
~DAN ALASAN KEDUA HUJAN TURUN KE BUMI ADALAH UNTUK MENGHEMBUSKAN RASA RINDU DI HATI MANUSIA~
New York city.
" Excuse me ma'am, sir. You have arrived in America. Hello ma'am, sir? " (Permisi nyonya, tuan. Anda telah sampai di Amerika. Halo nyonya, tuan?) ucap salah satu pramugari membangunkan ku dan Deffa yang masih tertidur pulas.
Ucapan pramugari itu membuatku kaget dan langsung terbangun. Kulihat sekelilingku sudah kosong, tinggal aku dan Deffa yang masih ada di dalam pesawat. Ya ampun Batinku seraya memukul jidat.
" Ah. Thank you " sahut Deffa berdiri.
16 jam telah berlalu. Tepat pukul 12.00 waktu setempat aku sampai di Amerika serikat. Rasanya semua badanku remuk sekali. Aku keluar dari pesawat dengan kondisi yang sangat berantakan. Dengan menenteng dua koper besar dan tas yang ku kenakan.
" Tunggu! " teriak Deffa dari belakang. Aku langsung menoleh ke belakang. " Kau kuliah di sini? atau hanya sekedar liburan? " tanyanya sambil berjalan di sebelahku.
" Kuliah " singkat ku.
" Universitas mana? " Aku diam dan menghiraukan pertanyaannya. Pandanganku hanya fokus ke depan saja dan meninggalkannya sendirian. Karena tau aku tak menggubris pertanyaannya dia lebih memilih diam.
" Oke kalo kau gak mau jawab. Aku duluan ya, semoga bisa ketemu lain waktu " tunduk nya seraya tersenyum lalu pergi meninggalkanku.
Tubuh tingginya itu langsung lenyap dari pandanganku. Kali ini aku tak perduli dan memutuskan untuk mencari apartemen. Kota New York yang dikenal dengan sebutan ' The big Apple ' itu sudah beberapa kali ku kelilingi untuk mencari apartemen yang tak terlalu mahal.
Satu apartemen sudah kutemukan lumayan besar dan tak terlalu mahal, juga dekat dengan universitas ku. Semua fasilitas cukup memadai dan bersih. Aku menyukai apartemen itu. Memang sebenarnya aku diberikan apartemen dari beasiswa itu, cuma sedikit terlalu jauh dari universitas. Jadi aku memutuskan untuk mencari yang lebih dekat saja. Untuk mengirit biaya pengeluaran di Negeri orang. Sebentar ku berkeliling untuk melihat-lihat isi apartemenku.
•Aku berjalan menuju ruang dapur dan kamar mandi
• Lalu aku beralih ke kamar tidur
BRUUKK!
Ku rebahkan diriku di atas kasur yang sangat empuk dan lembut. Suasana yang dingin membuatku ingin merasakan kenikmatan tidur yang berkepanjangan. Tapi itu semua hanya angan kosong saja. Siang ini aku harus mengurus semua persiapan untuk kuliah Minggu depan.
Beruntungnya aku bisa kuliah di University Columbia yang termasuk 10 universitas terbaik di dunia. Ini adalah pertama kalinya aku pergi ke luar negeri. Di Universitas ini aku akan dibiayai sampai lulus dan diterima kerja oleh perusahaan di Amerika. Selama bekerja di sana aku akan digaji sekitar 300 triliun rupiah per tahun. Benar-benar keberuntungan ku kali ini. Aku gak akan mengecewakan orang tuaku di Indonesia Batinku bahagia.
Drttt...
" Hallo? "
Cie kuliah di Amerika ni yee (Suara Vina)
" Hehe iya alhamdulillah Vin "
Beruntung kau Njel. Semoga betah ya kuliah di sana
" Iya-iya Vin "
Oh iya aku dan Eriska dapat giliran studi tour ke Korea Njel
" Ha! ihhh mauu. Mau ketemu oppa Korea haha "
Haha tenang aja Njel, nanti aku sampai in ke oppa Korea mu
" Hmm iya kau hati-hati di sana bilang juga ke Eriska ya Vin "
Iya-iya Njel. Ku tutup dulu ya, see u (Tut...Tut..)
Mendengar kabar bahagia dari Vina membuat aku juga ikut senang. Ya walaupun sebenarnya sedikit iri karena tak bisa bertemu dengan oppa Korea hehe. Tapi semua sudah di atur oleh yang Maha Kuasa jadi harus selalu bersyukur dan menerimanya dengan ikhlas.
Apa kabar dengan Wisnu? dia di sana baik kah? atau? Batinku penuh tanya. Beberapa foto Wisnu yang kuambil secara tak sengaja masih tersimpan di galeri hp ku.
Ya dulu aku pernah menjadi stalker sebelum pacaran dengan Wisnu. Karena aku adalah tipe orang yang penasaran dan ingin tahu lebih jauh tentang sifat Wisnu yang dingin. Jadi wajar saja jika dulu aku adalah stalker yang handal. Melihat fotonya beberapa kali membuatku seperti orang gila yang sibuk senyum-senyum sendiri diatas kasur.
Kruk...kruk
Tanpa sadar dan diduga. Cacing di perut ku sibuk memainkan alat musik gendang. Sepertinya mereka kelaparan. Memang sudah waktunya makan siang. Jadi aku memutuskan untuk berbelanja bahan makanan, karena kulkas ku yang masih kosong belum terisi apapun. Cuaca diluar cukup dingin, akupun memakai jaket tebal dan syal dileher agar tak membeku menjadi es.
Kota New York memang terlihat sangat indah. Sehingga mata tak pernah bosan memandang suasana di sana. Udaranya dingin tapi sangat sejuk dengan adanya pepohonan dipinggir jalan.
" Excuse me. What is the price of these vegetables and meat? " (Permisi. Berapa harga sayur-sayuran dan daging ini?) ucapku pada salah satu pedagang di sana.
" the price is 1.85 dollars " (Harganya 1,85 dolar) sahut pedagang itu tersenyum.
" Okay please wrap it up " (Oke tolong dibungkus) pedagang itu mengangguk dan segera membungkus sayuran dan daging yang akan ku beli.
• Sedikit info
1.85 dollar Amerika itu sama dengan 30.000 rupiah. Disini juga bisa membayar menggunakan kartu kredit. Karena Amerika termasuk negara yang sudah sangat modern dan maju. Tapi kartu kredit nya sudah ditukarkan ke bank ya hehe.
Saatnya memasak semua bahan yang sudah ku beli. Ku iris daging itu tipis dan menumis nya dengan berbagai macam sayuran.
" Hmm wanginya "
Suasana kota New York semakin sore semakin indah. Jalanannya dihiasi dengan lampu yang berkilauan dan warna-warni. Aku benar-benar berdecak kagum melihat indahnya kota itu. Sambil menikmati secangkir teh hangat aku duduk didekat jendela kamar dan menikmati pemandangan yang sungguh menakjubkan.
tok..tok
Tiba-tiba saja ada yang mengetuk-ngetuk pintu apartemen ku. Batinku sedikit takut hah siapa yang mengetuk? aku langsung bergegas menuju pintu utama apartemen ku. Setelah kubuka pintu itu ada seorang wanita berhijab yang sangat cantik dan wajahnya seperti orang Eropa.
" Excuse me. sorry for disturbing your time. But can you help me for a minute? " (Permisi. Maaf mengganggu waktumu. Tapi bisakah kau membantuku sebentar?) ucapnya dengan mimik wajah yang sedikit panik.
" Yes, of course " (Ya tentu saja) sahutku seraya tersenyum padanya.
" Oh thank you so much. Come on follow me" (Terimakasih banyak. Ayo ikuti aku)
sambar nya memegang tanganku.
Aku mengikutinya menuju apartemen yang terletak disebelah apartemen milikku. Dia benar-benar panik sekali. Entahlah apa yang membuatnya menjadi se panik itu.
Dahi ku menyerit heran. Pasalnya tak ada masalah apapun didalam apartemennya. " Sorry. but what should I help you with? " (Maaf. Tapi apa yang harus aku bantu?) tanyaku bingung. Dia tersenyum lebar lalu memberikanku sebuah kamera.
" Can you take my photo? because I had to send it to my mother in Indonesia " (Bisakah kau mengambil fotoku? karena aku harus mengirimkannya kepada ibuku di Indonesia) sahutnya tertawa kecil.
" Kau dari Indonesia? " tanyaku pelan.
Sontak dia langsung menatapku heran dan mengangguk pelan seraya tersenyum. " Kau juga dari Indonesia? " tanyanya dengan pertanyaan yang sama denganku. " Hmm " singkat ku. Dia tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku. Akupun mengikutinya tertawa seraya menggeleng-gelengkan tak menyangka.
" Haha. Aku pikir kau dari Arab karena hidungmu sangat mancung " ucapku sambil tertawa.
" Hah? Arab? Arab maklum maksudmu haha? yang ada aku dari Bogor " sahutnya tertawa.
" Kau di sini kuliah? " tanyaku lagi.
" Hmm, iya aku kuliah di University Columbia. Kalo kau di sini? "
" Huh. Sepertinya tujuan kita sama. Aku juga kuliah di University Columbia " sahutku.
" Wah siapa sangka. Kau berasal darimana? "
" Solo " singkat ku.
" Kau mau jalan-jalan? aku dengar kota New York kalo jam-jam segini Masha Allah indahnya " ucapnya sambil menatapku. Aku hanya mengangguk sambil berjalan mengikutinya.
Kamipun berjalan menuju brooklyn bridge New York city. Karena dengar-dengar brooklyn bridge di sore menjelang malam memang sangat cantik dan membuat mata takjub akan keindahannya.
Setelah sampai di sana mataku melotot dan aku mematung tanpa berkata apa-apa melihat indahnya jembatan ini.
Masha Allah kuasa Mu Batinku takjub. Sedangkan dia sibuk memotret dan membiarkanku merasakan keindahan yang luar biasa. Pantas saja Negara ini disebut dengan ' Capital of the world '
Hari semakin malam dan suasana pemandangan semakin sangat indah. Rasanya aku tak ingin pulang dan menikmati keindahan ini lebih lama.
" Ngomong-ngomong siapa namamu? dari tadi aku lupa mau tanya nama hehe " tanyanya sambil tertawa kecil.
" Namaku Angel. kalo kau? "
" Oh, aku Zafirah. Kau disini ambil jurusan apa? " tanya Zafirah lagi.
" Kedokteran. Kalo kau? " singkat ku.
" Wahh kerenn tu. Kalo aku ambil jurusan ilmu komputer dan Informatika " pujinya.
" Kau juga keren bisa jadi seorang hacker dong hahahaha " ucapku tertawa terbahak-bahak. Dia juga ikut tertawa karena lawakan ku sedikit receh.
Karena hari semakin malam. Ini waktunya aku dan Zafirah pulang ke apartemen yang bersebelahan. Aku dan Zafirah menjadi teman dekat yang sama-sama berasal dari Indonesia. Dia orangnya asik, ramah, lucu baik dan juga Sholehah. Kemana-mana selalu memakai jilbab yang pas diwajahnya.
Zafirah Althus
Aku dan Zafirah berjalan menelusuri setiap sudut kota New York. " Firah, besok kita ke kampus bareng ya. Aku belum tau jalanan New York " ucapku sambil menatapnya. " Aman Njel. Nanti kita berangkat bareng kok " sahutnya tersenyum seraya menyangkutkan tangannya di leherku.
Aku sempat terkejut dengan aksinya. Tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa dengan tingkah anehnya. Saat ini aku dan Firah sedang berfoto disudut kota New York untuk kenang-kenangan selama berada disini hehe.
" Firah. University Colombia itu sebesar apa sih? kayaknya banyak banget orang yang pengen kuliah di sana " tanyaku sedikit kepo.
" Hmm mau tau ya? kasih tau gak ya? " Firah pun berlari menjauh dariku. Sontak aku berlari mengejarnya tapi tiba-tiba saja aku terhenti ketika Zafirah berubah menjadi Wisnu. Ingatanku akan kejadian itu masih membekas. Aku tak mau lagi melanjutkan langkahku mengejar Zafirah. Dan
TIN...TIN!!
" Zafiraaaaah!! "
To be Continued ✨
penasaran gak ni? kalo penasaran pantauin terus yaw Next episode nya. Oh iya jangan lupa like komen and vote juga rate yaa 🖤 tengkyuu 😍 lope!!