
~BAIKLAH SINGKAT SAJA, AKU RINDU~
Kenapa kehidupan ku semakin hari semakin sulit? Kenapa aku harus menelan rasa pahit takdirku? Ya Allah maaf karena terlalu banyak mengeluh. Ini bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah harapan.
Baiklah, anggap saja kemarin itu hanya sebuah ilusi. Itu tak nyata! dan tak mungkin. Mana mungkin di tempat seperti ini aku bertemu dengan Wisnu. Kalaupun iya itu pasti bukan dia, tapi hanya seseorang yang memiliki kemiripan.
" Oke Njel! dia bukan Wisnu. Yang kau liat itu bukan dia! itu cuma halu aja, huftt... " gumamku pelan seraya menghela napas.
Aku berjalan menuju kelas dengan tas ransel yang berisi laptop dipunggung ku. Suasana kampus pagi ini sangat ramai. Terutama di depan platform. Banyak sekali orang yang mengerumuni Mading. Sepertinya di Mading ada sebuah informasi.
Karena penasaran, aku pun berjalan mendekati kerumunan itu. " Permisi " singkat ku yang meminta ruang untuk berada didepan Mading. Tertulis sebuah informasi, bahwa akan ada beberapa siswa berprestasi yang berasal dari luar, mereka akan melakukan penelitian di kampus ku.
" Angel " teriak dari arah belakang.
" Oh, Zafirah " sahutku mendekatinya.
" Lama gak ketemu, padahal apartemen kita sebelahan. Tapi karena tugas kuliah, jadi jarang bisa ketemu deh " ucap Zafirah dengan nada sedih.
" Aish! jangan sedih gitu ah. Nanti istirahat aku tunggu di kantin ya. Dahhh " sahutku yang melambaikan tangan kepadanya.
" Hmmm oke dahh " singkat Zafirah.
Tak seperti biasanya. Hari ini kelas terlihat sepi dan terasa asing. Padahal kelasku bisa dikatakan kelas terheboh. Tapi kali ini, mereka sibuk dengan laptop dan android. Yahh, mungkin karena tugas yang sangat membingungkan dan jujur saja, ini rumit. Dosen yang menyebalkan itu sengaja memberi tugas rumit kepada kelasku. Dia tahu dengan tugas yang sulit ini, para mahasiswa pasti akan sering bolak-balik ruangannya.
Itulah taktiknya agar bisa sering bertemu denganku. Ditambah lagi aku adalah mahasiswa yang mendapat beasiswa, jadi tugas ini harus selesai dengan cepat. Salah satu syarat tugas ini lulus adalah, tanda tangan dari Mr. Deffa. Membayangkan wajahnya saja sudah membuatku jengkel, apalagi bertemu.
From : Deffa
- Semangat!! dan ingat, jangan bosan untuk ke ruangan ku. Aku sangat menantikannya hehe :p
" CK! nyebelin banget sih! jadi males kuliah kalo gini. Aiiissh " gerutu ku setelah melihat pesan singkat darinya.
Daripada menghabiskan tenaga untuk marah-marah dan mengumpat. Lebih baik aku bergegas menyelesaikan tugas ini. Agar cepat terlepas dari Dosen tak waras itu. Memang Deffa adalah dosen termuda diantara para dosen di kampus ku. Jadi wajar saja dia sering didekati para mahasiswi maupun Mrs di sana.
25 menit berlalu dan akhirnya tugas yang hampir membuatku mati ini selesai. Saatnya menyerahkan dan meminta tanda tangan kepada Mr. Deffa agar aku bisa bernapas lega.
Tok...Tok!
" Masuk " Teriaknya dari dalam.
" Ini pak tugasnya dan saya meminta tanda tangan bapak untuk tugas ini " ujar ku sopan.
" Males " singkatnya.
" Maksudnya pak? " tanyaku karena merasa kurang paham.
" Saya gak mau tanda tangan. Mmm, kayaknya kamu harus revisi tugas kamu dulu " sahutnya sambil tersenyum licik.
Melihat senyum licik itu, aku benar-benar ingin sekali menghentakkan kepalanya ke tembok. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu sebagai seorang dosen. Apa revisi? bahkan diapun belum membaca tugas yang ku buat.
" Maaf pak, tapi bapak belum membaca tugas saya. Lebih baiknya bapak baca dulu, setelah itu baru bisa saya revisi dimana letak salahnya " ucapku dengan nada lembut.
" Saya gak perlu baca. Itu pasti salah semua. Revisi dulu baru kamu balik lagi ke ruangan saya " sahutnya menahan tawa.
Tanpa berkata apapun, aku langsung mengambil tugas itu dan keluar dari ruangannya. Dia pasti sekarang sedang tertawa terbahak-bahak melihat aku yang mudah diolok-olok.
" Apa yang harus di revisi? arghhh ya ampun!! dasar dosen... ah " gerutu ku didalam kelas.
" Kenapa Njel? " tanya Iris
" Tugas aku ditolak sama Mr. Deffa disuruh revisi ulang. Padahal dia belum baca sama sekali "
" Huh, serius? tapi nilai udah keluar dan kayaknya tinggal nama kau yang belum terdaftar " sahut Iris dengan nada bingung.
" Hah!!! pinjam tugas kau bentar. Punyaku sama punyamu sama kok... dasar Deffa! " teriakku seketika sambil berlari menuju ruangannya.
Kali ini aku benar-benar emosi. Kedua tanganku mengepal kuat siap meluncur ke pipi dosen itu. Entah sudah berapa kali aku bolak-balik dari ruangannya. Dan jawabannya pun masih sama " Coba kamu revisi dulu "
Pikirku apa yang harus direvisi? sedangkan dia saja belum membaca tugas yang ku kumpulkan. Sedangkan punyaku dan Iris saja sama, tak ada yang berbeda sedikit pun.
" Masuk " teriaknya.
BRAKK!
Dengan kuat ku buka pintu itu lebar-lebar. Dan ternyata didalam banyak sekali para mahasiswa lain. Alhasil membuatku malu bukan main karena aksiku yang membuka pintu tadi.
Karena semua mata sudah tertuju padaku. Mau tak mau akupun berjalan mendekati meja Deffa. Pipiku memerah bak kepiting rebus. Rasanya aku ingin mati saja, daripada menahan malu sendirian.
" Oh Angel, tunggu sebentar ya. Saya kedatangan mahasiswa editor dari Indonesia " ujar Deffa sekilas.
In... Indonesia? batinku.
Deg!
Sekejap kedua kakiku gemetaran, dadaku sesak bukan main, mulutku kaku tak bisa gerak. Seakan pertanda bahwa dia datang, dia sedang berada di dekatku. Mungkinkah? atau ini hanya sekedar mimpi belaka?
" Baik Mr " ucap seorang lelaki yang suaranya tak jauh dariku.
Sontak mataku langsung mencari sumber suara itu. Suara yang terdengar tak asing bagiku. Suara yang selama kurang lebih 2 tahun itu akhirnya terdengar nyaring di telingaku.
Deg! Wis... Wisnu? lelaki itu? batinku meronta.
Benar saja tak sedikitpun mataku berkedip. Wajah khas lelaki itu telah menghipnotis ku. Senyumnya yang menawan, dan matanya yang teduh. Itu dia, lelaki yang selama ini menghantui pikiranku. Akhirnya dia disini, didekat ku.
Tapi kenapa ini terasa sangat asing? kenapa dia tak menatap wajahku? kenapa dia tak menyapaku? dan kenapa pertemuan ini terasa sangat menyakitkan? harusnya aku bahagia ketika bertemu dengannya.
" Hiks... hiks..... "
" Angel, perkenalkan dia Wisnu. Editor yang akan penelitian di kampus kita. Wisnu dia mahasiswi tercantik di kampus ini " ujar Deffa menatapku dengan senyum.
" Hmm, hai. Senang bertemu dengan anda " sahut Wisnu sedikit membungkukkan badannya.
Mataku tak sanggup menahan air mata ini. Air itu mengalir deras, lalu turun setetes demi setetes di pipiku. 8 bulan terasa tak berarti untukku dan dia. Dan sekarang, aku harus mengenalnya dari awal lagi.
Sesakit inikah? kenapa hubungan kita terlalu rumit? kenapa aku yang harus menanggung rasa sakit ini sendirian? haruskah? hiks.... batinku sesak.
" Angel? kau nangis? " tanya Deffa khawatir.
" Permisi " sahutku pelan.
Aku lari sekencang-kencangnya, menjauh dari kerumunan orang itu. Ini bukan nyata, tapi rasanya ini benar-benar mustahil. Apa yang ku tangisi? harusnya aku bahagia, tapi kenapa malah sebaliknya.
" Hiks...Hiks....Wis...Wisnu. Aku rindu, rindu! jangan jauh-jauh lagi hiks... "
🎶Oh mengapa? tak bisa dirimu
Yang Mencintaiku
Tulus dan apa adanya, ooh...
Aku memang...
Bukan manusia sempurna
Tapi ku layak di cinta
Karena ketulusan hati
Kini biarlah waktu yang jawab semua🎶 (pasto - Tanya hati)
******
To be Continued ✨
Like komen and vote yaa 🤗 Terimakasih reader. Maaf ya jarang up 🥀