Good Night New York

Good Night New York
Mr. Dinginku



~SETIDAKNYA AKU BELAJAR PERIHAL KATA MENGUNGKAPKAN SOAL RASA, KARENA KAMU ITU SULIT UNTUK DIAJAK BICARA.~


Deffa menghela napas lega mendengar ucapan ku. Walaupun demikian ia tetap mengoceh dan mengajakku ke ruang kepala rumah sakit. Seketika aku menjadi pusat perhatian. Berita tersebar ke seluruh kampus dan rumah sakit. Bahkan tersebar ke jejaring sosial. Lagi dan lagi mereka berkomentar buruk terhadapku.


- *Wah siapa dia? beraninya masuk ruang operasi tanpa izin kepala rumah sakit


- Untung aja tuh orang gak meninggal. Mana dia gak punya id card lagi


- Dasar cari sensasi*!


Dan beberapa komentar buruk lainnya. Aku hanya diam tak melawan semua komentar mereka. Pikirku apa pentingnya izin dari kepala rumah sakit? dan apa pentingnya id card? apa mereka tak mau melihat dari sisi yang positif?


Aku memasuki ruangan yang sudah penuhi dengan para pesohor. Tak pikir panjang aku langsung memberi hormat dan duduk di kursi yang telah disediakan. Begitu juga dengan Deffa. Mungkin ini kesekian kalinya aku dihadapi berbagai macam masalah. Bagiku bukan masalah yang berat. Jika beasiswa ku harus dicabut dan aku di kembalikan ke Indonesia, aku siap menerima semuanya.


Presdir rumah sakit telah angkat bicara, dan rapat akan segera dimulai. " Ny. Angel " panggil Presdir Jang memulai pembicaraan. " Ya Presdir? " sahutku cepat seraya sesekali menatap mata Presdir itu. " Kau tau kan apa kesalahanmu? " tegur nya lembut. Aku mengangguk pelan dan terus menundukkan kepala. Kedua tanganku saling meremas menahan takut.


Presdir berdiri dari duduknya dan berjalan mendekatiku. " Kau mengabaikan peraturan yang berlaku di rumah sakit ini. Tanpa id card, tanpa izin magang, tanpa kontrak tertulis, dan masuk ke ruang operasi tanpa sepengetahuan dokter tetap. Yahh, walaupun pasien yang kau operasi itu selamat. Tapi tetap saja. Kau... melanggar hukum yang berlaku. Aku tahu kau mahasiswi unggul di bidang bedah dan mendapat beasiswa. Karena itu, izin magang mu dicabut dan diundur 5 bulan lagi " titahnya cepat.


Semua perkataannya telah terekam di kepalaku. Terdengar jelas apa yang ia sebutkan tadi. Bahkan aku hafal tiap kata yang ia sebutkan beserta intonasi yang ia gunakan. Yah... kali ini mungkin aku harus pasrah dan menerima keputusan yang ia berikan. Tak ada kata yang bisa ku ucapkan untuk menjawab pernyataannya.


" Ah Presdir. Apa 5 bulan tak terlalu lama untuk mahasiswi beasiswa seperti....."


" Rapat selesai " singkatnya memotong bantahan Deffa.


Kenapa Deffa melakukan hal yang memalukan seperti itu. " Apa hanya orang yang punya id card yang bisa menyelamatkan nyawa orang lain!!! " bentakku tak terima.


Bentakan ku mempengaruhinya. Ia berbalik dan menatap wajahku. " Apa? " tanyanya seakan tak mengerti maksud dari perkataan ku tadi.


" Pak Presdir yang terhormat. Saya tau hukum dan aturan itu hidup berdampingan. Tapi.... orang tadi, pasien tadi, dia bisa meninggal jika tak segera ditangani. Anda bilang rumah sakit ini terkenal kan? lalu kenapa tak ada dokter yang berjaga? kenapa seorang suster tiba-tiba menarik lengan saya dan memaksa saya untuk masuk ke ruang operasi? kenapa hah? apa ada yang bisa menjawab.? Kenapa harus meminta izin? kenapa harus ada id card, dan kontrak tertulis? apa orang biasa seperti itu tak dianggap berjasa? Jika seseorang terluka di hutan dan saya....saya tak memiliki izin ataupun hal yang anda sebutkan tadi, haruskah saya membiarkan orang itu meninggal? " jelas ku dengan sedikit isak tangis.


" Heii!! apa maksud mu? berani sekali kau menentang aturan yang telah disepakati! Anak muda, ingatlah satu hal. Hutan dan rumah sakit jelas berbeda. Rumah sakit ini memiliki berbagai macam aturan yang harus dipatuhi sedangkan hutan.... "


" Ya! memang benar rumah sakit dan hutan itu berbeda tapi ini bukan tentang aturan. Tapi tentang nyawa manusia!! " sangga ku cepat.


Suasana memanas. Sebenarnya aku tak ingin melawan siapapun disini. Tapi, aku tak terima jika pendapat seseorang diabaikan begitu saja. Apa karena jabatannya yang tak sederajat, ia berhak mengabaikan bawahannya?


" Uh, maaf Presdir. Ini kesalahan saya karena tak mengajarinya aturan-aturan rumah sakit. Sekali lagi maafkan saya " ujar Deffa yang menunduk dalam.


" Bereskan secepatnya Deffa. Jika kau masih mau bekerja di rumah sakit ini " sahutnya lalu melintas pergi meninggalkan ruangan.


Deffa menatapku tajam tanpa berkata lalu pergi dari hadapanku. Kakiku melemas dan tubuhku tak kuat lagi menahan beban berat. Aku terduduk dengan kedua tangan menutupi seluruh wajah. Menyembunyikan tangis yang sudah tak bisa ku bendung lagi. Ku biarkan anak sungai itu mengalir membasahi lembutnya pipi merah ini. Rambut yang sudah terurai sejak tadi juga membantuku menyembunyikan wajah yang tampak murung.


Lagi dan lagi aku sendirian di dalam ruangan luas yang tak satupun orang di sisiku. Siapa sangka? orang yang selama ini mendukungmu, tiba-tiba pergi karena amarah yang tak sempat ia sembunyikan. Dari kejadian ini aku menyadari satu hal. Bahwa seseorang yang memiliki sikap hangat bisa berubah sedingin es kutub Utara. Tentu saja hal itu bisa terjadi pada diri manusia. Sifat manusia bisa berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada.


Seseorang datang dari arah pintu ruangan. Tak asing dan wajahnya sangat melekat kuat dalam ingatan. Seorang lelaki yang memiliki sifat dingin juga hati batu. Ia datang dan memelukku ke dalam dada bidangnya. Aroma maskulin yang menyengat membuat air mataku tak hentinya mengalir. Tetes demi tetes membasahi pundak utuhnya. Serta isak yang menyertai.


Ia mendekap dan membelaiku tanpa berkata apapun. Sama seperti dulu. Tak banyak bicara tapi ia tahu pundak itu milik siapa. Wisnu ku, lelaki ku juga Mr dinginku. Ia tak pernah berjanji apapun tapi selalu melindungi ku tanpa sepengetahuan siapapun.


Terkadang aku bertanya-tanya. Dari mana ia tahu keberadaan ku? kenapa ia bisa datang? Tapi aku sadar. Pertanyaan itu tak memiliki jawaban. Karena orang itu adalah Wisnu yang bisa berubah-ubah kapan pun.


" Aku....aku gak mau keluar dari sini. Semua orang berkomentar jelek karena aksiku tadi. Mereka pasti marah " lirihku menahan tangis.


Wisnu diam dan hanya melekatkan sebuah jaket hitam tepat di atas kepala ku. Aku bingung dan heran. Kenapa dia malah memberiku jaket? bukannya solusi?


Tangannya merangkul tubuhku untuk berdiri. Lalu ia menyodorkan tangannya. Batinku penuh tanya Untuk apa tangan ini?


" Tangan? terus jaket? maksudnya? " tanyaku karena sudah kebingungan.


Ia memalingkan wajahnya ke sembarang sudut. Dan sedikit bergumam pelan namun terdengar ditelinga ku. " Dasar bodoh "


Sebenarnya aku dengar apa yang ia gumam kan. Tapi aku malah tersenyum dengan gumaman nya.


" Genggam dan sembunyilah di dalam jaket itu sebentar " ucapnya cepat seraya menarik tanganku.


******


Dear lelaki dinginku


Aku mengenalmu tapi terkadang aku merasa seperti orang asing bagimu.


Sifat mu sulit untuk ditebak dan terkadang kau bagai teka-teki puzzle.


Potongan demi potongan harus ku cari agar bisa terhubung secara utuh.


Tak perduli seberapa keras batu itu. Karena kau punya aku.


******


To be Continued ✨


Jangan lupa like komen vote and rate 5 🌟 yaa 🖤


Dukung author terus ya reader:)


#Gomawo🧡