
~SEMAKIN KESINI AKU SEMAKIN PAHAM BAHWA RINDU ITU BUKAN TENTANG TEMU, TAPI JUGA TENTANG SESUATU YANG SUDAH TAK BISA DIULANG LAGI~
Wisnu menarik ku keluar dari cafe itu. Ia hanya diam dan menatap wajahku serius. Seakan harimau jenggala yang siap untuk menerkam mangsanya. Aku hanya menundukkan kepala ku karena tak ingin menatap matanya yang penuh dengan amarah.
" Jelasin ke aku " ujarnya santai dengan posisi tangan dilipat di dada.
" Aku gak ngikutin kamu kok. Orang aku juga mau nyantai di cafe ini, eh malah ketemu kamu. " tegas ku dengan nada sedikit meninggi.
" Jangan bohong " sahutnya tak percaya.
" Aku gak...."
" Jawab jujur " potongnya cepat.
Wisnu benar-benar tak memberiku kesempatan untuk mencari alasan. Ia tahu raut wajah Kebohongan ku. Kali ini aku memberanikan diri untuk menatap matanya. Mengingat paha ku yang melepuh karena air panas, aku terpikir untuk berakting kesakitan.
" Ah sakit. Pedih...pedih banget. Kayaknya aku harus ke dokter deh " ucapku seraya memegangi paha kiri ku.
Setelah mendengar ku kesakitan, ia langsung berputar dan meninggalkan ku sendirian. " Eh... Wisnu aku pulang sama kamu! " teriakku menahan sakit.
" Pulanglah duluan " sahutnya melangkah pergi.
" Hei! kalo kamu ninggalin aku, Kita putus. Putus sekarang! " ucapan ku berhasil membuat langkahnya terhenti.
Tubuh lelaki itu diam ditempat dan tak melanjutkan langkahnya. Ia kelihatan bingung tak tahu harus berbuat apa. Terlihat jelas bahwa ia tak mau melepaskan diriku.
" Ayo pulang " ucapnya sambil menarik lenganku.
Sebuah senyum yang penuh dengan Kirana terpampang jelas di wajahku. Hari ini aku bahagia bisa membuatnya menurut dengan perkataan ku. Siapa sangka? lelaki ini begitu romantis dengan perlakuan manisnya.
" Taksi!! " panggil Wisnu pada sebuah mobil taksi.
Loh? loh? kok taksi? bukan mobil dia? batinku tak percaya.
" Pak. Tolong antar wanita ini ke apartemen dengan selamat. Mohon bantuannya " mohon Wisnu pada supir taksi.
Ha? na....naik taksi? seriusan?
" Naiklah. Aku gak bisa antar kamu. Masih banyak proyek editing " tegasnya lagi.
Baiklah! aku tarik semuanya! Wisnu bukan lelaki romantis. Dia juga tak pernah menurut perkataan ku. Wisnu hanyalah seorang lelaki dingin menyebalkan! berhati batu! bersifat bodo amat. Argh! bikin gila! Kenapa aku masih mau bertahan dengan lelaki ini?
Batinku penuh dengan sumpah serapah. Ekspresi wajahku memerah kesal. Kedua tanganku mengepal kuat. Ingin sekali rasanya menonjok pipi lelaki dingin itu. Wajahnya yang tampan itu, ingin rasanya ku sobek-sobek dengan kuku panjang ku.
Wisnu meninggalkan ku begitu saja. Ia langsung masuk ke dalam dan membiarkan ku pulang dengan taksi. Akhirnya aku pun naik. Tapi di seperempat jalan, aku memberhentikan taksi dan naik ke dalam mobil Deffa. Dengan wajah cemberut dan masih memerah. Semua organ tubuhku naik ke atas puncak. Dan hampir ingin meledak.
" Hahahahahah. Jadi....jadi kau ketahuan terus ditinggalnya gitu aja? Haha " sahut Deffa yang tak hentinya mentertawakan kemalangan nasib ku.
" Ah! mana paha aku kena kopi panas lagi " gumam ku kesal.
Deffa membelokkan arah mobilnya.
" Pulang aja gak usah ke dokter " ujar ku kesal.
" Ya udah aku beliin obat aja ya. Bahaya kalo gak diobatin. " paksa nya keras.
Aku menggeleng cepat sambil menutup mataku dengan topi hitam yang ku kenakan. Sebenarnya aku kesakitan tapi karena kesal, rasa sakit itu sedikit menghilang.
Tak terasa waktu begitu cepat. Malam berdatangan. Wisnu pun tak kunjung pulang. Aku selalu meletakkan telingaku di pintu apartemen. Tapi tak sedikitpun terdengar suara langkah kakinya. Alhasil aku memutuskan untuk tidur.
Drttt....
Satu pesan yang membuat air mataku berderai begitu saja. Teman yang mengenali kota indah ini. Teman yang menuangkan air matanya karena cerita sedihku. Rasanya seperti mimpi. Baru kemarin aku bertemu dan sekarang sudah terpisah oleh jarak. Pantas apartemen ini begitu sepi. Tak ada lagi seseorang yang membangunkan tidur pagi ku.
*****
Pagi ku disambut oleh hangatnya sinar matahari yang masuk kedalam kamar tidur ku. Tubuhku rasanya remuk bak disambar petir dalam semalam. Aku merenggangkan seluruh otot-otot ku diatas kasur. Karena ini hari Minggu, aku memutuskan untuk berbelanja keperluan dapur.
Setelah selesai bersiap. Aku keluar dan terkejut melihat plastik berwarna putih bergantung di pintu apartemen ku. Ketika aku melihat isinya. Ternyata obat merah dan salep kulit. Dari siapa ya? batinku penuh tanya. Pertanyaan ku terjawab begitu melihat bagian bawah plastik yang tertempel sebuah kertas berwarna kuning.
Obati paha mu. Maaf soal semalam dan cepat sembuh :) from - WMH.
Aku tersenyum setelah membaca isi surat itu. Sontak aku memandang ke arah apartemennya. Dan terus saja tersenyum manis ketika melihat lelaki itu ketahuan sedang memandangi wajahku dari jendelanya. Pipinya merah merona secara alami. Tapi masih saja sulit untuk tersenyum.
Sekilas aku teringat kejadian semalam. Aku pun langsung meninggalkan obat itu begitu saja di pintu apartemen ku. Lalu berjalan pergi menuju supermarket tujuanku. Berharap dipanggil, eh malah dicuekin. Aah sebel!
Lift terbuka dan seorang pria bertopi hitam keluar dari sana. Pria itu berpapasan tepat saat aku akan memasuki lift. Langkah pria itu mengarah ke apartemen ku. Kedua tangannya terselip kedalam saku jaketnya.
" Siapa tu? hmm mencurigakan " gumam ku sebelum pintu lift hampir tertutup.
Deg!
Aku teringat Wisnu. Jangan-jangan pria itu? Dengan cepat aku menekan tombol keluar. Berkali-kali aku mencoba menekan tombol itu tapi selalu gagal.
Bik!bik!bik!
Ayo kebuka dong! please!
Ting! lift terbuka di lantai 1
Aku hampir kehabisan akal mencari cara agar cepat sampai di lantai 4. Tombol itu terus saja ku tekan kuat. Kepanikan ku mulai terpancar. Kaki ku gemetar menahan takut. Aku berusaha menelpon Deffa, namun saat tanganku merogoh saku celana dan jaket. Ponselku tak ada setelah diingat rupanya tertinggal di meja kamar.
" Aish shit! "
Ting! lift terbuka.
Aku langsung berlari kencang menuju apartemen ku.
Dari kejauhan aku melihat pria bertopi itu sedang menatap apartemen nomor 12. Yah! itu nomor apartemen Wisnu. Begitu mencurigakan sekali. Pria itu menempelkan sesuatu diatas pintu Wisnu. Lalu bergegas pergi begitu saja. Karena penasaran aku berjalan mendekati pintu Wisnu dan berusaha mengambil benda hitam yang berukuran sangat kecil itu.
Dapat!
Aku mendapatkan benda itu. Sebuah kamera kecil yang sedang beroperasi. Kamera itu memiliki cahaya merah, bertanda sedang merekam. Dengan cepat aku mematikan kamera itu dan memasukkannya kedalam saku jaket ku.
" Wisnu...Wisnu lagi di mata-mata i " gumam ku pelan.
" Angel? " ujarnya yang tiba-tiba keluar dari apartemen.
Em kepergok lagi kan! shit!
" Aku cuma mau bilang makasih. Permisi " ujar ku lalu meninggalkannya.
Cindy! jangan macam-macam lagi. Kali ini aku pasti kasih pelajaran yang berat untukmu!
*****
To be Continued ✨
yuks mmpir jngn lupa tinggalkan jejak. Like komen vote and rate 5 🌟 tengkyuu 😊