
~AKU MENDEKAPMU SAJA DALAM DOA SUDAH CUKUP, TAK USAH PERDULIKAN RINDU KU, BIARKAN IA SUBUR SAMPAI WAKTUNYA UNTUK TEMU~
Jam dinding tak hentinya bergerak. Bunyinya yang keras membuat pikiranku kacau. Satu sisi pikiranku menuju pada kejadian yang menimpa Wisnu kala itu. Sisi lain aku memikirkan harus lanjut atau berhenti sampai sini saja hubungan ku. Huh.... rasanya saat ini otakku mau meledak.
" Kejadian yang kemarin aneh ya. Masa bisa-bisanya lampu gantung jatuh padahal kan lagi gak ada perbaikan gedung. Kalo pun ada pasti dikasih tau ke semua mahasiswa/i " ucap salah satu mahasiswi yang duduk tepat dibelakang ku.
" Iya juga sih. Lagian masa pas banget jatuh dibawah badan editor Wisnu. Ya kan? " sahut mahasiswi lain.
Ucapan mahasiswi itu masuk akal. Tak biasanya pekerja aula lalai seperti itu. Mereka pasti memberi petunjuk kepada semua orang bahwa sedang ada perbaikan. Setelah mendengar obralan orang-orang, aku semakin penasaran dengan kejadian itu. Pasti ada maksud dibalik kejadian itu.
" Baik anak-anak semua kelas kita hari ini cukup. Jika masih ada yang kurang jelas bisa langsung hubungi saya di email. Terimakasih "
Kelas berakhir dengan cepat hari ini. Padahal hari ini adalah acara yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Tapi karena kejadian yang tak diinginkan kemarin, alhasil acara itu diundur pekan depan. Berarti aku punya kesempatan mencari tahu siapa dalang dibalik semuanya.
Sebelum aku menuju aula teater, aku memutuskan untuk ke ruangan Deffa. Mengingat Deffa seorang dosen di sana, jadi mudah bagiku untuk mendapatkan informasi dari para pekerja gedung melalui Deffa.
Tok... tok...tok...
" Gud morning Mr. Deffa " pekik ku dengan senyum yang dibuat-buat.
" Huh...mulai lagi " gumamnya sambil membuang muka.
" How are you? " tanyaku sebelum menuju ke inti.
" Ada apa? pasti ada sesuatu yang mau ditanya kan? langsung aja gak usah basa-basi " cecar nya tanpa menatap.
" Deffa, aku butuh bantuan "
Deffa dan aku berjalan menuju aula, tempat kejadian itu. Keadaannya sepi tak ada satupun orang di sana. Hanya ada seuntai garis polisi yang dipasang di pintu masuk aula. Aku menyelinap masuk dan memeriksa diatas panggung, sedangkan Deffa memeriksa dibelakang layar dan naik ke atas loteng.
Ada banyak darah dan percikan kaca di sana. Berulangkali aku mempraktekkan gerakan yang terakhir kulakukan sesaat sebelum lampu itu jatuh. Pandanganku memaku tepat disebuah sudut, arah Wisnu berlari. Tapi ada kejanggalan yang tak masuk akal. Saat itu hanya Wisnu yang tahu bahwa lampu itu akan menjatuhi badanku. Padahal ada banyak kameraman yang bertugas diatas saat itu. Oh iya! CCTV?
" Deffa "
" Angel "
Aku tak melanjutkan ucapan ku dan fokus pada benda yang ada ditangan Deffa. Ya! sebuah Anting emas. Setelah diperhatikan beberapa kali. Anting ini adalah produk keluaran terbaru di New York. Dan harganya triliunan. Bisa dikatakan ini anting edisi terbatas. Ah!
Flashback
" Kenapa kau lama banget sih? Kau pikir kampus ini punya ayahmu? seenaknya datang gak tepat. Kau tau aku ini siapa ha? "
______
Aku ingat! ya aku tahu itu milik siapa. Anting itu milik Cindy Jung.
" Deffa, ini anting punya Cindy " ujar ku yakin.
" Kau yakin? aku nemuin dibelakang panggung tepat sebelum naik tangga loteng " jelas Deffa mengejutkan ku.
" Aku paham sekarang Deff. Oh iya! kita harus cek CCTV sebelum kejadian. Siapa yang ada dibelakang panggung "
Detik berlalu, menit berlalu dan pagi pun berganti sore. Aku dan Deffa menghabiskan waktu mencari informasi terkait kejadian yang tak wajar. Makan siang pun terlewatkan begitu saja. Kami menuju ruangan CCTV dan meminta pekerja di sana untuk memeriksanya.
" Maaf kalau kalian mau memeriksa CCTV harus ada izin dari dosen kepala " ucap pekerja.
" Biar saya yang tanggung jawab. Saya asisten dosen dari Mr Agra " jelas Deffa seraya menunjukkan id card miliknya.
" Baiklah. Ini rekaman CCTV kemarin di aula teater. Silahkan di lihat " suruh pekerja itu.
" Deffa. Ke...kenapa kosong? " gugup ku seraya menatapnya.
" Em. Pak tolong kirim rekaman CCTV nya ke hp saya lewat kabel data " cetus Deffa.
" Baik "
Aku keluar dari ruangan CCTV dengan ekspresi kecewa. Tak ada bukti yang mendukung untuk menyatakan bahwa Cindy bersalah. Hanya sebuah anting tak berarti apa-apa. Aku butuh bukti yang kuat untuk menyatakannya. Sekarang jalan satu-satunya adalah menunggu Deffa melakukan pemeriksaan pada rekaman ini. Semoga saja ada sesuatu yang bisa dijadikan bukti.
" Udah aku kirim ke ahlinya Njel. Tapi masih harus nunggu sampe besok " jelas Deffa cepat.
" Huft... Makasih ya Deff udah bantuin aku "
" Iya. Eh tapi kayaknya Wisnu tau sesuatu tentang kejadian itu. Gak mungkin dia lari kalo gak ngeliat tanda-tanda tu lampu mau jatuh "
Ada benarnya yang diucapkan Deffa. Saat itu semua mata sibuk pada penampilan menarik di atas panggung. Tapi kenapa cuma Wisnu yang tahu bahwa lampu itu akan jatuh. Sekitar detik sebelum lampu itu jatuh ia sudah berlari ke arahku.
Flashback
Ting....tring... (alunan musik)
Wisnu? kenapa ia berlari ke arahku? batinku merasa aneh.
BRUUKK! (suara Wisnu mendorongku kuat sampai ke sudut layar)
BRAKK! Prang!
Kaca mulai menyebar menjadi berkeping-keping.
______
" Ayo kita ke rumah sakit Deff " ajak ku
Sesampainya di rumah sakit aku langsung berlari menuju kamar inap Wisnu. Suasananya masih seperti kemarin. Ramai dikunjungi para editor yang berjaga diluar kamar.
Pandanganku tertuju pada wajah tampannya yang terbaring diatas ranjang seraya tersenyum lebar ketika aku membuka pintu. Sepertinya ia sedang menungguku lama sejak tadi. Aku masuk dan duduk disebelahnya diikuti dengan Deffa. Keadaannya cukup memprihatinkan. Lagi-lagi tangan kanannya harus di perban karena cidera. Tapi ia menyembunyikan rasa sakitnya dengan senyum yang tulus.
" Masih sakit gak? " tanyaku pelan.
Bibir Wisnu bergerak dan berniat untuk menjawab pertanyaanku. Belum sempat ia menjawab Deffa sudah memotongnya lebih dulu.
" Hei bodoh! kau gak liat dia diperban? malah nanya masih sakit apa enggak lagi " ketus Wisnu.
" Gak udah mendingan " singkat Wisnu sambil membuang wajahnya ke kiri.
" Wisnu " panggilku pelan.
Ia menoleh ke arahku sebentar lalu beralih fokus ke arah lain.
" Kejadian yang kemarin itu aneh. Dan aku nemuin anting milik Cindy. Aku yakin kalo dia dalang dibalik ini semua. Kamu tau sesuatu gak tentang kejadian hari itu? " tanyaku hati-hati.
Sepertinya pertanyaan ku sangat berpengaruh. Ia langsung menatap wajahku dalam.
******
To be Continued ✨
Yuk kalo penasaran terus pantau next episode nya 💋 Jgn lupa like komen vote and rate 5 🌟 yaa 🖤 Tengkyuu reader setiakuuuu :)