
~JADI MANA YANG LEBIH LELAH? KAKI YANG TERUS MENGEJAR ATAU HATI YANG TERUS BERHARAP?~
Otakku seperti bom meledak. Padahal hari ini aku hanya ingin mengikuti Wisnu. Tapi malah sebaliknya. Deffa yang terus saja mengikuti langkahku pergi. Sepanjang perjalanan dia hanya sibuk mengoceh tak karuan. Apa dia tak punya pekerjaan? kenapa dia malah menguntit ku terus?
" Mr Deffa "
" Ya? kenapa tiba-tiba bicara formal "
" Saya mau ke WC. Apa masih mau diikuti? sebaiknya Mr pergi ke ruang kerja " ucapku dengan mata tajam.
Akhirnya setelah keluar dari WC tak ada lagi Deffa yang ku lihat di hadapanku. Suasana sedikit lebih tenang, emosiku sedikit lebih reda. Hah.... rasanya melegakan. Bahkan sekarang aku tak bisa lagi mendengar celotehan nya.
Kruk-kruk....
Belum lagi kelas mulai, tapi perutku sudah berbunyi nyaring. Mungkin karena emosi jadi cacing di perutku ikut berdemo meminta jatah. Padahal aku tak biasanya sarapan pagi. Ini pertama kalinya aku memutuskan untuk makan pagi di kantin. Sebenarnya aku tak ingin makan. Tapi karena ini adalah permintaan dari sang cacing, jadi baiklah aku akan makan pagi ini.
Kursi kantin paling pojok belakang adalah incaran ku. Aku lebih suka makan sendirian daripada harus diganggu oleh siapapun. Menurutku lebih tenang dan lebih nyaman. Hari ini kantin terlihat lebih sepi dari biasanya. Lebih sedikit memudahkan ku untuk mengantri makanan. " Angel kan? " ucap seorang lelaki yang sedang duduk di depanku sekarang. Dahi ku hanya menyerit tanda tak kenal dengan lelaki ini. Mataku sibuk memperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah. Kali saja aku lupa dengan orang ini. Setelah beberapa kali ku perhatikan, ternyata aku memang tak mengenali lelaki ini.
" Siapa? " (ucapku dalam bahasa Inggris)
" Kenalin, aku adik dari Dilan. Cowok ganteng sejagat raya, paling Famous di kampus Solo, Indonesia. Aku sering dibilang mirip Dilan. Haha, emang karena mukaku yang ganteng banget. Jadi wajar kan. Oh ya selain itu namaku juga mirip Dilan. Tau film Dilan kan? yang terkenal itu lho " jelasnya seraya mengelus-elus pipinya.
Tanpa sadar dari tadi mulutku hanya menganga lebar ketika dia berbicara panjang lebar memperkenalkan diri tanpa menyebut nama. Aku sedikit tak mengerti apa yang dibicarakan olehnya. Sependengaran ku dia hanya membicarakan tentang Dilan. Sebuah film terkenal di kalangan remaja. Aku menggaruk kepalaku yang sama sekali tak gatal. Bisa-bisanya sepagi ini sudah disuguhkan dengan orang yang memiliki percaya diri yang tinggi.
" Kau pasti Angel Leoni kan? yang memiliki followers lebih dari 32k itu? wah ternyata kau emang cantik. Kau anak pertama kan dari Ibu bernama Pramadhita? usiamu sekarang hampir memasuki 20 tahun? kau juga bisa silat kan? kau suka warna hijau biru, dan yang terakhir, kau pasti dari Indonesia kan? " pertanyaan nya sangat banyak sekali. Dan anehnya semua yang ia katakan semuanya benar. Kenapa dia jadi stalker yang lebih handal daripada aku?
" Iya, namamu? " tanyaku sedikit ragu.
" Oh iya hampir lupa. Sebenarnya kau bisa manggil aku Dilan, karena nama aku mirip dengan dia. Hehe "
" Jadi? namamu Dalan? atau Di....
" Toto. Namaku Toto. Nama lengkap ku Dito Armanto. Kau bisa panggil Toto " sahutnya memotong pembicaraanku.
Uhuk-uhuk.....
Es jeruk yang sedang ku seruput itupun muncrat tepat ke wajah Toto. Karena ucapan Toto tadi benar-benar membuatku kaget dan tak percaya. Huh? da...dari mana mirip Dilan nya. Mataku berkali-kali berkedip perdetik. Anggap saja namanya mirip dengan Dilan.
" Um, maaf. Tapi tadi kau bilang kau berasal dari Solo kan? berarti kau disini team editor? "
" Ehem. Iya aku editor yang yah... terkenal handal dan sangat berguna " ujarnya dengan penuh percaya diri.
Kalo dia anak editor, berarti dia...
" Ah Toto, aku boleh minta nomor hp? "
" Hmm ehem tentu aja. Emang banyak banget cewek-cewek pada minta no hp ku. Wajarlah namanya juga cowok ganteng "
" Huh? maksud ku no Wisnu. Editor Wisnu kau kenal kan? "
" Apa? berhati dingin? " aku pura-pura tak mengenal sifat Wisnu.
" Dia itu ketua editor. Dan asal kau tahu ya, hatinya sekeras es, gak pernah mau senyum di depan siapapun. Parahnya lagi, dia gak suka sama cewek manapun "
" Ha! berarti dia su...suka sama cowok? "
" Bukan. Maksud ku bukan gitu. Dia sibuk terus sama kerjaannya, dan gak pernah mau diajak refreshing. Pokonya, ah hatinya beku! kau jangan suka sama dia ya "
" Hah? su...suka? haha mana mungkin suka sama cowok hatinya beku gitu "
******
Setelah bertemu dengan stalker handal asal Solo, aku jadi bisa mendapatkan nomor Wisnu. Rasanya aku seperti kembali ke 2 tahun yang lalu. Mood ku kembali lagi. Sudah lama aku tak memancarkan wajah bahagia ini. Hanya sebuah hal kecil, tapi aku sudah merasa sangat bahagia. Semua itu berawal dari hal kecil kemudian berubah menjadi hal besar.
Mataku berkeliling melihat seisi kampus mencari lelaki dingin itu. Di pojok kanan dan kiri. Mataku tak mendapatkan sosoknya. Harus mencari kemana lagi. Oh iya! aku baru ingat. Wisnu pasti sedang berada di panggung teater. Kebetulan siang ini aku ada latihan, jadi bisa puas melihatnya.
Tampak terlihat dari kejauhan. Wajah tampan itu sedang sibuk menjelaskan secara rinci kepada semua orang yang ada di sana. Benar-benar terlihat keren. Hidung, mata dan... oh shit! Sial! sial! sial! dia menatap ke arahku. Seketika pipiku memerah seperti kepiting rebus. Pandangan ku langsung ku alihkan ke lantai aula. Mencari-cari apa yang tak ada di sana. Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki yang mengarah ke dekatku. Apa itu dia? Apa benar dia? ya ampun!
" Hei " ucap seseorang di dekatku.
BRAKK!!!
Aku menundukkan kepalaku dan sialnya lagi hp ku terjatuh ke lantai. Perlahan aku mulai mengangkat kepalaku ke atas dan melihat siapa yang sedang berbicara denganku. " Kenapa kau berdiri di sini? ayo latihan " ucap Diego memecah keheningan. Huh.... syukurlah. Ku pikir dia Wisnu.
Sekarang, aku berjalan menuju atas panggung. Siap untuk berlatih. Mengingat acara teater sebentar lagi, jadi aku harus berlatih dengan serius. Apa serius? Bagaimana mau serius, ketika mataku tak bisa diam melirik lelaki dingin itu sedang berbicara dengan eskpresi khas-nya yang datar, tanpa senyum sedikitpun.
" Hei! kau mau latihan apa nggak? kalo mau latihan ya serius! " bentak Cindy Jung yang dari tadi memperhatikanku. Dia memang senior yang seenaknya dalam melatih dansa.
Kenapa harus bertemu dia dalam acara teater ini? Ah sungguh sial!
" Maaf— " singkat ku seraya menunduk.
" Ayo mulai dari awal lagi!! " teriak Cindy Jung.
Perlahan aku mulai mengikuti irama lagu. Makin lama tempo iramanya semakin cepat. Aku sedikit kesulitan, kakiku perih. Mungkin lecet akibat sepatu pantofel. Gerakannya semakin sulit diikuti. Semua hancur.
Prakk!!
Satu tamparan keras melayang ke pipiku. Siapa lagi kalau bukan Cindy Jung yang melakukannya. " Kau pikir ini lelucon hah! acara tinggal 2 hari lagi, apa kau masih mau main-main disini! " Cindy meneriaki ku keras, hingga semua mata menatapku dengan tatapan yang sangat aneh.
Lagi-lagi. Aku tak melawannya. Hanya diam saja dan menunduk. Harga diriku serasa sudah di injak-injak olehnya. Terlihat dari sudut kiri. Lelaki itu hanya menatapku lalu pergi begitu saja.
******
To be Continued ✨
Sad gak nih?:')