Good Night New York

Good Night New York
Kejadian di Kantin



~ENTAH AKU SABAR ATAU DUNGU. AKU HANYA BISA MENUNGGU DAN BERHARAP PADA WAKTU KAU KEMBALI SEPERTI DULU~


" Apa? kok aku yang traktir? woii!! " teriakku kencang dengan bahasa Indonesia.


Deffa itu benar-benar lelaki cerewet yang menyebalkan. Padahal dia kan tahu sesudah praktek aku ada kelas lagi. Tapi ya sudahlah. Aku harus menebus kesalahanku tadi. Siang ini aku memutuskan untuk membersihkan bajuku lalu bergegas menuju kantin.


Terlihat jelas dari kejauhan. Tampak hidung mancung nan senyum manis itu duduk ditengah kerumunan mahasiswa universitas Columbia. Dia sedang bersenda gurau dengan mahasiswi asli Amerika. Mereka berdua cukup akrab. Dan kelihatannya mereka punya hubungan khusus.


" Mr. Deffa " sapa ku sopan.


Sapaan ku pun disambut senyum oleh wanita yang sedang berada disampingnya. Wanita itu cantik, dan ramah. " Duduk sini Njel, sebelah ku " ucap Deffa seraya memukul kursi disebelahnya. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


" Mau makan apa? " tanya Deffa menyodorkan menu.


" Samain aja deh "


Deffa beranjak dari duduknya dan langsung menuju kasir. Sekarang hanya tinggal aku dan wanita itu. Dia terlihat sibuk memainkan ponselnya dan mengabaikan ku begitu saja. Karena aku juga tak merasa keberatan, akupun juga sibuk dengan dunia ku sendiri. Tak butuh waktu lama, Deffa pun datang dengan membawa nampan makanan.


" Eh iya hampir lupa. Bianca, kenalin ini Angel pacar aku " ucap Deffa memperkenalkan ku.


Uhuk-uhuk


Sontak ucapannya membuatku tersedak dan menatap Deffa tajam. Aku menatapnya seakan memberi isyarat untuk menjelaskan maksud ucapannya. Dan yang lebih menyebalkan nya, dia hanya tersenyum melihat mimik wajahku yang lucu dengan mata melotot.


" Hai Angel. I am Bianca " ujar Bianca singkat.


" Hmm ya. Nice to meet you " singkat ku mencairkan suasana.


Setelah berkenalan singkat, Bianca pun pamit dari hadapanku dan Deffa. Dia beranjak dari duduknya dan kini berjalan meninggalkan meja kantin. Dan sekarang saatnya aku meminta penjelasan dengan Deffa. Meminta kejelasan dari ucapannya tadi yang benar-benar aneh didengar.


" Tadi ngomong apa? pacar? " tanyaku sedikit ngegas.


" Iya " singkatnya.


" Mimpi ih " ketus ku seraya membulatkan mata.


" Maksudnya calon pacar " perjelas Deffa lagi.


Lagi-lagi ucapannya membuatku menatapnya dengan tatapan tajam. Kedua tanganku mengepal kuat dan siap meluncur ke pipi kanannya.


Ssstt


" Ah "


Kali ini tanganku dengan cepat ditangkap olehnya dan langsung ditarik kedalam dekapan dada bidangnya. Ekspresi nya masih sama seperti tadi. Datar dengan posisi mengunyah roti dan menatap mataku dengan dekat. Entah apa yang ada didalam pikiran ku sekarang. Aku hanya diam mematung dan membalas tatapannya yang dalam. Jantungku berdetak kencang tak mau berhenti.


Cup


Gila! sungguh gila. Deffa mencium lembut pipiku di depan semua orang. Mataku terbelalak ketika Deffa melakukannya. Pipiku memerah bak kepiting rebus. Dengan cepat aku pun mendorong kuat dadanya dan keluar dari dekapannya.


" Shuttt. Mau di cium lagi? kalo masih berisik aku cium lebih lama dari yang tadi " sahutnya menutup mulutku.


Daripada kejadian itu terjadi lagi, lebih baik aku diam dan melanjutkan makan ku saja. Ku kira Deffa dan Bianca punya hubungan khusus tadi, rupanya aku salah.


Suasana semakin canggung. Entahlah, akupun bingung kenapa bisa begini. Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang seperti tadi ketika sekilas melirik wajahnya. Masa iya suka? jelas tak mungkin. Sedang hubungan ku dengan Wisnu saja masih menggantung tak karuan.


" Masih mau ngeliatin terus? muka aku ganteng banget kayaknya sampe diliatin terus " ucap Deffa yang sadar karena aku meliriknya.


" Apaan sih pede. Udahlah aku mau ke kelas "


" Eh kok gitu? ini kan masih banyak makanannya. Terus yang bayar siapa? " sahut Deffa memegang lenganku.


" Ya udah nih uangnya " aku meletakkan beberapa lembar dolar di atas meja kantin.


" Bukan mau uangnya. Aku mau kamu " frontal Deffa yang masih memegang lenganku.


Apalagi ini? kenapa dia terus membuat jantungku berdetak kencang. Dia benar-benar konyol dan sudah tak waras barangkali. " Apaan sih Mr. Deff, jangan bercanda terus " ketus ku melepas tangannya.


" Aku serius Njel. Kamu mau jadi pacar aku? aku gak suka kalo sekedar cuma jadi senior aja gak menantang " ucapnya santai.


Haa? apa? dia nembak nih? ya ampun.


" Gak! gak mau. Aku udah punya pacar " sahutku sambil berjalan menjauhinya.


" Oh. Kalo gitu putusin aja " celetuknya.


Ucapannya kali ini membuat langkahku terhenti dan seketika membalikkan badan lalu berjalan mendekatinya. " Apa? ulangi? putusin? gampang banget ngomongnya " sahutku dengan nada sedikit meninggi.


" Hmm. Dia jauh di sana dan gak tau kan gimana dia dibelakang kau? " singkatnya.


Aku mematung menelaah setiap ucapannya. Sebenarnya ada rasa bosan karena sudah lama tak mendengar kabar Wisnu. Tapi, aku tak bisa begitu saja melepas Wisnu. Karena dia lelaki dingin yang pertama kali ku temui. Dan lelaki yang paling sabar dengan sifat ku yang masih kekanak-kanakan. Aku bungkam seribu bahasa. Entah kalimat apa yang harus ku keluarkan.


Sedikit demi sedikit akupun menunduk dan masih tetap bungkam. Ku tarik napas dalam-dalam lalu melintas pergi dari hadapannya. Pikiran ku kacau saat ini. Terlintas, teringat Wisnu yang sama sekali tak ku ketahui kabarnya.


Bagaimana dia di sana sekarang? Ya ampun seberat inikah rindu? Sesabar inikah aku menunggu? memang berat, tapi ya sudahlah.


Mataku tak tahan lagi membendung air yang sudah berlinang. Kali ini kubiarkan air itu turun secepat kilat dan basah seperti embun.


Entah aku ini dungu atau memang bersabar dalam menunggu, aku pun tak paham dengan keadaan. Semuanya seakan menuntutku untuk menahan bebannya sendiri. Tanpa bantuan siapapun, aku tegar, aku kuat, dan aku masih tetap yakin. Semua akan indah pada waktunya.


 


******


 


Segini dulu ya reader. Author lagi mager bgt nihh:') Selamat puasa untuk semuanya. Marhaban Ya Ramadhan 🌈🤗🌈