Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Kematian Trio R



Dev kini telah berada di halaman mansion nya yang mewah, ia segera melangkah ke dalam setelah pintu terbuka. Setelah Dev berada di dalam rumah, hal yang pertama ia cari adalah istri cantik nya.


"Dimana Zia?" tanya Dev kepada salah satu maid nya yang bernama Ina.


"Ada di dalam kamar, Tuan," jawab Bi Ina, kemudian Dev segera bergegas ke kamar.


"Sayang! Kakak pula ...." Dev mengecilkan suara nya saat melihat Zia sedang tertidur di atas sofa, dengan buku di atas perut nya. Dev mengambil buku itu dan menaruh nya di atas nakas, kemudian ia menggendong Zia dan menidurkan nya di atas kasur agar Zia lebih nyaman tidur.


Dev hendak melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya, namun ia menghentikan aksinya saat mendengar suara Zia.


"Kak Dev ... Jangan pergi. Tetap lah disini, aku sangat merindukan mu." Zia mengingau menyebut nama Dev, sementara Dev hanya tersenyum bahagia karena istrinya begitu mencintai nya sampai-sampai terbawa mimpi.


"Ini Kakak Sayang," ucap Dev sambil memegang tangan Zia dan langsung saja Zia menarik Dev, hingga Dev hampir saja menindih tubuh nya. Beruntung Dev dapat menahan tubuh nya dengan kedua tangan nya, sehingga tak langsung menindih Zia.


Dev kemudian ikut berbaring di samping Zia dan memeluk tubuh istri nya dengan manja, sedangkan Zia masih saja mengingau.


"Kak Dev ... Zia sangat mencintai Kakak," ucap Zia di sertai senyum nya namun masih menutup mata nya.


"Kakak juga sama, Sayang," balas Dev sambil terus memeluk istri nya dan sesekali mencium pipi nya.


----------------------------


"Maaf Bu, kami terpaksa menghentikan pencarian ini karena kami sudah mencari anak Ibu kemana-mana namun tidak ada hasil nya. Sekarang kita hanya bisa berdoa semoga anak Ibu kembali dengan selamat," jelas polisi itu sambil sedikit memberi semangat kepada Erna.


"Tapi, Pak. Saya mohon jangan hentikan pencarian ini hikkss hikks, saya mau anak saya kembali," ucap Erna seraya terisak karena mengingat putri nya.


"Tidak bisa, Bu. Kami harap Ibu mengerti akan kondisi tim kami yang sudah sangat kelelahan," ucap polisi itu berusaha membuat Erna mengerti, lalu Erna pun keluar dari kantor polisi itu dengan air mata yang terus mengalir.


"Dimana kalian, Nak? Apa kalian baik-baik saja? Hikkss hikks." Erna terus menangis di sepanjang jalan pulang kerumah nya, ia sangat hawatir akan kedua putrinya yang kini tanpa kabar dan hilang entah kemana.


---------------------------


Disaat Dev tengah asik tiduran bersama istrinya, tiba-tiba saja handphone nya berbunyi dan tertera nama anak buah nya disana.


"Ada apa? Apa ada masalah disana?" tanya Dev sambil mendekat kan smartphone itu ke telinga nya, dan ia turun dari ranjang nya agar tidak mengganggu Zia yang tengah tidur.


"Tidak Tuan, saya ingin memberitau kalo mereka sedang sekarat. Apa kita singkirkan saja?" tanya anak buah nya di seberang sana.


"Terserah kalian saja, aku tidak butuh mereka lagi," jawab Dev enteng.


Dorr! Dorr! Dorr!


Suara tembakan terdengar nyaring meski lewat handphone Dev, ia hanya tersenyum senang saat mengetahui mereka telah di bunuh.


"Tuan, mereka sudah saya bunuh," ucap anak buah nya.


"Bagus, sekarang beres kan mereka. Dan ingat jangan sampai ada yang tau." Dev mematikan ponsel nya dan melanjutkan tidur nya.


Tak lama kemudian, Zia menggeliat dan meregangkan tubuh nya lalu ia membuka mata nya sambil bangkit untuk duduk.


"Loh, Kok aku disini perasaan tadi aku tidur di sofa deh. Siapa yang mindahin aku? Apa dirumah ini ada hantu? Ihhhh seremm," gumam Zia sambil bergidik ngeri.


"Kheemm!" dehem Dev yang masih tidur di samping Zia sambil menopang kepala dengan tangan kirinya.


"EH COPOT ANAK KODOK KOREA!" teriak Zia yang terkejut karena deheman Dev, seketika ia pun melirik ke kanan dan melihat Dev yang tengah memperhatikan nya.


"Hhhhee Kak Dev." Zia hanya menyengir bak kuda nil untuk menutupi rasa malu nya.


"Dimana kodok korea nya, Sayang?" tanya Dev seraya menahan tawa nya.


"Hhhhheee gak kok Kak, mana ada anak kodok korea datang kesini," jawab Zia sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Zia ... Zia ada-ada aja kamu ini," ucap Dev sambil menggeleng kan kepala nya.


"YUHUU SHOPPING, IM VERY VERY LOVE SHOPPING!" teriak Zia dan melompat ke arah Dev.


Brukk!


"AAAAHHHH TULANG KU!" teriak Dev berpura-pura sakit, padahal bagi nya Zia sangat lah ringan.


"Yaampun, maafin Zia ya Kak. Abis Zia seneng bangat." Zia lalu turun dari tubuh Dev dan mengelus-elus badan Dev.


"Sa ...." Ucapan Dev terhenti karena ia telah pingsan lebih tepat nya berpura-pura untuk melihat perhatian istrinya.


"Kak Dev! Kak Dev kenapa Kak? Kak bangun lah!" Zia begitu panik saat melihat Dev tak sadar kan diri.


"Kak maafin Zia hikks hikks, Zia cuman senang bangat tadi Kak hikks. Zia gak sengaja hikkss, bangun lah kak!" Zia terus saja menggoyangkan tubuh Dev, namun sayang Dev tetap tidak bangun.


"Kak Dev bangun! Hikss hikss, Kak jangan ninggalin Zia." Zia berhenti menggoyang kan tubuh Dev, sekarang ia hanya memeluk Dev yang sedang pingsan. Dan Zia terus saja menangis.


"Kak, Zia mohon bangun lah! Hikkss hikks," ucap Zia sambil menangis sejadi-jadi nya.


Dev tersenyum saat melihat Zia yang begitu takut kehilangan nya, ia pun membuka mata nya untuk mengakhiri drama nya. Dev membalas pelukan Zia dan mengelus kepala istri nya dengan lembut, hal itu membuat Zia sangat terkejut dan segera bangun untuk melihat Dev.


"Kenapa hmm? Takut bangat kehilangan Kakak ya?" tanya Dev sambil menghapus air Zia.


"I -- iya Zia takut bangat," balas Zia sesugukan karena habis menangis.


"Ciiee yang takut kehilangan," ucap Dev becanda.


Bugh!


Sebuah bantal melayang ke wajah tampan Dev.


"Orang udah panik, Kakak malah becanda," ucap Zia kesal karena Dev malah becanda.


"Hhhhe maaf Sayang, Kakak tadi cuma ngeprang kamu," ungkap Dev jujur. Mendengar kata (prang), seketika membuat emosi Zia meluap-luap.


"APA! NGEPRANG! ORANG UDAH PANIK GINI, TERNYATA CUMA DI PRANG?" tanya Zia sambil menekan setiap kata-kata.


"Aku gak mau bicara sama Kakak!" ucap Zia seraya melipat kedua tangan di dada nya, dan berjalan menjauhi Dev.


"Sayang plis jangan marah," bujuk Dev sambil mengejar Zia, namun Zia tetap berjalan tanpa memerdulikan Dev.


Grep!


Dev berhasil menangkap Zia dan memeluk nya dari belakang.


"Sayang ... Maafin Kakak ya," bujuk Dev namun Zia hanya menggeleng.


"Yaudah deh, kalo gitu Kakak mati beneran aja," ancam Dev sambil melepas pelukan nya.


"Jangan, karena Zia sayang sama Kakak," lirih Zia sambil memeluk Dev dari belakang dan menangis mendengar ucapan Dev.


Dev berbalik dan menatap istrinya yang menangis, ia segera menghapus air mata nya dan memeluk nya erat.


"Sayang ... Maafin Kakak ya karena Kakak udah ngerjain kamu," ucap Dev sambil mengelus kepala istrinya, Zia hanya mengangguk cepat namun air mata nya tak berhenti mengalir. Entah mengapa meskipun Dev cuma pura-pura, tapi ia sangat takut jika harus kehilangan suami nya.


"Kak ... Jangan ninggalin Zia ya hikkss hikks," isak Zia di pelukan Dev. Dev pun menjadi sangat iba kepada istri nya saat melihat Zia menangis akibat ulah nya.


"Iya Sayang, Kakak gak akan pernah ninggalin kamu dan Kakak janji akan terus membahagiakan kamu. Sekarang jangan nangis lagi ya, Sayang ku," ucap Dev menenang kan istri nya. Zia mengangguk dan berhenti menangis, lalu mereka pun bersiap-siap karena sebentar lagi mereka mau jalan-jalan.


Bersambung ....