
~AKU PERNAH BERADA DI POSISI YANG SANGAT MENYEDIHKAN. YAITU TERPURUK DAN TERSUDUT. NAMUN AKU BISA KARENA BERUSAHA BANGKIT KEMBALI~
Wisnu menatap mataku dan sesekali beralih pandang melihat Deffa. Tak lama setelah itu ia menghela napas kasar.
" Em. Maksud aku kalo kamu tau sesuatu kita bisa nangkap Cindy karena dia bersalah. Jadi.... "
" Keluar! " sangga Wisnu.
" Hei! apa maksud kau nyuruh kita keluar. Kalo kau tau sesuatu langsung aja kasih tau " ujar Deffa dengan nada yang sedikit naik.
" Aku bilang keluar! " sentak nya sekali lagi.
Suasana menjadi canggung dan hening. Ini kali pertama Wisnu meneriaki ku. Mulutku menjadi kaku. Aku tahu Wisnu sedang berbohong. Dia menyembunyikan sesuatu dariku.
" Aish! kau!.... "
" Deffa. Oke kami keluar. Tapi kalo kamu tau sesuatu langsung kabari aku ya. Aku pamit " sahutku dengan nada pelan.
(Maaf. Aku udah janji gak bakal ungkap yang sebenarnya. Aku tau siapa Cindy. Dia pasti gak bakal tinggal diam. Aku gak mau lagi kamu jadi imbasnya) Batin Wisnu.
Aku dan Deffa keluar dengan perasaan kecewa. Butuh waktu lama untuk mengumpulkan bukti yang kuat. Kalau saja Wisnu berbicara, pasti Cindy akan tertangkap.
" Njel kayaknya aku harus balik ke kampus. Kau pulang secepatnya ya " ucap Deffa yang terlihat buru-buru.
" Hmmm. Makasih ya Deff "
Aku harus cari cara supaya Cindy ngakuin kesalahannya
*****
Tepat pukul 08.00 hari ini aku akan direkrut oleh Mr Agra ke rumah sakit terkenal di New York. Karena keahlian bedah yang ku miliki memikat hati pemilik rumah sakit. Aku juga akan ditemani oleh Deffa. Sebenarnya hari ini adalah hari kepulangan Wisnu. Tapi lagi-lagi aku tak bisa menemaninya. Ia terpaksa harus ku titipkan pada Toto.
Sepanjang perjalanan ku menuju rumah sakit aku cukup tegang. Seluruh tubuhku gemetaran. Memang betul bahwa aku menyukai bagian bedah. Namun, tetap saja aku takut melihat darah. Aku melangkah dengan pandangan menunduk menuju kantor kepala rumah sakit. Sekelilingku penuh dengan pasien yang datang dengan berlumuran darah. Bulu kudukku bergidik ngeri.
" Hei. Kau baik aja? " tanya Deffa yang melihatku seperti ayam kedinginan.
" Aku hmmm....aku takut. Banyak darah disini Deff. Amis " ucapku terbata seraya berbisik.
Tak lama setelah itu Deffa mengulurkan tangannya di hadapanku.
" Genggam. Kalo kau ragu genggam tanganku "
" CK! Hei! aku serius. Kau duluan aja, aku mau ke toilet dulu " sahutku mengalihkan topik.
BRUUK!!
" Ah sorry " ucapku yang tak sengaja menabrak seseorang.
" Uh. Rupanya tuan putri. Kau ngapain disini? hari ini kau harus latihan kan? terus.... "
" Aku bakal magang disini " aku memotong pembicaraan Cindy.
" Ha? " ucap Cindy dengan ekspresi kaget.
" Iya. Aku magang disini. Di rumah sakit ini. Jadi, kau bukan seniorku di kampus lagi. Karena aku bakal lama disini " ucapku lalu bergegas pergi meninggalkannya.
Tampak jelas bahwa Cindy sangat kesal. Aku pastikan kali ini aku tak akan kalah darinya. Siapapun yang mengganggu kebahagiaan ku dan orang terdekatku, akan ku lenyap kan secara halus. Tak perduli seberapa kuatnya dia, aku pasti akan menang. Tunggu dan lihat saja aku akan mendapatkan bukti itu.
Baru selangkah keluar dari toilet, tanganku tiba-tiba ditarik oleh seorang perawat wanita. Perawat itu terlihat panik. " To....tolong. Tolong bantu saya. Ada pasien yang tertusuk benda tajam di bagian perutnya tolong! " lirihnya panik. " Ah anu...saya.... " Perawat itu tak mendengarkan jawabanku. Ia langsung menarik kuat lenganku menuju ruang operasi. Melihat perawat itu panik bukan main, jantungku berdetak kencang seperti akan meledak.
Gi...gimana ni? aku kan baru disini batinku takut.
Semua perawat yang ada di sana memakaikan baju operasi kepadaku. Mereka menuntunku ke ruang operasi. " Dokter kita gak punya banyak waktu lagi. Pasien sekarang dalam keadaan kritis " ujar perawat itu mengingatkan ku.
Sesampainya aku didalam ruangan. Ada banyak darah yang berceceran di lantai. Seorang pasien juga terbaring lemah dengan benda tajam diperutnya. Kakiku gemetar bukan main. Benda itu terus membuat darah tak berhenti keluar. Aku menatapnya dan hanya mematung. Entah apa yang bisa aku lakukan sekarang.
" Dokter! gak ada waktu buat bengong. Sekarang waktunya nyelamatin nyawa pasien! " teriak seorang perawat.
Tentu saja teriakannya membuyarkan lamunanku. Mereka terus memandangi ku dengan tatapan penuh harap. Sementara keadaan pasien makin lama semakin membahayakan. Perlahan aku menutup kedua mataku dan menarik napas dalam-dalam. Ku bertekad untuk menyelamatkan nyawa pasien pertamaku. Walaupun aku sangat takut dengan darah tapi akan ku coba.
" Baik dok. " sahut semua perawat serentak.
Aku memulai operasinya. 30 menit operasi berjalan lancar tanpa kendala. Tersisa 30 menit lagi untuk menyelesaikan operasi.
BRAKK!!
Seseorang mendobrak pintu operasi secara paksa. Membuat semua perawat terhenti dari aktivitasnya.
" Siapa yang nyuruh dia mengoperasi pasien ini ha!! Apa kalian gila? dia magang baru di sini!! " bentak Deffa penuh emosi.
Seketika semua terkejut dengan perkataan Deffa. Mereka menundukkan kepala dan meminta maaf. Deffa menatapku tajam dan menarik ku keluar dari ruang operasi.
" Apa kau gila!!! kau bisa membunuh pasien itu. Kenapa kau bertindak gegabah? Kau bisa dihukum oleh kepala rumah sakit jika pasien itu meninggal. Kau bilang takut darah kan? Lalu kenapa gak bertanya padaku dulu? Kenapa kau seenaknya masuk ruangan operasi!! " pekik Deffa padaku.
Ini pertama kalinya Deffa semarah ini. Ia menatapku penuh amarah. Kedua tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Aku tak bisa berkata lagi. Semua memang salahku yang langsung mengambil keputusan tanpa bertanya pada Deffa.
" Dokter. Tinggal 30 menit lagi. Kita harus nyelesain operasinya " ucap perawat dari arah dalam.
" Apa? 30 menit lagi? Kalian? " tanya Deffa bingung.
" Angel dengarin aku. Selesain operasinya dan jangan takut dengan darah. Tolong jangan buat kesalahan " Deffa berusaha mengingatkan ku.
" Ta...tapi nanti...."
" Ku bilang selesain operasinya!! tolong jangan takut. Aku percaya padamu " sangga nya cepat.
Tanganku mengepal erat. Aku menarik napas dalam-dalam. Langkahku bergerak menuju ruangan tadi. Aku mendengarkan semua perkataan Deffa dan mengingatnya. Ia bilang aku tak boleh membuat kesalahan. Ia percaya padaku.
" Ayo selesain operasinya " ajak ku pada semua perawat.
" Baik dokter "
Pasien pria berumur 40 tahun itu terlihat lemas. Wajahnya mengingatkanku pada ayahku. Ayah? Baiklah aku janji akan menyelamatkan nyawanya. Ia harus tetap hidup. Aku yakin ada keluarga yang harus ia nafkahi.
" Dokter detak jantungnya melemah sepertinya karena terlalu lama dibiarkan "
" Berapa menit yang tersisa? " tanyaku lantang.
" 20 menit dok "
" Oke. Siapkan Joule sedang " titah ku.
Bertahanlah sebentar tuan. Bissmilah.
" Satu...dua...tiga "
Deg!
" Normal dok " ucap perawat itu.
" Huh...... lanjut menjahit. Siapkan benangnya "
" Baik "
Sementara diluar ruangan Deffa terus memandangi jam tangan miliknya. Ia khawatir aku akan gagal di pasien pertama ini.
" Deffa! Aku berhasil " pekik ku keluar dari ruang operasi.
*******
To be Continued ✨
Penasaran gak? jangan lupa like komen vote and rate 5 🌟
#Gomawo🖤