Good Night New York

Good Night New York
Mimpi Buruk



~HAL YANG PALING BURUK ADALAH BERTEMU MU DALAM MIMPI KU~


4 tahun kemudian.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Bahkan kota yang saat ini ku pijakan pun juga banyak berubah. Tapi kota ini masih sama indahnya seperti dulu. Aku penasaran bagaimana keadaan negara kelahiran ku dan para sahabat-sahabat ku. Apa mereka sudah mewujudkan cita-citanya? atau masih duduk di bangku perkuliahan?


Tok...tok


" Bu, ada pasien yang ingin bertemu anda " ucap seorang perawat wanita.


" Suruh masuk "


Yah... 4 tahun sudah aku berada di sini. Akhirnya setelah banyak drama yang ku lalui, aku bisa menjadi direktur di rumah sakit New York. Aku bersyukur bisa memanfaatkan beasiswa ini dengan benar. Dan bersyukur juga bisa bertemu dengan Deffa yang selalu menjadi senior terbaik.


Sebelum menjadi direktur. Aku mengalami kesulitan. Yaitu koma selama 3 bulan. Selama itu pula Deffa menemaniku dan menyembunyikan identitas ku agar Wisnu tak berkesempatan menemukanku. Ku pikir selama aku tertidur pulas aku sudah tak bernyawa lagi, rupanya sang kuasa masih memberiku kesempatan.


Walau jadi seorang direktur. Bedah membedah, bolak-balik ruang operasi adalah keseharian ku. Dibanding harus duduk di ruang kerja, aku lebih baik duduk di ruang operasi.


Sejak kejadian 4 tahun lalu, aku menjadi berani melihat darah. Bahkan memegang nya. Tubuhku tak gemetar lagi menahan trauma. Selain itu aku juga menjalani pengobatan psikoterapi. Semacam pengobatan untuk menangani psikologis seseorang tanpa obat-obatan.


Drttt...


Aku dibawah. Turun cepet!


Pesan singkat dari Deffa yang tak pernah absen. Tiap pukul 10.15 Deffa selalu mengajakku ke cafe Brown sugar untuk menyantap berbagai makanan. Dengan cepat tanpa membalas, aku segera bergegas menuju Deffa.


" Kau telat " sapa nya begitu melihat ku datang.


" Yaelah cuma telat 15 detik " sahutku seraya tertawa.


" Tetap telat! hari ni kau yang bayar makan "


Menyebalkan. Itulah yang saat ini ingin ku teriakan pada Deffa. Tapi ku urungkan. Daripada nanti aku disuruh jalan, mending diam dulu sampai kenyang.


" Ya udah besok aku lari biar gak telat lagi " ucapku saat sedang didalam mobil.


" Jangan! Mendingan telat daripada nyelakain diri sendiri. "


" Lukanya udah kering kok "


Deffa langsung menatap ke arahku tanpa ekspresi. Karena aku peka, jadi aku hanya menundukkan kepala dan diam. Yah... Deffa memang sangat khawatir karena luka tembak di perut kanan ku. Makanya dia kesel kalau melihatku berlari tanpa alasan. Dia juga pernah bilang jangan memaksakan diri, nanti aku bisa nangis darah. Kedengarannya lebay kan? itulah Deffa, yang sangat suka melebih-lebihkan kata. Padahal kalau dipikir-pikir, mana ada orang yang bisa nangis darah. Kecuali matanya di tusuk pakai tusuk sate.


Jarak dari rumah sakit ke cafe Brown sugar tak terlalu jauh. Hanya lurus terus, belok kanan, lurus lagi, belok kiri, lurus lagi, dan langsung belok kanan. Sebenarnya ada jalan pintas. Tapi Deffa lebih suka jalan yang panjang. Tahun lalu Deffa pernah memaksa lewat jalan pintas, namun malah membuang waktu. Memikirkan cara untuk melewati jalan itu. Soalnya jalan pintas hanya bisa di lewati sama sepeda ontel. Pantas Deffa tak mau kesana lagi.


Kami sampai dan langsung memarkirkan mobil. Aku turun dari mobil dengan ekspresi kegirangan. Bagaimana tak girang. Sesampainya di sana aku melihat tukang es krim raksasa. Konon es krim itu bisa membuat mood kembali. Tapi aku masih tak percaya. Pasalnya setelah menghabiskan 6 es krim, aku malah mendapat pilek yang berkepanjangan.


" Deffa " melas ku padanya.


Seakan mengerti dengan ucapan ku, Deffa membuang napas kasar. " Dasar bocah " sahutnya sambil berjalan ke arah gerobak es krim. Aku tersenyum melihat Deffa berjalan ke sana. Tak terlalu lama, Deffa membawakan ku satu es krim raksasa.


" Lah kok cuma satu? "


" Gak bagus siang-siang minum yang dingin. Nanti darah ikut beku " jelasnya.


" Pelit! "


" Ha? hei anak kecil. Kau itu baru pulih dan perlu waktu lama. Masih mending dibeliin "


" A...apa? anak kecil? hah! Umurku udah 25 tahun bukan anak kecil lagi "


" Tapi di mataku kau tetap gadis berumur 17 tahun. Sama kayak waktu pertama kali ketemu. Jadi...jadi, jangan cepat dewasa " ujarnya lalu masuk ke dalam cafe.


Mataku terbelalak, mulutku melongo mendengar ucapan Deffa tadi. Ucapannya benar-benar sesuatu sekali. Cepat aku membuntutinya ke dalam.


BRUUKK!!


" Ya ampun!! gaun ku! " teriaknya histeris.


Aku yang melihat hanya terpaku. Karena gaun yang ia kenakan benar-benar bersinar dan nampaknya masih baru. " Kau! apa kau gak punya mata? kau liat gaunku jadi kotor! " bentaknya dengan tatapan sinis.


" Maaf. Aku minta maaf karena gak sengaja numpahin es ke gaun mu " sahutku seraya menunduk.


Setelah mengetahui keributan itu bersumber dari ku, Deffa langsung menghampiri ku.


" Maaf nona. Saya akan ganti rugi untuk gaun mu. Ini uang untuk ganti ruginya " ujar Deffa seraya menyodorkan uang dari dompetnya.


" Wah... kau pikir uang segitu bisa bayar gaun mahal ini ha? gaun ini edisi terbatas, baru keluar 2 hari yang lalu "


" Kalo gitu ini uang untuk laundry gaun nya "


PRAKK!!


Satu tamparan keras melayang ke pipi Deffa. Wanita berkulit eksotis itu mempermalukan Deffa di depan orang banyak. Aku yang melihat kejadian itu langsung merasa kesal. " Dasar wanita gi*a! " gumam ku seraya mendorong Deffa ke samping.


" Jadi kau mau aku belikan gaun baru edisi terbatas pada satu toko hah! wanita gi*a " ucapku sambil menarik kerah bajunya.


" Hati-hati kalo bicara. Kau mau ku tampar juga ya? kau! aargh....agrh sakit "


Aku menjambak rambutnya dengan sangat keras. Dan menarik lalu membisikkan sesuatu di telinganya.


" Jangan sampe aku patahin rahang mu! Jaga sopan santun kalo bicara "


Setelah berbisik aku langsung melepaskan rambutnya. Ia terlihat sangat ketakutan dan pergi begitu saja. Seketika semua mata tertuju padaku.


Aku menatap Deffa yang sedang berusaha menahan sakit. Ia sibuk menggerak-gerakkan rahang nya yang terasa nyeri. Ditambah lagi cap 5 jari menempel pada pipi mulusnya. Untung saja lesung pipi itu tak menghilang dari wajahnya.


Lelaki ini selain menyebalkan rupanya dia juga bodoh. Sibuk menahan diri agar tak hilang kendali. Dasar Padahal jika mau, dia bisa saja menangkis tamparan itu.


" Gimana rasanya ditampar sama cewek? " tanyaku menahan tawa.


" Emmm, masih kurang sakit karena belum ngerasain tamparan seorang Angel " sahutnya sambil tertawa.


" Kalo aku yang nampar, bukan pake 5 jari. Tapi 20 jari sama jari kaki juga "


" Emang bisa nampar pake kaki? "


" Bisa. Mau coba? "


" Gak "


Aku tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya yang langsung memegangi kedua pipinya. Tak lama pelayan datang membawa pesanan ku. Bukan memesan makan siang, aku malah memesan kompresan es batu untuk pipi Deffa. Sekedar meredakan nyeri. Pasalnya Deffa bilang, telinganya terasa berdenging kencang. Cepat ku tempelkan kain dingin itu ke pipi Deffa.


*****


Karena tak ada dinas malam. Hari ini aku bisa pulang tepat waktu. Operasi hari ini begitu melelahkan, hingga otot-otot yang ada di tubuhku kaku sekali. Kakiku terasa sangat berat.


Dari kejauhan aku melihat lelaki dingin itu. Ia tersenyum ke arah ku sambil melambai-lambaikan. Tak lama setelah itu ia sudah berdiri di sampingku dengan tangan yang tengah menggenggam tanganku. Hari ini suasana hatinya riang tanpa beban. Ia terus saja memperlihatkan senyum menawannya. Dua insan ini terlihat bahagia sekali. Dunia ini terasa milik berdua. Begitulah suasana yang bisa digambarkan.


Tapi suasana sekejap berubah saat lelaki itu berlari menjauh dariku. Ia terlihat ketakutan karena tubuhku mengeluarkan darah segar, amis, dan kental. Tatapan matanya berbeda. Aku terus saja mengejar tapi lelaki itu semakin menjauh. Bukan menjauh karena berlari tapi seakan ada yang menggerakkannya agar menjauhi ku. Tubuhku mulai melemas karena darah itu tak kunjung berhenti. " Sakit... sakit sekali. Wisnu... to...tolong. Tolong aku "


" Wisnu! " teriakku yang tersadar dari tidurku. Itu hanya mimpi buruk. Padahal sudah 4 tahun lamanya. Tapi mimpi itu masih menghantuiku. Setiap malam aku masih terus bertemu dengannya. Perutku juga tiap kali bangun dari tidur, pasti terasa sangat sakit. Bekas luka memang sulit menghilang dengan cepat.


" Entah dia masih sibuk mencari ku atau engga. Aku masih tetap harus menunggu "


******


To be Continued ✨


Jangan lupa like komen vote and rate 5 🌟 yaa 🖤 kamsahamnida👌🏻