
~TENTANG LUKA YANG SEMAKIN HARI SEMAKIN PARAH, CEMBURU YANG SELALU KU SENYAP KAN, KHAWATIR YANG TAK KU PERLIHATKAN, SERTA KETAKUTAN YANG SERING KU SEMBUNYIKAN. APA KAU BISA MERASAKANNYA? ATAU KEPEKAAN MU TELAH HILANG SEIRING PUDAR NYA RASA MU?~
Angel POV
Breaking news....
Pagi dini hari putri Presdir Jang, yaitu Cindy Jung. Telah ditangkap atas tuduhan mencelakakan mahasiswi yang berasal dari universitas di Amerika. Ia juga ditangkap karena memaksa seorang suster menyuruh pemagang baru untuk masuk ke ruang operasi. Bukti yang diberikan oleh editor bernama Wisnu membuat Presdir Jang berlutut atas tindakan putrinya. Cindy ditahan sekitar 3-4 tahun. Sekian breaking news pagi.
Media sosial geger atas kejadian yang menimpa Cindy. Mereka tak percaya Cindy melakukan hal yang tak seharusnya. Setelah Wisnu menjadi bukti atas perlakuan Cindy, ia menjadi terkenal. Bahkan beberapa wartawan seringkali datang di jam istirahat. Bukan ini yang ku mau. Aku tak mau Wisnu terlibat dalam kasus ini. Hingga akhirnya jam penting baginya harus terbagi dua untuk menjadi saksi dalam pengadilan.
Siapa yang tak kenal keluarga Cindy? Saat ini ketakutan ku adalah orang-orang kepercayaan Cindy sedang mengincar Wisnu. Pikiran negatif itu ku buang jauh-jauh.
Setelah menonton beritanya di sosmed aku mengunjungi ruang editing untuk bertemu Wisnu. Perlahan tapi pasti aku melangkah, namun langkahku harus terhenti di depan pintu. Suasana di sana sangat ramai. Banyak sekali wartawan yang berdesakan untuk bertemu Wisnu. Setelah melihat keadaan yang ramai, aku mengurungkan niat dan segera berbalik untuk kembali ke kelas.
" Angel " sapa Deffa yang sudah berada didepan ku.
Aku dan Deffa memutuskan untuk berbicara di ruang musik kampus.
" Maaf soal kemarin. Dan maaf juga karena lupa ngasih tau kalo rekaman CCTV udah keluar. Tapi... Wisnu bergerak lebih cepat. Jadi mungkin ini gak akan dibutuhin lagi " jelasnya tanpa jeda.
Huh.... Sudah tau salah ya pergi aja!
" Mau kan maafin aku? " melas nya sambil menyodorkan tangan.
Enak aja minta di maafin. Gak tau apa gimana rasanya ditinggal pas dalam keadaan terpuruk! Begitulah beberapa kali batin ku meronta kesal. Tapi apalah daya aku yang tak bisa melihat orang memelas meminta maaf. Alhasil aku pun memaafkannya dengan satu syarat.
" Temenin aku ketemu Cindy di penjara " syarat ku pada Deffa.
" Ha? buat apa Njel? dia pasti udah gak bisa ganggu kau lagi " tanya Deffa merasa aneh.
" Tapi aku ngerasa ada orang yang memata-matai Wisnu " perasaan ku tak enak.
Deffa termenung mencerna perkataan ku. Sedikit ragu dengan persepsi ku. Namun ia mencoba mengikuti perkataan ku.
" Oke kita ke sana "
*****
Kami sampai tanpa halangan sedikitpun. Rumah tahanan ini sangat besar dan luas. Bak istana presiden, kurang lebih nya. Karena tahanan hanya boleh ditemui oleh satu orang, jadi hanya aku yang bisa masuk kedalam. Sedangkan Deffa menunggu di luar.
" Tahanan 3104. Anda mendapat kunjungan "
Sebuah layar kaca pemisah antara aku dan Cindy dengan dua mic yang disediakan sebagai media komunikasi. Cindy terlihat pucat dan sensitif dengan kedatangan ku.
" Kau bisa bahagia sekarang " lontar ku padanya.
" Kurang ngajar!!! aku gak bakal tinggal diam. Liat aja nanti " sahutnya dengan agresif.
" Berhenti Cindy. Kalo kau mau balas dendam, jangan dengan Wisnu " mohon ku dengan mata yang berkaca-kaca.
" Oh huh... apa karena dia pacarmu Hmm? tenang aja aku ini orangnya adil. Jadi aku bakal balas dendam ke dua-duanya "
Ekspresi wajah itu lagi dan lagi. Aku paling benci! wajah liciknya kembali lagi. Kenapa harus serumit ini berada di negara orang.
" Jangan berani-beraninya nyentuh Wisnu. Sebesar apapun kekuasaan mu, bakal tetap ku lawan! " ancam ku keras.
Waktu kunjungan habis
" Mari bertemu sebelum 4 tahun sayang " licik nya lalu beranjak pergi.
Kedua kaki ku melemas. Apalagi ini? Kenapa belum juga usai? Aku memikirkan banyak cara untuk mengatasi masalah ini. Come on baby! aku disini untuk kuliah bukan bertarung. Bagaimana jika ibu tahu? huh....
Aku menggeleng. Dan berjalan meninggalkannya begitu saja. Lalu masuk ke dalam mobil. Aku sedikit menyandarkan kepala ke kursi mobil. Mencari solusi untuk melindungi Wisnu dari orang-orang Cindy.
" Deffa. Kayaknya kita harus nyuruh Wisnu pulang ke Indonesia, besok "
" Iya. Ha? Apa? Pu....pulang ke Indonesia? Gimana caranya? Dia masih seminggu lagi disini " sahut Deffa terkejut.
Seminggu? bagi kaum kutu seperti kami mudah bagi mereka kaum gajah untuk memitas kami. Aku tak punya kuasa apapun di negara ini. Terlebih lagi statusku hanya mahasiswi beasiswa. Kapan pun bisa dicabut oleh mereka. Berfikir Njel! berfikir! cari cara yang tepat.
Sebelum kampus dibubarkan. Aku dan Deffa lebih dulu kembali menuju kampus. Suasana lebih tenang dari pada tadi. Ruang editing pun terlihat sepi. Aku masih ada kesempatan untuk bertemu dengan Wisnu.
" Wisnu " aku memanggilnya dengan cepat karena ia terlihat sedang terburu-buru keluar dari ruang editing.
" Malam ini kosong gak? " tanyaku sedikit ragu.
Ia melirik jam tangannya dan melihat jadwal di ponsel untuk malam ini.
" Gak ada. Lain kali ya " sahutnya lalu melintas pergi.
Rasanya padahal baru kemarin manusia dingin itu mencair. Tapi hari ini, ia membeku lagi. Dasar manusia yang sulit ditebak.
Hanya punggung belakangnya yang bisa ku lihat dari sini. Langkah kakinya sangat besar dan cepat. Setelah ia lenyap dari pandanganku. Aku langsung berbalik dengan senyum. Tapi kali ini dadaku sedikit sesak. Pikiran penuh tanya, kemana Wisnu malam ini? dengan siapa? Gawat. Wisnu tak boleh dibiarkan sendirian.
Oke Njel! malam ini kau jadi mata-mata Wisnu.
*****
Malam yang dinanti akhirnya tiba. Aku menaruh kamera kecil di pintu kamar apartemen ku. Supaya bisa melihat ia keluar dari kamarnya. 15 menit menunggu akhirnya Wisnu keluar dengan pakaian santainya.
Aku yang sudah berpakaian hitam dan topi hitam langsung mengikuti mobilnya. " Jalan Deff " perintah ku pada Deffa.
Karena aku dan Deffa takut ketahuan olehnya. Mobil Deffa tak terlalu dekat dengan posisi mobil Wisnu. Untuk saat ini sepertinya Wisnu tak curiga sedang ku ikuti. Ia berhenti di sebuah cafe besar di pinggir jalan. Bergegas, aku pun turun dan masuk ke dalam cafe. Sedangkan Deffa menjaga situasi luar yang mencurigakan.
Cafe itu terlihat baik saja. Orang-orangnya pun sangat ramah. Untuk saat ini tak ada yang mencurigakan disini, untunglah. Wisnu terlihat sedang berbicara dengan seorang pria bule di meja paling pojok. Mereka berbicara sangat serius tanpa tawa sedikitpun. Aku pun mulai merasa curiga.
Ketika sedang asik menatap Wisnu. Seorang pelayan tak sengaja menjatuhkan coffe panas ke pahaku. Karena keadaan cafe yang ramai, membuat ruang sangat sesak.
" Arghhh! " teriakku menahan sakit.
Sontak semua mata pun tertuju padaku. Begitu juga dengan Wisnu. Setelah sadar Wisnu melirik, aku pun langsung keluar dari cafe.
" Maafkan saya nona " ucap pelayan itu yang berusaha mengelap pahaku.
" Iya gak papa. Permisi "
Belum sempat kaki melangkah keluar dari cafe. Cengkraman tangan seorang lelaki menarik lenganku. Dan mencopot topi dari kepalaku.
" Angel? "
****** ketahuan kan!
*****
Nah loh wkwk gagal nyamar
Oh iya author mau kenalin novel satu lagi nih......
Jangan lupa mampir ya reader kuhh 🥰❣️ seperti biasa jangan lupa tinggalkan jejak di setiap episode author :)