Good Night New York

Good Night New York
Sebuah Jebakan



~KAU YANG KU JAGA NAMUN TAK TERJAGA OLEHMU, KAU YANG KU GENGGAM TAPI TAK TERGENGGAM OLEHMU~


Wisnu Harris POV


2 jam sebelum rapat pemberhentian Angel.


Pagi ini angin dingin menyelimuti kota New York. Aku menyenderkan kepalaku di kursi ruang editing. Dan sedikit memejamkan mata. Pikiran ku terus saja mengingat kejadian kemarin. Teriakan pertamaku pada Angel. Teringat ekspresi kecewa yang terpancar jelas di wajahnya. Kau memang lelaki gak berperasaan! dasar Wisnu batinku terus memaki.


Helaan napas ku yang sangat dalam mengacaukan fokus Toto. " Ketua. Kau kenapa? kayaknya lagi galau ya? apa karena Angel sering pergi sama Deffa? " ujarnya menjahili ku. Galau apanya? Deff...?


Ucapan Toto tadi benar-benar membuatku kaget. Ada rasa ingin tahu sebenarnya. Namun rasa gengsi lebih dulu menutupi rasa keingintahuan itu. " Ku dengar Angel sekarang lagi di rumah sakit terkenal. Kayaknya dia lagi ngurus izin magang " gumam Toto pelan.


" Ha? sama Deffa? " sahutku tiba-tiba.


" Woah ketua. Kayaknya kau ini lagi cemburu ya? tumben kau penasaran " celetuknya.


Aku berdiri dari duduk ku lalu melintas pergi tanpa berkata apapun pada Toto. " Ketua. Kau mau kemana? Ketuaaaa " pekik Toto yang sengaja ku abaikan.


Untunglah parkiran tak terlalu jauh dari ruangan editor. Mobil hitam metalik sudah menunggu kehadiranku. Tanpa basa-basi aku langsung menaiki mobil itu dan mengendarainya menuju rumah sakit terkenal di new York. Jalanan hari ini cukup macet. Dan tentu saja, mobilku terjebak di tengah kemacetan.


Hatiku gelisah. Daripada aku diam menunggu kemacetan usai. Lebih baik aku turun dari mobil dan berlari menuju rumah sakit.


Tin...tin!!


" Heii! kau gak boleh ninggalin mobil di tengah macet begini! " teriak pengemudi mobil di belakang.


Aku berlari sekencang mungkin tanpa menghiraukan ucapan siapapun. Entahlah, aku pun tak mengerti dengan maksud dan tujuan ku ke sana. Tapi satu hal yang hanya ada dalam pikiran ku. Yaitu menggenggam erat tangannya. Kali ini aku tak akan membuatnya menunggu lagi. Cukup 2 tahun saja penderitaan yang dia alami.


Langkahku terhenti tepat didepan pintu masuk rumah sakit. Aku berdiam diri sebentar guna mengatur napas yang tak beraturan akibat berlari. Keadaan di sana sangat ramai. Bahkan ada reporter dan beberapa kamera. Apa yang terjadi disini? bahkan pertanyaan itupun sama sekali tak terjawab.


" Kau udah liat kan berita di sosmed? gila parah kan. Masa bisa-bisanya pegawai magang masuk ke dalam ruang operasi tanpa id card. Wah daebak! kayaknya tuh orang mau bunuh pasien "


" Iya kau benar. Ngeri ya "


Tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan seorang wanita yang baru saja melintas di hadapanku. Pembicaraan mereka benar-benar mengganggu pikiran ku. Sosmed? pegawai magang? batinku tak mengerti.


Aku merogoh ponsel di saku ku. Setelah mengecek kabar terbaru pagi ini mataku membulat, rahang ku mengeras. Bahkan kedua tanganku mengepal. Langkahku bergerak menuju pintu belakang rumah sakit. Mengingat keadaan di depan tadi ramai akan wartawan. Perlahan tapi pasti aku menaiki tangga manual.


" Kerja bagus. Sekarang dia pasti kehilangan izin magangnya "


Tubuhku mematung setelah mendengar suara seorang wanita di atas. Ku percepat langkahku untuk memeriksa siapa wanita itu. Dan benar. Wanita itu tampak tak asing bagiku.


" Pergilah " ucap Cindy pada suster setelah melihat kedatanganku.


Tak lama setelah suster itu pergi. Ia pun ikut melintas pergi dari hadapanku.


" Berhenti " halau ku pada langkahnya.


Ia berbalik setelah mendengar ucapan ku. Lalu berjalan mendekat kearah ku dengan kedua tangan di dada. Rasanya saat itu aku ingin mencabik-cabik wajahnya yang penuh dengan kesombongan.


" Kau yang ngelakuin kan? " tanyaku santai.


" Apa? ngelakuin apa? maaf aku gak mau ngebuang waktu berharga untuk orang yang gak ku kenal. Minggir " sahutnya sambil mendorong tubuhku.


" Lampu gantung " singkat ku menghentikan langkahnya.


Aku berjalan mendekatinya kemudian berada tepat didepannya. Ia tampak kesulitan menelan ludahnya sendiri setelah mendengar ucapan ku tadi.


" Kau ingat lampu gantung di aula teater? aku yang jadi korbannya. Padahal waktu itu kau berniat mencelakakan Angel kan? " tanyaku penasaran.


Ia tersenyum. Senyum itu memancarkan kelicikan yang ada pada dirinya.


" Kau udah tau kan jawabannya tanpa harus aku jawab? Itu karena dia udah ngerebut apa yang seharusnya jadi milik ku " sahutnya sambil tersenyum licik.


" Jadi kau yang nyuruh suster itu? wah keren. Kau keliatan licik sekarang...."


" Hei! dunia pun harus tau kalo hak Cindy tetap harus jadi hak Cindy. Dia juga gak pantas magang di sini. Jadi wajar aja " ucapnya cepat memotong pembicaraanku.


" Of course. Itu pelajaran karena junior yang gak patuh sama senior nya " jelas Cindy percaya diri.


" Oke. Simpan saja bahagia mu nanti " sahutku dengan bahasa formal.


Aku melanjutkan langkahku dan meninggalkannya sendirian. Tepat setelah aku membuka pintu tangga manual, aku berpapasan dengan Deffa. Dia mematung menatapku. Mungkin karena dia sudah mendengar pembicaraan ku dengan Cindy. Tanpa menyapa, aku melintas pergi melewatinya. Sekarang fokus ku hanya pada Angel.


Langkahku terhenti ketika melintasi sebuah ruangan. Aku mendengar isak tangis yang terdengar tak asing. Walau terdengar kecil, namun aku masih bisa mendengar nya. Mataku tertuju pada ruangan itu. Sebelum aku mencoba membuka ruangan itu. Aku melihat seorang wanita yang sedang menangis tersedu-sedu dengan kedua tangan di wajahnya.


Dia tampak terpukul. Seakan dunia sudah meninggalkannya sendirian. Kaki ku sedikit melemas teringat kejadian 2 tahun yang lalu. Ketika aku kecelakaan. Mungkin ia juga menangis seperti ini. Menahan semua beban, menggenggam sendirian, juga terpuruk.


Itulah kata-kata yang bisa ku gambarkan pada keadaannya saat ini. Sekuat apapun manusia pasti pernah merasakan kerapuhan.


BRUUK!


Aku mendobrak keras pintu ruangan. Dan langsung memeluk erat tubuh mungil wanita ini. Rambutnya yang panjang dibiarkannya terurai begitu saja. Aku bisa merasakan kesedihannya.


" Genggam dan sembunyilah sebentar " ucapku cepat seraya menarik lengannya.


Aku dan Angel berjalan menuju pintu utama rumah sakit. Walaupun aku tahu banyak sekali pertanyaan yang sudah disiapkan oleh wartawan, tapi aku tak merasa takut. Karena aku akan menjawab semua pertanyaan mereka.


" *Nyonya Angel. Apa benar anda masuk ruang operasi tanpa izin magang? "


" Anda tak punya id card kan? lalu kenapa anda melakukan hal itu "


" Tolong jawab nyonya* "


Pertanyaan yang dilontarkan oleh wartawan membuat Angel ketakutan. Ia mencengkeram kuat lenganku dan tetap bersembunyi di balik jaket hitam milikku. Aku mengerti keadaannya.


Sreet....


Aku menarik jaket itu dari kepalanya. Ia cukup terkejut dengan aksiku. Tanpa perlu menjawab semua pertanyaan itu satu persatu. Aku memberikan sebuah rekaman pada wartawan itu.


" Silahkan dengarkan sendiri. Lalu sebarkan berita yang sebenarnya " ujar ku pada seorang wartawan.


Wartawan itu mulai memutar isi rekaman yang bertuliskan file Suara Cindy Jung, anak pemilik rumah sakit.


" Kau ingat lampu gantung di aula teater? aku yang jadi korbannya. Padahal waktu itu kau berniat mencelakakan Angel kan? "


" Kau udah tau kan jawabannya tanpa harus aku jawab? Itu karena dia udah ngerebut apa yang seharusnya jadi milik ku "


" Jadi kau yang nyuruh suster itu? wah keren. Kau keliatan licik sekarang...."


" Hei! dunia pun harus tau kalo hak Cindy tetap harus jadi hak Cindy. Dia juga gak pantas magang di sini. Jadi wajar aja " ucapnya cepat memotong pembicaraanku.


" Kau bahagia? "


" Of course. Itu pelajaran karena junior yang gak patuh sama senior nya "


Breaking news.....


******


To be Continued ✨


:)