Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Ujian Cinta



Di sepanjang perjalan menuju ke rumah nya, Zia terus saja menangis di dalam taxsi itu hingga membuat sang empunya taxsi merasa iba melihat kondisi Zia.


"Nak, apakah kau baik-baik saja?" tanya supir taxsi itu sambil terus fokus menyetir.


"Iya Paman, aku gak papa kok,'' balas Zia sambil menghapus air mata nya, namun air mata itu masih saja turun dengan deras nya.


"Aku tau kau sedang ada masalah Nak, tidak apa-apa kalau kau tidak mau cerita. Tapi ku doakan semoga masalah mu cepat selesai," ujar supir itu dengan ramah, sedangkan Zia hanya mendengarkan sambil terus menangis.


"Nak, percayalah. Tak ada masalah tanpa jalan keluar, semua nya pasti ada jalan keluarnya. Bersabar lah Nak, karena kebahagiaan menanti mu setelah masalah ini selesai." Supir itu memberi semangat+nasehat kepada Zia.


"Iya Paman, terima kasih atas nasehat nya," balas Zia seraya tersenyum di tengah tangis nya.


Tak lama kemudian, Zia pun telah sampai di kediaman Abraham. Ia segera menghapus air mata nya saat melihat para penjaga dan para maid yang sedang mondar mandir seperti mencari sesuatu. Zia segera mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerah kan nya kepada supir taxsi itu, namun supir itu berat untuk menerima nya karena uang itu kebanyakan.


"Nak, ini kebanyakan. Saya tidak bisa menerima nya," ujar pria itu sembari mengembalikan uang nya kepada Zia.


"Tidak apa-apa Paman, ini sudah takdir Paman untuk mendapat kan rejeki lebih hari ini. Ambil lah Paman!" ucap Zia meyakin kan supir itu, kemudian supir itu pun mau mengambil nya walau masih merasa tidak enak dengan Zia.


Zia pun turun dari taxsi itu, sementara supir taxsi itu hanya tersenyum kagum akan sikap dermawan Zia.


"Benar-benar berhati malaikat. Padahal dirinya sedang di timpa masalah, tapi tetap memikirkan orang lain. Semoga saja masalah mu cepat selesai, Nak," gumam pria itu sambil terus menatap Zia yang kian menjauh dari pandangan nya, kemudian ia pun melajukan mobil nya dan pergi dari sana.


"Hey lihat itu Nyonya sudah pulang!" seru salah satu bodyguard Dev saat melihat Zia berada di depan gerbang, kemudian mereka semua berlari menghampiri Zia.


"Nyonya dari mana saja? Mengapa tidak minta kami supaya mengantarkan Nyonya," tanya salah satu bodyguard nya.


"Apakah Nyonya baik-baik saja?" tanya yang lain nya. Zia hanya tersenyum dan menjawab pertanyaan mereka.


"Aku baik-baik saja. Tadi aku pergi bersama teman lama ku, jadi aku tidak sempat mengatakan nya kepada kalian," jelas Zia berbohong. Sedangkan para pengawal nya hanya mangut-mangut saja saat mendegar penjelasan Zia.


"Kalian kembali lah bekerja karena aku akan ke kamar ku." Zia tersenyum kecut dan berlalu pergi ke kamar nya.


Di sepanjang jalan menuju ke kamar nya, Zia hanya melamun karena memikir kan perkataan Harun yang masih terngiang-ngiang di kepala nya.


Sesampainya dikamar, Zia merebahkan tubuh nya dengan kasar di atas kasur king size milik nya dan Dev.


"Apakah benar yang di katakan oleh ayah nya Chika?" monolog Zia sambil menatap langit-langit kamar nya.


Ting!


Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke handphone Zia dan Zia segera bangun dari tidur nya, lalu ia membuka pesan itu. Air mata Zia tumpah semakin deras di kala melihat pesan itu yang berupa sebuah video, di dalam video itu terdapat ayah nya sedang di siksa oleh Dev.


"Papa hikkss hikss, mengapa Kak Dev tega hikks," isak Zia sambil mematikan handphone nya.


"Aku akan pergi dari sini, karena aku tidak mau tinggal bersama pembunuh ayah ku." Zia menghapus air mata nya dengan kasar, lalu ia bangkit dan mengemasi semua pakaian nya.


Setelah selesai mengemas semua pakaian nya, Zia pun keluar dari kamar nya sambil menyeret koper. Sontak semua penjaga dan para maid terkejut saat melihat Zia turun dengan koper nya, mereka bingung dan saling tatap menatap hingga kemudian salah seorang dari mereka memilih untuk bertanya.


"Nyonya mau kemana?" tanya bi Sari.


"Iya mengapa Nyonya pergi dadakan gini?" tanya bi Ina lagi.


"Ada apa Nyonya?" timpal bi Rika.


"Aku akan pulang ke Bandung untuk melihat kondisi nenek ku yang sedang sakit, aku akan menginap disana untuk beberapa minggu. Dan aku sudah minta izin kepada Dev," jelas Zia berbohong.


"Kalo begitu mari saya antar Nyonya." Salah satu dari bodyguard itu hendak mengambil koper Zia, namun Zia segera mencegah nya.


"Tidak, aku akan pergi sendiri saja. Kalian tidak perlu khawatir, jika Dev bertanya maka katakan saja kalo ini kemauan ku sendiri," jelas Zia, kemudian ia kembali menyeret koper nya dan keluar dari mansion itu. Para bodyguard itu hanya menatap kepergian Zia yang menurut mereka aneh, akan tetapi mereka tidak berani mencegah nya.


Zia berdiri di pinggir jalan sambil menunggu taxsi online pesanan nya, tak lama kemudian taxsi itu pun datang dan ternyata itu adalah taxsi yang tadi ia naiki.


Supir itu segera memasuk kan koper Zia ke dalam bagasi, setelah itu ia kembali naik ke mobil nya dan melajukan taxsi itu.


"Nak, kau mau kemana?" tanya supir itu lembut.


"Entah lah Paman, aku tidak tau harus kemana sekarang," balas Zia sambil menatap keluar jendela dan menetes kan air mata nya.


"Nak, mengapa kau lari dari masalah ini? Ini tidak akan menyelesai kan masalah mu, Nak," ujar supir itu berusaha menasehati Zia lagi.


"Tapi Paman, aku tidak kuat bila harus hidup bersama pembunuh ayah ku hikks," jelas Zia yang mulai terisak. Kemudian ia memilih menceritakan semua nya kepada supir itu agar beban pikiran nya sedikit berkurang.


"Nak, sebaik nya kau jangan terlalu percaya kepada omongan orang. Barangkali itu hanya fitnah dan soal video itu, bisa jadi itupun hanya editan," jelas supir itu menasehati Zia dan mencoba membuat Zia mengerti.


"Entah lah Paman. Yang pasti nya aku ingin sendiri dulu saat ini hikkss," balas Zia lagi. Mereka terus berjalan hingga tak terasa bahwa mata hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi akan turun hujan.


Zia kemudian menyuruh supir itu berhenti dan turun tepat di depan sebuah cafe tempat ia bekerja dulu.


"Paman, aku turun disini saja," ujar Zia.


"Tapi Nak, sebentar lagi akan hujan dan kau tidak aman disini sendirian Nak," jelas supir itu mencoba membujuk Zia.


"Tidak apa-apa Paman, ini adalah cafe tempat ku bekerja dulu. Jadi aku sudah mengenal semua orang disini," jelas Zia tersenyum untuk meyakin kan supir itu.


"Ini uang nya, Paman. Tak ada penolakan ya." Zia kembali memberikan uang lebih kepada supir itu.


"Terima kasih Nak. Oh ya siapa nama mu Nak?" tanya supir yang bernama Indra itu.


"Nama ku Zia, Paman," balas Zia. Kemudian pak Indra pun pergi namun sebelum itu ia memberikan kartu nama nya kepada Zia.


Setelah Indra pergi, Zia pun mendekat ke arah cafe itu akan tetapi seperti nya cafe itu sedang tutup karena kelihatan begitu sepi. Jadi Zia terpaksa duduk di kursi yang ada di depan cafe itu karena hujan sudah turun, sehingga ia tak bisa kemana-mana.


"Nak, tolong maafkan Mama karena Mama udah pisahin kamu sama ayah kamu hikkss," isak Zia sambil mengelus perut nya.


----------------------------


Jam sudah menunjukkan pukul 20:00 WIB dan kini hujan tengah turun dengan deras nya. Dev baru saja sampai ke rumah nya, ia pulang sedikit telat karena ada banyak pekerjaan di kantor nya.


Bima segera turun dan membuka payung lalu memayungi Dev yang baru saja turun. Para bodyguard dan para maid merasa sangat takut kepada Dev karena mereka telah membiarkan Zia pergi, meskipun Zia bilang sudah meminta izin dari Dev. Mereka tetap lah takut kepada Dev.


Dev segera pergi ke kamar nya untuk menemui Zia namun sesampainya nya di kamar, ia tak menemukan keberadaan Zia. Kemudian mata nya tertuju kepada secarik kertas yang terletak di atas nakas, Dev segera mendekat dan mengambil surat itu lalu membaca nya.


Isi surat nya ....


"Kak, aku akan pergi jauh dari mu. Tolong jangan cari aku lagi ya Kak, aku tidak bisa hidup bersama pembunuh ayah ku dan mulai sekarang aku akan hidup sendiri bersama anak ku."


"Aaargg! Lelucon apa ini? Siapa yang sudah berani menghasut istriku?" Dev meremas kuat kertas itu dan segera turun untuk menemui anak buah nya.


"Semuanya berkumpul sekarang!" teriak Dev lantang, hingga membuat semua nya takut dan mereka segera berkumpul di ruang tamu.


"Kemana istri ku Zia?" tanya Dev sambil menahan emosi nya.


"Jawab lah! Sebelum kalian ku bunuh satu persatu," ancam Dev.


"Nyonya pergi ke Bandung, Tuan. Dan Nyonya melarang kami untuk mengantar kan nya, kata nya Nyonya akan menjenguk nenek nya yang sakit," jelas salah satu dari mereka.


"Tidak mungkin! Karena setau ku Zia hanya hidup sebatang kara. Aku rasa ada yang tidak beres disini," gumam Dev kepada dirinya sendiri.


"Apa yang kalian tunggu sekarang? Cepat cari istri ku!" titah Dev sambil berteriak lantang. Kemudian semua bodyguard nya segera berhamburan keluar untuk mencari Zia. Dev tak peduli jika diluar sedang hujan sekarang karena ia sangat lah menghawatir kan Zia, apalagi Zia pergi seorang diri sekarang.


Semua anak buah Dev keluar dari pekarangan mansion mewah Dev dan mulai mencari Zia ke setiap sudut kota. Dev juga turun mencari istrinya.


---------------------------


Zia masih saja duduk di depan cafe itu seorang diri, Zia duduk sambil memeluk tubuh nya karena kedingingan dan ia masih saja menangis. Tiba-tiba dari kejauhan ada beberapa preman yang melihat Zia.


"We lihat tu ada cewe cantik," ucap preman itu kepada teman nya.


"Anj*r mana bening bangat lagi," ucap preman yang lain.


"Yaudah ayo kita samperin sekarang, kita akan bersenang-senang malam ini." kemudian mereka pun mendekati Zia yang tengah duduk seorang diri.


"Hay Neng cantik," ucap salah satu dari mereka, hingga membuat Zia terkejut dan mendongak kan kepala nya melihat ke arah mereka.


"Si -- siapa ka -- kalian? Ja -- jangan ganggu aku," ucap Zia terbata-bata karena ketakutan.


"Jangan takut Neng, kita akan bermain-main malam ini," ujar salah satu dari mereka di sertai senyum genit nya yang menjijik kan.


"Pergi! Jangan ganggu aku!" bentak Zia.


"Neng cantik jangan galak dong." salah satu dari preman itu mencoba menyentuh Zia, akan tetapi ia segera menghentikan aksi nya karena ada mobil yang berhenti tepat di belakang mereka dan menyoroti mereka dengan lampu mobil nya.


Pemilik mobil itu kemudian turun dan menghampiri mereka.


"Lepasin cewe itu!" titah salah satu gadis pemilik mobil itu.


"Kalo kita ga mau gimana?" tanya preman itu seraya tersenyum remeh.


"Kurang ajar!" Kemudian ketiga gadis pemilik mobil itu berlari ke arah para preman itu untuk menghajar mereka.


Bugh! Bugh! Bugh!


Krakk!


Pukulan demi pukulan terus di layangkan oleh para gadis itu ke tubuh para preman, hingga mereka dengan cepat bisa di kalah kan.


"Cabut! Cabut!" titah preman itu kepada teman-teman, kemudian mereka pun lari dan meninggal kan Zia bersama ketiga gadis kembar itu.


"Apa Nyonya baik-baik saja?" tanya Kania. Ya, mereka adalah pesulap kembar itu yang tak lain adalah anak buah Dev juga.


"Mengapa Nyonya disini malam-malam?" tanya Sania lagi.


"Aku akan segera menelpon Tuan Dev, mungkin dia sangat khawatir sekarang." Tania hendak menghubungi Dev namun di cegah oleh Zia.


"Tidak! Aku mohon jangan beritahu Kak Dev kalau aku ada disini," ujar Zia memelas, kemudian Tania menghentikan aksinya. Ketiga gadis kembar itu menatap Zia dengan tatapan bingung.


"Baik lah, jika Nyonya tidak mau pulang ke rumah. Maka ikut lah bersama kami ke rumah kami, disini tidak lah aman untuk Nyonya," tawar Kania kepada Zia.


"Aku tidak mau, bisa saja kalian memberitau Dev kalo aku ada bersama kalian." Zia menolak tawaran mereka.


"Kami tidak akan memberitau Tuan Dev jika Nyonya mau ikut bersama kami, tapi jika Nyonya tidak mau maka kami akan menghubungi nya sekarang," jelas Sania + sedikit mengancam agar Zia mau ikut bersama mereka.


"Yaudah aku mau." Zia pun menyetujui tawaran mereka dan naik ke dalam mobil bersama mereka. Zia masih memiliki keraguan akan mereka, tapi ia juga tidak punya pilihan selain mengikuti mereka bertiga. Ia juga takut jika hal yang tadi kembali terulang kepada nya.


Bersambung ....