
~SENJA TAK PERNAH SALAH. HANYA KENANGAN YANG MEMBUATNYA BASAH~
Sebulan telah berlalu. Aku juga sudah hampir selesai mempersiapkan diri untuk masuk kuliah. Hari ini aku memutuskan untuk ke Bandung mengambil semua barang-barang ku yang ada di kosan. Aku memilih kuliah di Amerika karena mendapatkan beasiswa dari sekolah, alasanku menerima beasiswa itu adalah agar bisa terbiasa tanpa Wisnu. Entahlah sejak kejadian itu aku jadi lebih suka menyendiri. Apalagi Wisnu yang masih kehilangan ingatannya. Hampir sebulan lebih aku tak pernah mendengar kabar dari Wisnu ataupun melihatnya. Terakhir kali hanya bertemu di rumah sakit, setelah itu aku dan dia putus komunikasi.
Memang, hubunganku dan Wisnu bisa dikatakan masih gantung. Pasalnya tak ada kata putus diantara aku dan dia. Sangat menyakitkan bagiku, harus putus komunikasi untuk beberapa waktu kedepan. Orang tua Wisnu bilang aku harus bisa memberikan Wisnu waktu untuk pulih. Ya mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Sekuat apapun aku mencoba untuk bertemu dengannya pasti hasilnya nihil.
Sifat Wisnu yang sekarang jauh berbeda dengan yang dulu. Sekarang dia lebih gampang marah dan jarang sekali berbicara. Ku rasa, es itu kembali membeku lagi setelah lama ku lelehkan. Aku harus bisa menaklukkan hatinya lagi.
Sesampai di depan kos aku langsung masuk kedalam dan mengemasi barang-barang ku. Setelah itu aku berpamitan dengan tanteku, nampaknya dia senang aku tak tinggal di sana lagi. " Jadi kau gak tinggal di sini lagi kan? " tanyanya sambil mengunyah keripik. Dengan malas aku langsung menjawab cepat dan pergi dari hadapannya " Hmm gak te " Dia tersenyum sinis mendengar jawabanku.
Jujur saja aku benar-benar muak tinggal di sana karena sifatnya. Dan sekarang aku bisa bernapas lega setelah pergi dari hadapannya. Ku lupakan sejenak tentang tanteku. Sekarang aku harus pergi ke rumah Tian untuk menitipkan sesuatu.
Tok...tok
" Eh Angel. Apa kabar? " tanyanya tersenyum.
" Alhamdulillah Yan. Eh iya aku boleh minta tolong sesuatu? "
" Tolong apa? "
" Tolong jaga Wisnu selama aku kuliah di Amerika dan tolong kasih ini ke Wisnu kalo ingatan dia udah kembali " ucapku seraya memberikan kotak kepada Tian.
" Kau kuliah di Amerika? Hmm oke Njel pasti bakal aku kasih " sahutnya tersenyum.
Aku langsung pergi meninggalkan Tian sendirian. Dan harus kembali lagi ke Solo untuk mempersiapkan keberangkatan ku ke Amerika. Sekitar jam 20.10 pesawat ku sudah harus lepas landas. Jadi aku harus cepat sampai di bandara Jakarta.
Jalanan di sekitar sekolahku terlihat sepi. Semuanya masih terlihat sama seperti dulu. Tak ada yang berbeda. Sejenak langkahku terhenti ketika melihat keadaan sekolahku. Banyak sekali kenangan di sana, hampir semuanya ku rindukan. Di depan pagar, aku ingat dulu aku sering sekali memberi sapaan selamat pagi dengan Pak satpam. Aku berjalan sedikit maju. Terlihat ada sebuah caffe tempat Wisnu dulu sering memesan kopi di sana dengan Tian.
Sontak aku tertawa setelah mengingat aku pernah berhenti sejenak melihat Wisnu berada di dalam caffe itu. Pertama kalinya aku kenal dengan Wisnu dan itu adalah awal dari sebuah kisah ku dengannya. Aku terus melanjutkan langkahku ke depan. Dan berhenti lagi ketika mengingat pernah berteduh di toko karena hujan. Di situlah saat Wisnu datang membawakan ku payung agar aku bisa pulang. Aku berpikir sejenak untuk melupakan kenangan itu kemudian melanjutkan perjalanan menuju Solo.
Tepat pukul 17.20 aku sudah berada di bandara Jakarta. Hanya membawa dua koper dan sisanya akan dikirim melalui paket saja. Suasana bandara sore ini cukup ramai. Banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang di sana. Bisa dibilang cukup padat, Napas ku cukup sesak karena sempitnya ruang.
BRUUKK!!
Tiba-tiba aku terjatuh karena disenggol oleh seseorang. Koperku jatuh berserakan di lantai, tiket dan pasporku hilang dari genggaman tanganku. Aku panik bukan main. Sekitar 40 menit lagi pesawat ku akan lepas landas. Haduh pasporku hilang gimana nih pesawat ku sebentar lagi harus berangkat batinku panik.
Mataku mencari-cari ke sudut-sudut bandara dengan posisi merangkak. Hanya kaki-kaki para pejalan yang terlihat di sana. Terus saja aku melirik ke sana dan kemari mencarinya. Tapi tetap saja aku tak menemukannya.
" Permisi. Angel Leoni Pramadhita? " ucap seorang lelaki di depanku. Aku tersentak dengan ucapan lelaki itu. Ha? kok dia tau sih namaku? batinku kaget. Ragu tapi pasti aku mengadah ke atas untuk melihat siapa lelaki yang menyebut nama lengkap ku tadi.
Dahi ku menyerit tanda tak percaya siapa yang ada di depanku sekarang. Aku melamun melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. " Kau? wanita yang waktu itu di kereta kan? " tanyanya membuyarkan lamunanku. Dengan cepat aku berdiri dan membersihkan celanaku yang sedikit kotor.
" Ehem-ehem. Iya betul " sahutku seraya memainkan alis naik turun. " Oh untunglah aku gak salah orang. Ini paspor dan tiket mu " ucap lelaki itu yang tak lain adalah Deffa, lelaki yang waktu itu ku temui di kereta. Aku langsung merampas yang ada di tangannya dan menunduk sebagai tanda terima kasih.
" Hmm terimakasih. Kalo begitu aku duluan " sahutku cepat lalu berjalan meninggalkannya.
" Ehh tunggu-tunggu. Kau akan berangkat ke Amerika juga? " tanyanya lagi.
" Iya. Kenapa kau bisa tau? "
" Hehe. Maaf tadi aku gak sengaja membaca tiket keberangkatan mu " sahutnya seraya menggaruk tengkuk lehernya.
" Oke. Aku duluan " sambar ku cepat.
" Eh tunggu-tunggu " panggilnya lagi.
" Eh itu anu hmm. Aku juga berangkat ke Amerika. Aku boleh duduk disebelah mu? " tanyanya sedikit ragu.
Lah kok bisa sama sih? Tapi semoga aja gak satu universitas batinku kesal. Aku sedikit lama menjawab tapi akhirnya aku hanya mengangguk seraya berjalan meninggalkannya. Dia tersenyum dan membuntuti ku dari belakang.
" Eh sini biar aku aja yang tarok barangnya. Kau duduk aja " ucapnya membantuku memasukkan barang. Deffa memang lelaki yang tampan dan berlesung pipi. Sangat manis jika dia sedang tersenyum. Rambutnya sangat tebal tapi tertata rapi ditambah hidung yang sangat mancung. Aduh para wanita mungkin sudah jatuh cinta jika melihat wajahnya.
Sesekali aku melirik dia yang duduk di sebelahku sambil mendengarkan musik dengan earphone. Batinku meronta-ronta Masha Allah, ni orang kalo di liat lama-lama ganteng banget haduh. Hidungnya mirip prosotan anak TK alisnya tebal, bibirnya merah dan....
Sontak mataku langsung menatap langit malam dari dalam jendela pesawat ketika dia mengetahui bahwa dari tadi aku memandanginya.
" Ada yang salah? " tanyanya menyentuh pundak ku.
" Hah? gak kok gak ada " sambar ku cepat lalu mengalihkan pandangan. Dia mengangguk dan lanjut mendengarkan musik.
16 jam dari Jakarta menuju Amerika Serikat bukanlah sebentar. Sepanjang perjalanan aku suntuk sekali dan sudah pasti merindukan seseorang yang tak merindukanku. Bukan ingin menghindar karena dia hilang ingatan. Hanya saja aku ingin menenangkan diri untuk beberapa waktu. Aku takut jika harus bertemu dengannya terus-terusan. Takut tak bisa menahan diri dan akhirnya memaksa dia agar mengingat ku. Butuh waktu lama untuk mengembalikan ingatannya. Apalagi saat ini kondisinya yang tak memungkinkan untuk ditemui.
Sudah pernah ku coba untuk membantunya mengingat semuanya. Tapi itu hanya membuat kepalanya sakit dan akhirnya harus disuntik agar bisa meredakan rasa sakit. Aku tak tega jika harus terus-menerus memaksanya. Jarum suntik itu yang membuatku akhirnya menyerah. Bukan perihal menyerah tak mau membantunya lagi. Tapi perihal ada waktu yang benar-benar tepat untuk dia bisa kembali seperti dulu.
Malam yang dingin ini ku lalui dengan pasti. Ku senderkan kepalaku di kursi pesawat dan sejenak merendamkan rasa kantuk. Lama-kelamaan aku terbuai dalam tidurku. Rasanya tak sanggup lagi menahan semua kantuk yang ku jaga dari tadi.
Bruk! bruk!
Sudah lebih 3 kali kepalaku jatuh dari senderan kursi. Mungkin memang aku yang sangat lelah sampai-sampai harus bisa mencari posisi yang enak saat tidur.
______
Tepat pukul 04.00 pagi aku terbangun karena mendengar suara berisik di telingaku. Perlahan kubuka mata lalu bermaksud untuk mengangkat kepala " Aduh. Kenapa kepalaku berat pas diangkat? terus kok rasanya nyaman? " gumam ku pelan. Bola mataku ku paksa untuk menengok ke atas. Dan benar saja ada kepala diatas kepalaku. Rupanya aku tertidur di pundak Deffa dan kepalanya tertaruh diatas kepalaku. Dia juga memasangkan headset ditelinga ku. Pantas saja ada suara DJ sepagi ini. Dia mengganti earphone nya menjadi headset agar lebih mudah di pasang.
Ya ampun! kok bisa sih aku tidur dipundak dia. Untung dia belum bangun batinku menahan malu.
" Huaah " sontak aku langsung pura-pura tidur ketika mendengar suaranya. Tiba-tiba dia menguap dan sedikit membuka matanya. Dia melirik kearah jam tangan miliknya lalu menatapku yang sudah berubah posisi tidur. Sedikit senyuman manis darinya ketika dia melihatku menyenderkan kepala di jendela pesawat.
Ssstt
Eh dia mau ngapain? kok kepalaku ditarik sih?
Kepalaku dipindahkan keatas pundaknya lagi. Lalu dia memasangkan ku headset lagi seraya berbisik " Pake ya suara mesin pesawat berisik nanti malah ganggu tidurmu. Lagunya udah aku ganti " bisik nya pelan. Detak jantungku berdegup kencang dari biasanya. Mataku tetap terpejam hanya saja jantungku rasanya ingin sekali meletus saat ini. Ingin sekali aku bangun dan tiba-tiba teriak di telinganya " Woii aku tu gak tidur. Aku juga bisa denger! "
Ku simpan niatan ku itu. Kini suara musik mulai membuatku kembali mengantuk dan akhirnya aku memilih tidur daripada harus bertengkar dengan rindu yang tak kunjung henti. Bagiku tidur adalah salah satu alternatif untuk menghilangkan semua beban pikiran dan perasaan sedih. Perlahan tapi pasti, kini aku sudah mulai terlelap dalam tidur. Dengan posisi yang sangat nyaman dan lagu yang sangat cocok untuk tidurku.
🎶 Tidurlah, selamat malam, lupakan sajalah aku
Mimpilah dalam tidurmu, bersama bintang
Lupakan diriku, lupakan aku
Mimpilah dalam tidurmu, bersama bintang
Oh... 🎶
To be Continued ✨
Tidur dulu yok author ngantuk nih kagak tahan bet haha. Besok author up lagi kok santuy aja. Asalkan para reader like komen and vote yaa 🖤 matur nuhun pisan nyak :)