Good Night New York

Good Night New York
In Amerika (Part 2)



~MALAM MENYAMPAIKAN APA YANG TAK TERLISANKAN TERANG. SUNYI MEMILIKI GADUHNYA SENDIRI. DAN KOSONG TAK SELALU DAPAT DISINGGAHI~


" Firah. University Colombia itu sebesar apa sih? kayaknya banyak banget orang yang pengen kuliah di sana " tanyaku sedikit kepo.


" Hmm mau tau ya? kasih tau gak ya? " Firah pun berlari menjauh dariku. Sontak aku berlari mengejarnya tapi tiba-tiba saja aku terhenti ketika Zafirah berubah menjadi Wisnu. Ingatanku akan kejadian itu masih membekas. Aku tak mau lagi melanjutkan langkahku mengejar Zafirah. Dan


TIN...TIN!!


" Zafiraaaaah!! "


Tubuhku melemas dan mataku tak kuat lagi membendung air mata. Semuanya turun begitu saja dengan cepat. Malam itu aku seperti orang gila, menangis tersedu-sedu di jalanan yang ramai. Semua orang hanya melihatku heran dan menggeleng tanda tak mengerti.


" Angel. Kau kenapa menangis? "


Suara itu? batinku sedikit takut.


Aku mengadah ke atas untuk melihat siapa yang ada di depanku sekarang. " Zafirah! " bentakku seraya berdiri memeluknya. Tangis ku makin pecah ketika memeluknya. " Hiks.... tolong jangan lari kayak tadi Fi! aku gak suka " Zafirah membalas pelukanku erat dan mengelus lembut punggungku. " Maaf ya Njel. Maaf aku udah buat kau nangis " sahutnya panik.


Rasa takut dan trauma masih menjadi favoritku sekarang. Aku tak siap untuk kehilangan orang yang terdekatku lagi. Memang bukan perkara mudah untuk menghilangkan itu semua. Tapi aku percaya pada waktu yang lambat laun akan berubah.


" Sekali lagi maaf ya Njel. Ayo kita ke apartemen sekarang " ajak Zafirah seraya menuntunku.


Setelah sampai di apartemen. Aku langsung masuk kedalam kamarku tanpa berpamitan dengan Zafirah. Mungkin Zafirah heran dan merasa bersalah karena aku tiba-tiba menjadi murung. Ia hanya menatapku tanpa berkata apapun dengan mimik wajah yang sedih dan bersalah. Padahal itu semua bukan kesalahannya. Hanya saja aku tiba-tiba merasa ada yang hilang. Dadaku sesak, air mataku tak kunjung berhenti. Entah apa yang ku tangisi. Akupun tak mengerti mengapa aku jadi selemah ini.


Malam yang sunyi dengan kondisi yang kosong tanpa ada yang mengisi. Itulah yang kurasakan saat ini. Rindu yang makin hari makin bertambah tanpa ada solusi untuk mengatasinya. New York city, adalah kota dengan suasana yang ramai dengan pejalan kaki yang berlalu lalang. Tapi hanya ada satu tempat yang sedang merasakan kesepian di tengah keramaian. Yaitu aku.


Bantal empuk ini menjadi sasaran ku untuk menumpahkan seluruh air mata yang sudah tak bisa ku tahan lagi. Dengan lampu yang otomatis padam di jam segini menambah suasana semakin gelap. Air mata itu jatuh tanpa scenario yang ku buat. Ada rindu yang tak bisa ku tahan lebih lama. Perlahan aku harus bisa terbiasa tanpa lelaki itu. Mataku semakin membengkak karena banyaknya bulir bening yang sudah ku keluarkan.



Lelah memang, tapi mau bagaimana lagi. Malam semakin larut dan udara pun semakin dingin. Saatnya aku harus memaksa menutup mata. Ya sudah saatnya aku terlelap dalam tidur mengingat waktu yang kini sudah bergerak semakin cepat.


_________


Tok...tok


" Assalamualaikum Angel " panggil Zafirah sambil mengetuk pintu apartemen ku.


Mataku sedikit terbuka ketika mendengar beberapa kali ketukan pintu. Dengan posisi tidur yang masih sama seperti tadi malam. Aku bergegas bangun lalu berjalan untuk membukakan pintu.


" Astagfirullah Angel. Mata kau kenapa? sakit ya? kok bengkak gitu? " tanyanya kaget. Aku menggeleng cepat lalu mempersilahkannya masuk kedalam. Dia sedikit murung karena kejadian tadi malam.


" Soal tadi malam, aku benar-benar minta maaf ya Njel. Aku gak bermaksud....


" Gak papa Firah. Itu bukan salah kau kok " sejenak aku berhenti berbicara lalu menarik napas panjang kemudian melanjutkannya


" Ada kejadian yang menimpa seseorang. Kejadian itu sama seperti tadi malam. Aku sedang bermain lari-larian sama dia. Tapi tiba-tiba ada sebuah mobil yang menabraknya. Hingga dia terpelanting beberapa meter. Dia sempat koma beberapa Minggu. Setelah sadar dia gak ingat apapun. Bahkan yang lebih sakitnya adalah dia gak ingat sama aku Fir "


Zafirah menangis ketika mendengar ceritaku. Sontak tangannya menutup mulutnya rapat. " Orang itu adalah orang yang aku cinta Fir. Dia lelaki dingin pertama yang pernah aku temui dan juga lelaki pertama yang berhasil ku taklukkan " sambungku.


Kamarku hening sejenak setelah aku bercerita tentang Wisnu. Hanya terdengar suara isak tangis Zafirah. Dia terlihat sangat sedih karena ceritaku. Tangannya perlahan bergerak mendekati tanganku lalu dia menggenggamnya. Dia menangis tersedu-sedu seraya memelukku.


" Maaf Njel aku gak tau tentang itu " ucapnya pelan.


Aku bergumam dan perlahan tersenyum. " Siang ini jalan ke University Columbia yuk " ujarnya memecah suasana. Entahlah setiap mendengar nama universitas itu perasaanku berubah menjadi senang. Rasanya tak ada lagi beban pikiran.


Aku dan Zafirah bergegas menuju universitas yang paling berprestasi di Amerika. Ya, sesampainya di sana seketika aku speechless melihat gedung universitas itu. Hanya mulut yang menganga lebar dan mata yang berbinar-binar yang bisa menggambarkan suasana hatiku saat ini. Rasa takjub melihat gedung ini yang begitu luasnya bak sebuah lapangan bola kaki.





" Masha Allah. I...ini beneran kampus? seriusan? gede banget Fir " takjub ku melihat kampus bak istana presiden. Zafirah hanya bergumam seraya tersenyum dan tentu saja sembari memotret pemandangan kampus itu.


" Aku jadi gak sabaran deh pengen cepet-cepet kuliah terus liat isi dalamnya " ucapku menghalu sesaat.


" Keliling aja yuk. Kita masuk ke perpustakaan nya Njel gak kalah bagus kok " ajak Zafirah.


" Emang boleh masuk? kita kan belum resmi jadi mahasiswi di sana Fir " tanyaku sedikit ragu.


" Tenang aja. Aku udah beberapa kali masuk library kampus ini kok. Yuk ah "


Serasa berada di surganya dunia. Ini pertama kalinya aku melihat perpustakaan yang lebarnya hampir sama dengan kampus itu.



Zafirah sontak tertawa kecil mendengar ucapan ku yang sedikit lebay. Tapi emang lebay sih ha-ha-ha. Dia pun juga ikut berlari dibelakang ku.


" Ya udah ayo masuk " ajak Zafirah.


Baru satu langkah memasuki pintu utama. Aku benar-benar sudah merasa kagum dengan desain unik nan modern dari perpustakaan ini. Banyak sekali rak-rak buku yang tersusun seperti tangga dan dihiasi dengan perak. Luasnya bukan main sudah seperti ruang rapat para pejabat tinggi, bahkan lebih.


Suasananya tenang dan nyaman. Tak ada sedikitpun suara. Terlihat banyak yang sedang membaca buku dengan seksama. Tak ada kegaduhan sama sekali di dalam sini. Langkahku berlanjut ke rak buku khusus tentang Novel. Ada banyak macam novel yang tersedia di perpustakaan ini.


Lalu aku berjalan menuju rak buku tentang kedokteran. Ya karena jurusan yang aku ambil adalah kedokteran, sudah sebaiknya mempelajari ilmu itu lebih dalam. Aku dan Zafirah duduk di kursi belakang. Sedikit jauh dari pintu keluar. Suasana menjadi tambah nyaman dengan masuknya sinar matahari melalui jendela. Sejenak aku merasakan sinar itu yang mengenai wajahku.


tok.. tok


" excuse me. may I join this table? " (Permisi, bolehkah aku bergabung dimeja ini?) ucap seorang wanita yang wajahnya sangat khas orang bule.


" Yes, of course " (Ya, tentu saja) sahutku dan Zafirah bersamaan.


Wajahnya begitu cantik, rambutnya berwarna kuning dan manik matanya terlihat berwarna biru. Sungguh seperti seorang bidadari.



Wanita itu duduk tepat disebelah ku. Senyumnya manis betul dan menawan. " Hai, my name is Alice Hartley. I am from America " ucapnya padaku dan Zafirah sedikit berbisik. Karena memang keadaan di perpustakaan tak boleh bersuara sedikit pun.


Aku langsung membalas senyuman menawannya. Dan sedikit lebih mendekat dengannya " Hai, i am Angel Leoni. From Bandung, Indonesian " sahutku yang juga berbisik. " I am Zafirah. From Bogor, Indonesian " ucap Zafirah membalas Alice.


Ada beberapa mata yang sedang menatap tajam ke arah kami semua. Mereka memang sedikit sensitif dengan suara. Hingga kami akhirnya memilih diam dan berbicara lewat tulisan. Alice menulis beberapa kata disebuah kertas would you like to have lunch with me? (Maukah kalian makan siang bersamaku?)


Aku dan Zafirah tersenyum puas melihat Alice yang cepat sekali akrab dengan kami. Serentak aku dan Zafirah pun mengangguk kepada Alice. Sekitar 20 menit, kamipun menyudahi aktivitas membaca. Saatnya menuju sebuah restoran disekitar kampus.


Langkahku lebih dulu dibanding Zafirah dan Alice. Mereka sekarang berada dibelakang ku. Syarat keluar dari perpustakaan adalah harus menandatangani buku kunjungan. Cukup ribet, namun ada untungnya juga. Jadi semua orang bisa berbuat jujur setelah membaca, mereka harus mengembalikan buku ke tempatnya.


" Mmm Alice " panggilku setelah keluar dari perpustakaan.


" Yes? " sahutnya cepat.


" Halal reatoran here, where's Alice? " (Restoran halal disini. Dimana ya Alice?) tanyaku.


" Oh quiet. There is a halal restaurant here. It's called The halal guys " (Oh tenang. Disini ada restoran halal. Namanya The Halal Guys) sahutnya tersenyum.


" Wah, aku mau banget kalo gitu makan di sana. Ayok Njel " ajak Zafirah.


" Yes, come on. Follow me! " (Ya, ayo. Ikuti aku) sambar Alice berlari.


Aku dan Zafirah pun mengikuti langkah Alice yang lumayan cepat. Entahlah aku pun tak sabar mengunjungi restoran itu. Pasalnya memang dari tadi pagi cacing diperut ku sudah mendemo meminta jatah.


Setelah perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya kami sampai di restoran yang sederhana tapi ramai akan pengunjung. Ini dia The Halal Guys




Dari kejauhan pun sudah bisa tercium aroma daging yang sedap. Rasanya hidung pun termanjakan oleh bau sedap yang mengunggah selera. Bau khas daging sapi, persis seperti di Indonesia. Karena aromanya yang sangat kuat, cacing diperut ku pun semakin meronta-ronta minta diisi dengan berbagai macam hidangan.


Tak terasa air liurku pun sedikit keluar dari mulut. Perlahan aku mulai berjalan mendekati papan menu, yang tersedia di tembok. Dan ya ampun, aku benar-benar ingin mencoba semua hidangannya. Pasalnya semua memang menarik untuk disantap.


" Njel, kau mau pesan apa? semuanya enak huuh. Jadi bingung " keluh Zafirah.


" Hmm, aku juga bingung Fi "


" Oke guys, you can order everything you want. I'll pay for it " (Oke, kalian bisa pesan apapun yang kalian mau. Biar aku yang bayar) ucap Alice menatap aku dan Zafirah.


Ucapan Alice benar-benar membuat perutku semakin keroncongan. Mataku dan Zafirah saling beradu tatap. Kami bingung harus jawab apa, ingin menolak tapi rasanya sayang sekali haha.


" Oh no need Alice. We will only trouble you " (Oh tak perlu Alice. Kami hanya akan menyusahkan mu) ucap Zafirah dan aku bersamaan.


" Hehe no problem. This is a sign of our new friendship. Let's order " (Hehe tak masalah. Ini es sebagai tanda pertemanan baru. Ayo pesan) sahut Alice menggandeng tanganku dan tangan Zafirah.


Semua hidangan pun sampai dimeja kami. Setelah mengantri yang lumayan panjang. Perlahan aku mencicipi daging yang diatasnya diberi parutan keju mozzarella. Gigitan pertama, membuatku bergidik ngeri karena rasanya yang benar-benar enak. Dagingnya empuk, saus dan kejunya menyatu padu. Lidahku benar-benar termanjakan, cacing diperut ku juga turut bahagia.


Masha Allah, rasanya enak banget. Jadi rindu dengan masakan ibu :') batinku sedih.


To be Continued ✨


Laper!!! author auto laper guys haha. Yuks di like komen vote and rate yaa 🖤🤗 Tengkyuu guysss!


author syg Klian hehe :')