
" Angel " tegur Deffa tiba-tiba.
Sontak lamunanku buyar ketika Deffa menegurku dengan cara menyentuh pundak ku. Dahinya sedikit menyeringai melihat ekspresi wajahku yang sangat murung dan mata yang membengkak. Sesekali aku menghela napas kasar dan sembarang. Hari ini mood ku benar-benar hancur berantakan.
" Makan yuk " ucap Deffa mencairkan suasana.
Tapi aku hanya menggeleng pelan, sambil berusaha bangkit dari tempat tidur. " Awwww " keluhku menahan sakit. Tanpa sadar sepasang mata tengah menatapku tajam, seakan ingin menerkam.
" Makan! tunggu sini aku beliin makanan dulu. Mau makan apa? " paksa Deffa.
" Samain aja "
Baru kali ini aku melihat sifat Deffa yang sedikit memaksa. Dia juga sedikit narsis orangnya. Tiba-tiba mengirim foto tanpa aku minta. Yah begitulah Deffa. Si hangat bagai selimut punya orang hehe.
Deffa emang tipe lelaki idaman para wanita. Usianya baru 22 tahun, tapi dia sudah menjadi dokter muda dengan gelar master di University Columbia. Hampir setiap kelas di kampus bahagia kalau sudah Deffa yang ngajar. Yang ngantuk jadi segar, dan yang bosan jadi semangat.
Siapa sih yang tak mau dengan lelaki bertubuh ideal ini? hanya wanita tak waras yang menolak untuk jadi pacarnya, yahh seperti aku. Cuma aku yang menolak untuk jadi pacar dokter muda yang satu ini. Entah apa alasan aku menolaknya. Namanya juga hati, tak ada yang bisa memaksakan.
Tok...Tok...
" Angel! " teriak histeris Zafirah.
Zafirah berlari ke arahku dengan tergesa-gesa dan menangis. Dia memelukku erat seakan takut kehilangan. " Kok bisa sampe jatuh sih? makanya jangan terlalu semangat dansa nya " celetuk Zafirah seraya menyubit pipiku.
Aku hanya diam tak menjawab. " Fi " panggilku pelan. Zafirah yang sedang sibuk memperhatikan kakiku beralih pandang pada wajahku. " Kenapa Njel? kau keliatan sedih " tanya Zafirah antusias. Suasana hening sejenak. Sesekali aku menarik napas panjang, lalu mulai bercerita pada Zafirah.
" Apa!!! Wisnu disini? serius? kok bisa kebetulan gitu sih " ucap Zafirah tak percaya.
" Aku pun juga heran, kenapa bisa ketemu disini. Tapi...."
" Tapi apa? " tanyanya lagi.
" Sifatnya kembali kayak dulu lagi Fir. Gak peduli dan dingin. Ingatannya juga belum kembali Fir "
Zafirah menghela napas pelan. Dia bingung dan hanya menggenggam erat tanganku. " Sabar ya Njel. Aku janji bakal bantuin kau dan Wisnu. Dan kau harus berusaha terus buat balikin ingatnya lagi. Oke? " ucapan Zafirah benar-benar membuat aku menangis tersedu-sedu.
Padahal ini sudah lebih dari 2 tahun. Dan kenapa Wisnu belum ingat apapun? batinku heran.
*****
Aku akhirnya memutuskan untuk pulang dengan bantuan Zafirah yang menuntunku sampai di tangga kampus, tepatnya di pintu keluar. Setelah bercerita, aku cukup tenang dan lega. Tak ada lagi beban di hati. Semua sudah ku luapkan dan ku kosongkan. Mungkin ini saatnya aku harus terbiasa tanpa dirinya. Ini juga menjadi tantangan tersendiri untukku. Dan aku percaya pada waktu yang akan merubah segalanya.
Karena keadaan kakiku yang keseleo, jadi aku hanya bisa berjalan pelan. Itupun harus dituntun oleh Zafirah.
" Aku gak bisa antar kau pulang karena masih ada kelas. Aku cariin taksi aja ya " ujar Firah dengan nada merasa bersalah. " Iya gak papa kok. Udah biar aku aja yang cari, kau masuk sana ke kelas " sahutku cepat.
Hampir 15 menit aku menunggu taksi. Tapi tak ada satupun yang melintas. Udara pun semakin dingin, ditambah lagi hari yang semakin sore. " Duh gimana nih " gumamku sendirian.
" Kau Angel kan? " ucap seorang wanita bertubuh tinggi dan rambut pirang sebahu dan para teman-temannya yang tepat berada di belakang.
" Iya, kau si....
" Aku Cindy Jung. Senang bertemu dengan mu. Oh ya, dengar-dengar kau sangat dekat dengan Deffa? apa benar? " ujar Cindy dengan posisi kedua tangan di dada.
" Aku dan Deffa hanya pernah bertemu sebelumnya. Dia dosen yang membantuku praktek " sahutku seraya tersenyum.
Cindy hanya tersenyum tipis lalu mulai berjalan mendekatiku. Dia pun berbisik di telingaku " Sebaiknya kau menjauh dari Deffa. Dia milikku "
" Hei!! " bentak Cindy keras.
Aku menatapnya tajam dan tersenyum tipis. Wajahnya tampak kesal dan memerah. Dia pergi tanpa berkata apapun. Tapi naas bagiku, Cindy berbalik seraya berbisik kepada teman-temannya. Dia sedikit tersenyum jahat, kemudian melanjutkan langkahnya.
BRAKK!!
" Arghhh " teriakku kesakitan.
Teman-teman Cindy menendang kakiku yang sedang diperban. Sehingga membuatku tersungkur ke lantai dan menggelinding dari atas tangga. Kepalaku terbentur ke lantai. Aku benar-benar bingung harus apa. Kakiku mati rasa, telingaku berdenging kencang. Semua orang hanya menonton tanpa membantuku berdiri. Aku seperti sampah yang tak berguna.
" Angelllll!! " teriak seseorang entah dari arah mana.
" Hei!! kalian semua apa gak punya mata hah! kenapa gak ada yang bantu dia berdiri!!! " bentak Deffa penuh emosi pada orang-orang.
Semua diam. Tak ada satupun yang bisa berbicara. Mereka hanya menunduk menahan rasa takut. Deffa benar-benar sudah seperti kerasukan dedemit. Dia hilang kendali, dan menonjok pipi seorang lelaki yang hendak memotretku. Suasana semakin panas. Deffa menantang lelaki itu untuk bertarung dengannya. Aku tak pernah melihat dia semarah ini.
" Deffa!!!! " teriakku dengan posisi berusaha berdiri.
Deffa mematung karena teriakkan ku. Dia menghela napas kasar secara sembarangan. Apa yang membuat Deffa jadi semarah ini? Kenapa dia jadi hilang kendali?
" Ayo pulang "
Deg!
Mataku terbelalak dengan aksinya yang tiba-tiba menggendong dan membawaku pergi dari kerumunan orang-orang kampus. Semua terkejut dan tak percaya. Dosen yang sangat mereka idolakan itu, menggendong orang sepertiku. Sekarang pasti aku dan Deffa sudah menjadi tranding topik di kampus.
******
Akhirnya aku sampai di apartemen. Tapi Deffa masih diam tak bergeming sedikitpun. Wajahnya masih terlihat kesal. " Makasih " singkat ku mencairkan suasana. Dia hanya mengangguk seraya tersenyum manis. Tangannya mengarah ke atas kepalaku dan mulai mengacak-acak rambutku. " Apa sakit? nanti malam aku antar obat ke apartemen mu " ucapnya menatapku. Aku menggeleng cepat. " Aku gak papa. Makasih udah bantuin terus dianterin pulang "
Deffa hanya tersenyum dengan memamerkan lesung pipinya. Sesaat setelah itu, dia pamit untuk pulang. Perlahan aku mulai melangkah menuju kamarku. Sekuat tenaga aku menahan dan mengabaikan rasa sakitnya.
Ketika aku hendak membuka pintu, tiba-tiba saja mataku tak sengaja menangkap wajah seorang lelaki. Lelaki itu tepat berdiri di kamar nomor 12, bersebelahan dengan kamarku. Lelaki itu menatap wajahku heran dan datar. Dia tak tersenyum sedikitpun. Saat ini rasanya aku ingin sekali berlari memeluknya erat. Tapi apalah daya, aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan dan hanya bisa memeluk bayangannya saja.
" Tu...tunggu " Ucapan ku membuat langkahnya terhenti.
" Kau tinggal di kamar no. 12? " tanyaku penasaran.
Dia mengangguk kemudian. Sesaat setelah aku bertanya, dia langsung melanjutkan langkahnya. Tapi kemudian aku menahan kembali. " Eh tunggu " ucapku seraya berjalan mendekatinya. Aku tersenyum manis dan menyodorkan tanganku " Aku Angel, mahasiswi University Columbia tempat kau penelitian "
Lelaki itu diam sejenak, lalu mulai menatap wajahku dengan ekspresi datar. " Wisnu Melviano Harris. Mahasiswa editor Solo, Indonesia" sahutnya membalas jabat tanganku.
Deg!
Jantungku berdetak kencang dan sulit untuk menelan air ludah. Bagaimana tidak, setelah 2 tahun lamanya aku baru bisa memegang tangannya dan menatap wajah tampannya dengan senyum tanpa rasa sedih sedikitpun.
******
To be Continued ✨
Hai reader, si Angel cocoknya sama Wisnu apa sama Deffa? Hayo coba comment di bawah hihihi.
Yuks di Fav and Vote banyak² Para pembaca setia ku🖤🖤 jangan lupa di like and rate 5 🌟. Tengkyuu 🤗
Ig @auliaaulhq