Good Night New York

Good Night New York
Sepatu Merah Muda



~CELENGAN RINDUNYA SUDAH PENUH? JADI GIMANA? PUNYA CELENGAN LAIN?~


Cahaya matahari menyorot tepat ke wajahku. Lagi dan lagi. Aku mendapati diriku tengah duduk di sudut kamar. Entah aku pun bingung. Tiap kali bermimpi buruk, pagi nya aku tersadar dan telah berada di sudut. Anehnya, kepalaku selalu ku sandarkan ke tembok pemisah apartemen ku dengan Deffa. Untunglah aku mengigau tak terlalu parah. Hanya duduk di pojokan bukan mandi ditengah malam. Kan serem kalau sampai mandinya di temenin Kunti.


Setelah kejadian 4 tahun yang lalu, Deffa mengajakku untuk tinggal berdekatan. Ia khawatir aku lebih mudah ditemukan oleh Wisnu. Segala cara ia lakukan. Mulai dari mengganti nama, merahasiakan identitas dan banyak lagi. Oh iya, namaku sekarang di kenal dengan Leonita Putri. Deffa menghapus nama Angel dari publik. Aku pun mengganti akun media sosial dan nomor telepon.


Ku pikir saatnya membuka lembaran baru. Sudah seharusnya melupakan apa yang harus dilupakan. Terdengar menyakitkan kan? Tapi mungkin sudah menjadi takdir ku.


******


Hari ini aku tak berangkat dengan Deffa, karena ia ada meeting bersama klien di Chicago. Sebenarnya Deffa berat melepas ku sendirian di rumah sakit, tapi karena keperluan pekerjaan mau tak mau ya harus mau.


Pagi-pagi di rumah sakit aku sudah disuguhkan dengan sapaan hangat dari para pekerja. Mereka memancarkan senyum di setiap kegiatan. Walaupun mereka tahu bekerja di rumah sakit bukanlah hal mudah. Kadang harus menghabiskan waktu untuk keluarga di rumah sakit. Bahkan sampai ada yang tak pulang ke rumah.


Setiap lorong ku lewati hingga sampailah di ruangan ku yang lebarnya 2 kali kamar apartemen. Ruangan ku ini sangat rapi, bersih, harum, dan nyaman. Pasalnya sebelum pulang kerja, aku selalu membersihkannya terlebih dahulu. Semua tertata dengan baik. Lalu aku meletakkan jas dokter ku.


Gubrak!!


" Bu, maaf saya tak mengetuk pintu dulu. Tapi ada keadaan darurat. Ada pasien yang terkena luka tusuk di bagian perutnya. Darahnya tak berhenti mengucur. Kondisinya kritis " ucap perawat yang tiba-tiba saja mendobrak pintu.


Belum sempat duduk. Aku sudah di kejutkan oleh berita buruk terkait pasien kritis. " Bawa ke ruang operasi. Jangan lupa siapkan alat-alat " sahutku cepat seraya menyarungkan jas dokter. " Baik Bu "


Aku berlari menuju ruang operasi. Sebelum itu aku sudah memberitahu perawat lain untuk menyiapkan beberapa kantong darah. Setibanya di depan ruang operasi, aku melihat seorang wanita cantik yang menggunakan sepatu hak merah muda. Aku mengabaikannya begitu saja dan langsung masuk ke dalam ruang operasi.


Pasien pria yang diperkirakan berusia 40 tahun itu tertusuk sebuah besi runcing. Darahnya berceceran dimana-mana. " Hentikan pendarahannya dulu " ujar ku cepat. Dengan cekatan aku bersiap untuk menarik besi itu dari perutnya. Aku bisa! pasti bisa! batinku meyakinkan.


" Dalam hitungan ke 3, kita tarik besinya sama-sama. Oke? "


" Tapi dok... sangat berbahaya, "


" Kita harus yakin. Gak ada waktu lagi untuk potong pake alat "


" Dok... tapi... "


" Satu... dua.... tiga "


Srttt!


Akhirnya besi itu berhasil ku keluarkan dari perut pasien. Seorang perawat pria tersenyum padaku. Ia merasa lega karena bisa melewati masa-masa menakutkan ini bersama. Detak jantung ku kali ini tak karuan setelah mendengar monitor yang semakin melemah. Aku takut, takut tak bisa menyelamatkan nyawanya.


" Dokter.... " lirih perawat wanita.


Tit...tit...tit...


Gak! gak! jangan. Tolong bertahan sebentar. Tolong! huh...


" Siapkan defibrillator. Sekarang! "


Dengan sekuat tenaga aku terus saja menekan jantungnya, sesekali menggunakan alat defibrillator. Aku terus berusaha keras menolongnya. Tolong...


Mataku terbelalak mendengar ucapan perawat pria itu. Akhirnya setelah mengeluarkan banyak tenaga, usaha ku tak sia-sia. Alhamdulillah, batinku bersyukur.


Sekarang tahap akhir dari operasi. Proses penjahitan sebentar lagi selesai. Tapi tetap saja, walaupun operasi berjalan lancar, pasien ini tetap harus mendapat alat bantu oksigen. Dikarenakan ia kehilangan banyak darah dan kesadaran.


Dum!


" Listrik padam tiba-tiba! " teriak seorang perawat dari luar operasi.


Bagaimana dengan nasib pasien ini? Nyawanya bisa terancam. Suasana menjadi kacau. Para perawat mulai gelisah ketakutan. Bahkan salah satu dari mereka menangis melihat pasien kejang-kejang. Kakiku kembali gemetaran. Aku hanya bisa mematung dalam kegelapan.


" Gak...jangan....to...long.. " lirihku yang sudah tak sanggup berdiri.


" Dokter Leoni... Dokter! dokter pasien mengalami kejang. Dokter.... " ucap perawat yang sudah tak terdengar lagi oleh telingaku.


Pandangan ku mulai kabur, begitu juga pendengaran ku yang mulai menurun. Aku hanya bisa menyaksikan pasienku yang kejang tinggi. Bahkan kedua kakiku tak sanggup lagi menopang tubuh ini.


Semua perawat membawa keluar pasien dari ruang operasi. Mereka berniat memindahkan pasien itu ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan tabung oksigen. Aku tertinggal dalam gelapnya ruangan. Sendirian dengan posisi merangkul kedua dengkul ku. Isak demi isak ku tahan agar tak terdengar oleh siapapun. Kenapa menjadi dokter begitu menyiksa? Aku merasa gagal.


" Ma...af hiks... Maafin aku yang gagal. " gumam ku diiringi dengan isak tangis.


Dokter memang bukan Tuhan. Mereka hanya membantu dalam proses penyembuhan. Tapi takdir sehatnya seseorang? hanya ada di tangan sang Illahi. Ada yang semulanya sehat-sehat saja, tapi ia mati kemudian hari. Dan ada yang sakit-sakitan tapi ia bertahan sampai kemudian hari pula. Para dokter hanya berusaha membantu, dan sebagai manusia sudah semestinya berdoa dan meminta kepada sang kuasa. Itulah yang dinamakan balance. Dimana ada usaha pasti harus ada doa, atau sebaliknya.


Disela-sela ku menahan rasa takut, aku mendengar suara langkah kaki seseorang. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar. Aku mengamati setiap langkah demi langkah kaki itu. Walaupun keadaan yang amat gelap gulita saat ini. Suara itu berhenti berbunyi.


Aku bergumam dalam hati, " Siapa dia? apa dia ini hantu? atau seseorang yang saat ini untuk mengangkat rasa takutku? "


Karena keadaan yang sangat gelap. Aku mematung seraya mendengar suara langkah kaki itu lagi. Kali ini langkah itu semakin nyaring ditelinga. Kedua tanganku siap dengan pisau bedah yang sudah berlumuran darah. Aku tetap harus waspada siapa yang akan muncul nanti.


Detak jantung ku tak karuan. Semua bercampur aduk. Rasa takut kini masih setia menyelimuti ku. Napasku lagi-lagi tersengal. Dadaku sesak. Hampir saja aku kehilangan kesadaran.


Langkah itu berhenti. Tapi ku rasa ia berhenti tepat di depan ku. Tak berapa lama setelah langkah itu berhenti, listrik kembali menyala.


Tara!!!!


Benar saja seorang wanita tengah berada di depanku. Ia memakai sepatu hak merah muda. Persis seperti wanita yang ku temui tadi pagi di depan ruang operasi. Mataku mulai menjelajah ke atas, melihat siapa wajah yang ada dibalik sepatu ini.


" Cin.....Cindy Jung? " lontar ku setelah melihat wajah wanita itu.


" Hallo! "


*****


To be Continued ✨


Penasaran ga? Hayo kalo sudah baca jangan lupa tinggalkan jejak yaa 🖤 biar author makin semangat up. Like, komen, vote, and rate 5 🌟


#NightAndSeeU