Good Night New York

Good Night New York
Memberantas



~MENGAPA TERANG TERASA SULIT TERGAPAI? SEDANG LUKA BEGITU MUDAH KU GENGGAM~


Setelah meninggalkan Wisnu begitu saja, aku berniat mengunjungi Deffa. Bagiku saat ini satu-satunya cara adalah mengirim Wisnu pulang ke Indonesia. Bagaimana pun caranya aku akan mengirimkan nya pulang.


" Deff. Pokoknya aku mau ngirim dia pulang! gak mau tau. Apapun caranya! " cetus ku pada Deffa.


" Iya-iya. Nanti aku usahain " sahutnya seraya mengunyah sepotong roti.


Sebuah cafe dekat dari kampus menjadi tempat perbincangan hangat ku. Suasananya sangat ramai tapi tenang. Sambil ditemani secangkir kopi panas dan roti coklat.


Disela-sela perbincangan, aku teringat akan kamera pengintai di apartemen Wisnu tadi. Kenapa tak ku lacak saja? jadi aku bisa bertemu orang suruhan Cindy itu.


" Deffa. Kau mau bantu aku gak? " tanyaku bersemangat.


" Apa? kalo susah aku gak mau " celetuknya.


" Nikahin aku! " lontar ku padanya.


BYURRRR!


" Uhuk-uhuk! Apa-apaan kau ini? gila kali! tiba-tiba minta dinikahi. Terus Wisnu? " sahut Deffa terkejut.


Aku mengelap air yang muncrat akibat ulah Deffa tadi, lalu menjelaskan semuanya secara detail. Sebenarnya aku tak mau melakukan hal gila ini. Tapi demi keselamatan Wisnu, aku akan melakukannya. Setelah Deffa mendengar semuanya, ia baru paham. Dan setuju dengan ide gila yang ku buat.


Deffa telah menyepakatinya. Sekarang aku tinggal memutuskan hubungan ku dengan Wisnu. Apapun keputusan Wisnu nanti. Ku harap kali ini dia mau melepas ku. Saatnya membiarkan ia hidup tenang tanpa beban. Bagiku aku bukanlah wanita yang cocok untuk lelaki sepertinya.


Dentuman jam tangan terus berbunyi dan menunjukkan pukul 13.25 waktu setempat. Karena hari yang semakin sore, aku pun memutuskan pulang bersama Deffa.


Sesampainya di parkiran apartemen, aku melihat pria bertopi hitam tadi pagi sedang berjalan menuju lift. Pria itu memasukkan kedua tangan di sakunya. Wisnu! batinku cepat.


" Deffa! pria itu datang lagi. Di...dia tadi masuk ke lift. Pasti mau ke apartemen Wisnu " ucapku panik.


Deffa terhanyut keadaan. Ia sontak keluar dari mobil dan berlari menuju lift. Sedangkan aku memilih menaiki tangga manual. Karena keadaan lift yang ramai di jam segini, tak memungkinkan sampai dengan cepat.


Dengan keringat yang mengucur deras. Aku tetap kuat berlari menaiki satu persatu anak tangga. Walaupun saat ini napas yang ku miliki perlahan memudar. Hanya tinggal 3 tangga lagi, aku bisa sampai di apartemen Wisnu.


Setelah sampai. Aku melihat pria itu dari kejauhan sedang menempelkan sesuatu di pintu apartemen Wisnu. Aku pun berlari mendekati pria itu. Sadar ada yang datang ia pun menjauh dari pintu. Tapi aku terus mengejar pria itu.


Hingga jarak antara aku dan pria itu hanya sejengkal. Saatnya aku menendang punggungnya dari belakang.


BRUUKK!!


Pria itu tersungkur ke lantai balkon. Ia merasa kesakitan, tapi terus berusaha berdiri.


" Siapa kau? Kenapa ada di depan apartemen Wisnu? tadi pagi pun kau juga berada di sana " tanyaku penuh amarah.


Bukannya menjawab pria itu malah menyodorkan sebuah pisau tepat didepan wajahku. Suasana semakin memanas. Sedikit demi sedikit aku mundur menjauhi pria itu yang semakin mendekati ku dengan pisau. Ia terus saja bungkam. Seluruh wajahnya tertutup masker. Hanya mata yang bisa ku lihat saat ini.


" Argh! " teriakku ketika sadar sudah berada di ujung balkon.


Diam-diam aku mengirimi pesan pada Deffa. Kelihatannya pria ini mudah diolok-olok. Jadi aku mencoba mengalihkan perhatiannya. " Huh... Deffa! " panggilku seraya melambai tangan. Alhasil pria itu melirik ke belakang. Dan tanpa ragu aku menendang pisau itu dari tangannya. Pisau terpelanting cukup jauh.


Saat pria itu mencoba berlari mengambil pisau, aku dengan cepat memberinya hadiah. Yaitu tendangan yang paling ku sukai. Hu so Twi, salah satu tendangan memutar penuh dalam perguruan ku. Tendangan ini sangat ampuh dan cukup mematikan. Yes! sasaran ku tepat sesuai prediksi. Tendangan yang kuberikan tadi, mengenai kepalanya dan membuat ia tersungkur ke samping. Ia cukup oleng dan hampir saja terjatuh dari atas balkon. Cepat ku tarik ia dan menjatuhkannya ke lantai balkon.


Pria itu pingsan. Setelah kehilangan kesadarannya, aku pun berkesempatan langsung membuka masker dan topi yang ia kenakan. Hah! betapa terkejutnya aku melihat pria dibalik topi hitam itu. Perlahan aku mundur menjauh dari pria itu. Pandangan ku masih tertuju pada wajahnya yang sama sekali tak asing lagi.


" Angel! " teriak Deffa dari belakang.


Merasa punya kesempatan untuk menggali informasi, Deffa pun mengikat Diego di tiang balkon dengan tali. Sebelum Diego sadar, aku dengan cepat menyelesaikan ikatan tali di kaki dan tangannya.


Setelah 20 menit menunggu. Akhirnya Diego sadar. Raut wajahnya sedikit berbeda dari biasanya. Ia terlihat sangat pucat dan ketakutan. Keringat di dahinya mengucur deras.


" Siapa yang nyuruh kau menguntit Wisnu? " tanya Deffa dengan kedua tangan dilipat di dada.


Diego diam dan menundukkan kepalanya. Ia bungkam soal siapa yang memperkerjakan nya.


" Huh...digaji berapa kau sampai rela melakukan hal bejat ini hah? " tanya Deffa lagi.


Diego tetap diam dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Karena kesal melihat tingkah Diego yang mengulur-ulur waktu, aku pun langsung menarik kerah baju Diego.


" Kenapa kau menguntit Wisnu ha? Berapa banyak Cindy membayar mu? Apa kau bangga jadi orang jahat! " teriakku penuh amarah.


" Huh... hahahaha. Haha " Diego tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ku barusan.


Dahi ku menyerit. Kenapa dia malah tertawa? apa perkataan ku barusan sangat lucu? Apa itu terdengar seperti lawakan?


Diego menatapku tajam. Garis bibirnya tak kunjung mengendur. Ia terlihat puas melihat wajahku yang penuh dengan kebencian.


" Kau salah " ujarnya cepat.


Apa yang salah?


" Bukan Cindy yang menyuruhku melakukan ini. Dia sama sekali gak terlibat. Tebakan mu salah. Kau keliru Angel " tegasnya lagi.


Bukan Cindy? lalu siapa yang melakukannya?


Deffa melirik ku, seakan bertanya-tanya. Siapa orang itu? Sedang aku, hanya diam mematung dan berfikir keras. Aku pun tak tahu siapa orang yang menyimpan dendam padaku, selain Cindy.


" Apa kau tau? orang itu selalu memperhatikanmu Angel. Orang yang dulu pernah kau patahkan hati nya. Dan kau kecewakan, karena kau lebih memilih Wisnu dibandingkan dia " jelas Diego.


Apa mungkin? dia?


Kedua tanganku mengepal kuat setelah mendengar penjelasan Diego. Ibra? apa dia? Aku menatap Diego dengan tatapan tak percaya.


" Ibra " singkat Diego memberitahu ku.


Deg!


******


Trailer episode selanjutnya :


Author POV


Angel bertemu dengan Ibra di jembatan New York. Mereka membuat sebuah perjanjian tertulis. " Ingat! kau harus menepati janji Angel " ujar Ibra.


Wisnu terlihat bahagia setelah mengajak Angel makan


disebuah cafe dekat dari kampus. Mereka berbincang hangat. Namun saat itu sifat Angel berbeda dari biasanya. Ia dingin dan tak banyak bicara. " Wisnu. Kayaknya kita harus putus "


To be Continued ✨


Mohon maaf author jarang banget up nya 😭. Lagi ada masalah di dunia nyata soalnya :") Tapi novel ini bakal tetap berlanjut ya sampai tamat. So, pantau in terus 🖤 itu juga udh author ksih cuplikan next episode yaa 🤗 selamat menunggu episode:)