengan permainan yang sudah ia siapkan," batin Zia seraya menyeringai seram.


"Mari kita mulai, Chika." Zia menjauh dari pintu kamar pembantu, kemudian ia berpura-pura memanggil Sasha.


"Sasha!" panggil Zia setelah sedikit menjauh dari kamar itu.


Chika yang di panggil segera keluar dari dalam kamar dan menghadap Zia.


"Ada apa, Nyonya?" tanya Sasha atau Chika.


"Saya hanya ingin menjenguk kamu, kata Bi Sari kamu lagi kurang sehat. Apa itu benar?" tanya Zia dengan senyuman manis di wajahnya.


"Benar Nyonya, tadi saya sedikit pusing tapi sekarang udah sembuh. Apa Nyonya memerlukan bantuan saya?" tanya Chika lagi.


"Ya, saya mau kamu membantu saya memasak. Apa kau keberatan?" Zia berbicara sangat manis kepada Chika, agar Chika tidak curiga jika Zia sudah mengetahui rahasianya.


"Tentu tidak, Nyonya. Saya akan ke dapur sekarang juga." Chika tersenyum sekilas, kemudian ia pergi ke dapur dan Zia hanya mengikutinya dari belakang.


"Dasar gadis b0d0h, mudah sekali aku menipumu, Zia. Sebentar lagi Devan akan menjadi milikku dan aku sudah tidak sabar melihat Zia menangis di hari pernikahanku dengan Devan, bersiap-siaplah untuk mend3rita Zia," batin Chika tersenyum penuh kemenangan.


"Bagus sekali dramamu, Chika. Ternyata, kau adalah seorang aktor yang sangat hebat. Namun sayangnya, kau tidak tahu jika aku akulah sutradranya." Lagi-lagi Zia menunjukkan senyum devilnya.


Chika sudah sampai di dapur dan ia langsung membantu para maid lainnya walaupun ia merasa kesal karena di suruh-suruh oleh Zia, tapi tak ada cara lain jika ia ingin tinggal di rumah itu selain mematuhi Zia.


Zia telah sampai di dapur dan Zia akan kembali memainkan permainannya yang akan membuat Chika panik. Di saat Chika tengah asik-asiknya membersihkan sayuran, tiba-tiba Zia memanggil nama Chika.


"Chika!" panggil Zia.


"Iya, ada apa?" jawab Chika spontan.


"Eh, bukan kamu. Saya lagi bicara dengan teman saya." Zia pura-pura mendekatkan handphonenya ke telinga dan berpura-pura seolah sedang berbicara dengan seseorang melalui telpon, padahal tidak ada siapapun yang menghubunginya.


"Halo Chika, apa kabar?" Zia sedikit menjauh dari mereka dan berbicara dengan telpon layaknya seseorang yang tengah bicara dengan teman lamanya.


"Astaga! Kok gue ngejawab, sih? Kalo Zia tau gue Chika gimana?" batin Chika panik, sementara Zia hanya tersenyum penuh kemenangan saat melihat Chika panik.


"Ternyata, wajahmu sangat asik di pandang saat kau sedang panik. Mungkin, akan semakin seru di pandang saat kau sedang ketakutan," batin Zia lagi.


Zia menyimpan handphonenya ke dalam saku bajunya, kemudian ia segera kembali ke dapur untuk memasak.


|| Teror for Chika ||


Dua jam berlalu, Zia pun telah memasak semuanya dan telah di tata rapi di atas meja makan. Kini, hanya tinggal menunggu suami dan mertuanya pulang.


Saat ini Zia sedang berada di ruang keluarga dan ia tengah membaca buku, tak lama kemudian terdengarlah suara bel di bunyikan.


Ting! Ting! Ting!


"Itu pasti Ayah dan Kak Dev." Dengan girangnya Zia berlari kecil menuju ke pintu dan segera membukanya.


"Ayah!" Zia terlihat sangat bahagia saat melihat Tn. Andra yang telah kembali dengan selamat.


Zia langsung meraih tangan Tn. Andra dan menciumnya, sementara Andra hanya tersenyum bahagia saat memdapat sambutan hangat dari menantunya.


"Dev, kau sangat beruntung karena mempunyai istri sebaik Zia." Tn. Andra memuji Zia didepan Dev.


"Iya, Ayah. Kau benar, bahkan Zia adalah keberuntungan bagiku," balas Dev lagi, sedangkan Zia hanya tersipu malu saat di puji oleh suami dan mertuanya.


"Bang Rangga mana, Kak?" tanya Zia saat tidak melihat Rangga bersama mereka.


"Setelah menjemput Ayah di Bandara dia langsung pulang, katanya ada urusan penting," jelas Dev, sementara Zia hanya ber oh saja.


"Yaudah, ayo kita masuk!" ajak Zia pada suami dan mertuanya.


"Ayo, Nak," balas Andra melangkah masuk ke dalam rumahnya, di susul pula oleh Dev di belakangnya.


Saat pertama kali masuk ke dalam rumah itu, hal pertama yang mereka cium adalah bau makanan yang sangat enak. Seketika Dev dan Tn. Andra menjadi sangat lapar, bahkan mereka langsung menuju ke dapur.


"Waw, Sayang. Ini kamu yang masak?" tanya Dev saat melihat meja makan yang sudah penuh dengan makanan favorit mereka.


"Iya, Kak," balas Zia mengangguk.


Dev dan Tn. Andra segera duduk dan menyendok makanan tersebut ke dalam piring mereka, setelah itu mereka pun mencicipinya.


"Eemm, enak bangat," ujar Dev sambil mengunyah makanan favoritnya.


"Tak kalah dari makanan yang ada di restoran," timpal Tn. Andra yang juga sedang mengunyah makanan favoritnya.


"Sayang, ayo makan bareng!" ajak Dev pada Zia yang tengah berdiri di sampingnya.


Zia hanya tersenyum, kemudian ia juga ikut makan bersama mereka.


Di sisi lain, Chika tengah memperhatikan mereka dari kejauhan dan ia terus menatap Andra dengan penuh tanda tanya di pikirannya. Chika tidak mengenali Andra karena saat pertama ia masuk ke dalam rumah itu, Andra sudah tidak ada di rumah dan sudah berangkat ke Mumbai. Jadi Chika baru melihat Andra untuk yang pertama kalinya.


"Siapa orang itu? Mengapa mereka terlihat sangat akrab?" batin Chika bertanya-tanya.


"Apa itu ayahnya Devan? Bukannya ayah Devan udah men1nggal, ya?" batin Chika lagi yang masih kebingungan.


"Ayah. Ya, aku harus tanya kepada Ayah, siapa tahu Ayah kenal dengan orang itu," gumam Chika lagi.


-------------------------------


Malam pun tiba.


Saat ini Zia dan Dev sedang berada di kamar mereka. Zia tengah berdiri di balkon kamar mereka sambil menatap bulan purnama yang sangat indah, sementara Dev asik memeluk tubuh Zia dari belakang.


"Sayang. Kira-kira anak kita perempuan atau lelaki, ya?" tanya Dev yang masih mendekap Zia.


"Entah, Kakak pengennya laki-laki atau perempuan?" balas Zia.


"Kakak pengennya, anak pertama laki-laki karena Kakak ingin dia menjadi pemimpin untuk adik-adiknya dan Kakak juga ingin supaya dia bisa melindungi adik-adiknya nanti," jelas Dev sambil menc1um pipi Zia.


"Lalu, kalo yang lahirnya anak perempuan. Kakak gak bakal nerima?" tanya Zia lagi.


"Apapun akan Kakak terima, Sayangku," jawab Dev seraya tersenyum.


"Sehat-sehat terus ya, Nak." Dev mengelus perut Zia dengan lembut dan Zia hanya tersenyum manis karena mendapat perhatian dari suaminya.


Di saat tengah asik-asik bermesraan bersama istri tercinta, tiba-tiba Tn. Andra mengetok pintu kamar mereka.


Tok! Tok! Tok!


"Dev, Ayah mau bicara sebentar!" teriak Tn. Andra dari balik pintu kamar mereka.


"Baik, Ayah. Tunggu sebentar!" teriak Dev dari dalam kamar.


Cup!


Dev mengecup pipi Zia sekilas kemudian Dev segera mengurai pelukan mereka, lalu Dev dan Zia berjalan keluar dari kamar mereka.


Ceklek!


"Apa Ayah mengganggu kalian?" tanya Andra tersenyum jahil.


"Ti--tidak, Ayah. Sama sekali tidak," ujar Dev kikuk, sementara Zia hanya menunduk malu.


"Ayah mau kemana? Kok malam-malam begini sudah memakai pakaian rapi?" tanya Dev mengalihkan topik pembicaraan.


"Ayah ada pertemuan sebentar lagi. Ayah ingin mengajak kalian berdua ikut bersama, karena klien itu ingin melihat putra Ayah katanya. Sekaligus, kita bisa makan malam di sana," jelas Tn. Andra.


"Tapi Ayah, Zia tidak boleh terlalu sering keluar malam. Dev takut Zia akan masuk angin dan Dev takut jika hal itu akan memengaruhi kandungannya," jelas Dev khawatir.


"Tidak apa-apa, Nak. Kalo begitu biar Ayah saja yang pergi, kau ada benarnya," ujar Tn. Andra dengan senyum yang tak pernah luput dari wajahnya.


"Tidak, Kak. Kakak ikutlah bersama, Ayah!" pinta Zia kepada Dev.


"Tapi, Sayang. Kau akan sendirian di rumah, Kakak takut jika terjadi sesuatu kepadamu." Dev mengungkap kecemasannya kepada Zia.


"Iya, Nak. Devan benar," timpal Andra meyakinkan Zia.


"Tidak, Ayah. Tidak akan terjadi apapun kepada Zia, lagian Zia juga gak sendiri di rumah. Ada para pelayan dan para penjaga yang akan menjaga Zia," jelas Zia menenangkan mereka.


"Kakak pergilah bersama, Ayah. Zia gak akan kenapa-napa, kok." Zia membujuk Devan.


"Yaudah, Kakak pergi bersama Ayah. Tapi, jangan lupa kabari Kakak kalau terjadi sesuatu kepadamu," ujar Dev serius.


"Iya, Kak." Zia mengangguk.


"Ayah, Devan akan bersiap-siap dulu," ucap Dev kepada Andra.


"Baik, Nak. Ayah akan menunggumu di mobil." Andra tersenyum kepada mereka berdua, setelah itu ia turun dan menunggu Dev di mobil.


Sementara Dev kembali masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap. Jujur saja Dev tidak bisa jika harus meninggalkan Zia sendiri, akan tetapi ia terpaksa melakukannya karena permintaan dari Zia.


10 menit berlalu ....


Dev telah rapi dengan jas kantornya, sekarang ia sudah siap pergi bersama ayahnya.


"Kak, ayo Zia antar sampai ke pintu!" ajak Zia merangkul tangan Dev.


"Tapi, Sayang ... Kakak khawatir sama kamu," ucap Dev serius.


"Kak, Kakak jangn khawatirkan Zia. Pergilah bersama Ayah, Kak. Ayah sudah lama tidak bertemu dengan Kakak, mungkin Ayah rindu ingin pergi bersama anaknya. Apakah Kakak tidak ingin membalas kerinduan itu?" Zia kembali membujuk Dev agar mau ikut bersama Tn. Andra.


"Baiklah, Sayang. Tapi ingat! Kau harus menghubungi Kakak jika terjadi sesuatu kepadamu!" ucap Dev tegas.


"Iya, Kak," balas Zia mengangguk.


"Kakak pergi dulu, ya, Sayang," pamit Dev kepada istrinya saat mereka sudah berada di ambang pintu utama.


"Iya, Kak."


Cup!


Dev mengecup kening Zia, kemudian ia segera masuk ke dalam mobil ayahnya dan pergi bersama Tn. Andra dengan hati yang terus menghawatirkan Zia.


Zia melambai mobil Dev, Zia sangat senang setelah Dev dan ayahnya pergi. Bukan tanpa alasan, akan tetapi Zia senang karena ia akan kembali bermain bersama Chika.


"Ok, Chika. Kita akan kembali bermain malam ini," batin Zia tersenyum jah4t.


Zia menutup pintu utama rumah itu, kemudian ia segera menuju ke kamar pembantu tepat dimana Chika tidur. Sebelumnya Zia sudah memastikan jika Chika tidak ada di kamar itu karena dia dan pelayan lainnya tengah sibuk membereskan peralatan kotor yang ada di dapur.


Setelah selesai melakukan apa yang ia inginkan, Zia pun keluar dari kamar itu dan menuju ke ruang keluarga untuk menyaksikan reaksi Chika melalui kamera pengintai yang telah ia pasang di kamar itu yang terhubung dengan handphonenya.


Sementara Chika, ia merasa kelelahan setelah seharian bekerja dan ia pun memutuskan untuk beristirahat di kamarnya.


Ceklek!


Chika membuka pintu kamarnya, seketika bulu kuduknya merinding di saat ia melihat kamarnya sangat gelap.


"Kok gelap bangat, sih. Iihhh! jadi serem, deh," ucap Chika bergidik ngeri.


Tap!


Chika menghidupkan lampu kamar itu. Setelah lampur kamar hidup, bukannya tenang Chika malah semakin panik saat melihat ada sebuah tulisan berwarna merah di cermin besar yang tak jauh dari ranjangnya.


"HALLO CHIKA."


Begitulah tulisan yang di lihat oleh Chika.


"Tidak! Siapa yang sudah melakukan ini." Chika panik, kemudian ia segera berlari menuju ke arah cermin itu dan ia segera menghapus tulisan tersebut sebelum ada yang membaca.


"Gawat! Di rumah ini pasti sudah ada yang tau jika aku adalah Chika. Tapi siapa orang itu?" batin Chika penasaran.


Chika terus menghapus tulisan itu hingga bersih tak tersisa, ia merasa lega saat tulisan itu berhail ia hapus.


"Huuff! Untung bisa di hapus," ujar Chika lega.


"Tapi, gue gak boleh lega dulu. Gue harus bisa menemui orang itu dan menyog0knya supaya dia tidak membeberkan rahasiaku, bisa gawat jika orang tau kalo aku adalah Chika," gumam Chika berpikir keras.


"Ya, gue harus cari tau siapa orang itu besok. Untuk sekarang, gue harus istirahat dulu." Chika pun segera naik ke atas ranjangnya dan tidur.


Lima menit berlalu, tetapi Chika belum bisa tidur karena ia masih saja memikirkan tentang orang yang sudah mengetahui rahasianya. Chika berbalik ke samping kirinya, setelah itu ia memeluk guling yang tertutupi selimutnya.


Chika merasa ada yang aneh dengan gulingnya, ia merasa jika guling itu terasa lembab dan berbau amis.


Chika yang sudah penasaran langsung membuka selimut yang menutupi guling itu, ia pun berteriak saat melihat guling itu.


"Aaaaa!" teriak Chika seraya turun dari ranjangnya dan berlari keluar kamar.


Apa yang di lihat Chika hingga berteriak begitu? Ya, dia melihat hantu berupa p0cong. Sebenarnya itu adalah ulah dari Zia, Zia sengaja mengubah bantal guling milik Chika menjadi hantu poci untuk menakut-nakutinya.


"Waw, benar dugaanku. Wajahmu memang sangat bagus saat kau ketakutan seperti tadi, benar-benar sangat enak di pandang," batin Zia tersenyum penuh kemenangan.


Kemudian, Zia mematikan handphonenya dan berpura-pura mendengarkan lagu saat Chika menghampirinya.


"Nyonya tolong! Saya takut, di kamar saya ada hantu," ujar Chika yang sudah menangis karena ketakutan.


"Ada apa, Sasha?" tanya Zia sambil melepaskan earphone yang sedang ia pakai.


"Mengapa kau sangat ketakutan?" tanya Zia lagi dengan wajah yang khawatir, tepatnya pura-pura khawatir.


"I--itu, Nyonya. A--ada hantu di ka ...." Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Chika telah ambruk ke lantai karena memang dia sudah sangat ketakutan.


"Hhhhha! Jika mentalmu saja masih penakut seperti ini, mengapa kau begitu bertekad untuk merebut suamiku dariku," batin Zia tertawa puas.


"Bi Sari! Bi Ina! Bima!" teriak Zia memanggil pelayan dan para penjaga.


Seperdetik kemudian, para pelayan dan para penjaga datang menghampiri Zia. Sementara Zia segera memasang wajah khawatir, seolah-olah ia peduli dengan keadaan Chika.


"Ada apa, Nyonya? Dia kenapa?" tanya Bima yang baru saja datang.


"Iya, Nyonya. Kenapa dengan dia?" tanya Bi Sari lagi.


"Saya tidak tahu, katanya dia melihat hantu di dalam kamarnya. Coba kalian check kamarnya!" titah Zia kepada para penjaga.


"Baik, Nyonya!" Mereka pun segera mengecek kamar Chika.


"Dan Bi Sari, tolong buatkan obat agar ia cepat sadar!" titah Zia lagi kepada Bi Sari.


"Baik, Nyonya." Bi Sari pun segera melaksanakan perintah Zia.


Tak berselang satu menit, Bima dan para penjaga kembali menghampiri Zia dengan bantal poci di tangan Bima.


"Nyonya, ini hanya bantal. Sepertinya ada seseorang yang menerornya, Nyonya juga harus hati-hati. Siapa tahu orang itu bisa membahayakan Nyonya," jelas Bima kepada Zia.


"Sudahlah, Bima. Mungkin itu hanya orang iseng saja, buanglah bantal itu jauh-jauh agar tidak ada yang ketakutan lagi," titah Zia lagi kepada Bima.


"Baik, Nyonya!" Bima pun mematuhi apa yang di katakan oleh Zia.


"Dion! Tolong bantu saya, bawa dia ke kamarnya!" titah Zia kepada Dion yang masih berdiri di sana.


"Baik, Nyonya." Dion mengangguk patuh, kemudian ia segera membawa Chika ke dalam kamarnya dan di ikuti pula oleh Zia di belakangnya.


"Sekarang, kau bisa pergi. Kembalilah beristirahat!" titah Zia lagi kepada Dion dan Dion hanya mematuhi saja.


Saat ini hanya ada Zia dan Chika yang masih pingsan di dalam kamar itu, Zia tersenyum berkali-kali saat melihat Chika yang masih pingsan.


Zia berjalan menuju ke arah pintu kamar itu dan mengguncinya, Zia akan melakukan sesuatu kepada Chika.


Zia mengambil sebuah pisau kecil dari sakunya, kemudian ia juga mengambil sebuah chip perekam suara dari dalam sakunya. Zia berniat akan memasang chip itu di tubuh Chika agar ia bisa mengetahui seluruh rencana Chika, kebetulan sekali Chika memakai topeng kulit itu jadi Zia bisa menanamkan chip itu di dalam topeng itu.


"Inilah saat yang tepat." Zia pun memulai aksinya menaruh chip 'di topeng kulit itu.


"Selesai. Sekarang aku bisa mendengar seluruh percakapanmu, Chika," batin Zia tersenyum miring.


Tok! Tok! Tok!


Bi Sari mengetuk pintu kamar itu. Zia langsung menyimpan pisau itu kembali ke dalam sakunya, ia pun bergegas membukakan pintu untuk Bi Sari.


"Nyonya, ini ramuannya," ucap Bisa Sari seraya membawa nampan berisi segelas ramuan untuk Chika.


"Berikan padanya, Bik!" titah Zia dan Bi Sari hanya mengangguk saja.


Bersambung ....


Zia mulai lagi nih ...


🥰