Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Strategi



"Jadi, begitulah ceritanya, Nak." Andra tersenyum kepada Zia dan Rangga.


Zia bangkit dari duduknya, begitu pula dengan Rangga. Kemudian, keduanya saling mendekat.


"Kakak," lirih Zia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Zia ...." Rangga segera menepis jarak di antara keduanya, ia segera memeluk adiknya yang sudah lama ia cari.


Dev hanya menatap mereka datar. Jujur saja, ia sangat cemburu melihat Zia di peluk oleh Rangga. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena Zia dan Rangga adalah saudara kandung yang takkan pernah putus hubungannya sampai kapanpun.


"Hhmm." Dev menghela nafasnya dengan kasar.


"Sabar Dev, itu ipar lo jugak," ucap Farhan seraya mengelus pundak Dev.


"Udah kali, pelukannya. Ingat, Adek lo itu udah jadi milik gue juga," ucap Dev sinis dan menatap tajam ke arah Rangga.


"Jadi ceritanya lo cemburu sama gue?" tanya Rangga setelah melepas pelukannya.


"Ya, kira-kira begitulah," balas Dev singkat.


"Hhhhhha," tawa mereka semua pecah kala mendengar jawaban dari Dev.


"Ada-ada aja Kak Dev ini, masak ia Kakak cemburu sama Bang Rangga," ucap Zia terkekeh pelan.


"Dan sejak kapan anak Ayah jadi cemburu buta kek gini?" tanya Andra di sela tawanya.


Dev tidak menjawab pertanyaan Ayahnya, ia merasa semakin kesal karena mereka semakin keras menertawakannya.


"Ayah. Bagaimana Ayah bisa selamat dari kecelakaan itu dan kemana Ayah menghilang selama ini?" tanya Dev serius. Seketika mereka semua terdiam saat mendengar pertanyaan Dev.


"Iya, Om. Kemana saja Om selama ini, dan tinggal dimana Om selama ini?" Farhan ikut bertanya kepada Andra.


Zia dan Rangga kembali duduk di tempat masing-masing, kini mereka semua siap mendengar jawaban dari Andra.


"Pada saat mobil Ayah masuk ke dalam jurang dan mobilnya hampir meledak, Bagas yang menolong Ayah. Ia hendak membawa Ayah kerumah sakit, akan tetapi Ayah mencegahnya untuk membawa Ayah kerumah sakit dan Ayah memintanya untuk menyembunyikan Ayah di suatu tempat yang sulit untuk di jangkau oleh siapapun," jelas Andra panjang lebar.


"Mengapa begitu, Om?" tanya Rangga penasaran.


"Iya, Ayah. Mengapa Ayah harus bersembunyi?" timpal Dev yang masih penasaran.


"Ini bukanlah saat yang tepat untuk menjawab pertanyaan kalian, Anak-anakku. Namun, perlu kalian ketahui, hanya ada seseorang di balik kesusahan yang kita alami selama ini," jelas Andra dengan sedikit teka teki.


"Siapa dalangnya, Om?" tanya Farhan lagi.


"Iya, Om. Katakan siapa orangnya, akan kami habisi orang yang telah memecah belahkan keluarga kita," ucap Rangga meyakinkan Andra agar ia mau memberitahu siapa orang itu.


"Itu tidak perlu, Nak. Biar aku yang akan mengakhiri semua ini, kalian tidak perlu terburu-buru untuk menghabisinya. Karena ia tidak boleh mendapatkan kemati*n semudah itu, Ayah akan membuatnya hanc*r secara perlahan," jelas Andra meyakinkan mereka.


"Baiklah, Ayah. Tapi jika Ayah membutuhkan kami, maka kami siap membantu Ayah," jelas Dev serius.


"Iya, Om. Kami akan selalu siap membantu kapan saja." Rangga ikut meyakinkan Andra.


"Iya, Nak. Kalian tenang saja." Andra tersenyum kepada Dev, Rangga, Farhan dan juga Zia.


"Dev. Mulai besok dan seterusnya, kau fokuslah menjaga Zia dan calon cucuku," pinta Andra kepada Dev.


"Tapi Ayah, aku juga harus mengurus perusahaan kita," balas Dev sedikit cemas, karena ia tau jika ia tak bisa memenuhi perintah ayahnya.


"Kau tidak perlu cemas, biar Ayah yang akan mengurus perusahaan kita." Andra menepuk pundak Dev untuk meyakinkannya.


"Kalian tidak perlu khawatir, jangan kalian anggap jika aku ini sudah tua. Hanya umurku yang sudah menua, tapi tidak dengan jiwaku," ucap Andra dengan penuh percaya diri.


"Hhhhhhhaa." Lagi-lagi mereka kembali tertawa bahagia. Benar-benar keluarga yang sangat hangat.


"Tunggu kau, Harun. Sudah cukup kau bersenang-senang, bersiaplah untuk kehanc*ranmu. Sekarang aku telah menemukan kembali kekuatanku," batin Andra seraya tersenyum miring.


"Gimana, pesenan gue dah siap?" tanya Chika yang tengah berbicara dengan seseorang melalui handphonenya.


[Sudah, apa harus kukirim sekarang?]


"Ya, kalo bisa secepat mungkin." Chika tersenyum licik.


[Baiklah, akan kukirim sekarang juga]


"Ok, ku tunggu." Chika memutuskan panggilannya dan mulai menunggu pesanannya.


Senyum manis tak henti-hentinya mengambang di wajahnya, ia begitu bahagia. Entah apa lagi yang ia rencanakan sekarang, yang pastinya ia sedang berencana untuk menyakiti Zia.


"Nak, mengapa kau terlihat begitu bahagia?" tanya Harun seraya ikut duduk di samping anaknya.


"Hhhhe, aku akan segera masuk ke keluarga Zia dan Dev, Ayah. Lalu setelah itu, aku akan merebut Dev dari Zia," jelas Chika dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya.


"Bagaimana caranya, Nak?" tanya Harun lagi, ia merasa bingung dengan apa yang di pikirkan oleh putrinya.


Kemudian, Chika menceritakan semua rencananya kepada ayahnya. Tak ada yang ia sembunyikan sedikitpun dari ayahnya.


"Waw! Ide yang hebat, Nak. Mengapa kau begitu licik?" ucap Harun bangga dengan ide dari anaknya.


"Pastilah aku licik. Bukankah Ayah juga sangat licik?" tanya Chika sembari mengangkat kedua alisnya.


"Hhhhha, tapi kau lebih licik dari pada aku." Harun dan Chika tertawa terbahak-bahak.


Tok! Tok! Tok!


Seketika, Ayah dan anak itu terdiam saat mendengar suara pintu rumahnya yang di ketuk.


"Paket!" teriak orang yang mengetuk pintu itu.


"Horee! Akhirnya, sampai juga apa yang ku tunggu!" teriak Chika kegirangan. Kemudian, ia berlari ke arah pintu dan segera membukanya.


"Mbak, ini paketnya," ucap kurir itu seraya menyerahkan paket berisi pesanan Chika.


"Ok, ini uangnya." Chika menyerahkan beberapa lembar uang merah kepada kurir itu.


"Ok, Mbak. Silakan tanda tangan di sini." Kurir itu memberikan secarik kertas dan pulpen kepada Chika.


Setelah semuanya selesai, Chika kembali masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang penuh kebahagiaan.


"Apa itu, Nak?" tanya Harun penasaran dengan paket yang di pegang oleh Chika.


"Inilah jalanku untuk masuk ke rumah Dev, Ayah." Chika tak henti-hentinya tertawa bahagia.


Chika langsung membuka paketnya dan memperlihatkan isi paketnya kepada Harun.


"Topeng wajah? Apa yang akan kau lakukan dengan topeng itu, Nak?" tanya Harun bingung.


Chika tidak langsung menjawab pertanyaan Harun, ia segera memakai topeng wajah yang tadi ia pesan.


"Lihatlah, Ayah!" Chika menunjukkan wajahnya kepada Harun. Ya, wajah Chika berubah drastis. Ia sama sekali tidak mirip dengan Chika, wajahnya menjadi wajah orang lain sekarang.


"Ayah paham sekarang?" tanya Chika lagi.


"Waw. Benar-benar ide yang luar biasa, Nak. Ayah sangat bangga kepadamu, kau sangatlah jenius," ucap Harun dengan rasa bangga kepada putrinya.


Entah orang tua macam apa si Harun ini. Bukannya melarang, ia malah semakin mendukung rencana jahat anaknya. Dan ia juga semakin mendorong anaknya ke jalan yang salah.


Bersambung ....