
~SAAT INI AKU SEDANG BERADA DI TITIK YANG SERBA SALAH. INGIN MELANGKAH TAPI RAGU, HENDAK MUNDUR TAPI TAK MAU. YA SUDAH MENDING TIDUR~
Aku termenung dalam duduk ku. Sore ini hanya ditemani secangkir kopi panas dan musik rock yang ku putar untuk menghilangkan rasa galau ini. Kok musik rock? kaga nyambung!
Pandangan ku terus saja menatap luar yang berhadapan langsung dengan jalan raya. Suasana apartemen di sore-sore begini memang sangat ramai. Ditambah lagi tukang pempek kapal selam yang berkeliling kota New York. Selain suka memandangi suasana luar, aku biasanya juga suka memandangi tembok besar China. Eh maksudnya tembok pemisah antara apartemen ku dengan apartemen Wisnu.
Kelihatannya ia belum pulang. Karena belum terdengar suara ia membuka pintu apartemennya. Otakku semerawut, teringat kata-kata Wisnu tadi. Hari kepulangan Wisnu ke Indonesia sama halnya dengan aku pulang dengan Ibra. Walaupun sekarang aku dan Wisnu resmi berpisah. Tapi tetap saja, perpisahan ini sangat tak adil. Kenapa begitu? Yah... aku harus berpisah dengan cara berbohong padanya.
Jujur, dulu di SMP aku terkenal fak girl atau bisa di bilang buaya betina yang kerjaannya gonta-ganti motor, eh pacar. Tapi semenjak dua menjak kenal Wisnu, aku sudah insyaf. Hati ini terus saja menetap dengan lelaki berhati es batu ditambah serutan timun dan selasih, Wagelaseh! Mungkin karena umur. Aku lebih dewasa dalam hubungan.
Ditengah sibuk berhalusinasi, handphone ku berbunyi nyaring. Rupanya Deffa mengirimkan pesan suara.
" Omaya... O...ma...ya.... "
Setelah mendengar pesan suara Deffa, ku pikir ia lupa meminum obatnya tadi pagi. Sehingga jiwa pcycopat nya muncul mendadak di sore hari.
Kling!
Satu pesan suara lagi masuk. Tak lain dan tak bukan itu dari Deffa. Setelah berpikir 1000 kali, akhirnya aku memilih mendengar pesan itu dengan menggunakan headset.
" Misi beres boss. Semua udah di atur sesuai rencana, tinggal nunggu tanggal mainnya. Oh iya lupa ngomong sesuatu. Mmm...... Love you! "
Mataku terbelalak mendengar ucapan terakhir Deffa. Aku sontak tertawa menahan geli. Bisa-bisanya dosen muda itu melawak disela-sela kegalauan ku ini.
Telinga ku menangkap bunyi dari luar apartemen. Suara apa? kambing minta nyusu? bukan! itu suara langkah kaki Wisnu. Dengan cepat aku pun meloncat dari atas kasur menuju luar.
" Wisnu! " panggil ku menghentikan langkahnya.
Wisnu berdiam diri di depan pintu apartemen. Sesaat setelah itu, ia berbalik menatap dengan tatapan kosong. Memang bukan rezeki ku. Entah kenapa mulut ini terasa berat untuk mengucap sepatah kata. Aku lupa! benar-benar lupa ingin berkata apa. Ia terus saja menunggu ku berbunyi. Dasar pikun! udah saat-saat kayak gini malah lupa
Mataku beradu tatap. Ia menatap tanpa berkedip perjam, persekon, bahkan perdetik sedikit pun. Huh.... aku tak sengaja menghela napas. Mendengar dengusan ku ia langsung memalingkan wajahnya.
" A...a...a...a...a.... "
Ucapan ku terus saja gagu. Aku bingung sekaligus lupa. Gini nih kalo sarapan cuma sama roti gosong.
" Kalo gak ada yang mau di bicarain, aku pamit " tegasnya.
" Ya " ceplos ku tiba-tiba.
Ha? apa tadi? kok aku jawab ya. Eh **** serius! ini otak kenapa konslet tiba-tiba. batinku meronta.
Padahal ada banyak kata yang ingin aku sampaikan. Tapi nampaknya waktu sedang tak berpihak padaku. Ya sudahlah, mungkin aku harus berpisah tanpa salam.
*****
Malam ini terasa sangat dingin, beda dari biasanya. Sedang aku merasa menggigil hebat karena tengah duduk bersama Ibra dalam satu mobil. Aku menuju bandara untuk pulang ke Indonesia. Pasti ibuku akan kaget setengah mati mendengar keputusan ku menikah diusia muda, tanpa melanjutkan perjalanan panjang.
" Kalo udah sampe nanti, kita langsung urus surat nikah ya. Aku gak sabar " ujar Ibra bersemangat.
Dasar otak 21+ pikirnya nikah hanya untuk kesenangan. Heran, ibunya dulu ngidam apa ya? sampai-sampai anaknya berwujud Manusia setengah serigala. Auuuuuu!
Di tengah perjalanan yang sangat sepi, mobil berhenti mendadak. Dan membuat kepalaku terhentak keras. Apa mungkin mamang bakso yang menjegat kami? karena si Ibra lupa bayar? Pikiranku mengandai-andai. Rencana B kan belum dikerahkan, kok sudah ada rencana A?
" Turunin Angel sekarang! " balas Wisnu kencang!
Lho kok Wisnu tau rencana Ibra? siapa yang beri tau? batinku penuh tanya.
Ibra turun dari mobil dengan pistol di saku jaket nya. Karena panik, aku langsung memencet bel rencana B dan bergegas turun dari mobil.
" Jadi ini yang bikin Aku sama Angel putus? rencana rubah licik ini? " tanya Wisnu dengan nada meninggi.
Aku terdiam dengan pertanyaan yang di lontarkan nya. Kali ini tatapan nya seakan ingin mengoyak usus ku menjadi 12 potong.
" Wisnu, bukannya kau mau ke Indonesia? kok masih disini? " tanyaku mengalihkan pembicaraan.
" JAWAB ANGEL JAWAB!! " bentaknya hingga membuatku semakin gugup.
" Jangan jadi benalu di antara kami. Minggir atau ku tembak? " tawar Ibra pada Wisnu.
Kaki ku semakin gemetaran. Sulit sekali untuk berdiri. Sekeliling ku penuh dengan pistol yang ditodongkan ke arah Wisnu. Untuk saat ini aku benar-benar takut. Lebih takut ketimbang diajar oleh guru killer.
Wisnu memaksa lari ke arahku, yang jaraknya sekitar 2-3 meter. " Jangan kesini Wisnu! jangan lari kesini!! to...long! " lirih ku diiringi tangis. Wisnu tak menggubris perkataan ku ia terus berlari.
Dorrr!!!
BRAKK!!
Pelatuk itu akhirnya berbunyi. Napas ku tersengal-sengal dan air mataku pecah melihat banyak darah di sekujur tubuhku. Seluruh tubuhku gemetar menahan duduk.
" Angel! Angel!! huh..... Angellll!!!!! " pekik suara khas milik Wisnu.
Akhirnya Deffa berhasil menjalankan rencana B. Ia lebih cepat dari yang ku kira. Menarik Wisnu keluar dari rencana Ibra.
" Kenapa kau menarik ku keluar hah!!! kenapa bukan Angel yang kau selamatkan breng*ek! " Wisnu terus saja mengamuk pada Deffa dan memukulinya hingga Deffa terjatuh ke tanah.
Tak berapa lama polisi dan ambulance datang secara bersamaan. Karena tahu Ibra dan anak buahnya akan kabur, aku telah menyiapkan polisi di setiap sudut kota New York.
" Angel! Angel! tahan sebentar " Wisnu menggenggam erat tanganku.
Aku menatapnya dengan tangis yang sudah pecah sejak tadi. " To...long pulang lah ke Indonesia. Hiduplah tenang " ujar ku seraya melepas genggamannya.
" Gak, gak! huh....aku gak mau! Angel... " lirihnya pelan.
Aku terbaring di ranjang menuju rumah sakit. Sedangkan anak buah Deffa tengah memaksa Wisnu pulang ke Indonesia. " Jangan paksa aku!! " teriaknya memberontak. Tapi mereka dengan cekatan, menyuntikkan obat bius dengan dosis tinggi pada Wisnu, yang akhirnya membuat Wisnu pingsan untuk waktu 4 jam.
Inilah akhir kisah ku dan Wisnu yang harus terpisah di New York. Untukmu Wisnu, Selamat malam dan untuk negara yang saat ini ku pijakan Good night New York.
******
To be Continued ✨
Like komen vote and rate 5 🌟:)