
~Aku pernah berjanji satu hal, bahwa bagaimanapun kamu, keadaanmu, kondisimu. Aku akan selalu dan tetap ada untukmu. Genggam saja perkataanku~
Wisnu Harris POV
Ruang editing hari ini sungguh pengap. Kenapa mereka harus berlatih disini bukan di aula saja ah! Para editor pun mengeluh melihat keadaannya. Pasti hari ini kami semua harus pulang larut. Begitu ucapan yang sering ku dengar dari para editor. Ketika semua sibuk membicarakan situasi, mataku sibuk dengan laptop yang tak pernah menghindar dari ku 24 jam.
" Wah, mereka emang serakah. Udah minjam ruangan kita untuk latihan, sekarang malah digunakan untuk tempat bertengkar. CK! " keluh Farid, wakil editor.
Suara pertengkaran itu sangat kencang terdengar. Semua sibuk membicarakan tentang itu. Tapi untukku sama sekali tak berpengaruh. Bagiku itukan urusan mereka, jadi biarlah mereka yang menyelesaikannya. Aku melanjutkan pekerjaan ku dan mengabaikan orang yang ada di sana.
" Wah. Jadi kau nyalahin ku hah! kau sadar gak lagi ngomong sama siapa! aku senior disini! senior! buka matamu! "
Kenapa suaranya makin terdengar nyaring dan menganggu. Akhirnya aku menyerah pada keadaan dan berdiri menuju sumber suara itu.
" Kau mau aku bertanggung jawab? Oke. Sini kau, kemari ikuti aku! cepat! "
" Ma....maaf— "
Wanita itu. Kenapa dia selalu jadi bahan candaan. Kenapa dia selalu membuat dirinya terlihat bodoh. Dari kejauhan wajahnya memancarkan kesedihan yang amat mendalam. Matanya berkaca-kaca, tapi air mata itu terlihat sulit untuk turun. Tangannya mengepal kuat. Kenapa dia mencoba untuk tegar saat ia bisa untuk melawan. Dasar wanita aneh. Itu kata yang bisa ku ucapkan dalam menggambarkan dirinya. Entah sudah berapa kali wanita itu dipermalukan.
Sekarang dia pasti berada pada titik terlemah. Sendirian, dan tak ada satupun yang menemaninya.
" Malangnya nasib " gumamku pelan.
Setelah melihat pertengkaran tadi perutku menjadi lapar. Aku memutuskan untuk pergi ke kantin dan memakan sesuatu yang bisa dimakan. Ya! aku memesan burger dengan porsi besar. Ini pertama kalinya aku makan dengan porsi yang sangat besar.
" Aku kesal karena Angel tadi. Pokonya kau harus kasih dia pelajaran "
" Apa kali ini? "
" Jatuhkan lampu gantung aula tepat di bawah badannya "
Deg!
Percakapan mereka dibelakang menghentikan makan ku. Resiko tertimpa lampu gantung sangat berbahaya. Cidera yang akan didapat. Kenapa mereka bisa sekejam ini.
Aku menyudahi makan ku. Lalu berlari menuju aula teater. Mataku menelisik setiap sudut aula mencari keberadaan wanita itu. Benar saja, wanita itu sedang bercengkrama dengan seseorang diatas panggung aula, tepat dibawah lampu gantung itu.
Sedangkan dari arah berlawanan wanita yang diketahui bernama Cindy itu berjalan mendekati seorang pria. Mereka tampak sedang berbisik, lalu pria itu mengangguk paham.
Lampu itu mulai bergerak perlahan. Pandanganku fokus pada dua objek, wanita itu dan gerakan lampu. Jika aku mendorong wanita itu, maka lampu akan jatuh tepat di badanku. Tapi jika aku tak mendorongnya maka dia yang akan terluka. Pergerakan lampu itu cukup cepat. Aku menghitung setiap menit dan detik dari lampu itu. Sesekali mataku hanya terfokus pada wanita cantik itu, namun pikiranku tetap menghitung pergerakan lampu.
Hingga saatnya tiba. Aku berlari sekencang mungkin ke arah wanita itu. Dan mendorong wanita itu sekeras-kerasnya. Mungkin wanita itu akan sedikit merasa kesakitan. Tapi bertahanlah untuk saat ini.
BRAKK!!!
" Minggir! "
******
Angel POV
Darah? Kenapa banyak darah disini? sangat amis. Kenapa semua orang berkumpul di satu titik? Kenapa lelaki itu terbaring diatas panggung? Apa ini semua? Kenapa kejadian ini sama dengan kejadian 2 tahun yang lalu? Haruskah aku cari tahu siapa lelaki yang sedang terbaring sekarang?
" Angel. Angel, are you okay? "
Lamunanku buyar ketika mendengar seseorang memanggil namaku. Sekejap aku teringat, bahwa lelaki itu adalah penyelamatku hari ini.
Ya! aku ingat sekarang. Lagi-lagi lelaki ini terluka karena ku. Haruskah terulang kembali? Dia pasti merasa kesakitan sekarang. Kenapa harus kau?
" Wisnu. Wisnu tahan sebentar. Tolong panggil ambulance cepat, ku mohon " lirihku pelan.
Ambulance datang dan langsung membawa Wisnu menuju rumah sakit terdekat. Untunglah rumah sakit dekat dari kampus.
Aku menunggunya di luar ruangan. Dan berharap semoga dia baik-baik saja. Semoga lukanya tak serius kali ini. Ada banyak harapan yang ku lontarkan dalam doa. Ku harap, salah satunya bisa terkabulkan.
" Angelllll " teriak Deffa dari kejauhan.
Dia datang dan langsung memeluk tubuhku erat. Seakan ada makna dibalik itu semua. Makna yang tak pernah bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Bahkan sesuatu yang sangat ia takutkan. " Maaf. Maaf karena gak ada di sana " bisik nya pelan.
" Kau berdarah. Ayo pulang dan obati " ajaknya sambil menggandeng tanganku.
" Gak papa. Aku mau nungguin editor Wisnu sampe sadar " sahutku melepas tangannya.
" Iya setelah kau di obati. Nanti aku suruh orang lain jaga editor Wis— "
" Gak. Aku yang bakal jagain dia. Dia yang udah nyelamatin aku, dia berharga karena dia lelaki ku " jelas ku sejenak.
Sebelum dia bertanya lagi, dokter datang " Siapa walinya? " Aku langsung menyerahkan diri dan mengikuti langkah dokter itu. Mungkin saat ini Deffa bingung dengan perkataan ku. Dia pasti tak mengerti dengan apa yang terjadi. Kebenaran dibalik semuanya. Sulit memang tapi ya sudahlah. Itu sudah harus dilakukan.
" Wisnu mengalami pendarahan yang cukup banyak. Tapi untungnya tak begitu serius dia juga kuat bertahan tadi. Kaca lampu itu menusuk dahinya dan kepalanya sedikit terbentur karena beratnya lampu yang jatuh tepat di atas kepalanya. Dia akan sadar dalam beberapa jam. Mohon bersabar ya dan banyak berdoa untuk kesehatannya " ujar dokter berkaca mata dengan bahasa Inggris.
Syukurlah penjelasan dokter membuatku cukup lega. Setidaknya dia baik-baik saja sekarang. Aku hanya tinggal menunggu ia sadar dalam dua hari. Huftt.... rasanya aku mengulang kejadian di masa lalu. Sepertinya Wisnu tak aman berada di dekatku. Ia lebih baik berada jauh dari sisiku. Yah... itu lebih aman.
Langkahku perlahan pergi menjauh dari ruangan Wisnu. Siapa sangka, jika dulu aku sulit untuk menjauh darinya namun sekarang aku cukup mudah untuk melakukannya. Sebelum aku pergi, aku menuliskannya sebuah surat yang kuharap ia membaca isi nya.
Kau! baiklah di sana. Sekarang kita hanya harus berhati-hati. Mari kubur semua kenangan dan mulai dari awal. Semoga kau bahagia. Ku mohon berbahagialah. - Angel Leoni Pramadhita -
Langit malam ini sangat indah. Apalagi aku melihatnya dari lantai atap rumah sakit. Semua bintang bersinar sendirian tanpa bantuan cahaya siapapun. Ku harap aku pun juga begitu. Bersinar tanpa bantuan siapapun. Tapi tiap kali ku mengingat semua kenangan itu, aku meneteskan air mata yang mendalam. " Hiks...hiks... "
Begitulah kira-kira. Kehidupan memang sedikit rumit, kejam dan bahkan hanya bisa menyaksikan kesedihanku.
" Huft. " aku menghela napas kasar.
Setelah merasa cukup tenang, aku berbalik untuk pulang. Tapi langkahku terhenti dan tatapanku mematung. Entah sejak kapan lelaki itu berdiri di sana.
" Huh. Saat-saat begini aku masih bisa halu dengan bayangannya " gumamku sendirian lalu lanjut berjalan.
" Maaf "
Satu kata yang membuat langkahku terhenti.
" Maaf aku terlambat Mbemm "
*****
To be Continued ✨
Jangan lupa komen gimana perasaan kalian. Like, share, vote and rate 5 🌟
Author mau ngucapin terima kasih banyak atas dukungan dari kalian semua:) 🥰