
~Semesta pun MUAK dengan Kebohongan mu~
" Hei! apa yang kau liat ha! " teriak Cindy yang melihat mataku menatap ke sudut kiri. Dia terus-terusan meneriaki dan mencaci ku. Aku hanya bisa diam tak melawan. Kenapa aku jadi selemah ini? Dimana Angel yang kuat dulu? Sesaat aku membuang napas kasar tepat didepan Cindy. Dalam hati, aku ingin sekali melawan tapi apalah daya. Aku hanya seorang junior yang tak boleh melewati batas terhadap senior.
Bisik-bisik para mahasiswa pun terdengar nyaring. Mereka mengumpat ku dan memandangi wajah ku. Bahkan teman dekatku sekalipun hanya bisa melihat tanpa membantu. Hampir semua mahasiswa di kampus ini takut dengan Cindy Jung. Memang betul Cindy adalah senior yang paling cantik dan berpengaruh di kampus. " Kau melawan? liat mataku hei! " bentaknya mencengkeram kuat dagu ku. " Kau gak tau aku siapa ha! " ujarnya lagi.
Semua teman-teman Cindy tertawa melihat keluguan ku. " Umm, mukamu polos banget hahaha " sambung salah satu teman Cindy. Satu dari mereka ada juga yang menjambak rambutku " Arghhh " teriakku kesakitan. Mereka tertawa puas melihatku kesakitan.
" Cukup!!! " bentak Mr. Abram dari kejauhan.
Sontak Cindy melotot mendengar suara lelaki bertubuh kekar itu.
" Kalian ini gak ada kapoknya ya. Masih suka buli junior. Kamu Cindy, jangan berulah lagi. Nanti saya laporkan ke ayah kamu " ucap Mr. Abram memperingati.
" Jangan dong Mr " rengek Cindy seraya memohon.
Mr Abram melirikku, memberi kode untuk berada tepat dibelakangnya. Aku mengangguk paham. Suasana mencair. Semua bubar, termasuk Cindy. " Ikut saya " ucapnya lalu melintas pergi.
Hari ini aku benar-benar sial sekali. Dipermalukan tepat didepan umum. Dan yang lebih sakitnya, lelaki itu hanya menatap ku lalu pergi begitu saja. Jahat! dasar es batu!
*****
BRUUK!
Seseorang menyenggol tubuhku kuat. " Maaf " singkatnya. " Hmm " sahutku lesu. Tak lama kemudian, orang itu kembali kehadapan ku. " Angel? " ucapnya sambil menerawang. Setelah aku memperhatikan orang itu, aku tertegun sejenak. Tenggorokan ku sulit untuk menelan ludah. Raut ku berubah seketika menjadi tatapan tak suka. Banyak sekali pertanyaan di kepalaku. Kenapa bisa? Kenapa harus ketemu dia lagi?
" Ib....Ibra? " tanyaku ragu.
" Tuh kan benar. Aku kira salah orang tadi. Wahhh kebetulan banget ya bisa ketemu disini " ujarnya penuh semangat.
Entahlah aku tak suka bertemu dengan nya. Mungkin karena kejadian di SMA waktu itu. Cukup memalukan bagiku. Tapi baginya itu hanya sebuah hal kecil yang bisa disebut lelucon.
" Gimana kabar Wisnu? Ups sorry aku lupa dia kan hilang ingatan "
Ucapannya sontak membuatku semakin heran. Kenapa dia bisa tahu Wisnu kecelakaan? Padahal saat itu dia tak berada di Indonesia.
" Kau tau Wisnu kecelakaan? " tanyaku tiba-tiba.
" Um itu. Anu...a...aku, oh ya temanku yang kasih tau. Beritanya cukup viral " sahutnya.
Terlihat jelas bahwa matanya menyembunyikan sebuah kebohongan. Pasti dia sedang menutupi sesuatu dariku. Tangannya terus-menerus menggaruk tengkuknya dan dahi yang sedikit berkeringat. Sepertinya pertanyaan dariku membuatnya keringat dingin.
" Aku turut berdukacita ya Njel karena Wisnu yang sampai sekarang pun belum bisa ingat apapun tentang mu. "
Aku sedikit tak mengerti dengan ucapannya. Tersirat jelas bahwa dia sangat bahagia melihat aku menderita.
" Permisi "
Aku langsung pergi tanpa membalas ucapannya. Sudah lebih dari 3 tahun setelah kejadian itu, aku dan Ibra tak berkomunikasi dengan baik. Huh.... rasanya aku kembali terjebak di masa lalu. Entah itu kebetulan atau memang takdir, akupun bingung.
Kelas hari ini cukup sepi. Mengingat acara 2 hari lagi jadi mereka sibuk berada di aula daripada kelas. Ku putuskan untuk pulang ke rumah. Hari ini aku benar-benar lelah. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. New York city terlihat lebih terang dari biasanya. Cuaca yang biasanya dingin terasa lebih hangat.
" Angelll " teriak Deffa dari kejauhan sambil melambai-lambai.
Senyum manisnya mengembang di bibirnya. Lelaki itu benar-benar terlihat bahagia dan hangat. Sinar matahari ikut serta menyorot tepat di wajahnya. Sinar itu membuat ia tampak lebih tampan. Siapapun sekarang yang melihat wajahnya pasti akan jatuh cinta. Manik matanya penuh keceriaan, lesung di pipinya menggambarkan kehangatan. Semua itu mengingatkan ku pada Wisnu. Kapan ia bisa tersenyum lepas seperti Deffa? Aku berharap penuh.
" Mana yang sakit? " tanyanya sambil melihat-lihat keadaan ku.
" Apa sih? "
" Kau di buli kan tadi? sama Cindy anak wakil direktur kampus ini? " ujarnya dengan posisi tangan dilipat di dada.
" Ha? apa? wakil direktur kampus ini? "
" Hmm iya. Huh... ayahnya suka sama aku, jadi sesudah Cindy lulus dari universitas ini, Ia bermaksud menikahkan aku dengan Cindy " jelas Deffa santai.
" Kau mau? nikah dengan Cindy? "
" Gak. Aku bermaksud menikahkan wanita yang sekarang didepan aku " celetuknya tertawa nakal.
Alhasil aku sontak tersenyum dengan gombalannya.
" Aku gak mau nikah sama kau. " ucapku berlari menjauh darinya.
*****
Deffa mengantarkan ku tepat didepan pintu kamar apartemen. Alasannya mengantarku sampai didepan pintu kamar adalah takut aku diculik. Terdengar cukup alay memang, tapi ya sudahlah. Biarlah dia berbuat sesukanya.
" Apa ada apartemen yang kosong lagi? " ucapnya sambil melihat sekeliling apartemen.
" Kau mau apa? "
" Mau..... Ah! editor Wisnu " ucap Deffa melihat Wisnu yang mau masuk ke dalam apartemen.
Wisnu membungkukkan badannya tanpa senyum sedikit pun. Ia sesekali menatapku lalu langsung beralih menatap Deffa.
" Wah kebetulan banget. Kau tinggal sebelahan dengan Angel rupanya. " ujar Deffa tersenyum.
Sial! lagi-lagi dia tak tersenyum walau dengan Deffa sekali pun. Ekspresi wajahnya datar bak jalanan aspal. Terasa asing sekali aku dimatanya. Aku menghela napas kasar. " Kenapa? " tanya Deffa yang mendengar suaraku menghela napas. " Hmm? gak papa. Aku masuk duluan ya. Bye "
Ku pandangi setiap sudut kamarku. Ruang ini begitu berisi dengan adanya barang-barang. Namun terasa sangat sepi. Padahal ia disini, kehadirannya terlihat jelas. Tapi tak sedikitpun dapat ku nikmati.
-Backsound Novel-
🎶*Hanya dirimu yang kucinta
Takkan membuat aku jatuh cinta lagi
Aku merasa
Kau yang terbaik untuk diriku
Walau 'ku tau kau tak sempurna
Takkan membuat aku jauh darimu
Apa adanya
'Ku 'kan tetap setia kepadamu
Tuhan jagakan dia
Dia kekasihku
'Kan tetap milikku
Aku sungguh mencintai
Sungguh menyayangi
Setulus hatiku
Walau 'ku tau kau tak sempurna
Takkan membuat aku jauh darimu
Apa adanya
'Ku 'kan tetap setia kepadamu
Ho-o-o
Tuhan jagakan dia
Dia kekasihku
'Kan tetap milikku
Aku sungguh mencintai
Sungguh menyayangi
Setulus hatiku
Tuhan jagakan dia
Dia kekasihku
'Kan tetap milikku
Aku sungguh mencintai
Sungguh menyayangi
Setulus hatiku
Tuhan jagakan dia
Dia kekasihku
'Kan tetap milikku
Aku sungguh mencintai
Sungguh menyayangi
Setulus hatiku🎶*
*****
Gimana rasanya orang yang udah kita kenal lama tiba-tiba menatap kita seperti orang asing?
Komen dibawah ya :') like, vote, and rate 5 🌟 yaa 🖤