
~TANGISAN ADALAH CARA MATA UNTUK BERBICARA. KETIKA MULUT TERBUNGKAM TAK SANGGUP UNTUK MENJELASKAN BETAPA HANCUR HATI INI~
Sekitar 1 jam setengah aku tak sadarkan diri. Aku tersadar ketika ada seseorang yang menggenggam erat tanganku. Dia adalah Vina sahabatku dan sahabatku yang lainnya. Mereka ada disini menemaniku. Mereka adalah penguat ku saat ini.
" Alhamdulillah, Angel sudah sadar " Ucap Vina tersenyum melihatku.
" Wisnu? " Sahutku lemah.
" Tenang Njel, dia udah di UGD kok operasinya berjalan lancar. Tapi belum sadarkan diri " Sahut Ziah menenangkan.
Aku cukup tenang mendengar kabar tentang operasinya yang berjalan lancar. Ada sedikit kesedihan di sana, pasalnya Wisnu belum sadarkan diri. Dia masih koma dan belum diketahui kapan akan sadar. Keadaannya sangat kritis dan lemah saat ini.
Aku bangkit dari tidurku untuk menemui Wisnu. Aku ingin menemaninya sampai ia sadarkan diri. " Aku mau ke ruang Wisnu. Mau nemanin dia " Ucapku seraya duduk. " Njel istirahat dulu aja, liat tu baju kau kotor karena darah. Nih ganti baju dulu ya " Sambar Eriska cepat. Aku mengangguk pelan lalu mulai mengikuti Eriska ke kamar mandi.
Setelah aku selesai mengganti baju, aku langsung menuju ke ruang UGD tempat Wisnu di rawat. Perlahan aku masuk ke dalam, dan langkahku terhenti sejenak melihat banyak selang yang terpasang ditubuhnya. Air mataku mulai berjatuhan teratur, aku tak sanggup menahannya.
Wisnu kehilangan banyak darah sewaktu kecelakaan. Dia mengalami benturan di kepala yang cukup kuat dan tangan kirinya patah. Betapa sakitnya melihat keadaannya saat ini. Ingin rasanya aku memeluknya erat.
Jika dikasih kesempatan. Aku ingin waktu diputar kembali dan saat itu aku tak ingin mengejarnya. Aku menyesal benar-benar menyesal. Ku lanjutkan langkahku untuk mendekatinya dan mulai duduk disebelahnya.
" Wisnu, ini aku Angel. Mau sampai kapan tidur? emangnya gak capek? katanya mau ketemu sama ibu aku, ayo bangun Nu! aku tau kamu kuat, lawan rasa sakitnya hiks.... " Ucapku sambil menahan tangis berharap saat itu Wisnu membuka matanya.
Tapi hasilnya nihil, 2 jam berlalu Wisnu belum sadar juga. Yang terdengar hanya suara monitor jantung Wisnu. Aku benar-benar seperti orang gila saat itu. Tiap kali aku mengajak Wisnu bicara, walaupun dia tak menjawabnya.
" Aku disini Nu nemanin kamu. Jangan lama-lama ya tidurnya soalnya kita kan mau daftar kuliah. Ayo bangun Nu " Ucapku seraya mencium punggung tangannya.
Dari arah luar tampak Vina dan yang lainnya menangis ketika melihatku yang berusaha tegar karena keadaan Wisnu. Mereka tak sanggup menahannya lagi. Rasanya baru kemarin mereka melihat Wisnu yang berencana untuk pergi ke Solo. Mereka juga yang membantu Wisnu agar bisa menemui ku.
Flashback
Wisnu POV
" Teman Angel yang mana? soalnya banyak " Sahut Tian menatapku.
" Yang kau tau lah. Aku gak hafal nama-nama mereka juga gak begitu dekat "
" Kalau rumah Ziah di lorong sebelah rumahku, rumahnya no 2 sebelah kiri cat warna putih. Emang ada perlu apa " Tanya Tian heran.
Aku menggeleng cepat sambil tersenyum lalu pergi meninggalkannya.
• Rumah Ziah
" Ziah " Panggilku dari jauh ketika melihat Ziah keluar dari rumahnya.
" Eh kau Wisnu kan? Ada apa? " Tanya Ziah bingung.
" Aku ingin tanya tentang rumah Angel yang di Solo. Tolong kasih aku alamat lengkapnya " Sahutku cepat tanpa menatap.
" Oke sebentar aku catat dulu alamat lengkap rumah Angel " Ucap Ziah tersenyum.
Selang beberapa menit Ziah memberikanku alamat rumah Angel.
" Kalau ada apa-apa langsung telpon aku aja, kalau gak telpon Vina ya " Sahut Ziah memberi saran.
" Makasih, aku permisi " Sahutku pergi tanpa mendengar jawaban Ziah.
Tunggu aku ya Njel batinku bahagia.
🍁🍁🍁🍁🍁
To be continued 😥