
"Sayang, nanti malam kita ke Korea mau?" tanya Dev sambil terus fokus menyetir mobil nya, sementara tangan kiri nya terus menggenggam tangan Zia.
"Kenapa dadakan Kak?" tanya Zia penasaran.
"Ada sedikit masalah di perusahaan Kakak yang ada di korea, Sayang. Kakak ngajak kamu biar sekaligus bisa honeymoon," jelas Dev sambil mengangkat kedua alis nya.
"Boleh deh Kak, Zia juga belum pernah ke Korea," balas Zia kegirangan.
Setelah seharian berbelanja akhir nya mereka pun sampai di kediaman Abraham, Zia dan Dev langsung memasuki mansion mewah itu dan bersiap-siap untuk pergi ke Korea malam ini.
"Kak, Zia kek nya ga tega deh ninggalin Aslan disini. Kita bawa Aslan ya Kak, plisss," pinta Zia memelas.
"Boleh Sayang," balas Dev tersenyum. Ia tak menolak permintaan istri nya karena disana mereka akan tinggal dirumah Dev bukan di hotel, jadi ia tak perlu khawatir jika Aslan juga ikut.
Jam kini telah menunjukkan pukul 20:00 WIB, kini Dev dan Zia telah siap untuk ke Korea. Mereka pun berangkat menuju ke bandara, di ikuti juga oleh beberapa anak buah nya dan Aslan juga.
Sesampainya di bandara ternyata pesawat keberangkatan Korea telah berangkat, seketika raut wajah Zia yang semula bahagia menjadi murung.
"Kenapa Sayang, kok wajah nya murung gitu?" tanya Dev tersenyum.
"Pesawat nya udah berangkat Kak, kita ketinggalan pesawat." Zia menunduk untuk menyembunyikan kesedihan nya.
"Hhhe tenang Sayang, kita pergi dengan pesawat pribadi jadi kita ga usah takut ketinggalan," jelas Dev sambil merangkul bahu istri nya, sedangkan Zia hanya bisa mengikuti Dev.
Disaat tengah berjalan di area bandara menuju pesawat nya, tiba-tiba seorang gadis yang baru saja turun dari pesawat tak sengaja menabrak Dev.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap gadis itu.
"Tidak masalah," balas Dev dingin dan terus berjalan menuju ke pesawat nya.
"Kok aku kayak kenal ya sama cowo itu? Tapi dimana?" monolog gadis itu sambil menggaruk kepala nya yang tak gatal.
"OMG itu kan Devan!" ucap gadis itu terkejut. Kemudian ia segera berlari ke arah Dev dan Zia, yang di ikuti oleh beberapa bodyguard dan seekor singa di belakang nya.
"HUWAAA DEVAN CINTA KU!" teriak gadis itu sambil berlari, mendengar nama nya di panggil. Seketika Dev beserta yang lain pun berbalik dan menatap gadis itu penuh keheranan.
Melihat gerak gerik gadis itu yang akan memeluk nya, langsung saja Dev meraih tubuh Zia kedalam pelukan nya. Aslan pun tak tinggal diam, melihat ada yang ingin mendekati tuan nya. Ia seketika berdiri di depan Dev dan Zia dan mengaung ke arah gadis itu.
"AARRGG!"
Brukk!
Gadis itu terduduk ke lantai karena amat terkejut dengan kedatangan Aslan yang secara tiba-tiba, Aslan terus saja menatap gadis itu dengan tatapan tajam seperti akan memakan nya.
"Aslan kemari lah!" titah Dev dan langsung di patuhi oleh Aslan. Aslan mendekati Dev dan Zia, lalu ia duduk tepat di kaki mereka.
"Dev kamu gak ingat sama aku?" tanya gadis itu yang bernama Chika.
Chika Arista Wijaya adalah seorang gadis cantik yang sangat menyukai Dev, bahkan ia rela menolak lelaki lain hanya demi Dev. Akan tetapi ia tidak bernasib beruntung karena Dev tidak pernah menyukai nya dan selalu bersikap dingin kepada nya, Dev juga tidak menyukai seluruh keluarga Chika karena orang tua Chika adalah orang yang licik dan mata duitan.
Mendengar pertanyaan dari Chika, Zia langsung menatap suami nya penuh keheranan. Dev tau jika Zia akan cemburu kalo ia menjawab bahwa ia mengenal gadis itu, Dev pun memilih untuk bersikap dingin kepada gadis itu. Di tambah lagi ia tak menyukai gadis itu sedikit pun.
"Tidak," balas Dev dingin, ia berpura-pura tidak mengenal Chika untuk menjaga perasaan istri nya.
"Aku Chika Dev yang dulu mau di jodohin sama kamu oleh papa aku," jelas Chika berusaha membuat Dev ingat kepada nya.
"Ooohh." hanya itu yang terucap dari mulut Dev.
"Wanita itu siapa?" tanya Chika sambil menunjuk ke arah Zia yang ada di pelukan Dev.
"Istri ku," balas Dev singkat sambil mengerat kan pelukan nya.
"Apa! Istri?" kaget Chika tak percaya.
"Hmm." Lagi-lagi hanya deheman yang keluar dari mulut Dev.
Tak ingin berbicara panjang lebar karena waktu yang sudah mulai larut, Dev beserta yang lain nya pergi menuju ke pesawat dan meninggalkan Chika yang masih melongo tak percaya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja datang, ia tak lain adalah orang tua Chika.
"Mama hikkss hikks," isak Chika sambil memeluk ibu nya.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya ayah nya.
"Ma, Pa, aku tadi ketemu sama Devan. Dan dia udah nikah hikks hikkss," jelas Chika di sela-sela isak tangis nya.
"Apa! Dia sudah nikah?" Mereka berdua tak kalah kaget nya dengan Chika
"Iya," jawab Chika sambil mengangguk.
"Ma, Pa. Chikaa ga rela Devan nikah sama orang lain. Apa Chika bunuh aja tu cewe?" ucap Chika sambil menghapus air mata nya.
"Kamu jangan gegaba, Papa tau siapa Devan dan dia tidak akan membiarkan mu hidup jika dia tau kalo kamu ingin mencelakai istri nya," jelas Harun berusaha membuat putri nya mengerti.
"Iya Nak, Papa kamu benar. Mending kita pulang dulu sekarang," ajak Naora ibunya Chika, Chika pun hanya bisa menuruti kedua orang tua nya dan meninggalkan banda itu.
***
10 menit menunggu, akhir nya dua buah mobil keluarga telah sampai di bandara itu. Anak buah Dev langsung turun dan mengambil semua barang bawaan mereka, sementara Aslan menaiki mobil yang sama dengan Zia dan Dev.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di sebuah mansion mewah milik Dev. Lagi-lagi perasaan kagum Zia muncul saat melihat mansion itu yang menurut nya lebih mirip dengan istana, benar-benar sangat indah.
"Ini milik Kakak?" tanya Zia sambil terus memandangi mansion itu dengan rasa kagum.
"Bukan Sayang, ini milik kita berdua," jawab Dev sambil tersenyum manis ke arah Zia.
Dev dan Zia melangkah masuk setelah pintu terbuka, Zia sempat berhenti di depan pintu karena kagum saat melihat isi dan desain dari rumah itu yang sangat aestetic dan indah. Saat mereka masuk, mereka langsung di sambut oleh semua para pelayan dan para penjaga yang membungkuk hormat.
Hap!
Dev menggendong tubuh Zia ala bride style, lalu membawa Zia masuk kedalam istana itu. Zia pun melilitkan tangan nya di leher Dev dan terus memandangi wajah tampan suami nya, hingga membuat Dev sedikit ge er.
"Jangan di pandang terus Sayang, entar ga bisa tidur lagi," ucap Dev seraya melirik Zia dengan lirikan nakal.
"Mata ini tak bisa berpaling dari wajah tampan Kakak," balas Zia tersenyum kemudian ia beralih mengecup leher Dev dengan mesra.
"Sayang udah nakal ya." Dev membalas mencium kening Zia.
Setelah menyusuri ruang tamu dan tangga yang panjang, akhir nya Dev dan Zia telah sampai di kamar mereka yang telah di hias dengan sangat indah sehingga semakin membangkit kan suasana romantis.
Bunga mawar merah dan lilin-lilin kecil yang tertata rapi dan indah juga ikut menghiasi ruangan yang bernuansa putih itu, aroma wangi semerbak pun ikut melengkapi keindahan di kamar itu. Pelayan Dev sengaja menghias kamar itu karena tau bahwa tuan mereka akan datang bersama istri nya, dan mereka juga tau bahwa tuan mereka baru saja menikah alias pengantin baru. Jadi pasti lah hubungan mereka masih sangat hangat saat ini.
"Sayang, Kakak mandi dulu ya," pamit Dev sambil meletakkan Zia di atas kasur empuk yang telah di taburi bunga mawar merah.
"Iya Kak, Zia juga mau mandi bentar lagi," ucap Zia sambil bangkit untuk duduk.
Dev pun berjalan menuju ke kamar mandi, sedangkan Zia menuju ke lemari es yang ada di kamar nya itu. Zia berniat untuk minum karena merasa sangat haus, ia membuka freezer itu dan mengambil botol air yang ada disana. Zia pun menuangkan air itu ke gelas kecil dan meminum nya.
Setelah meminum air itu tiba-tiba saja Zia merasa kan panas menjalar di seluruh tubuh nya, ternyata yang ia minum adalah perangsang. Zia segera berteriak memanggil Dev.
"AHHH PANASSS, KAK DEV!"
Baru saja Dev membuka jas nya, ia pun segera berlari keluar dari kamar mandi karena Zia memanggil nya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Dev khawatir.
"Aahhh ssstt panas, aahhh," Zia terus mengibas-ngibas baju nya karena merasa sangat panas.
"Kamu kenapa Sayang, ada apa?" tanya Dev lagi, namun Zia tak mengindah kan pertanyaan nya. Zia segera mendekat ke arah Dev dan langsung saja ia mengelus seluruh tubuh Dev dengan mesra.
"Kak, Zia pengen aahh," pinta Zia sambil mengelus bibir Dev dengan lembut. Dev sempat terkejut mendengar penuturan dari Zia dan memilih kembali bertanya.
"Sayang ada apa, apa yang kamu minum?" tanya Dev lagi.
"A ... Air di sana." Zia menunjuk ke arah kulkas, kini Dev pun mengerti kalo Zia telah meminum perangsang yang ia simpan disana.
"Kak ... Tolong puasin Zia aahhh," ucap Zia disertai ******* nya, ia benar-benar terangsang sekarang.
Cup!
Dev langsung mengecup bibir mungil Zia lalu mel*mat nya dengan lembut, Zia segera membalas l*matan dari Dev dan Zia sangat menikmati hal itu begitu pula dengan Dev. Setelah beberapa menit berc*man, Dev melepaskan tautan bibir mereka dan hendak membawa Zia ke atas ranjang yang telah bertabur mawar itu.
Namun sebelum itu, Zia langsung membuka kancing baju Dev dengan terburu-buru. Dev kemudian menggendong istri nya dan menidurkan nya diatas ranjang lalu ia menindih tubuh Zia, ia segera memenuhi keinginan istri nya agar istri nya tidak lagi kepanasan. Dia pun sudah amat terangsang sekarang karena mendapat sentuhan mesra dari Zia.
Kemudian kedua nya terlarut di dalam indah nya suasana honeymoon.
kini Chika beserta keluarga nya telah sampai di kediaman Wijaya.
"Ayah, gimana ini? Apakah Chika harus sendiri seumur hidup?" tanya Chika sambil duduk di atas sofa yang ada di ruang keluarga nya.
"Sabar Nak, ayah tidak akan tinggal diam. Kamu jangan gegaba biar ayah yang berpikir bagaimana cara nya untuk memisahkan mereka," jelas Harun berusaha membuat anak nya mengerti.
"Iya Ayah, Chika akan menunggu rencana Ayah," balas Chika ambil mendengkus kesal.
"Tapi sebelum menjalankan rencana kita, kamu harus cari tau dulu tentang asal usu istri nya agar dengan mudah kita menjalankan rencana kit," jelas Harun kepada Chika.
"Baik Ayah. Chika akan mencari informasi tentang gadis itu," balas Chika seraya mengangguk.
"Iya Nak, sekarang lebih baik kamu istirahat saja dulu. Kamu bisa mencari nya besok!" titah Harun dan di patuhi oleh Chika.
"Pa, kasian Chika di sangat mencintai Devan," ucap Naora sambil memandang anak nya yang sedang menaiki tangga menuju lantai dua.
"Iya Ma, tapi Papa gak akan ngebiarin Chika terus bersedih. Papa akan segera membuat Devan berpisah dengan gadis itu," ucap Harun di sertai senyum licik nya.
"Iya Pa, tapi kita juga harus waspada karena Devan sangat lah berbahaya," ujar Naora memperingati suami nya.
"Kalian tenang aja, biar Papa yang urus semua nya," jelas Harun kepada istri nya. Kemudian kedua nya pun beristirahat karena sudah larut malam.
Bersambung ....